Penyesalan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 February 2017

Suatu hari, aku pulang sekolah, aku melihat hal yang paling aku benci terjadi. Saat aku sedang memasuki kamarku, ada hal yang membuat aku terkejut. Pianoku sudah tidak ada. Padahal itu dari zaman peninggalan Papah, untukku seorang. Itu adalah piano kuno yang mungkin saat ini sudah tidak ada lagi di toko alat musik, maksudnya sudah tidak diperjualbelikan. Aku kaget. Aku panik. Tanpa melodi, aku tak bisa. Aku benar-benar sungguh tidak menyangka akan seperti ini. Rasanya, aku ingin berteriak, namun aku tak sanggup. Itu, piano sungguh mahal. Itu benar-benar piano klasik. Siapa yang tega membawa pergi pianoku?

Aku mencari ke sana ke sini, di rumah. Namun, aku sama sekali tidak melihat benda bermelodi itu. Di manakah ia disimpan? Aku sungguh tak mengerti. Siapa yang berani membuat aku sesakit hati ini? Aku benci keadaan ini. Dan mungkin, ini pertama kalinya, aku menyesal aku lahir di dunia sebagai musisi. Aku benci menjadi anak Papah. Aku benci menjadi anak seorang musisi. Aku benci menjadi seperti ini. Aku benci terhadap diriku yang sesal. Aku benci ada diriku sendiri. Rasanya kalau aku punya jarum, sudah kutusukkan ke arah jantungku yang masih berdetak, berdegup kencang. Di manakah jiwa dan ragaku? Aku benci. Sangat membenci. Mengapa aku harus ada di sini, kalau tujuanku di sini hanya untuk dilecehkan saja? Ulah siapa sebenarnya?

Namun, aku lupa untuk menengok ke halaman di belakang rumah. Aku melihat sepercik api dari jendela rumah. Aku melihat sesosok wanita, dari balik jendela, sambil tertawa sekencang-kencangnya dengan teman-teman di sekelilingnya. Aku mengenalinya! Tentu! Dan, aku pun segera menuju halaman belakang rumah.
“Kak Fira!” Panggilku. Dan, ketawanya pun berhenti.
“Itu kan, pianoku!” Erangku didepannya.
“Ha, terus?” Tanyanya seperti ia tidak mengetahui apa yang terjadi.
“Terus ngapain kamu bakar pianoku? Ini kan pemberian Papah, ini piano tua, ini piano klasik, yang udah gak ada di toko-toko alat musik, kenapa Kakak tega banget sih? Dan sekarang, malah asyik ketawa sama teman-temanmu!” Aku mulai menaikkan nada suaraku.
“Dia adikmu?” Tanya salah satu teman Kak Fira.
“Bukan lah, haha!” Jawab Kak Fira dengan entengnya. Aku benci. Benci sekali.
“Ini tuh demi Mamah kamu, sayang,” jawab Kak Fira dengan ucapan manis hanya dari suaranya saja. Aku jijik mendengarnya.
“Kak, gak usah banyak omong deh, kenapa harus pianoku? Ini tuh mahal. Ingat ya, Papah yang beliin.” Ujarku. Aku tidak mau kalah berargumen dengan Kak Fira.
“PLAK!” Dan kembali lagi mendarat telapak tangannya di pipiku. Masih dengan pipiku yang tak berlemak. Dan kembali menusuk jarum-jarum hingga ke tulang. Sakitnya begitu terasa. Dan merahnya hampir cemerlang.
“Papah kamu tuh, hanya lelaki yang suka bikin sakit hati Mamah! Makanya Mamah jadi kaya gini! Sudahlah, gak usah pakai bela-belaian Papah. Papah sudah gak di sini juga, gak mau dengerin. Lelaki gak tahu malu. Suka menyakiti hati wanita. Papah sudah sepantasnya meninggal!” Teriak Kak Fira. Aku hancur. Aku hancur, selebur-leburnya diriku. Aku tak bisa tanpa musik, seperti aku tak bisa tanpa Papah. Melodi kelabu, hanyalah di pikiranku. Yang membara oleh rasa dendam, sakit hati mendalam. Yang tak kunjung sembuh. Dan tidak ada obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Sakit rasanya. Ingin kusudahi rasa ini, namun tak bisa. Yang membuatku tak bisa hanyalah ini. Melodi kelam. Tenggelam. Meremang. Perlahan menjadi surut. Tak nampak. Hilang la dibalik permukaan.
Papah. Maafkan aku, pianonya terbakar. Aku tidak punya apa-apa lagi.

KALI ini, sudah saatnya aku bercerita tentang keadaan saat ini. Aku sudah kembali dengan diriku yang sudah SMA. Yang sering kali mengalami pupus. Dalam percintaan, maupun lainnya. Aku merasa, aku sudah sangat tidak berguna. Kak Fira, sudah menjalani hidupnya sendiri, dengan pasangan hidupnya. Sering kali ia datang ke rumah, untuk menjenguk Mamah, namun tidak membelikan Mamah obat. Sering kali Kak Fira memberi uang untukku, uang sangu, uang sekolah, dan uang untuk pembayaran listrik di rumah, dan air. Kak Fira ke rumah pun hanya sebentar. Ia mungkin sudah tidak peduli dengan Mamah yang saat ini diambang-ambang hidup dan kematian. Entahlah nasib Mamah. Aku pun juga susah untuk peduli. Masih terngiang-ngiang soal Papah di pikiranku. Papah yang tersenyum lebar untukku. Untuk anak-anaknya, yang manis. Dan pelukan hangat, serta ciuman untuk Sang Istri tercinta. Papah yang selalu membuatku tersenyum. Papah yang membuat hidupku menjadi berwarna, walaupun hanya, mungkin sekitar tujuh tahunan aku hidup bersama Papah. Papah. Memang itu yang aku mau. Walaupun Papah tidak pernah mengajari memilih lelaki untuk masa depan, namun aku tahu, Papah, adalah yang kucari untuk masa depanku. Papah, bukan seperti yang orang-orang pikir. Papah bukanlah orang jahat, Papah hanya lelah dengan pekerjaan. Papah hanya ingin beristirahat sebentar saja, namun ternyata malah selamanya. Maaf Papah, karena aku belum bisa memberimu hadiah, sebelum kepergianmu.

SMA, kebanyakan remaja bilang kalau SMA adalah masa-masa paling indah sepanjang hayatmu menjadi anak sekolah. Namun, menurutku tidak. Buktinya saja aku tidak bisa melanjutkan kegiatanku dengan piano, sejak hangusnya pianoku, oleh Kak Fira. Dan semakin bertembah dewasa, aku semakin sering merawat Mamah, yang saat ini sudah menua. Kasian sekali, seperti orang tua yang selalu berputus asa. Selalu mengeluh. Selalu mengerang kesakitan. Akhir-akhir ini, Mamah sering pusing kepala. Katanya sakit, namun ia tidak pernah mau minum obat. Mamah selalu membiarkan penyakitnya bertambah dan bertambah. Memburuk dan memburuk. Semakin memburuk. Semakin letih. Semakin lesu. Semakin ia gundah. Menggugah pikiran untuk mengeluh dengan ucapan. Entah apa yang dirasakannya. Sakit Mamah semakin menjadi-jadi. Namun, psikis Mamah ada peningkatan. Mamah mulai sadar. Mamah mulai ingat semuanya. Mamah ingat memori apa tentang dirinya. Namun, Mamah suka mengeluh sakit, dan tak mau minum obat. Sudah berkali-kali kutelepon Kak Fira, tak diangkat. Aku pikir, Kak Fira tidak pernah ganti nomor sebelumnya. Mungkin ia sibuk dengan pekerjaannya.

Di SMA ini, aku juga sudah lama mengenal rasa saling suka, antar lawan jenis. Namun, aku pikir pupus. Tapi entahlah, lagi pula, aku juga tidak mengenal orang yang, ya, mungkin membuatku tertarik. Ryan. Naufal Rizki Ryandi. Di juga seorang musisi. Seperti ayahku. Ia juga seorang pianis, namun, ia juga pintar main gitar. Dan ia, lebih pintar, dan pasti, hidupnya lebih berwarna daripada aku. Namun, aku hanya sebatas tahu dia. Seperti ia kepadaku. Aku tidak mengharap lebih. Lagi pula, apa ada yang mau dengan perempuan sepertiku? Yang sebenarnya tahu, keseharianku dipukuli? Entahlah. Mungkin karena Mamah, aku jadi tergores luka.

Akhir-akhir ini, mungkin karena psikis Mamah sudah membaik, Mamah sudah jarang memuluki aku lagi. Dan Kak Fira, tetap sulit dihubungi. Namun, saat-saat yang tak pernah kuduga sama sekali, terjadi. Mamah dilarikan ke rumah sakit.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku pikir, uang sakuku sudah tinggal sedikit, dan tidak cukup untuk membiayai Mamah berobat ke rumah sakit. Aku terus-menerus menelepon Kak Fira. Namun, masih saja tidak terangkat. Atau mungkin, nomornya ganti? Kak Fira itu tidak pernah ganti nomor. Tapi, memang akhir-akhir ini, Kak Fira jarang mengunjungi rumah. Biasanya, dua minggu sekali, Kak Fira datang, walaupun hanya memberi uang untukku, kemudian ia pulang lagi ke rumahnya. Mungkin Kak Fira tidak betah berada di rumah, mengingat masa lalunya yang kelam terukir di rumah ini. Bersama Papah, Mamah, dan aku. Namun aku tidak peduli. Yang penting, ini bekas peninggalan Papah.

SUDAH sekitar dua harian aku tidak berangkat sekolah, hanya untuk menemani Mamah di rumah sakit. Sampai saat ini, aku masih belum tahu, Mamah itu sakit apa. Dokter bilang, Mamah tidak mau kalau sampai anak-anaknya tahu ia menderita sakit itu. Entah Mamah sakit apa, aku pun tidak mengerti. Kata Mamah yang bilang ke Dokter, biarkan anak-anak tahu sendiri kalau Mamah itu sakit apa. Kali ini, aku mencoba untuk menelepon Kak Fira lagi. Dan aku harap, semoga diangkat. Dan…
“Halo?”
“Iya, kenapa Dila, maaf, Kakak akhir-akhir ini sibuk sekali dengan urusan kantor Kakak, kamu kenapa telepon terus?” Tanya suara dibalik telepon.
“Mamah masuk rumah sakit, akhir-akhir ini Mamah sering merasa pusing dan gak mau minum obat, namun psikisnya sudah membaik Kak, Kak Fira ke sini sekarang ya!”
Akhirnya, diangkat sudah telepon dari Kak Fira. Dan ia bilang, ia segera ke rumah sakit untuk menjenguk Mamah. Aku belum merasakan, ada apa sebenarnya ini. Namun, kembali teringat, sesosok lelaki, yang senantiasa mendekap tubuh Mamah bila sakit. Apa, aku masih membenci Mamah ya Pah?
Papah, Mamah sakit.

SEPUCUK surat tergeletak di atas lemari di kamar VIP rumah sakit. Sebelahnya ada vas bunga, dengan bunga tulip. Bunga kesukaan Mamah. Bunga kesukaan wanita yang suka memukuliku, dengan vas. Sampai memberiku luka berbalut perban. Bunga kesukaan wanita miliknya. Milik Papah. Aku membukanya perlahan. Entah mengapa aku merasakan sesuatu penyesalan teramat dalam karena telah membenci. Aku sakit hati. Rasanya seperti tertusuk seribu jarum, mengarah langsung kepadaku. Tepat di jantungku. Yang membuat darah kembali mengucur perlahan. Dan butiran air mulai menetes perlahan dari pelupuk mataku yang sayup. Aku tak tahan untuk membukanya. Apalagi dengan membaca isinya. Memang pemilik kamar ini sudah tiada. Berkabung sudahlah duka. Ku perlahan membuka isinya.

Untuk anakku, Dila.
Maafkan Mamah yang dahulu suka memukulimu. Suka menghinamu. Memang Mamah tidak pantas untuk dipanggil Mamah. Lebih baik dari dulu Mamah mati saja. Maafkan Mamah karena haus, karena gila akan cinta terhadap Papahmu. Mamah memanglah orang yang sentimental. Mamah, dahulu sangat terobsesi sama Papah. Mamah suka sama seorang musisi dari waktu Mamah SMA, seperti kamu saat ini. Papah kamu itu hebat. Mamah rela melakukan apapun demi kebahagiaan Papah kamu. Dan akhirnya, sampai suatu saat, Papah bisa membuka hati untuk Mamah, walaupun Mamah hanyalah seorang wanita yang tidak ada apa-apanya dibanding wanita lain yang dekat dengan Papah. Tapi, Mamah hanyalah orang biasa. Mamah cemburu melihat Papah kamu dengan wanita lain. Walaupun mereka itu hanya teman satu band. Namun, Mamah cemburu sekali. Mamah sakit hati. Akhirnya, Mamah meminta untuk mengobrol berdua dengan Papah, tanpa sepengetahuan kamu sama Fira. Saat itu, mobil melaju kencang dengan Mamah yang menyetir. Mamah marah-marah ke Papah, dan tiba saatnya, Mamah kehilangan kendali menyetir, dan itu yang membuat Papah pergi, dan Mamah menjadi gila. Dila boleh benci sama Mamah, karena Mamah telah membuat Papah Dila pergi, Dila boleh pergi jauh dari Mamah, karena Mamah yang membuat Papah meninggal. Mamah tahu, Dila benci banget sama Mamah, walaupun Mamah dahulu sempat bertaruh nyawa dengan dilahirkannya kamu, maafkan Mamah. Sejak saat itu, Mamah menjadi seperti ini, Mamah menjadi gila, setelah sekian lama menjanda. Dan, tanpa Mamah sadari, Mamah sakit. Mamah sakit. Mamah kena kanker otak. Makanya Mamah sering pusing, Mamah cape, Mamah minta maaf karena dulu telah menyuruh Fira untuk membakar piano peninggalan Papah. Karena Mamah gak mau ingat-ingat tentang Papah. Maafkan Mamah ya sayang, kamu boleh benci Mamah kamu yang suka mukulin kamu ini. Mamah mungkin sekarang sudah bersama Papah lagi, selamat tinggal sayangku. Sampai jumpa.
Dari, Mamah

Menetes air mataku. Aku menyesal telah membenci Mamah. Memang Mamah tidak pernah membahagiakan aku. Tapi, aku menyesal telah membenci wanita yang mau bertaruh nyawa demi lahirnya aku. Mengapa aku harus hidup penuh dengan kebencian setelah meningganya Papah? Mengapa dari dulu aku selalu menjadi bahan ecean teman-teman? Aku dipermalukan guru, aku dipukuli oleh Mamahku sendiri? Siapa yang dapat menjadi pelampiasanku sekarang? Aku hidup sebatang kara sekarang. Aku tidak memiliki apapun. Aku tidak memiliki orangtua, tidak segala. Aku ingin sekali cepat pergi dari sini. Aku tidak ingin melarat sendirian di bumi. Kak Fira kabarnya entah ke mana. Aku ingin mengakhiri ini semua, rasanya aku ingin bunuh diri! Aku bisa membuktikan kalau aku berani bunuh diri kepada teman-teman SD ku yang sampai saat ini masih mengira aku mencoba bunuh diri di depan kelas, hanya karena kebohongan dari seorang guru. Aku bisa melakukannya. Karena aku tidak memiliki kepercayaan kepada siapapun sekarang. Siapa yang mau melindungiku? Aku meraung-raung dalam tangisan. Aku bisa merasakan kepedihan orang-orang berputus asa. Aku menyesal hidup. Aku ingin mati.

Aku bisa saja melakukannya sekarang. Di depanku sudah ada mata pisau tajam, setajam yang akan memberikan sakit tak tertahankan, bila menusuk ke jantung, atau pun nadi kalian. Bagi yang berputus asa, aku rela seperti ini. Lagi pula, di dunia ini, semua pengkhianat! Dan perlahan, aku mendekatkan mata pisau itu pada bagian urat nadiku, aku tahu, rasanya akan sakit sekali. Dan, sebentar lagi, darahnya akan mengucur. Dan, semakin dekat ujung mata pisau dengan urat nadiku, dan…
“Gak usah mainan pisau, Dila…” Ujar seorang lelaki yang tiba-tiba menghampiriku dengan membawa gitarnya, layaknya seorang musisi. Seperti Papahku.

Papah ya?

Cerpen Karangan: Nadhira Shania
Blog: nadhirashania.wordpress.com

Cerpen Penyesalan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kasih Seorang Mama

Oleh:
Aku dilahirkan untuk mempunyai mama dengan satu mata. Dia sangat memalukan bagiku. Dia bekerja di tempat aku bersekolah. Dia berjualan di sana. Di suatu hari dia sempat menyapa di

Sahabat Jadi Musuh

Oleh:
Hari itu aku bersiap-siap untuk masuk sekolah baru. Aku cepet cepet mandi dan langsung ke bawah. “hai sayang tumben cepet cepet” tanya mama. “nggak ma, cuma mau melihat sekolah

Lantunan Sendu Melodi Biolaku

Oleh:
Mungkin aku memang tak sempurna. Sedari kecil tak ada yang mau menerima kekuranaganku. Tak terkecuali orangtuaku sendiri. Bahkan nama indah yang kupunya bukan pemberian mereka. Namaku Angelica Melodi. Nama

Dilema di Pertengahan Malam

Oleh:
Malam ini untuk kesekian kalinya aku terbangun dari sebuah mimpi buruk yang hampir sama dengan malam-malam sebelumnya. Bagaikan sebuah melodrama bersambung yang menunggu kepastian akhir cerita. Tentu saja yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *