Pelangi Dan Keluarga Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 4 January 2016

Aku melihat laki-laki seperti tidak ada apa-apanya.

“kamu tahu saya sibuk nyari uang buat kamu, buat anak ini, terus kamu minta pengertian, sudahlah aku gak akan pulang malam ini pusing kepalaku.” kata ayah menunjuk pada Ibu sangat tidak pantas yang ayah lontarkan kepada ibu di depanku hanya karena ibu bertanya soal liburan atau hal yang sering kita lakukan dulu. Ayah berani seperti itu sungguh membuatku benci padanya. Ibuku memelukku sambil menangis tertegun karena kesakitan hatinya.

Apa semua laki-laki seperti ini? Apa laki-laki datang dan pergi seenaknya? Apa laki-laki memperlakukan perempuan seperti ini? Apa mencintai laki-laki akhirnya sakit? Benci.. benci.. itu yang tertanam di hatiku. Ku lihat ibuku menunggu di depan kaca menunggu laki-laki itu penuh kasih walau terkadang dia meneteskan air mata mungkin karena teringat perlakuan laki-laki tadi. Aku meninggalkan ibuku sendiri di ruang tengah. Memasuki kamarku yang serba pelangi mulai warna dan poster.

Ku tak kuasa melihatnya seperti ini setiap kali Ayah marah marah dan tidak pulang ke rumah. Ku tertidur telungkup di bawah selimut pelangi hadiah ulang tahun ke-11. Umurku sekarang 12 tahun dan tahun ini aku masuk SMP aku anak tunggal di keluarga kecil ini. Keluarga kecil yang dulu bahagia namun seiring umurku bertambah seperti keluargaku menjauh ayahku bahkan jarang mengucapkan, “ayah sayang Nanda.” atau mengelus rambutku lagi yang dipikirkannya hanya pekerjaan yang ia terima pada saat umurku 6 tahun sebuah perusahaan asing di bandung. Ku teringat hal-hal yang dulu kita lakukan kebodohan, usil, kecerian, tawa, dan jeritan-jeritan lucu ibuku.

Tak ku sadari dan ku sangka aku meneteskan air mata. Bantal yang tadinya kering menjadi basah. Kini ku tarik selimut menutupi seluruh tubuhku air mata yang tidak bisa ku tahan lagi. Berhati-hati ku menangis agar tidak mengeluarkan suara isakan atau rengekanku. Rasanya sakit di bagian tenggorokan seperti ada yang mengganjal ditambah sesak. Lama kelamaan mataku mulai berat dan gelap. Cahaya putih menerpa mukaku sangat terang membuat mataku sakit ku melihat sesosok bayangan perempuan berambut panjang mendekatiku. Dalam hati ku berbicara, “ini mimpi.”

Sosok perempuan itu makin mendekat ku paksakan mataku melihat ke arahnya tapi tiba-tiba cahaya putih itu berubah menjadi pelangi berbentuk lingkaran. Aku melihat sesosok wanita tersenyum manis seperti bidadari sangat cantik tetapi tak mempunyai sayap menatapku. Dia membawa buku diaryku yang lama telah hilang. Saat itu aku sangat kehilangan bahkan menangis seharian di kamar. Diary itu pemberian dari nenek sebelum meninggalkan aku.

“apa itu Nenek?” pikirku sosok itu memegang tanganku, halus, nyaman saat dipegang olehnya, tapi dia melepaskan pegangannya lalu berjalan menuju lubang pelangi itu dia berbalik dan mengajakku masuk. Tanpa pikir panjang ku mengikutinya dari belakang. “Mimpi apa ini? bila ini mimpi bahagia aku tak mau membuka mata ingin terus bermimpi.” kataku dalam hati sambil berjalan satu demi satu langkah melewati lingkaran itu.

Sungguh banyak warna di sini seperti kamarku tapi ini lebih indah ada banyak kupu-kupu berterbangan. Ada banyak pohon yang dihias lampu dan gantungan seperti pohon natal. Aku baru tersadar. “ke mana wanita itu? tidak ada di sini.” Aku mencarinya melihat ke kanan, kiri, dan belakangku tapi tak ada mana mungkin dia bersembunyi karena di sini tidak ada ruangan lagi, ku berjalan ke depan sembari melihat pohon-pohon. Baru ku lihat perempuan itu sedang terdiam dan memandang banyak sekali figura di dinding putih. Aku mendekatinya penasaran siapa yang ada di figura itu dan kenapa dipajang di tempat seperti ini.

“Astaga ini foto-foto keluargaku.” kataku dalam hati.

Di dinding putih ini banyak sekali figura tapi hanya 5 figura yang terdapat fotonya. Aku, Ibu, Ayah, Nenek, dan Kakek dalam foto itu semua memakai baju putih pandangannya sangat kosong. “setahuku aku tidak mempunyai baju seperti ini.” kataku kepada wanita itu, tapi wanita itu hanya tersenyum menggangguk. Ku lihat fotoku lagi yang tepat berada di tengah-tengah di antara figura lain. Rambutku terurai panjang dan kulitku sangat putih seperti mayat.

“apa ini fotoku saat mati?” tanyaku dalam hati. Aku menoleh pada wanita itu dia sedang duduk di dekat pohon berpita merah yang sangat besar. Dia menatapku tajam tersenyum lalu mengangkat diaryku ke atas seakan menunjukkan bahwa dia menemukan harta karun.
“diary itu terlihat sangat bagus.” kataku tersenyum menghampiri wanita itu dengan gembira.

Di tengah perjalanan ku tersadar bahwa tadi salah satu foto ada yang aneh. Tentu saja aku ingat foto itu menunjukkan diriku pada saat berumur 10 tahun. Ibu dan ayahku pada saat mereka muda dan belum menikah, dan kakek dia cukup tua dalam foto itu karena memiliki uban di bagian rambutnya seperti saat menghadiri pernikahan orangtuaku. Tapi ada seorang wanita yang berdampingan dengan kakek yang baru ku sadari sangat mirip wanita yang berada bersamaku ini. Sangat cantik, muda, dan putih.

“apa benar ini Nenek? Seperti perkiraanku tadi.” kataku bingung menatap bergantian ke arah wanita itu dan fotonya.
“tapi dia sudah mati 2 tahun yang lalu.” bisik dalam hati, jantungku mulai berdetak tak beraturan rasa takutku mulai datang.
“apa itu artinya aku sudah mati?” kataku sambil memegang tanganku yang satunya karena sangat gemetar.

Ku teruskan langahku mendekat kepada wanita itu yang ku kira Nenekku sendiri dia menyuruhku duduk di sampingnya. “cucuku ini Nenek.” kata wanita itu mengelus rambutku lalu tersenyum. “Nek ini mimpi?” tanyaku menggenggam tangannya. Nenek tidak menjawab dia malah berdiri dan menatapku dengan tajam lalu menggelengkan kepalanya dia memberikanku diary itu. Diary yang hilang.

“ada apa dengan diary ini?” kataku dalam hati, tanpa pikir panjang aku membawanya dan mulai ingin membukanya. Saat aku membuka halaman pertama tertulis, “BUKU DIARY NANDA.” yang masih ku ingat itu tulisanku saat berumur 6 tahun. Dan membuka halaman selanjutnya. Sungguh terkejut pada saat bersamaan aku mendengar suara desis kupu-kupu yang sangat banyak. Aku menengok melihat kupu-kupu yang bergerombol mengeluarkan suara yang membuat telingaku sakit. Tanganku menutup kedua telingaku degan sangat erat.

“sakitt.. apa ini?” tanyaku kepada Nenek.

Tapi Nenek tidak bereaksi apa-apa dia terdiam melihat kupu-kupu itu tampak tidak terlihat sakit sedikit pun berdiri di sampingku seperti patung. Kupu-kupu itu berterbangan sekarang dan masuk ke dalam figura kosong menjadi gambar lingkaran berwarna pelangi. Aku melepas tanganku dan membawa buku itu di lantai karena tidak sengaja ku jatuhkan. Ku lanjutkan membuka halaman kedua tertulis tanggal 16 November 2005 tapi tidak ada isi apa-apa lagi selain tulisan tanggal itu. Aku membuka halaman yang lain sama seperti halaman sebelumnya kosong dan hanya tanggalnya saja yang tersisa. Aku menengok Nenek, terkejut Nenek tidak ada di sini.

“Nek kamu di mana?” tanyaku sedikit berteriak dan jantungku mulai tidak karuan berdetak.
Tanganku erat memegang buku itu. Aku membuka dan ada tulisan besar bertinta merah, “Nenek ada di sini bersama kamu di hatimu yang kesepian.” ku buka lagi halaman selanjutnya

“tanggal 14 febuari 2007, cucuku Nanda ada yang ingin Nenek sampaikan kepadamu tentang keluarga ini saat nanti kamu membaca tulisan ini kamu akan menyadari bahwa semua keluarga sangat menyayangi dirimu dan mungkin Nenek telah tiada. Pada saat kau berpikir Ayah sangat egois kau membencinya dan sangat kasihan pada Ibumu. Datanglah ke rumah Kakek diamlah di sana temani dan rawat kakekmu sayang.”

“bila kau merasa baik berada di rumah Nenek kau bisa tinggal di sana selamanya. Nenek yakin kau anak yang sangat baik anak yang bisa dibanggakan anak yang cantik dan kuat. Beritahu Ayah dan Ibu atas janjinya akan membahagiakan dirimu. Tapi Nenek tidak yakin kau berani meninggalkan Ibu sendirian menderita dan harus setiap hari menangis karena kau anak baik. Kau sudah besar cucuku kau bisa membuat ini menjadi lebih baik jangan berputus asa. Salam sayang Nenekmu..”

Ku sadari buku itu basah dengan air mataku. Aku terisak sangat keras tidak bisa mengendalikan tangisanku sendiri. Aku berdiri melihat cahaya dekat figura seperti lampu yang sangat besar melangkahkan kaki walau berat rasanya melangkah. Figura yang tadi kosong kini terlihat ada gambar yang bergerak-gerak seperti memori yang hilang dan ku simpan di sini banyak kisah di sini. Aku, Ibu, dan Ayah bahagia. Lalu sesaat aku tersenyum melihat itu figura-figura itu jatuh dan pecah kini hanya ada satu figura yang terpajang yaitu fotoku yang tepat berada di tengah dan ekspresi mukanya yang semula tersenyum berubah menjadi sedih.

Silau sungguh menyakitkan mata cahaya yang kecil menjadi sangat besar. Lorong itu dan lingkaran pelangi itu, “jalan pulang.” pikirku tapi dimana Nenek.
“Nenek!” teriakku tapi lorong ini menyedotku masuk ke dalamnya sungguh sangat mual dan ingin muntah yang ku rasa. Ku tahan semuanya tapi tak bisa ini menyakitkan.
“blooo.” muntah di atas kasurku sendiri dan bajuku. Terdengar suara ibu dan ayah.
“kau sudah bangun Nak? maafkan kami berdua.” kata Ibu membersihkan bajuku yang terkena muntah.

Aku sudah ada di duniaku lagi dunia yang Nenek bilang banyak orang menyayangiku. Aku melirik ke tanganku dan buku ini ada di tanganku. Sungguh itu bukan mimpi biasa. Aku tersenyum kepada ayah dan ibu terlihat kebingungan. “kami menyayangimu.” kata mereka bersamaan dan memelukku itu kali pertama dipeluk saat aku tumbuh menjadi remaja.

Kata mereka aku tertidur sangat lama. Ayah stres karena sudah memanggil banyak dokter dan hasilnya nihil. Ibu setiap hari merawatku dan terkadang menangis tapi aku bersyukur atas kejadian ini. Dalam lubuk hatiku yang sangat dalam, “terima kasih Nenek.” aku sayang Nenek. Tak lupa kita berkunjung pada hari minggu ke tempat kakek tinggal karena sudah lama tak ke situ. Hidupku sekarang menjadi lebih baik walau tidak seperti dulu tapi ini membuatku senang.

Cerpen Karangan: Astri Nurjanah
Blog: Sihirpenagw.blogspot.com
Facebook: Astri Nurjanah

Cerpen Pelangi Dan Keluarga Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Air Mataku Kekuatanku

Oleh:
19 tahun silam lahirlah bayi perempuan yang memiliki berat 3,5 kg, seluruh keluarga sorak sorai bergembira menyambutnya, karena bayi mungil ini lahir pada malam hari, maka ia diberi nama

Thalesfaria (Part 1)

Oleh:
Rumah Cinderella berkabung. Awan hitam pekat tiba-tiba muncul di atas rumahnya. Ya, rumah dengan interior sederhana itu menampakkan keseramannya. Beberapa tetangga memasang wajah ketakutan melihat seolah rumah itu sedang

Ibu

Oleh:
Lagu “Afika – you’re my everything” mengalun mesra, Senja kembali hadirkan suasana hening, cahayanya menembus jendela kaca menerpa mataku. Aku terbangun dengan cepat ketika guyuran air comberan menggigilkan tubuh

Kaukah Ayah?

Oleh:
Aku hidup di antara seorang malaikat tak bersayap dan dua orang pendekar yang menjagaku. Aku bahagia memiliki mereka. Sudah hampir belasan tahun aku tidak merasakan kehadiran sosok ayah. Aku

Pengorbananku

Oleh:
Malam ini bulan bersinar terang menampakkan cahaya nya ke berbagai penjuru dunia. Namun, terangnya bulan itu kini tak seterang keadaanku. Aku hanya bisa terduduk di atas rerumputan dan memandangi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *