Peluru dan Brownies di Malam Tahun Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 29 September 2017

Malam tahun baruku tidak seperti tahun barumu. Mungkin saat ini kau sedang bergembira ria di suatu tempat. Bernyanyi, menari-nari, banyak makanan dan minuman yang enak-enak. Pulang pagi dan tertidur pulas di dinginnya kamar berAC dan kasur yang empuk.
Tidak tidak.

Malam ini aku hanya terduduk di dalam apartemenku yang busuk, gelap dan kumuh ini. Piring-piring belum dicuci dan kotor. Benda-benda berserakan. TV yang membosankan. Botol alkohol murahan yang membantuku melewati hidupku yang tumpul dan memuakkan.
Aku baru saja menemukan pistol lamaku tadi pagi. Pistol tengik, jelek, yang terukir namaku di gagangnya, dan sebutir peluru siap untuk kumasukkan ke dalam magasin. Bukannya aku tidak mampu beli peluru, tapi biarlah ini jadi peluru terakhir yang menemaniku, setelah hampir dua puluh tahun hidupku penuh dengan peluru.

Di Paris aku berteman dengan peluru. Di Spanyol, Amerika, Kenya, Libya bahkan sampai ke sudut dunia yang tak ada di peta pun, aku berteman bahkan bercinta dengan peluru dan granat. Hampir setengah planet ini aku kelilingi tak satupun tak ada peluru yang kubawa.
Aku tak perlu memberitahumu apa profesiku. Seorang penulis pasti berteman dengan pena atau pensil. Jika aku berteman dengan peluru kuharap kau sudah mengerti bagaimana caraku mencari makan.

Kudorong tegukan terakhir dari botol v*dkaku sebagai pengganti penghangat ruangan yang mati untuk mengusir dinginnya malam. Dalam dua puluh menit lagi semua orang akan berteriak gembira merayakan pergantian tahun. Dua puluh menit adalah waktu yang kumiliki untuk memasuki dimensi yang hanya diketahui oleh orang mati. Di saat mereka melanjutkan pergantian waktu, aku justru menghentikan waktu.

Aku bukan teroris. Tapi baiklah aku beritahu saja. Aku hanyalah seorang pembunuh bayaran tua. Aku tidak tertarik menjadi seorang pengecut yang merasa sudah jagoan setelah dicuci otak hanya dalam satu malam saja. Berjalan ke mana-mana dengan C4 terikat di badan hanya untuk mendapat kursi kosong di surga bersama bidadari-bidadari yang siap untuk ditiduri. Hanya saja akhir-akhir ini semakin sedikit orang memesan permintaan padaku. Mungkin caraku sudah semakin kuno meskipun mereka akui itu lebih efektif.
Tidak tidak!

Tidak ada masa depan di dalamnya, seperti pekerjaan yang kau lakukan dari Senin sampai Jumat. Berjalan teratur seperti zombie, duduk di depan komputer dengan jari-jari mengetuki tuts. Sementara kamu menatap kosong ke monitor pikiranmu menerawang jauh berpikir bahwa kau seharusnya tidak disini mengerjakan omong kosong ini dari jam sembilan sampai lima lalu pulang ke keluargamu yang mungkin tak lagi mencintaimu. Memikirkan rekening bankmu yang semakin tersengal dan terhimpit biaya administrasi bulanan yang justru lebih besar dari bunganya. Kau berusaha bertahan sampai akhir bulan dan berakhir di titik awal lagi, sampai tiba harinya mereka merumahkanmu, memberimu amplop pesangon yang berbanding terbalik dengan apa yang sudah kau berikan selama 30 tahun agar kau dapat melanjutkan hari-harimu yang sedang berakhir.
Tidak tidak!

Bukan hidupku seperti itu. Hidupku sederhana. Aku membantu orang melanjutkan hidupnya dengan menghentikan hidup orang lain.
Mungkin bagimu terasa mengerikan. Bagiku juga pada awalnya. Tapi setelah kutarik pelatuk dua atau tiga kali, ternyata lumayan juga. Aku bisa menerima uang yang mungkin setara dengan uang yang kau kumpulkan setelah bekerja selama sepuluh tahun dalam satu malam saja dan aku tidak perlu merasa bersalah walaupun sebenarnya aku harus. Sesekali di malam hari wajah-wajah mereka muncul dalam mimpiku, menyeringai padaku, memanggil-manggil namaku, berkata mereka sudah sangat menunggu untuk bertemu denganku di sisi sana. Sesekali juga kulihat wajah ibuku yang pertama kali menjadi korban perdanaku.
Seperti yang aku bilang aku bukan teroris. Teroris itu hanya pekerjaan untuk orang miskin dan lapar yang dibodohi dan diiming-imingi kekayaan oleh orang lain yang malah lebih miskin lagi dari orang itu.
Tidak tidak! Yang kumiliki lebih berkelas dan lebih elit.

Lima belas menit sudah berlalu. Pistolku sudah kubersihkan walaupun karat dan bau mesiu masih menempel. Kuambil peluru yang kuambil di meja. Kutatapi dekat di wajahku. Kuperhatikan setiap millimeter timah hitam di ujungnya. Setiap senti selongsong yang berkarat. Kataku, malam ini adalah malam terakhir kita bertemu. Kau tidak lagi harus bekerja padaku. Kau tidak lagi perlu mencintaiku. Kau hanya perlu membenciku untuk pertama dan terakhir kalinya. Seperti kebencian yang kupendam pada ibuku, dendam yang kulampiaskan pada istriku, dan sumpah serapah yang kutatokan di leherku. Karena hari ini adalah hari yang sudah kutunggu-tunggu. Hari dimana semua rasa cinta, benci, rindu, muak, takut, geram, murka, bosan dan jengah kubuang jauh ke dalam hatiku yang sudah mati, seperti ruang dan waktu yang tersingularitas ke dalam lubang hitam di luar angkasa sana.

“Kau tak harus melakukan ini” kata si peluru sesaat sebelum memasuki magasin.
“Kau diam sajalah. Bukan kau yang mengaturku tapi aku yang mengaturmu”.
“Bukannya kau mencintaiku? Katakan padaku kau mencintaiku, Max”.
Cinta. Terakhir aku merasa dicintai adalah ketika ayahku membelaiku dengan tali pinggangnya dan ibuku menyuapiku dengan sindiran dan makian sarkastis. Makananku setiap hari.
Tidak tidak!

Cinta yang sebenarnya bagiku adalah ketika jariku menarik pelatuk, mendengarkan hembusan nafas terakhir ayah dan ibuku yang bersimbah darah, dan menemukan sisa-sisa burrito yang berjamur di tong sampah. Cinta bagiku adalah ketika aku menekan tombol detonator bom mobil yang meledak di tengah keramaian jalan di Queens. Cinta bukanlah cerita indah seperti yang kau baca di novel tapi keindahan dalam wajah mereka yang kubuat meregang nyawa. Aku sudah lelah mencintai cinta dan tepat tengah malah ini aku akan membunuh semua cinta yang ada di dalam hidupku.

“Jangan lakukan ini Max”
“Terlambat. Bom atom pun tak bisa menghalangiku untuk menyelesaikan misi ini. Aku sudah punya banyak uang, asetku ada di mana mana, kemakmuran dan kekayaan yang diinginkan mereka semua sudah aku punya. Hanya kedamaian saja yang belum. Jadi biarkan aku memilikinya. Biarkan dia memilikiku karena hanya aku yang belum dia punyai!”
“Baiklah Max. Lalu apakah yang menjadi permintaan terakhirmu?”

Untuk sesaat aku termangu. Tetiba aku ingat coklat brownies buatan Ibuku. Brownies yang selalu dia masak setiap hari terakhir di akhir tahun. Bersama Ayah kami akan duduk di meja makan brownies yang masih hangat dan wangi dengan segelas susu dingin. Begitu wanginya sampai memenuhi seluruh rumah kami. Begitunya wanginya sampai aku masih merasakan wanginya menempel di hidungku saat ini. Tapi itu hanyalah masa lalu yang tak berarti lagi. Semua itu membuatku sedih, marah dan kesal sampai ke dalam tulangku!

“Ah kau terlalu banyak omong, bedebah!”.
Dengan cepat aku tekan magasin ke dalam gagang pistol dan kutempelkan laras pistol ke pelipisku. Masih sempat kulirik bayanganku di depan cermin. Lucu. Sekian puluh tahun aku memiliki wajah baru kali ini aku merasa tidak mengenali bayangan di dalam cermin. Kulihat jam. Tepat jam dua belas lima puluh sembilan. Tanpa ragu dan merasa berdosa kuremas pelatuk pistolku.

Kurasakan peluru bergetar dan bergesek di dinding laras, menyentuh pelipisku, menelusuri otakku dan menembus di sisi pelipisku yang lain. Aneh, aku tidak merasakan sakit. Aku justru merasakan perlahan seluruh tubuhku seakan tersedot masuk ke dalam lubang di kepalaku, mulai dari kepalaku, tubuh, kaki, kedua tanganku meluruh semuanya ke dalam lubang kecil itu. Aku merasakan diriku terbebas dari gravitasi, memasuki horizon yang gelap, kurasakan tubuhku terspagetifikasi, perlahan ruang dan waktu melengkung. Waktu lalu berhenti, berputar mundur dan mundur, semakin cepat dan cepat. Hingga aku akhirnya tersingularitas.

Kulihat semuanya seperti film yang berjalan dari belakang ke depan. Aku melihat peluru yang kutembakkan pada korbanku masuk kembali ke larasnya, dan mereka hidup kembali. Aku melihat mobil yang meledak tercerai berai kembali menjadi utuh dan orang di dalamnya yang terburai menyatu kembali dan kembali tertawa tawa bersenyum riang. Aku melihat rumahku yang kubakar apinya padam dan rumah yang menghitam jadi utuh kembali.
Lalu penglihatanku menjadi kabur, semua berputar-putar dan akhirnya dan menghilang.

Aku sekarang ada di depan rumah. Berpakaian seragam sekolah, membawa tas dan termos. Satu-satunya yang kuingat adalah aku baru saja pulang sekolah dan ibu guru memberikanku sebatang coklat sebagai hadiah kenaikan kelasku. Hujan baru saja berhenti dan kulihat pelangi terjuntai di langit sebelah timur. Matahari yang hangat menerpa kulitku. Rumahku terlihat bagus tapi seingatku tak sebagus ini. Rerumputan terlihat menghijau. Pekarangan mengeluarkan harum bunga dandelion, kembang sepatu dan mawar liar yang senantiasa disirami Ayahku yang suka sekali.
Semua terlihat begitu terang dan indah.

Aku berjalan memasuki teras rumahku dan masuk ke ruang tamu. Aku tak melihat siapa-siapa di dalam rumah. Tapi yang aku rasakan begitu menginjak tangga teras rumah, hidungku mencium bau kue coklat dari dapur. Aku berlari ke dapur dan menemukan ibuku sedang memasak kue coklat kesukaanku. Aku begitu semangat seakan aku baru pertama kali bertemu Ibuku. Dapur Ibuku selalu rapi dan bersih meskipun sedang dipakai memasak. Dan itulah dia, berdiri di depan oven mengeluarkan loyang kue dari dalamnya. Aku berlari kesenangan dan memeluknya, membenamkan wajahku di celemeknya.

“Halo Sayang, kau baru pulang? Lihat, Ibu baru saja memasak kue brownies coklat kesukaanmu” katanya sambil tersenyum. Ia terlihat cantik sekali siang ini. Dengan rambut panjang terurai, gaun berwarna krem motif bunga-bunga yang biasa dipakai ibu-ibu dengan celemek terikat di pinggangnya.
“Browniees…! Ya mama, aku suka sekali kue brownies!” aku melonjak kegirangan.
“Apakah kau mau mencobanya?”. “Ya mama, aku mau, aku mau!”.

Ia meletakkan kue itu di meja dan memotongnya. Coklat dan menggiurkan, dengan potongan biji kenari di atasnya dan lelehan coklat di dalamnya. Wangi khas kue coklat bercampur kayu manis terhirup ke dalam hidungku. Perlahan ia memotongnya, mengangkat sepotong untukku dan meletakkannya di piring. Aku memejamkan mataku dan menghirup wanginya dalam-dalam.

“Mama, kue buatanmu wangi sekali”, Ia memotongkannya dengan garpu dan menyuapkannya ke dalam mulutku, “Mama, rasanya enak sekali!”. “Kau menyukainya Sayang?” rambutku dielusnya. “Ya Mama, aku suka sekali Mama, rasanya enak!”. “Baiklah, kau duduk di meja sini. Habiskan yah. Kamu mau segelas susu, Sayang?”. “Ya Mama, aku mau susu, pakai es yah”. “Tentu saja, Sayang”.

Suara mobil terdengar masuk ke dalam garasi lewat samping rumah kami. Aku terlalu sibuk dengan kueku sehingga aku tidak menghiraukan kedatangannya meskipun aku sangat ingin menyambutnya. Ayah muncul dari pintu dapur dan mendapati Mamaku menyambutnya. “Halo Mama, aku pulang”’. “Halo Sayang, bagaimana harimu, apakah banyak pekerjaan hari ini?”. “Biasa saja Sayang, ini Papa bawakan telur dan madu pesananmu. Wah, kau masak apa, brownies ya?”. Ïya, kan hari ini hari terakhir sebelum tahun baru, aku kan selalu memasak brownies untuk kita. Malam tahun baru ini kita mau ke mana Pah?” Ibuku menggantungkan jaket Ayah di kursi. “Malam ini kita ke danau melihat pesta kembang api, bagaimana?”. “Boleh Sayang, aku ikut apa katamu sajalah”, Ia mengecup pipi Ayah.

“Halo Junior, bagaimana kuenya, Papa cicip dong!”, Ia mengusap rambutku dan membuka mulutnya. “Enak Pah!” aku menyuapkan sepotong ke dalam mulutnya. “Mmmm, enak yaa kue buatan Mamamu”. “Pasti doong” Mamaku tersenyum melihat kami.
“Papa kembali ke kantor lagi siang ini” tanyaku. “Tidak Junior, Papa mau di rumah saja hari ini dengan kamu dan Mama, kan malam ini malam tahun baru kan?” senyumnya mengembang di balik kumis lebatnya dan matanya terlihat berbinar di balik kacamatanya yang tebal. Aku pun tersenyum. Belum pernah aku merasa bahagia seperti ini.

Hari ini cerah sekali. Mama membawa piring kue kami ke meja makan kayu di belakang rumah. Di situ kami menikmati brownies coklat dan susu sambil bercanda riang di bawah hangatnya sinar matahari. Aku membayangkan nanti malam kami akan ke danau, menonton pesta kembang api sambil menikmati kue brownies dan susu bersama Ayah dan Ibuku. Betapa menyenangkannya.

Jakarta
Antara 2 Januari sampai 10 Februari 2017

Cerpen Karangan: Kaltor
Facebook: http://facebook.com/togar2009
Nama saya Kaltor umur 38 tahun. Saat ini saya tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Email dan nomor telepon saya adalah kaltorjn[-at-]yahoo.com dan 08159523698 atau 021-7802420

Cerpen Peluru dan Brownies di Malam Tahun Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Berbuka Kak Roby!

Oleh:
Bulan ramadhan kali ini sama seperti sebelumnya, jauh dari keluarga memang sangat tidak menyenangkan, apalagi di saat mengingat momen dimana kami sedang berbuka dan sahur bersama. Aku Hanna umurku

Air Menjadi Saksi

Oleh:
Sungguh mengecewakan, biasanya aku di atas pipa di lapangan untuk menikmati sinar matahari sambil tidur-tiduran. Tapi, ada seseorang yang datang dan tidur di situ lebih dulu dan akhirnya aku

Endless

Oleh:
Aku bingung. Aku sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi sekarang. Pandanganku buram. Pandanganku seperti ditutup oleh sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh mata. Ya, aku tahu itu tidak

Cats Morning Story

Oleh:
Kami sebagai kucing tak suka bila harus memakan duri ikan. Ayolah, apa enaknya duri ikan? Atau tulang ayam? Itu bukan makanan, bung. Itu sampah. Sampah dari makhluk yang sombong

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *