Pengorbanan Seorang Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 25 April 2018

Naila kebingungan saat ini ia harus segera berangkat menuju kampus sebab waktu telah menunjukan pukul 13:00. sementara itu ia belum mengetahui siapa yang akan mengantarkannya menuju kampus saat ini. Sebab ojek yang biasa mengantarkannya setelah beberapa kali ia hubungi tidak menjawab dan tak kunjung datang juga.

“Aduh mah bagaimana dong aku takut kesiangan, mana sedang uas lagi.” ujar naila seraya mondar-mandir dan terus menghubungi nomor ojek langganannya.
“Ya sudah kalau begitu mamah panggil bapak saja ya supaya cepat menghantarkanmu.” Jawab ibunya seraya berlalu meninggalkan naila yang sedang mondar-mandir di teras rumah.

Sejurus kemudian, datanglah ibunya dengan dibuntuti oleh ayahnya.
“Yang sabar ya cantik, karena bapak berpakaian kotor seperti ini.” Ujar ayahnya seraya memarkirkan motor kemudian menyalakannya. Mungkin ayah naila takut anaknya merasa malu karena diantar ke kampus oleh bapak dengan berpakaian yang kotor seperti dirinya. Ya, Wajar saja ayah naila berpakaian kotor, sebab pada saat ibunya memanggil untuk mengantarkan ia ke kampus, pada saat itu pula ayahnya sedang bergelut dengan adukan semen dan pasir untuk mendirikan satu bangunan. Kebetulan pada saat itu bapak naila sedang bekerja di rumah tetangga mereka. Jadi tidak membutuhkan waktu yang cukup lama jika harus mengantarkan dulu anaknya. Di dalam hati naila bukanlah rasa gengsi yang hadir saat itu, namun rasa bangga terhadap ayahnya yang sangat bertanggung jawab terhadap dirinya.

Pada saat itu hujan turun, namun tidak terlalu besar.
“Kak, pakai saja jas hujan punya bapak! Nanti kakak kehujanan dan basah pakaian untuk mengikuti uas-nya.” Ujar ayahnya menyuruh naila untuk memakai jas hujan. “Lantas bapak bagai mana dong?” Tanya naila khawatir.
“Kalau bapak tidak apa-apa tidak memakai jas hujan juga, lagian bapak kan sedang kerja? Basah pun tak menjadi masalah.” Jawab ayahnya mantap.
“Mah maaf sebelumnya, tolong ambilkan jas hujan punya bapak! Kalau kakak yang ambil tanggung nih sudah memakai sepatu.” Pinta naila dengan tidak sedikitpun menghilangkan rasa hormat kepada ibunya. Tak lama kemudian, ibu menyodorkan jas hujan milik ayahnya. Segera saja naila memakai jas hujan itu seraya naik ke dalam boncengan ayahnya.

Ditengah-tengah perjalanan, tiba-tiba hujan menjadi lebat. Terasa oleh naila begitu basah pakaian yang dikenakan oleh ayahnya. Hanya helm saja yang melindungi ayahnya dari lebatnya hujan yang berhasil menembus langit dan melepaskan diri dari awan hitam yang sedang melaju untuk bertasbih kepada Sang Pencipta jagat raya. Sementara ia terlindungi oleh jas hujan yang dikenakannya saat itu.
“Ya Allah, betapa tanggung jawab bapakku ini.” Gumam naila seraya meneteskan air mata haru terhadap ayahnya.

“Kak, kalau nanti sudah sampai di kampus, kakak tidak usah menjabat tangan bapak! Sebab tangan bapak kotor bekas tadi menganyam besi.” Ya, Memang itu yang dilakukan ayah naila sebelum menghantarkan anaknya. Hati naila semakin bangga, perasaannya semakin haru, dan air matanya semakin meleleh seiring derasnya air hujan. Ia memberanikan diri untuk mengucapkan rasa terimakasihnya. Ya, Walau bagai manapun caranya untuk membalas semua pengorbanan kedua orangtuanya tetap saja tak akan terbalaskan.
“Pak, maafkan aku karena aku selalu merepotkan bapak. Ya merepotkan untuk menafkahiku, lalu sekarang aku mengganggu waktu kerja bapak, hanya untuk mengantarkanku.” Ujar naila sedikit terisak.
“Tidak kak. Karena ini semua sudah menjadi tugas dan tanggung jawab bagi bapak. Sekarang tugas kakak itu belajar dengan sungguh-sungguh, fokus kepada pelajaran, dan jangan pernah sekalipun kakak memikirkan tentang finansial untuk membayar uang kuliah kakak. Karena itu semua adalah tanggung jawab bapak.” Jawab ayahnya mantap. Naila terus meneteskan air matanya karena begitu terharu ia dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya. Sungguh ia tidak peduli jika didapati oleh ayahnya bahwa dirinya sedang menangis. Tapi setelah ia menyadari begitu banyak air mata yang telah jatuh di kelopak matanya, segera saja ia menyeka air matanya menggunakan kerudung yang sedang ia kenakan saat itu.

Sesampainya ia di kampus. Baru saja ia turun dari boncengan ayahnya itu, salah satu sahabatnya datang menghampiri dirinya.
“Jas hujannya mau dipakai terus, atau dibawa pulang saja sama bapak?” Tanya ayahnya seraya tersenyum kepada sahabat karib anaknya itu.
“Ah bawa pulang saja deh sama bapak ya!” Jawab naila seraya membuka jas hujan yang sedang dikenakannya saat itu lalu memberikan kembali jas yang baru saja ia lepas kepada ayahnya.
“ya sudah bapak pulang dulu ya? Titip naila ya neng.” Ujar ayahnya seraya berlalu meninggalkan mereka yang sedang berdiri mematung di depan gerbang masjid dekat kampus itu.

“Eh kamu tau gak sih aku tadi di jalan sudah menangis loh.” Ujar naila kepada sahabat karibnya.
“Emang kenapa kamu pake nangis segala? Ih seperti anak lebay saja.” Tanya sahabatnya penasaran. Naila menceritakan segala sesuatu yang dialami oleh dirinya sepanjang perjalanannya menuju kampus.

“benarkah? Memang aku juga pasti akan melakukan hal yang sama apa bila diriku berada di posisi kamu saat itu.” Ujar sahabatnya dengan suara yang parau.
“Ingin rasanya aku berteriak kepada setiap orang bahwa ayahkulah yang sangat bertanggung jawab dan paling hebat.” Kata-kata itu yang selalu menggema di dalam hati naila sepanjang ia menyaksikan segala pengorbanan ayahnya.

Cerpen Karangan: Salma Rahmasari
Facebook: Salma Rahmasari

Cerpen Pengorbanan Seorang Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelajaran Berharga

Oleh:
Cheryl tak bisa membayangkan masa depannya lagi. Ia terlarut dalam kesedihan yang entah kapan selesainya. Kesedihan telah menenggelamkannya sehingga ia melupakan segalanya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan nasibnya

Kolak Pelangi dan Sholat Dhuha

Oleh:
Ramadhan pasti identik dengan pasar dadakan. Di antara kerumunan pedagang yang jumlahnya puluhan itu, terlihat seorang gadis bersama ibunya sedang berjualan kolak. Namanya Aisyah. Sekarang Aisyah dan ibunya menjadi

Sesal

Oleh:
Untuk terakhir kalinya ku belai kepala Boneng, seakan mengerti Boneng melirik ke arahku, matanya terlihat seperti berkaca-kaca. Mungkinkah Boneng juga sedih seperti yang ku rasakan karena kami harus berpisah.

Harta dan Tahta

Oleh:
Namaku Seanna Quionia Maldives, itu nama yang diberikan oleh Eyang putriku yang bermukim di Solo. Kamu memang Keanggunan dan Kesuburan Maladewa, itu juga yang sering ia ucapankan dulu. Ya,

Karam Di Laut Tenang

Oleh:
Keluarga kecil bahagia, mungkin itulah yang terlihat dari pasangan Arman dan Amanda mereka tinggal di rumah mewah bersama anak perempuannya bernama Fika yang baru berusia sepuluh tahun. Kehangatan keluarga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *