Pelangi Di Mata Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 March 2016

Namaku pelangi, aku adalah anak tunggal dari kedua orangtuaku. Ayahku meninggal dua tahun yang lalu tepat di hari ulang tahunku yang kedelapan. Ibuku buta karena kecelakaan yang terjadi berpuluh tahun yang lalu, saat ibu masih bekerja di pabrik. Cita-citaku hanya satu yaitu membahagiakan ibuku. Aku hanyalah anak miskin yang putus sekolah karena kepergian ayah sehingga tidak ada yang menafkahi kami. Aku sadar kenyataan pahit yang sulitku jalani sekarang. Menjadi seorang anak yatim.

Pagi itu entah mengapa aku tiba-tiba mimisan, darah segar dari hidung ini sulit dihentikan. Aku mencoba untuk tenang seakan tidak terjadi apa-apa, agar ibuku tidak bersedih. Selama beberapa hari, ternyata keadaanku tidak membaik juga bahkan semakin parah. Aku pun pergi ke rumah sakit, aku sengaja meninggalkan ibuku di rumah untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu buruk padaku. Namun, saat aku masih di jalan, tiba-tiba kepalaku pusing, aku tak punya pilihan, aku meneruskan perjalanan tanpa menghiraukan rasa sakit yang telah berkecamuk di kepalaku. Akan tetapi semakin aku melangkah rasanya aku ingin ambruk, aku pun menahannya dengan susah payah, berharap aku akan sampai di rumah sakit secepatnya. Namun, sudah tidak bisa dikendalikan lagi, badanku telah melemas, perlahan darah segar itu mengalir lagi dari hidungku. Aku terjatuh di trotoar jalan. Samar-samar aku melihat banyak orang yang berlarian mendekatiku.

Ketika aku bangun, aku telah berada di rumah sakit. Dokter bilang aku harus istirahat supaya cepat sembuh. “Untuk sementara waktu, kamu harus tinggal di sini. Kamu harus mendapatkan perawatan dari kami agar kamu cepat sembuh, gadis cantik,” kata seorang dokter perempuan yang memeriksaku. Aku berpikir kalau aku dirawat di rumah sakit, siapa yang akan merawat ibu? Siapa juga yang akan membiayai semua ini? lagi pula dokter bilang aku tidak sakit parah. “Aku tidak mau,” jawabku singkat.
“Kenapa?” Tanya dokter itu, heran.
“Memangnya aku sakit apa? dokter bilang sakitku ini tidak parah, lalu kenapa aku harus dirawat? Aku harus menjaga Ibu di rumah,”

Dokter itu seketika terdiam. Beberapa menit kemudian ia mulai bicara.
“Leukemia, kamu terkena leukemia,” ucap dokter itu dengan mata yang berkaca-kaca.
“Leukemia? Penyakit apa itu? Apakah penyakit itu terlalu berbahaya sampai aku harus dirawat?”
“Tidak. Percayalah tidak ada yang mustahil dalam leukemia,”
Aku termenung. Untuk anak seusiaku jelas tidak akan tahu, apa itu leukemia?
“Baiklah sekarang kamu mau kan dirawat di rumah sakit ini?” sambung dokter itu.
“Ya, demi Ibu di rumah,” jawabku. Dokter cantik itu kemudian tersenyum senang mendengarnya. Mendengar kata persetujuan yang ku ucapkan.

Selama beberapa minggu lamanya aku menjalani kemoterapi dan meninggalkan ibu di rumah sendiri. Tidak ada satu pun tetangga yang bisa ku mintai tolong untuk merawat ibu. Tidak ada yang pernah peduli terhadap kami selain dokter cantik yang bernama Mala itu. Selain merawatku di rumah sakit, dokter cantik itu pula yang telah membiayai seluruh pengobatan yang aku jalani. Hingga pada akhirnya, dokter mengizinkanku untuk pulang dan bertemu ibu. Senang rasanya bertemu ibu kembali setelah beberapa minggu terpisah darinya. Tapi di saat yang bersamaan, aku merasa bingung. Apa yang akan ku katakan kepada ibu? apakah aku harus mengatakan kalau aku sedang sakit dan membuat ibu bersedih? tidak akan, lebih baik aku diam. Esoknya aku pulang ke rumah diantar oleh dokter Mala. Benar juga apa yang telah ku duga sebelumnya. Ibuku marah.

“Dari mana kamu?” Tanya ibu dengan muka memerah. Aku terdiam.
“Apa kamu sudah sadar berapa lama kamu meninggalkan ibu di rumah sendiri?” sambung ibu. Pertanyaan kedua yang diucapkan ibu benar-benar membuatku ingin menangis.
“Jawab Nak, apa kamu sudah tidak sayang dengan Ibumu ini? Apa kamu sudah sadar kalau Ibumu ini cacat dan tidak berguna untukmu? sehingga kamu lebih memilih pergi meninggalkan Ibu. Tapi, kenapa kamu kembali lagi? Pergi saja sepuasmu, kalau kau memang menginginkannya, pergi dan lupakan Ibumu ini,” aku sontak memeluk ibuku erat.

Ibu berhasil melepaskan pelukanku, namun ku peluk lagi ibuku. Tak bisa lagi ku tahan air mata yang telah membanjiri pipiku. “Ibu jangan pernah berbicara seperti itu, aku sangat menyayangi Ibu. Percayalah Bu, aku pergi untuk Ibu. Aku ingin selalu menjaga dan merawat Ibu,” ucapku. Ibu terdiam. Aku tahu ibu masih marah, jelas sekali dari ekspresi wajahnya. Beberapa menit kemudian, ibu melepaskan pelukanku dengan kasar. Ia perlahan berjalan menuju kamarnya. Aku sengaja membiarkan ibu sendiri, agar ibu lebih tenang dan bisa memahami kalau aku tidak berbohong. Tidak lama setelah ibu masuk ke dalam kamar, dokter Mala menghampiriku dari dalam mobilnya yang teparkir di halaman depan rumah.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya dokter Mala.
“Apa yang harus ku lakukan, dok? Ibu sudah tidak percaya lagi denganku,” ucapku.
“Ini terlalu sulit untukmu, dokter siap kok membantu kamu kapan pun. Yang terpenting sekarang kamu harus merawat dan menjaga Ibumu. Dokter yakin, semarah apa pun seorang Ibu terhadap anaknya, ia tetap akan luluh terhadap kasih sayang anaknya yang tulus. Kamu juga harus yakin itu, oke?”
“Baik dokter,”
“Ya sudah jangan menangis lagi. Dokter mau pergi ke rumah sakit lagi. Kamu jaga Ibumu baik-baik ya,”
“Pasti dok,”

Dua hari semenjak aku kembali ke rumah ini, ibu masih saja marah kepadaku. Ia mengurung dirinya di kamar. Aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, aku merasa sangat bersalah, sampai aku sempat berpikir untuk menjelaskan apa yang telah terjadi denganku. Leukemia. Sore itu, ku beranikan diri memasuki kamar ibu. Ku beranikan mulut ini untuk berbicara kepada ibu. Aku sudah tidak tahan terus menerus seperti ini. “Bu, maafkan Pelangi,” ibu masih saja terdiam. Aku melangkah menuju ranjang dan duduk di sebelah ibu. “Pelangi janji tidak akan meninggalkan Ibu lagi. Pelangi janji akan merawat dan menjaga Ibu. Maafin pelangi Bu. Ibu adalah satu-satunya keajaiban yang Pelangi punya,” namun aku sadar, usahaku ini sia-sia. Ibu tetap saja tidak mau bicara.

Namun begitu sialnya aku, di saat seperti ini, darah yang seharusnya tidak akan pernah menetes dari hidungku, kembali lagi mengalir. Aku tidak bisa menahan rasa sakit di kepalaku. Aku segera meninggalkan ibu, namun masih saja aku di ambang pintu, tubuhku telah lemas dan aku pun ambruk. Menutup mataku untuk selama-lamanya. Proses pemakamanku dilaksanakan di tengah hujan gerimis. Saat itu juga, tepat di saat jasadku dimakamkan, ibu sedang menjalani operasi agar ia bisa melihat kembali. Ya, aku telah mendonorkan mataku untuknya.

Begitu sedihnya aku, melihat dokter Mala dan ibuku menangisi kepergianku. Selama hidupnya, ibu tidak pernah melihat wajah seorang Pelangi, anaknya sendiri. Namun, di saat ia diberi kesempatan melihat wajahku untuk pertama kali, aku harus pergi untuk selamanya. Ibu hanya bisa melihat jasadku yang telah bersatu dengan tanah bersama nisan yang tertancap di atasnya. Aku mendengar dokter Mala menjelaskan semua yang telah ku alami semenjak aku divonis menderita leukimia kepada ibu. Baru aku sadar, kalau sebenarnya pengobatan yang ku jalani seharusnya belum selesai, tetapi dokter lain yang merawatku telah memvonis bahwa umurku hanya tinggal beberapa hari saja. Karena itu, dokter Mala melepaskan semua pengobatanku dan membawaku pulang. Menghabiskan hari terakhirku bersama ibu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Salsabila

Cerpen Pelangi Di Mata Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepasang Kaki dan Impian

Oleh:
Hari ini adalah hari pertamaku memenuhi panggilan dari salah satu stasiun radio ternama di Bandung. Setelah mengikuti berbagai seleksi, dan mengirimkan rekaman suara dalam sample voice ke beberapa stasiun

Tragedi Si Kembar

Oleh:
Dimulai dari kisah sebuah keluarga harmonis yang mengalami titik kehancuran akibat perpisahan kedua orangtua mereka, dan mengakibatkan pasangan anak kembar yang sangat mirip dan saling mengasihi sejak kecil memiliki

Ruang Waktu (Part 1)

Oleh:
Rintikan hujan masih berjatuhan saat ini, jalanan yang masih basah akibat hujan semalaman membuat suasan pagi ini pun terasa begitu dingin dan menusukku. Aku duduk menikmati pagi ini, suasana

Gadis Bermata Bening Itu

Oleh:
“bruuk”, gadis itu terjatuh lagi, membuat orang orang yang berjalan di sekitarnya merasa heran karena gadis itu sudah jatuh dua kali karena tersandung Gadis itu merintih melihat kakinya yang

Senandung Milyaran Semut

Oleh:
Bukan warna-warna kelabu yang mungkin menghadirkan diri dan solah-olah memberitahu bahwa hari-hari sendu akan datang. Sebagai pembanding yang nyata ada sebingkai senyum pelangi yang melebar simetris searah mentari di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *