Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 13 May 2015

Kini aku takut untuk menghadapi kehidupan di dunia ini, dunia yang dipenuhi dengan nafsu belaka. Aku bingung, kemana akan aku tujukan arah tatapan sinar mataku ini, sinar yang dipenuhi dengan kesenduan. Ku coba untuk melihat ke depan, namun aku tak kuasa karena telah terpenuhi dengan penyesalan. Kucoba untuk melihat ke belakang, waw.. apa yang telah aku perbuat? “Ambisi” sifat itulah yang telah mendorongku terjatuh ke dalam sebuah jurang terjal, tidak ini melebihi dari sebuah jurang terjal. Karena jika aku terjatuh ke dalam sebuah jurang, setidaknya jurang itu dapat membantuku untuk tidak merasakan kenyataan pahit ini.

Aku tak pernah memiliki khayalan, mimpi, bahkan terfikir tentang “Broken Home”. Tetapi mengapa ia menghampiriku? Disaat aku masih di dalam masa pertumbuhan, aku tidak dapat merasakan akan kasih sayang seorang ayah. Tapi di dalam satu sisi itu semua tertutupi, karena aku memiliki seorang ibu yang sangat luar biasa. Beliau dapat menjadi orangtua ganda bagiku.

Perkenalkan namaku Catlin, sekarang aku duduk di kelas lll tingkat SLTA. Walaupun aku tidak memiliki seorang ayah namun aku dapat merasakan hal yang sama seperti teman-temanku yang lain, yaitu duduk di bangku sekolah. Itu semua berkat ibuku, ia selalu bekerja keras dan tidak pernah memperdulikan akan keadaan cuaca. Dia selalu bekerja walau air hujan membasahi tubuhnya dan selalu membiarkan tubuhnya terjemur sinar matahari yang begitu panas. Harapan dan tujuannya ialah hanya membahagiakanku anak semata wayangnya. Aku sangat menghargai jerih payah ibuku, karena itu aku selalu menggunakan waktuku seefektif dan seefisien mungkin karena itu aku selalu memperoleh ranking paralel di sekolah.

Sekarang tiba saatnya pengambilan surat kelulusan dan hasilnya..? yeah, seperti yang aku harapkan, lulus plus ranking paralel masih ku pertahankan. Aku sangat merasa bahagia, karena ibu pasti akan bangga jika mendengar berita ini. Namun di sisi lain aku bingung, kemana langkah selanjutnya akan aku tuju. Jujur aku ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun apalah daya keadaan ekonomi tidak mendukung.

Pak kepsek pun memanggilku untuk datang ke ruangannya, aku berjalan menuju ruangan pak kepsek sambil bingung plus sedikit cemas. “aku telah melakukan kesalahan apa? Sehingga harus dipanggil ke ruangan pak kepsek”. Itulah yang terfikir di dalam benakku.

“tok…tok.. tok… permisi pak!”
“ya, silahkan masuk Cat!” aku masuk dan duduk tepat berada di hadapan pak kepsek. Jantungku mulai berdetak kencang, aku seperti telah melakukan kesalahan yang begitu besar.
“ada apa ya pak, bapak memanggil Catlin ke ruangan ini?”
“begini Cat, dikarenakan kamu berhasil memperoleh nilai tertinggi untuk UN kali ini, maka kamu akan memperoleh beasisiwa ke UGM” mendengar kata-kata itu, aku seperti sedang bermimpi, jadi kucoba untuk meminta pak kepsek mengulangi yang telah ia katakan tadi. Namun ini adalah sebuah kenyataan, aku tidak sedang bermimpi.
“ya Allah… benarkah semua ini pak?” tanyaku dengan penasaran.
“ya nak, ini adalah sebuah kenyataan bahwa ini adalah hadiah dari sebagian kecil hasil prestasi yang kamu peroleh”.
“terimakasih pak, ibuku pasti akan sangat senang mendengar berita ini”
“iya, pergi pulanglah dan sampaikan berita ini kepada ibumu!” aku pun pulang ke rumah, namun biasanya jika dari sekolah hingga ke rumah aku membutuhkan waktu 20 menit, kali ini aku tempuh dengan waktu 10 menit. Yeah, aku berlari sambil memegang Trophy.

Aku langsung menuju ke tempat ibuku bekerja. Dari jarak 10 m, terlihat seorang wanita tua yang sedang menyapu jalanan, yah dia adalah ibuku. Sosok seorang perempuan yang begitu sangat hebat.
“bu, ibu…” teriakku dari kejauhan, terlihat raut bingung di wajahnya
“ada apa Cat?”
“huft.. huft…” dengan nafas yang tidak stabil, aku mencoba untuk menceritakan semuanya denganya.
“bu, aku mempunyai tiga berita yang sangat membahagiakan”
“tunggu, ibu bisa menebak berita itu. Pertama kamu lulus, dan yang kedua kamu mendapat ranking lagi”
“ya, bener. Tapikan ada tiga bu, terus yang satu lagi apa” tanyaku
“hemh.. ibu tidak tahu, memangnya ada apa nak?”
“bu, aku dapat beasiswa untuk kuliah di UGM”
“alhamdulilah, akhirnya kau kabulkan juga doa hambamu ini ya Allah” ucap syukur ibuku.
“tapi bu”
“tapi apa nak?”
“nanti kalau aku ke Yogya, ibu siapa yang nemenin di rumah?”
“ha..” tawa kecil ibuku
“jangan pikirkan ibumu ini nak, sekarang yang terpenting itu adalah masa depan dan kebahagiaanmu”.

Akhirnya tiba saatnya aku berangkat ke Yogya, ketika telah tiba ke Yogya, aku melihat gedung bangunan Universitasnya. “huft.. ini adalah Universitas impianku” ucapku dalam hati. Tapi sebelumnya aku tidak pernah menduga jika hampir seluruh mahasiswa disini itu semuanya pintar-pintar, dan itu menjadi pekerjaanku yang sangat sulit. Karena harus terus dapat mempertahankan beasiswaku bagaimanapun caranya.

Sekarang waktuku hanya aku fokuskan untuk belajar. Namun aku mempunyai kendala, teman yang tinggal seasrama denganku itu sangat malas, tidak pernah belajar dan bodoh. Hal itu membuatku illfeel dekat denganya. Jadi, aku putuskan untuk pindah dan tingal sendiri.

Aku menelfon ibuku yang ada di kampung, aku menceritakan semuanya terhadapnya, dan aku minta transfer uang sebesar RP. 4.000.000,00. Untuk biaya sewa Apartemen. Ibuku pun segera mentransfernya. Aku pun kini bisa belajar dengan tenang karena sudah tinggal sendiri. Namun pada saat mata kuliah ti, dan pada saat itu dosenku memberikan sebuah kuis. Namun dikarenakan aku tidak mempunyai laptop sehingga aku tidak dapat menjawab kuis tersebut.

Aku pun menelfon ibuku, aku menceritakan semua terhadapnya, dan ia pun mengerti. Dan segera mentransfer uang untuk beli laptop. Sekarang prestasi yang aku raih semakin begitu bertambah, aku dapat menguasai bahasa Inggris dan bahasa Prancis dengan sangat fasih. Setiap waktuku pasti selalu aku gunakan untuk membaca buku, karena aku berusaha agar dapat memperoleh beasiswa ke luar negeri.

Tidak terasa sekarang aku akan diwisuda, hanya membutuhkan waktu dua tahun untuk memperoleh gelar Dr. tapi, sebelum aku diwisuda dan melanjutkan s2 di luar negeri, aku ingin mengabadikan momen indah wisuda ini. Sehingga aku menelfon ibuku untuk membeli Handycam. Namun sepertinya untuk kali ini, ibuku sedikit sulit untuk megirim uang denganku.

“bu, sebentar lagi Catlin akan pindah ke Norwegia, jadi Catlin mau beli Handycam agar Catlin dapat mengabadikan momen-momen indah Catlin dengan teman-teman agar dapat dibawa ke Norwegia”.
“tapi nak” aku langsung memotong pembicaraan ibuku
“ya udahlah bu, Catlin tidak membutuhkan Hanycam itu”
“gak nak, pasti kamu sangat membutuhkan Handycam itu, dua hari lagi uangnya akan ibu kirimkan”
“benarkah semua itu bu” tanyaku dengan cepat.
“ya nak, ibu sangat menyayangimu, jaga dirimu baik-baik ya! Ibu akan selalu mendoakanmu untuk menjadi yang terbaik”

Sekarang aku telah mempunyai Handycam, sehingga aku dapat mengabadikan momen-momen indahku dan teman-temanku di Handycam terbaruku. Handphoneku pun berdering, aku menerima telphone dari kampung yang menyatakan bahwa ibuku “telah tiada” . mendengar kabar itu, aku tidak percaya, karena semalam ibuku baru mentransfer uang denganku. Tapi, aku terus diyakinkan untuk percaya, sehingga aku memutuskan untuk langsung pulang ke Medan. Aku tidak tahu perasaan apa yang sedang aku rasakan pada saat itu, aku menganggap itu semua adalah berita bohong. Namun kecurigaanku itu salah, aku melihat bendera hijau yang telah terpasang di depan rumahku. Aku seperti tidak merasakan apa-apa, hatiku hancur, jantungku berdetak begitu sangat cepat, tanganku ini gemetar ketika ingin membuka kain penutup jenazah itu. Akhirnya kain itu pun aku buka, aku menjerit ketika melihat ibuku yang telah tidak bernyawa lagi terbaring disitu. Aku menangis, terus menangis. Semua orang mencoba untuk menenangkanku, dan aku pun mulai bertanya, “apa yang menyebabkan ibuku meninggal?”
“penyebabnya ialah karena sayangnya ibumu terhadap dirimu” aku semakin bingung dengan pernyataan tersebut. Seseorang mencoba untuk menjelaskannya,
“ibuku telah menjual sebagian organ tubuhnya untuk kepentinganku”
Apartemen yang aku gunakan itu uang hasil jual kedua mata ibuku. Laptop yang aku punya itu uang hasil jual ginjal ibuku, dan yang terakhir Handycam yang aku punya itu uang hasil jual jantung ibuku. Mendengar kata-kata itu aku tak sadarkan diri dan kembali bangun sambil terdiam. kemewahan yang aku punya, aku rasakan, dan aku nikmati itu ternyata hasil dari jual organ tubuh ibuku.

Aku dapat tersenyum, dapat bahagia dengan apa yang aku miliki. Namun aku tidak pernah mempedulikan tentang keadaan ibuku. Aku hanya mau menelphone ibuku disaat aku ingin minta transfer uang kepadanya. Tidak pernah terfikir di benakku untuk menanyakan tentang keadaannya.

Sekarang tinggal penyesalan yang ada. IQ 170 yang punya, bahasa Prancis yang aku kuasai, bahasa Inggris yang aku kuasai, beasiswa s2 di luar negeri yang aku peroleh, itu tiada guna lagi, karena aku sudah tidak dapat melihat senyum ibuku lagi.

Cerpen Karangan: Rini Wulandari
Blog: http://riniwulanbieber.blogspot.com
Nama: Rini Wulandari
umur: 17 thn
kelas: XII smk

Cerpen Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Secret of Adriana (Part 1)

Oleh:
Sesekali wanita itu menimang boneka beruang yang ada di tangannya, dengan senyum manisnya yang menyiratkan kasih sayang, sesekali ia menatap langit biru lalu kembali tersenyum dan kembali menunduk seolah

Kakak Maafkan Aku

Oleh:
“Azri, papa akan mengadopsi seorang kakak untukmu!” kata papa. “Apa? kenapa papa mengadopsi anak? aku kan gak ingin punya kakak!” balasku. “Iya sih, tapi mungkin dia sangat berguna bagimu”

Si Buta Mencari Matahari

Oleh:
(1) DI PERMUKIMAN YANG TERPENCIL Berawal dari sebuah gubug tua yang sudah reot, Kala itu hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan dua orang anak laki-laki.

Antara Cinta dan Restu Orangtua

Oleh:
Aku terbangun dengan mata sembab, kepala juga pusing. Semua ini karena semalaman aku menangis. Ya, aku menangis! Menangisi nasibku, masa depanku dan diriku sendiri. “Mah, aku nggak mau nikah

Mencari Rumah

Oleh:
Entah, sudah untuk keberapa kali aku diajak Ayah untuk melihat-lihat rumah. Kami sekeluarga memang berencana untuk pindah dan mencari rumah baru. Sebelumnya kami menempati apartemen kalibata city di daerah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Penyesalan”

  1. Jade Elisa Putri says:

    cerita yang sangat bagus! like it!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *