Pensil Rapuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Pensil menggores kertas
Mencetak angka demi angka
Menyusun kata demi kata
Menghambur debu
Hingga akhirnya merapuh

Dia masih terbaring tak sadarkan diri. Sudah seharian penuh ia harus menelan obat itu. Obat yang sebenarnya tak pernah ia bayangkan untuk ditelannya bulat-bulat. Aku hanya mampu menatap wajah kuyunya dari balik kaca. Merasakan betapa berat hembusan napasnya. Dalam interval tiga jam, dia akan terbangun. Meronta, terpekik, dan dengan panik perawat berseragam putih akan masuk ke ruangannya. Memberinya obat sebesar kuku jari dan suntikan. Dia menjerit, dia berusaha untuk menghalau setiap obat atau suntikan apa pun yang diberikan perawat. Namun, tangan-tangan kekar dua orang perawat pria membetotnya, mencengkeramnya kuat-kuat. Dan akhirnya dia tertidur lagi.

Lihatlah, rambutnya yang dulu panjang berkilau menjadi kusut dan berantakan. Jarinya yang dulu lentik sekarang mulai terlihat kurus kering dan kaku. Tangannya yang lembut, sekarang penuh dengan bekas suntikan. Kerutan di dahinya memanipulasi umur mudanya Dan wajahnya lelah. Tak pernah aku membayangkan semua ini akan terjadi kepadanya. Kepada seseorang yang dulu sangat ku iri. Kepada kakak perempuanku.

Setiap kali melihatnya pulang sekolah dengan sejuta prestasi, aku selalu iri. Dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Nilai, prestasi dan ketenaran semua ada pada dirinya. Namun, aku tak pernah tahu yang sesungguhnya terjadi. Rentang usia di antara kita, yang membuatku hanya mampu mengenalinya sebagai sosok siswa SMA yang menjadi idaman keluarga. Sementara aku, hanya anak kecil berusia 6 tahun yang masih lugu.

Seperti hari itu, ketika aku sedang bermain boneka di serambi rumah. Dia pulang setelah beberapa hari tak ada di rumah. Dia pulang dengan membawa sebuah piala. Nyaris tak ada senyum yang berkibar di wajahnya. Dia hanya mengucapkan salam, menyerahkan piala dan sebuah amplop kepada ibu dan langsung mengurung diri di kamar. Dan malam harinya, ibu akan memasakkan kami 5 menu masakan yang enak-enak. Lagi-lagi, dia dengan wajah menyebalkan ke luar dari kamar. Nyaris tanpa ekspresi. Dia menyantap makanan cepat sekali dan tanpa basa-basi kembali lagi mengurung diri di kamar. Dia seolah memiliki dunia sendiri dan tak menganggap kami yang berada di rumah ini adalah makhluk hidup.

Setiap kali para siswa libur semester, ibu selalu mengajak kami pergi ke Bogor. Aku membawa semua mainanku, sementara dia membawa semua bukunya. Nyaris tak ada waktu baginya untuk sekedar mengajakku bermain. Waktunya hanya untuk buku dan buku. Dan kami tak seperti adik kakak pada umumnya. Dia terlalu pendiam bagiku, tak ada percakapan apa pun di antara kami. Bahkan kepada ibu pun, dia terlihat kaku. Bisa dihitung dia hanya berbicara berapa kali sehari, itu pun hanya hal-hal penting saja, dan bagiku dia adalah robot bertubuh manusia. Dia tak punya emosi sama sekali. Ekspresinya selalu datar, tak pernah dia tertawa atau tersenyum sekali pun.

“Ayo semuanya turun. kita sudah sampai di Bogor.” ujar ibu kepada kami.
Kami semua turun dari mobil dan menuju ke villa milik pribadi. Namun, rasanya ada yang tertinggal. Kakakku. Dia tak beranjak sedikit pun dari mobil, pandangannya kosong menatap kaca depan mobil. Tak mengindahkan perintah ibu untuk turun. Ada apa dengannya? Kenapa selama bertahun-tahun dia tak pernah mengajakku berbicara, bergurau, bercanda, bermain layaknya seorang kakak kepada adik?

“Ibu, ada apa dengan Kakak sebenarnya? Dia aneh,” kataku kepada ibu.
“Tak ada yang aneh kok. Dia hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik. Dia harus belajar,” jawab ibu kepadaku dengan jawaban yang sebenarnya kurang memuaskanku.

Mungkin bukan dia yang harus memulai, mungkin aku yang harus memulai. Kurasa aku harus mengajaknya berbicara dan bercanda. Meleburkan suasana. Aku memutuskan untuk menemuinya di mobil dengan membawa sebuah boneka. Namun, tatkala aku sampai di depan mobil. Mobil terlihat kosong. Tak ada seorang pun. Aku bergerak ke kanan dan kiri mobil, tak ada bayangannya sekali pun. Namun, aku harus tetap mencarinya. Kesempatan liburan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Aku akan mengatakan kepadanya bahwa dia harus bisa membuka diri dengan lingkungan yang ada. Jangan membuat dunianya sendiri.

“Aaaarrrggghh. Kenapa? Kenapa?” sebuah suara terdengar olehku. Kemudian disusul dengan isakan tangis.
Aku berlari mencari di mana suara itu berasal. Dia berlutut. Kedua tangannya memegang telinga. Dia menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali dia memukul-mukul tanah kosong di hadapannya dengan kedua tangannya. “Apa kau butuh ini? Aku tidak butuh lagi! Aku tidak mau lagi!” Dia meraih satu per satu buku yang berada di sebelahnya dan kemudian melemparkannya ke sembarang arah.

Bruk!
Bruk!
Bruk!

Satu per satu buku terjatuh bergelatakan di tanah.

“Kapan kalian mengerti? Apa sikapku selama ini belum jelas? Kenapa kalian tidak peka? Aku sudah lama menahan semua rasa. Selama ini aku hanya robot kalian!” Dia kembali berteriak. Menggumamkan kata demi kata yang sulit ku cerna. Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya penuh emosi. Tidak datar seperti yang ku tahu selama ini. Kini dia bersimpuh. Tertunduk. Tangannya mengepal dan menekan paha. Dia menangis.

“Kakak..” kataku menghampirinya.
Dia terkejut. Matanya membesar menatapku yang telah berdiri di sampingnya.
“Kakak tidak apa-apa kan?” Namun, aku tak mendengar jawaban apa pun darinya. Dia hanya mencoba untuk bangun. Memberesi buku-bukunya yang tadi sempat dia lemparkan dan aku sama sekali tak dianggapnya ada. Dia berdiri, memunguti bukunya, lantas beranjak pergi. Menyisakan aku dengan sebuah tanda tanya.

Esok harinya, aku menemukan kakakku sudah ada di ruang tamu bersama seorang laki-laki paruh baya. Kepalanya botak dan memakai kacamata kalung. Sepertinya dia adalah guru les privat yang sering dibicarakan ibu. Seseorang yang berprestasi yang terus menelurkan siswa-siswa didikannya menjadi peraih medali di ajang bergengsi. Dia tengah mengajari kakak materi sekolah.

Kakak terlihat menyimaknya. Matanya menatap buku yang sedang dicoret-coret oleh laki-laki tersebut. Namun, dari sudut yang berbeda, aku menangkap sesuatu yang lain. Kakak tidak sedang memperhatikan laki-laki tersebut. Tatapannya bukan kepada buku yang sedang dicoret-coret tersebut, tetapi kepada hal lain. Jiwanya seperti tengah mengembara. Dia seperti tidak berada di ruang tamu tersebut.

“Bagaimana sudah paham?” tanya laki-laki paruh baya kepada kakak.
“Iya, Pak,” jawabnya mengangguk.
“Baiklah karena saya ada urusan, pertemuan kita kali ini cukup sampai di sini ya. Tolong kerjakan soal di halaman 204, besok kita bahas.”

Kakak mengangguk. Laki-laki paruh baya berpamitan kepada ibu dan pergi menuju urusannya yang lain, sedangkan kakak masih terpaku di ruang tamu. Berhadapan dengan buku dan sebuah kertas. Kemudian, dia menutup bukunya dan mengeluarkan sebuah pensil. Dia mulai menuliskan sesuatu di secarik kertas. Selang setengah jam, dia meninggalkan semua bukunya di ruang tamu dan dia pergi entah ke mana. Ku kira ia pergi ke kamar mandi, tapi ku rasa cukup lama jika ia menghabiskan waktu di kamar mandi. Mungkin saja dia tertidur di kamarnya. Sebenarnya aku ingin menanyakan perihal pekerjaan rumahku kepadanya, tapi aku tidak mau mengganggunya. Lagi pula dia selama ini bersikap dingin terhadapku.

“Yaah. Pensilku kok nggak ada sih?” keluhku ketika mendapati pensilku menghilang.

Aku berinisiatif untuk meminjam pensil kakak. Kakak pasti punya banyak pensil yang menganggur, terlebih dia sendiri tak juga kembali. Buku-buku kakak banyak sekali dan memenuhi satu meja besar di ruang tamu. Banyak sekali coretan-coretan angka, kata, dan simbol apalah yang tak ku pahami sama sekali. Di mana aku bisa menemukan pensil? Di tumpukan buku-buku tersebut tak ada sama sekali kotak pensil. Namun, bukan berarti tak ada pensil di sini. Tadi aku lihat kakak sedang menulis menggunakan pensil.

Akhirnya setelah mencarinya dengan teliti, aku menemukan sebuah buku yang menggelembung dan ketika ku tekan seperti ada pensil di dalamnya. Aku membukanya tepat di halaman tempat pensil itu berada. Pensil yang ujungnya patah. Aku kecewa, ternyata kakak menggunakan pensil patah ini untuk menulis. Sebelum aku beranjak pergi, aku menemukan secarik kertas yang sudah terisi dengan barisan kata-kata. Namun, tulisannya berdebu, sepertinya ditulis dengan pensil yang patah itu. Bahkan aku bisa menemukan debu-debu pensil berserakan di atas catatan itu.

“Bukan niatku untuk memborong semua piala itu. Bukan keinginanku untuk menjadikan rumah ini sepi tanpa candaanku. Bukan pula kehendakku untuk membawa buku pelajaran ke mana pun. Aku mungkin seperti robot yang hanya tahu apa yang diperintahkan kepadanya. Namun, di sisi lain aku manusia. Aku masih bisa merasakan apa yang selama ini ku sembunyikan.
Mereka menyiksaku perlahan-lahan. Memasukkanku di kelas akselerasi yang ku benci. Menjadikanku lulusan terbaik sekaligus termuda. Menjadikanku peraih kejuaraan terbanyak di sekolah. Dan lengkap membuatku dijauhi semua teman-temanku.”

“Obsesi mereka adalah menjadikanku nomor satu, tanpa memikirkan bagaimana pendapatku dengan semua keputusan mereka. Mereka mengatur hidupku. Mereka menolak mentah-mentah hobiku dan memaksaku untuk beralih ke hal lain yang aku benci. Aku adalah robot mereka yang tak sanggup apa-apa. Mungkin aku diciptakan hanya untuk memuaskan keinginan mereka. Hanya saja, mereka tak tahu bahwa suatu saat nanti robot itu akan rusak.”

“Aku ingin mengatakan kepada mereka untuk menyudahi semua ini. Mengembalikkanku ke dunia normal. Bukan dunia robot yang harus ku hadapi saat ini. Namun, aku tak tahu caranya. Lidahku sudah kelu untuk berbicara dengan mereka. Aku memilih diam saja. Mungkin dengan diam, mereka akan peka. Namun, ternyata dugaanku keliru. Kediamanku justru membuat mereka menggila. Ajang olimpiade internasional di depan mata dan aku diminta menyiapkan segalanya, walaupun harus mengorbankan liburanku untuk mempelajari materi olimpiade. Aku lelah, Ayah, Ibu. Maafkan aku tak mampu memuaskan obsesimu hingga akhir usia.”

“Brrrraaaaakkkk! Pyyaaaaarr!!!”

Terdengar bunyi seperti kaca pecah. Ibu yang sedang bercengkerama dengan ayah di serambi langsung terkejut dan segera masuk ke dalam villa. Aku meletakkan kertas itu dan pergi mencari bunyi tadi. Satu per satu tempat aku cari. Tak ada kaca atau apa pun yang pecah. Hingga aku sampai di depan kamar kakak. Bukan lagi bunyi kaca pecah yang terdengar, melainkan beberapa barang sepertinya dibanting.

Kemudian, terdengar pekikan seseorang disusul tawa yang keras sekali setelah itu dilanjutkan dengan rintihan tangis seseorang. Ayah dan ibu seketika datang. Kami langsung menangkap ada gelagat tidak beres dengan kakak. Tanpa babibu, ayah menggedor-gedor pintu kamar kakak. Namun, kakak seolah tak mendengar apa pun. Hanya tawa tanpa makna saja yang terdengar. Tak sabar, ayah mendobraknya paksa. Dan terbongkarlah apa yang terjadi.

Kamar kakak seperti kapal pecah. Barang-barang tercecer di lantai. Serpihan kaca lemari yang tadi pecah berserakan di lantai bahkan sempat melukai telapak kakiku. Kapas dari bantal tercabut dan beterbangan memenuhi ruangan. Menyambut penampilan buruk dari kakak. Rambut kakak berantakan seperti tak pernah disisir satu minggu. Dan lihatlah ekspresinya.
“Siapa kalian?” dia bertanya dengan nada bicara seperti seseorang yang tengah terganggu jiwanya.

Dan sejak saat itu, aku memahami satu hal bahwa kakak telah berubah dari sebelumnya. Kakak telah menunjukkan apa yang selama ini disembunyikannya. Dan sejak saat itu, dia harus berpisah dengan kami. Tekanan batin yang selama ini ditahannya, telah ia keluarkan. Aku menatapnya sekali lagi dari balik kaca rumah sakit jiwa. Adakah sudut riang masih tertinggal di wajahnya? Adakah kebahagiaan masa remaja masih menemani hidupnya kini? Pensil yang dulu bisa melakukan apa pun kini telah rapuh di tengah usia.

Cerpen Karangan: Rizka Ayu Damayanti
Blog: http://rizkaayud.blogspot.co.id

Cerpen Pensil Rapuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penjajah Sebenarnya

Oleh:
Hidup memang tak selalu ingin sempurna. Dan mengharapkan sesuatu yang terbaik. Inilah aku. Anak desa yang terjerat wabah desanya. Sebuah desa yang konon adalah tempat pembuangan mayat hasil buruan

Rantai Kenangan

Oleh:
Suara riak lumpur yang menyatu dengan langkah kaki kian menjauh, dalam rintik hujan terdengar suara beberapa orang di sekitarku saling berbisik. Pandanganku hanya tertuju kepada gundukan tanah merah yang

Senja Itu Telah Sirna

Oleh:
Aku masih terdiam di kursi kayu ini, tentunya masih dengan perasaan dan aroma yang sama saat pertamaku menjumpainya, ya dia adalah malaikat kecilku. Entah aku masih belum paham akan

Aku Memaafkanmu Sahabatku

Oleh:
‘Ca, plis maafin aku!’ kata-kata yang selalu terngiang di telinga ku, semenjak sahabat kesayanganku Rena meninggal. Sebelumnya, kenalkan aku, Amanda Melysta Maisandra… Kisah ini terjadi pada ku sekitar tahun

Because Allah or Desire

Oleh:
“Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya itu sebelum mengenalmu. Aku sudah lama mengenalmu dan mengapa di ujung hatiku sudah hampir bisa melupakanmu kau datang lagi memberi sejuta kenangan bagiku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *