Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 November 2013

Banyak yang mengatakan bahwa Aulia adalah seorang perempuan yang berbeda dari yang lain. Hidup miskin bukan alasan untuk tak bisa bersekolah. Hidup di kampung sangat digemarinya walau ia hidup hanya dengan seorang ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal sejak Aulia belum lahir. Aulia terkadang hanya bisa melihat kebahagiaan sahabatnya “Nabila” bukan suatu hal yang salah. Selain Nabila mempunyai kedua orang tua yang lengkap, dia juga salah satunya orang terkaya di desa nya.

Hawa dingin di desa Aulia kini telah membangunkan Aulia dari tidurnya. Matahari kini mulai menampakkan tubuhnya sedikit demi sedikit. Ayam-ayam pun telah berkokok dengan semangatnya. Aulia mendekati ibunya yang sedang memasak sesuatu namun, bau masakan ibunya kini telah masuk ke dalam lubang hidung Aulia. “ibu memasak apa? Aulia mau dong” tangan Aulia kini menarik tarik baju ibunya, seolah olah dia segera ingin merasakan bagaimana lezatnya masakan ibunya. “Sholat subuh dulu sayang, baru kau boleh merasakan makanan ini” ujar ibunya. Aulia segera berlari menuju ke kamar mandi untuk wudhu dan berlari dengan cepat menuju kamar. Ia ambil mukena dan sajadah. Sebenarnya ia sudah tak sabar untuk merasakan masakan ibunya, namun apa yang harus ia perbuat? sudahlah laksanakan saja.

Ibu Aulia menggeletakan hasil masakannya di meja makan yang terbuat dari kayu yang mungkin kini sudah mulai rapuh. Setelah Aulia menyelesaikan sholatnya, ia lipat mukena dan sajadahnya, ditaruhnya di atas lemari pakaian. Ia berlari begitu saja, menuju di ruang makan. “huummm bau nya membuat perutku keroncongan ibu! bolehkah aku makan sekarang” katanya. Ibu hanya mengangguk pelan. Ditatapnya wajah ibunya yang berbeda dari biasannya. Pucat, dan badannya begitu dingin sedingin es batu. Aulia masih binggung, menggapa di meja makan hanya terdapat satu mangkok sop? mengapa tak dua? lalu ibunya?. “tidak aku tidak mau makan! lalu ibu makan apa! pasti masakan yang satunya diberikan oleh Nabila! lalu ibu makan apa?” ujar Aulia seakan-akan marah padanya. Nabila memang satu-satunya teman Aulia. namun ia selalu saja meminta makanan pada ibu Aulia, sebenarnya dia adalah anak orang kaya. Namun! yapp begitulah sifat jeleknya. “Biarlah makanan itu ibu berikan kepada sahabat mu. Amal nak, yang menyelamatkan ibu mu dari api neraka” ucap ibu Aulia lembut. “Tidak! ibu itu tak punya mata apa! dia orang kaya bu! dia bisa membeli makanan yang lebih mahal dan enak, Ibu jahat dan tak punya otak!” ujar Aulia marah “plakkk” satu tamparan mendarat di pipi Aulia. Aulia tak menyaka ibunya akan melakukan itu padanya. Tiba-tiba ibunya pingsan tak tau karena apa. Karena Aulia sedang marah kepada ibunya. Tubuh Ibunya dingin, dan nyawa pun tak dapat lagi di pegang. Namun Aulia tetap tak menggubris meninggalnya sesosok wanita yang sangat dicintainya.

Selama 1 hari Aulia tak menyadari bahwa ibunya sudah tak bernyawa. Setelah ia pikir, mengapa ibunya tak bangun-bangun? setelah itu, hujan mengguyur rumah ini. Aulia terbiasa di saat hujan dipeluk ibunya. Namun mengapa ibunya tak juga bangun? Aulia mnengoyang goyangkan mayat ibunya ini. “ibuuuu” Aulia menangis sekencang hembusan angin, hidupnya kini seperti seekor anak kucing yang membutuhkan kehangatan induknya. Namun, nasib berkata lain

Cerpen Karangan: Octaviana Via
Facebook: Octaviana Via
nama: Octaviana Indah Fitriani

Cerpen Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Radio

Oleh:
Rasa sayang pada benda yang selalu menemani kesedihan dan kesendirian kita memanglah sulit untuk dipisah. Rasa sayang bisa berubah menjadi kesetiaan. Keduanya akan sulit bagi kita untuk tinggalkan, apalagi

Cangkul Rindu

Oleh:
Padahal sudah jam 23:30, Lita belum juga tidur. Bocah 4 tahun ini teringat ibunya yang meninggal tiga tahun yang lalu. Ditatap terus foto ibunya lewat KTP lusuh yang ia

Suffering

Oleh:
Malam berbalut mendung menjadi saksi buta sebuah perjalanan sesosok gadis kecil yang masih setia berjalan di atas trotoar jalanan tanpa alas kakinya.. Gadis yang mungkin masih berusia 10 tahun

My Change

Oleh:
Langit senja begitu indah, berwarna kemerah-merahan dengan ditemani kicaun burung yang beterbangan di atas sana untuk pulang ke sarang mereka, serta gemericik air sungai yang menyejukkan hati, semua itu

Hadiah Natal Buat Mama

Oleh:
“Ma, sinterklas itu memang ada ya?” “Iya, sayang. Sinterklas datang untuk membagi bagi hadiah kepada anak-anak yang baik pada orangtuanya” “Kalau gitu aku akan jadi anak yang baik supaya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Penyesalan”

  1. Rohannesburgh McMoran Holland says:

    cerpennya luar biasa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *