Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 March 2017

Hari ini mendung. Hal itu semendung hati Fara. Bagaimana tidak? Ia sama sekali tidak disayang oleh Ayah, Ibu, Kakak dan bahkan seluruh keluarganya. Hanya Mbok Marni yang sabar menjaga Fara dari bayi. Mbok Marni sayang sekali dengan Fara. Fara tak mempunyai kekurangan fisik satupun. Namun, ia masih bingung kenapa keluarganya tak menyayanginya.

Suatu hari, Fara pulang sekolah. Sesampainya di rumah, ia mengetuk pintu depan rumahnya. Namun, hening. Tak ada yang membukakan pintu. Seluruh keluarganya tak mempercayai Fara untuk membawa kunci rumah. Maka dari itu, Fara tak bisa masuk. Fara baru ingat kalau hari ini, seluruh keluarganya pergi ke acara pernikahan. Kakaknya bolos sekolah. Mbok Marni pulang kampung menjenguk ibunya yang sakit. Ia pun menunggu di depan pintu rumah sambil mengulang kembali pelajaran yang sudah ia pelajari tadi di sekolah. Apakah kalian tahu, dimana Fara bersekolah? Fara bersekolah di tempat yang tak semestinya dijadikan tempat sekolah. Sekolahan khusus untuk menampung anak yang tak diterima di sekolah manapun. Padahal, Fwra termasuk anak yang pintar, lho. Ia pun berasal dari keluarga yang berada. Kakaknya? Uhhhh… jangan ditanya deh. Kakaknya bersekolah di tempat yang sangat bagus, berkualitas, dan bersih tempatnya. Fasilitasnya juga lengkap. Berbeda dengan sekolahnya Fara.

“Hoooyyy! Bangun anak pemalas!” Suara seseorang terdengar yang membuat Fara bangun dari tidurnya. Ukh.. ia ketiduran. Ternyata, keluarganya sudah datang. Ada Mbok Marni juga. Itu adalah suara Rara, kakaknya.
“Hmmmm…. oh, kakak sudah pulang!” Seru Fara sambil ingin memeluk kakaknya. Namun kakaknya malah mundur, seperti tak mau dipeluk Fara. Hari juga sudah mau gelap.
“Heeeehhh. Udah sana, minggir! Kita mau buka pintu nggak bisa nih!” Bentak ibu keras.
Fara minggir. Ibunya memutar kunci di lubang kunci. Lalu, pintu terbuka. Barulah Fara bisa masuk.

Berhari-hari, Fara murung. Kadang ia mengurung diri di kamarnya. Sekeras apapun keluarganya memarahinya dari luar pintu, Fara tetap tak mau keluar. Hanya Mbok Marnilah yang bisa mengeluarkan Fara dari kamarnya. Itu pun dengan syarat, ia harus membawa buah kesukaannya. Baru ia mau keluar.

Suatu hari….
“Fara, kamu ibu ikutkan ke olimpiade Ipa ya!” Seru Bu Guru yang membuat Fara kaget sekaligus senang.

Ia pun pulang ke rumah dengan hati riang. Sesampainya di rumah, ia mengetuk pintu. Lalu, pintu terbuka. Mbok Marni yang menyambutnya. Ia masuk ke dalam rumah, lalu masuk ke kamar ibunya.

“Ibu, ibu! Aku diikutkan olimpiade Ipa, bu!” Ujar Fara antusias.
“Apa? Hari apa?” Tanya ibunya
“Hari Sabtu minggu ini, bu..”
“Hei! Itu kan hari ketika Rara ikut olipiade juga!”
“Jadi, siapa nih? Yang nemenin aku ikut olimpiade?” Tanya Fara.
“…..”

Fara keluar dari kamar ibunya. Sepertinya, seluruh keluarganya akan memilih melihat kak Rara ikut olimpiade. Hanya ada 1 orang yang ia rasa akan melihat Fara olimpiade. Yaitu, Mbok Marni.
“Mbok Marni!” Seru Fara sambil mencari Mbok Marni. “Ahh. Ternyata Mbok Marni ada di sini. Mbok, mau nggak, lihat aku ikut olimpiade Sabtu minggu ini?”
“Wahhh, non pasti tahu dong, jawabannya.” Ujar Mbok Marni sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Yeeeyyy!!”

Hari perlombaanpun tiba. Fara dan Rara berusaha keras untuk menjadi juara 1. Ternyata, dugaan Fara benar. Seluruh keluarganya lebih memilih untuk melihat olimpiade Rara. Dan tentu, Fara ditemani oleh Mbok Marni.

Ternyata, Fara berhasil meraih juara 2. Mbok Marni sangat senang. Ia meminta Mbok Marni untuk memfoto dia dengan kameranya.

Saat tiba di rumah, ia langsung menaruh foto itu di rak dengan pigura. Mama dan Papa pasti senang, batin Fara.

Tak lama, kak Rara dan keluarganya pulang. Ia melihat kak Rara sedih. Ayah melihat foto Fara yang dipajang di rak. Melihat itu, ayah langsung mengamuk.
“Fara, lepaskan fotomu itu! Kau tahu kan? Ruang keluarga ini hanya boleh ada foto kak Rara saja! Lepaskan fotomu yang tak berguna itu!!” Seru ayah berapi-api.
“Apakah kamu tak tahu Fara? Aku kalah dalam olimpiade. Sekarang, lepaskan fotomu dan jangan tambah kesedihanku!” Seru Rara. Ia pun berlari ke kamarnya sambil menangis.
“Rara! Oh apa yang kamu telah lakukan Fara?! Mengapa kau bisa-bisanya bersenang-senang ketika kakakmu ini sedang sedih?! Kau ini sunguh anak yang durhaka!” Seru Fatiha, saudaranya.
“Aku hanya ingin kalian tahu, kalau aku menang olimpiade juara 2 dan aku sayang kalian.” Ujar Fara sambil mengambil fotonya dan berlalu ke kamarnya.

Tok tok tok!
“Ma, masuk!” Seru Rara sengeggukan.
Kriek!
“Kak, aku tak bermaksud untuk membuatmu sedih… Maafkan aku..” ujar Fara
“Sudahlah, pergi sana! Aku tak mau kamu ada di hadapanku lagi! Hiks hiks…” Rarapun mulai menangis.

Bruk!
Kak Rara pingsan!

“Mah, Pah! Kak Rara pingsan!” Lapor Fara.
“Fara, apa yang kamu lakukan?!”

Di rumah sakit…
“Rara mengalami gagal ginjal. Harus donor ginjal…” ujar sang dokter.
Dalam hati Fara ‘Aku mau mendonorkan ginjalku. Untuk kakak…’

Tak lama…
“Huh.. Fara, kamu adik durhaka. Tak mau mendonorkan ginjalmu ke kakakmu sendiri. Untung saja, ada orang yang baik hati mau mendonorkan ginjalnya…” ujar Ayah.

Fara merasa sakit hati. Ia segera pulang ke rumah, lalu menulis sesuatu. Ia titipkan surat itu ke Mbok Marni. Ia berpesan agar memberikannya ke keluarganya.

“Alhamdullilah kamu sudah bisa pulang. Oh ya, di mana Fara? Padahal hari ultah nya, lho..” ujar Ibu.
Mendengar hal itu, Mbok Marni teringat dengan surat. Ia segera memberikannya ke keluarganya. Ayah yang membuka surat itu.

Untuk Ayah dan Ibu yang tercinta.
Sekarang, Fara sudah pergi. Sekarang, sudah tak ada lagi yang ngeselin kan? Semoga kalian berdua senang ya…

Untuk kak Rara
Kak, selamat ultah ya.. semoga ginjal yang aku berikan bermanfaat dan dapat berfungsi dengan baik ya… Aku tak bermaksud untuk membuat kakak sedih waktu itu…

Untuk Mbok Marni
Terima Kasih sudah merawatku dari kecil. Terima Kasih sudah sabar merawatku.. Aku sayang Mbok Marni..

Untuk Fatiha
Tolong, jangan pernah bilang aku durhaka.. aku tak pernah begitu….

Tolong jaga Kak Rara ya…

KRING KRING KRING!
Telepon rumah tiba-tiba berbunyi. Ibu yang mengangkatnya.
“Halo, apakah ini dengan ibu Fara?” Tanyanya
“Ya dengan saya sendiri.. Ada apa ya?” Tanya ibu
“Anak anda kecelakaan. Sekarang sedang ada di rumah sakit Cinta Kasih. Ini dari pihak rumah sakit Cinta Kasih.”
“Hahhh!!!” Ibu langsung gemetar.

Mereka langsung menuju rumah sakit. Tetapi, mereka terlambat. Saat di sana, Fara sudah, TIADA.

Saat proses pemakaman Fara, ibunya Fara menangis histeris. Ada sebuah nasihat yang diajarkan; penyesalan selalu datang terlambat.

Cerpen Karangan: Kayla Risya Delya
Facebook: Esti Dian Pratiwi (ini facebook bunda aku, kalo bisa instagram, ini istagram aku sendiri; kayladelya3131)
Halo! Namaku Kayla Risya Delya, lahir di Jakarta, 13 September 2006. Sekolahku, Unity Primary School, dan kelas 5A. Ok, bye! Sampai ketemu dikarya yang lain!!

Cerpen Penyesalan Selalu Datang Terlambat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindumu Keajaibanku

Oleh:
Gadis kecil yang selalu cemberut itu bernama Annabelle. Pipinya sungguh chubby dan dia lucu. Tapi aku belum mengerti mengapa ia tidak punya teman di masa kanak-kanaknya. Mungkin karena ia

25 November

Oleh:
Sore ini kembali aku rasakan sakitnya. Lukanya terlalu dalam. Malam nanti, bersama gerimis aku akan pergi tinggalkan kota ini. Terlalu banyak kenangan di sini. Aku rapuh jika tak segera

Berarti Kah Aku

Oleh:
Malam ini begitu indah, namun tak seindah hidup yang kujalani. Hanya satu hal yang ku inginkan, dan aku harap sebelum aku mati aku bisa mewujudkan impian ku itu. Mama:

17 Lembar

Oleh:
Mega merah mulai menampakkan warnanya. Semua orang mulai berlindung ke gubuknya untuk berkumpul dengan sanak keluarga. Namun, tak tercantum istilah itu dalam kamus Panji, seorang pujangga berkepala batu ini.

Cinta yang Tak Tersampaikan

Oleh:
Hari yang indah, kuterdiam sejenak di tepian pantai yang dingin, ombak yang bersahabat, dan tiupan angin laut yang dapat mengerti perasaanku. Namaku Stevany Vera Ardila Sari. Aku sering di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *