Pelangi Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 May 2017

Tujuh belas tahun…
Bukan waktu yang singkat jika dijalani dengan kehidupan yang tidak normal. Ya, aku menganggapnya waktu yang tidak normal. Karena aku hidup di tengah-tengah keluarga yang menjijikan. Ayah kandungku meninggal 12 tahun yang lalu ketika usiaku genap 6 tahun. Dan dua tahun setelah kepergian ayah, ibu menikah lagi dengan seorang laki-laki yang baru dikenalnya beberapa hari. Aku rasa bukan karena ibu berhenti mencintai ayah, aku yakin cinta itu masih ada. Karena sejak kepergian ayah ibu menangis setiap malam. Ibu sangat kehilangan ayah. Alasan ibu menikah itu cukup simple. Karena ibu tidak sanggup membiayai keluarganya sendirian, ibu butuh seorang suami untuk menafkahinya. Aku memang sangat kecewa dengan keputusan ibu yang menikah tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu. Ok! Aku biarkan ibu memilih pilihannya sendiri meskipun aku tidak suka dengan suami barunya ibu. Tubuhnya yang pendek, berkumis tebal, rambutnya yang beruban. Ah… sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Awalnya pernikahan ibu berjalan baik-baik saja. Namun, lama-kelamaan suami baru ibu itu mulai menampakkan sifat aslinya. Memerintah seenaknya, jika perintahnya tidak dilaksanakan maka dia akan mengamuk seperti banteng yang ingin menyeruduk orang dengan tanduknya.
Seringkali aku memergoki ibu yang sedang menangis tersedu-sedu akibat perbuatan orang itu. Tapi aku diam saja. Tak pernah menanyakan masalahnya apa. Yang kulakukan hanyalah memeluk dan menenangkan ibu.

Aku tak pernah bisa menerimanya menjadi ayah kedua setelah ayahku. Meski aku telah mencoba dan berusaha untuk menerimanya, namun tetap saja. Hati tak bisa dibohongi, sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa menerimanya. Bukan soal fisiknya, tapi hatiku, hatiku menolak, hatiku tetap menyimpan satu nama ayah dan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan nama ayahku di hati ini walaupun dia seorang presiden sekalipun.

Hari demi hari kulalui tanpa ada canda, tanpa ada tawa. Rumah ini bagaikan neraka bagiku, dihiasi dengan pertengkaran yang tak pernah ada ujungnya. Tak ada yang mengalah di setiap pertengkaran itu terjadi. Aku benci ayah tiri, apapun alasannya.
Kudengar ibu dan orang itu akan cerai. Aku merasa bahagia, meskipun mungkin tetangga-tetanggaku akan mencibir keluargaku. Tapi aku tak peduli, karena mereka tidak akan pernah bisa merasakan apa yang aku rasakan. Mereka hanya penonton, bukan pelaku. Dan di sini keluargaku yang menjadi pemeran utamanya.

Ibuku telah resmi cerai dengan orang itu. Binar-binar kebahagiaan aku tunjukkan di hadapan ibuku, dan aku meminta agar ibu tidak menikah lagi dengan siapapun setelah perceraian itu. Ibuku menyetujui permintaanku. Namun, selang beberapa minggu orang itu, mantan suami ibuku, mantan ayah tiriku, datang lagi ke rumah dengan membawa kabar gembira yang entah apa maksud dari semua itu. Hingga ibuku tergoda untuk kembali rujuk dengan mantan suaminya yang bernama taryono itu.
Ok! Aku ngalah lagi, karena apa yang bisa aku lakukan. Aku hanya gadis ingusan yang tak mengerti apa-apa. Aku hanya bisa menerimanya kembali dengan hati yang hancur. Entahlah, apakah hati ini akan kembali utuh atau tidak. Yang jelas, saat ini hatiku begitu remuk bagaikan butiran pasir di pinggir pantai.

Aku menangis saat pernikahan itu berlangsung di rumah mungil milik kami. Air mata yang tak mampu aku sembunyikan itu berhasil membuat orang yang hadir bertanya-tanya.
“ada apa Lisna?” ucap bi eti salah satu tetanggaku yang hadir.
Aku merangkulnya tanpa menjawab pertanyaan yang dia lontarkan padaku. Aku berusaha menenangkan hatiku yang benar-benar teriris. Menyakitkan.

Acara pernikahan selesai, suasana kembali seperti biasa. Tanpa ada sepatah kata pun yang kuucapkan pada ibu dan orang itu. Aku menuju kamar tidurku, tempat peraduanku. Aku melanjutkan tangisku yang sempat terhenti.

Enam tahun kemudian, hubungan ayah tiriku dan ibu memang bertahan lama, namu di dalamnya terdapat beribu-ribu bahkan berjuta-juta luka yang menganga. Selama enam tahun ini ibu dan ayah tiriku telah menjalani pernikahan sebanyak tiga kali dan dua kali cerai.
Tak pernah terhitung waktuku untuk memikirkannya. Memikirkan orangtua yang sama sekali tidak peduli padaku. Hingga aku yakin bahwa mereka benar-benar tidak menyayangiku.

“Apa ini? Apakah ini yang dinamakan keluarga sakinah, mawadah, warohmah?” Ucapku pada mereka yang sedang beradu mulut di depan tungku api. “Apakah kalian tak pernah melirik sedikit saja perasaanku? Apa yang kalian inginkan?” Aku begitu kesal dengan ibu dan ayah tiriku yang selalu bertengkar.
Ayah tiriku yang jarang bertegur sapa denganku bangkit dari duduknya dan menendang kursi yang berada satu meter di belakangnya.
Aku terperanjat kaget.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau yang membuat kursi itu? Apa kau yang membeli kursi itu?” Ucapku dengan perasaan marah, “Tak ingatkah kau yang hanya numpang di sini. Mana tanggungjawabmu?” Lanjutku.
“Dasar goblok, seperti anak yang tidak disekolahkan, berani kau melawan orangtua?”
“Kau bukan siapa-siapa bagiku, dan aku disekolahkan untuk menghormati orang-orang yang berakhlak, bukan orang sepertimu.”
Plakkk…
Tamparan keras mendarat di pipiku membuat wajahku merah dan tampak Empat jari di pipiku bekas tamparan orang gila itu. Ibu yang berusaha melerai pertengkaranku dengan ayah tiriku malah kena tamparan juga. Aku tidak terima melihat ibu diperlakukan seperti itu. Aku menyuruhnya pergi dari rumah ini.
“Tak sudi saya harus menginjakkan kaki di rumah setan ini lagi.” Ucapnya sambil pergi tanpa membawa apapun.

Aku memeluk ibu yang terhuyung-huyung menahan sakitnya tamparan orang gila itu. Kita berdua hanya bisa berpelukan dengan disertai tangis yang membeludak setelah dia pergi. Bukan menangisi kepergiannya, tapi karena rasa sakit hati yang begitu dalam.
“Bu, semoga dia tidak pernah kembali lagi.” Ucapku gemeteran.
Ibu memelukku semakin erat dan mengelus rambutku. Hatiku begitu perih, entah apa yang telah direncanakan tuhan selanjutnya untuk keluargaku. Pedih, perih, yang dialami ku selama ini aku pikir akan berkhir di hari ini. Namun tidak, setelah tiga bulan lamanya ayah tiriku kembali lagi. Tapi ibu telah menceraikannya dengan sebelah pihak. Dan ibu berencana akan menikah dengan orang pangalengan beberapa hari lagi.
Aku memang menyetujuinya karena aku pikir semuanya akan berubah setelah ibu menikah dengan orang lain. Tapi ternyata tidak, setelah ibu menikah lagi, keluargaku menjadi semakin tidak tenang. Karena taryono mantan ayah tiriku terus mengganggu keluargaku. Bahkan berani mengancam ayah tiriku yang baru, akan dibunuh jika masih tetap tinggal di rumah ini dan taryono akan menyuruh orang lain untuk merampok rumah ibu jika ibu tidak segera cerai dengan suami barunya. Tak ada seorang pun yang berani melaporkannya pada pihak berwajib. Dengan terpaksa ibu harus cerai dengan ayah tiriku yang baru dan menikah lagi dengan Taryono untuk yang ke Empat kalinya.

Hingga saat ini, saat usiaku 17 tahun ibuku masih dengan ayah tiriku, Taryono, walaupun hubungannya bertahan namun tak ada kebahagiaan sedikitpun yang mengiringi kebersamaannya.
Ayah Taryono hanya numpang tidur, minta makan, dan menjadikan ibu pembantu tanpa dibayar.
Ayah tiriku tidak pernah memberikan nafkah seribu rupiah pun pada ibu. Berangkat pagi, pulang malam. Entah apa yang dia lakukan di luar sana.
Aku seperti orang bodoh yang hanya mengharapkan keajaiban itu datang dan merubah takdir yang telah tuhan gariskan untuk keluargaku dan hidupku.

Sampai akhirnya aku tidak percaya lagi akan indahnya pelangi setelah hujan. Dan aku yakin tak ada karma di dunia ini, meskipun hampir setiap orang mempercayainya bahwa karma itu ada dan masih berlaku. Tapi tidak denganku, karena sampai saat ini di belum merasakan penderitaan yang selama ini dirasakan oleh keluargaku akibat perbuatannya.

SELESAI

Cerpen Karangan: Eneng Lisnawati
Facebook: Liisna Mahendra Kiehl
Nama: Eneng Lisnawati
Sekolah: SMAN 21 GARUT
Hobi: Membaca dan Menulis
Cita-Cita: menjadi pengusaha dan penulis

Cerpen Pelangi Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Ingin Kuliah

Oleh:
Kita sebut saja namanya Ryan, Ryan adalah siswa Alumni MAN di daerahnya yang baru saja dinyatakan lulus, malam itu setelah pengumuman kelulusan UN pada siang hari di seluruh indonesia

Penantian

Oleh:
Aku memperhatikan pohon natal itu beberapa kali. hiasan dan ornamen pada setiap helainya menambah keindahannya. Dari balik kaca ini. aku bisa melihat pohon natal indah ini. pohon yang wajib

Senja Itu Telah Sirna

Oleh:
Aku masih terdiam di kursi kayu ini, tentunya masih dengan perasaan dan aroma yang sama saat pertamaku menjumpainya, ya dia adalah malaikat kecilku. Entah aku masih belum paham akan

Isi Surat Itu

Oleh:
Keinginanku untuk menulis ini berawal ketika aku yang baru saja pulang dari suatu tempat rekreasi bersama teman-temanku. Sebenarnya aku tidak berencana mengajak teman-temanku mampir di rumah, tapi karena kebetulan

Ratapan Anak di Luar Nikah

Oleh:
Sehabis pulang kerja Marni tampak sangat berang karena lantai kamar mandi rumah kontrakannya sangat becek malah kamar mandi itu banjir air baknya luber sampai setengah lantai kamar mandi itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *