Penyesalan Pada Kakekku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 November 2016

Sayup-sayup azan subuh mulai terdengar. Jalanan mulai dipenuhi kendaran. Aku pun bangun untuk salat dan bekerja. Ambil air wudu, salat subuh, mandi, sarapan, itulah rutinitasku setiap hari senin sampai sabtu di Jakarta.

Sebenarnya, aku ini orang Blitar, Jawa Timur. Tetapi, karena pekerjaan, terpaksa, aku merantau ke kota orang untuk bekerja. Berdiri di pinggir jalan seperti orang kebingungan. Toleh sana, toleh sini, itulah bagian dari rutinitas pagiku, menyetop angkutan kota.

Angkutan kota telah terlihat, aku pun melambaikan tangan, kemudian naik ke angkot tersebut. Pukul 07.15 waktu Jakarta, aku sampai di kantor. Aku pun langsung menyelesaikan tugas, menemui Pak Direktur dan tentunya CEO perusahaan tersebut, dan mendampinginya untuk memeriksa pabrik yang ada di Karawang.

Jam 10.00 waktu setempat, aku telah kembali ke kantor. Setengah jam kemudian, handphone milikku berdering. Oh, telepon dari ayah. Ayah mengabarkan kepadaku bahwa kakek sedang dirawat di rumah sakit. Ayah pun sempat bertanya kepadaku, kapan pulang ke Blitar untuk menjenguk kakek di rumah sakit. Aku berdalih, bahwa saat ini tugas kantorku menumpuk. Sebenarnya itu hanya siasat dariku, karena aku begitu benci pada kakekku. Tak lama kemudian, telepon selesai.

Cucu durhaka, itulah sebutan yang patut dikatakan kepadaku waktu itu. Aku begitu benci pada kakekku, karena kakekku terlihat seperti orang bodoh di mata tetanggaku, bahkan teman-temanku. Dia pun suka tidak adil kepadaku dan melindungi sepupuku, padahal sepupuku itu adalah orang yang suka buat onar. Merantau ke Jakarta adalah siasat yang tepat menurutku, untuk menghindari kakekku.

Hari demi hari berlalu, aku sama sekali tidak menengok kakek. Huh, biarin orang tua itu mati, malah hidupku lebih bahagia. Saat aku kerja di kantor, tiba-tiba ada Pak Pos menemuiku. Dia membawa sepucuk surat dari Blitar. Tulisan di amplopnya, dari ayah. Aku berniat membuka surat tersebut di kost saja.

Jam 5 tepat, aku pun pulang ke kost. Setelah ganti baju, aku membuka surat tersebut. Ternyata surat itu dari kakek, walaupun tulisan di amplopnya “dari ayah” tapi di dalamnya ialah surat dari kakek. Walaupun tiada tulisan “dari kakek”, aku sangat kenal dengan tulisan kakek. Begitu khas menurutku. Surat itu berisi perintah kakek kepadaku, bahwa aku harus segera pulang. Pulang? Hmm, tidak etis menurutku. Akhirnya aku tidak pulang dan tetap berada di Jakarta.

Selang beberapa minggu kemudian, hasrat ingin pulang di hatiku tiba-tiba menjadi sangat kuat. Aku pun kemudian pulang dengan menaiki kereta api. Saat hampir sampai di Stasiun Blitar, aku menelepon ayahku untuk menjemputku. Ayahku kelihatan agak terkejut. Tiba-tiba aku pulang.

Sesampainya di Stasiun Blitar, aku bertemu ayahku dan ibuku. Ayah kelihatan tergesa-gesa, ibu pun juga. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Akhirnya aku pun hanya diam. Sasampainya di rumah, aku melihat keriuhan terjadi di rumah kakekku. Hmm, aku tidak terlalu penasaran. Aku pun berganti baju, baru kemudian ke rumah kakekku.

Sesampainya di rumah kakekku. Aku menjumpai kakekku yang telah terbujur kaku. Aku tidak menyadari akan terjadi secepat ini. Aku merasa sangat bersalah. Rasanya aku ingin kembali ke saat-saat yang lalu, dan menarik kata-kataku, yang berhubungan dengan kejelekkan kakek, ketika aku melihat foto-foto dan tulisan tentang kakek dan aku. Aku menyesal belum sempat minta maaf kepada kakek. Rasanya, aku yang bodoh.

Ya tuhan, berikanlah surga kakekku ini.

Cerpen Karangan: Wildan Hasibuan Amriansyah
Facebook: Wildan Hasibuan Amriansyah

Cerpen Penyesalan Pada Kakekku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


All is Fair in Love and War

Oleh:
“Siapa yang bisa menjawab mengapa hatimu menghela napas berat sebagaimana cintamu pergi? Hanya waktu yang bisa. Siapa yang bisa menjawab mengapa hatimu menangis ketika cintamu musnah? Hanya waktu yang

Who You?

Oleh:
Hujan turun sangat lebat, aku masih berdiri mematung di depan jendela kamar. air mata mewakili dan menemaniku saat ini, entah apa yang aku rasakan hati ini begitu hancur. Rintikan

I’m Your Brother

Oleh:
Annyeong Haseyo, naneun Kim Shin Jung imnida. Kalian bisa memanggilku Shin Jung. Aku tinggal di Seoul bersama kedua orangtuaku. Terkadang aku merasa kesepian. Andaikan saja aku punya Kakak, aku

Upiak Siti

Oleh:
Malam semakin larut kelam. Hening. Hanya sesekali terdengar isak tangis pilu, yang kadang ditemani nyanyian lirih jangkrik malam di halaman. Gadis bermata sipit itu meratap sendiri di sudut kamar

Diana dan Si Pussy

Oleh:
Diana sekarang telah duduk di bangku kelas lima di Sekolah Dasar. Keluarganya sedang bermigrasi ke kota, tetapi Diana tidak, Dia tetap tinggal bersama kakek, nenek, pamannya Kholil dan bibinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *