Penyesalan Seorang Ayah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 6 February 2019

Malam makin larut namun Anton tak bisa tidur. Pikirannya sangat kacau memikirkan apa yang terjadi hari ini. Pikirannya berputar mengingat kejadian tadi siang dimana seorang rentenir bersama para bodyguardnya datang dan menagih hutang-hutangnya yang sudah hampir 13 juta rupiah. Bukan hanya dia tapi teman-temannya juga mempunyai hutang belasan bahkan puluhan juta. Jika seluruh hutang mereka digabungkan menjadi Rp 108 juta. Rentenir itu mengancam apabila mereka tidak memberikan hutang-hutang mereka dalam tempo 4 hari maka mereka akan menjadi budak rentenir itu. Hal itu membuat dia dan teman-temannya takut. Mereka lebih suka langsung dibunuh daripada dijadikan budak.

Setelah kepergian rentenir itu Anton dan teman-temannya langsung berdiskusi memikirkan bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu 4 hari. Salah seorang teman Anton bernama Bayu mengusulkan untuk merampok bank namun semuanya menolak. Karena untuk melakukan hal itu mereka harus menyusun strategi yang akan memakan waktu. Mereka terdiam dalam waktu yang lama.

“Bagaimana kalau kita menculik anak orang kaya dan meminta uang tebusan,” ujar Roy memecahkan keheningan.
“Bukankah untuk melakukan hal itu akan memakan waktu juga. Kita harus membuntuti anak itu agar tahu kegiatannya,” ujar Anton sambil menghisap puntung rokok.
“Itu benar, Roy. Kita harus benar-benar mengetahui setiap kegiatannya sehingga kita tahu kapan harus menculiknya,” tambah Jaka.
“Itu kalau kita tidak mengenal anak itu. Bagaimana kalau kita sudah mengenal anak itu dan mengetahui setiap kegiatannya? Kurasa besok kita sudah bisa melakukan aksi kita,” ujarnya dengan mantap.
Semua menoleh ke arah Roy. Mereka heran dengan perkataannya.
“Apa maksudmu? Anak yang kita kenal? Siapa?” tanya Surya.
“Adrian Firmansyah,” jawab Roy.
Perkataan Roy bagaikan petir menyambar bagi Anton. Bagaimana tidak, dia menyebutkan nama putra semata wayangnya.

“Apa maksudmu, Roy? Kau ingin menculik anakku?” ucapku dengan geram sambil memukul meja .
“Tenang Anton, tenanglah. Aku hanya memberikan solusi. Kau tahu kan kita berada dalam situasi yang berbahaya sekarang. Kita harus segera mendapatkan uang dengan nominal yang besar dalam waktu yang singkat,” jawab Roy.
“Kenapa harus Adrian? Kenapa harus putraku?”
“Semua orang di sini tahu kalau Adrian adalah pewaris tunggal dari perusahaan mertuamu. Jika kita menculiknya, Aku yakin mereka akan memberikan berapa pun yang kita minta. Lagi pula kau sudah mengetahui kegiatan anakmu itu kan? Dengan begitu kita akan mudah menculiknya,” jawab Roy menjelaskan.
“Roy benar, Anton. Kita tidak punya pilihan lain,” ucap Erwin.
“Ya aku juga setuju dengan Roy,” jawab Jaka, Surya dan Bayu serempak.
“Ayolah Anton. Semua setuju dengan ideku. Kau tahu kan kami tak akan menyakitinya. Kita hanya akan membiusnya dan mengikatnya. Itu saja. Kami tidak akan memukulnya,” tambah Roy.
Anton hanya bisa mengangguk kecil. Dia berpendapat bahwa mungkin Roy benar, dia dan mereka tidak mempunyai pilihan lain selain menculik Adrian. Namun ada perasaan yang menolak untuk melakukan hal itu. Mereka mulai menyusun rencana besok.

Anton mengambil rokok yang ada di sakunya dan mulai menghirupnya. Anton mengambil foto yang ada di sakunya. Di foto itu nampak seorang anak lelaki berumur 11 tahun yang tidak lain adalah Adrian. Dilihatnya lekat-lekat foto itu tak terasa air mata jatuh membasahi pipinya. Dia sangat merindukan anaknya. Anton tidak tinggal dengan Adrian semenjak ia bercerai dengan istrinya. Dia mengingat masa lalu pernikahannya yang tidak disetujui oleh orangtua istrinya. Sang istri yang merupakan anak orang kaya sementara dia hanya pekerja serabutan. Namun bukan itu masalah utamanya melainkan Anton yang dulunya seorang preman. Orangtua sang istri tak mau mempunyai menantu seorang preman. Namun Anton berusaha meyakinkan mereka kalau dia sudah bertaubat dan berusaha membuat putri semata wayang mereka bahagia. Orangtua sang istri akhirnya memberi restu dan menikahlah mereka.

Awal pernikahan mereka terlihat bahagia ditambah lagi dengan kehadiran putra mereka, Adrian. Di usia pernikahan mereka yang ke delapan, Anton mulai berubah. Entah apa yang terjadi, dia kembali menjadi preman jalanan. Tak jarang sang istri dan Adrian mendapat pukulan dari Anton. Tak tahan dengan perilaku Anton, sang istri menggugat cerai Anton dan kembali ke rumah orangtuanya bersama Adrian.

Meskipun sudah tidak tinggal seatap dengan Adrian bukan berarti dia jarang bertemu dengan Adrian. Anton sering mengantar dan menjemput Adrian ke sekolah. Bahkan dia juga sering mengajak Adrian jalan-jalan ketika liburan. Anton menyadari betapa bodohnya dia karena telah melakukan hal-hal yang kasar kepada istrinya maupun Adrian. Hal itu disadarinya ketika dia sudah berpisah dengan keluarganya. Anton meminta sang istri untuk rujuk kembali, namun sang istri menolak. Dia sudah terlanjur sakit hati dengan perilaku Anton. Namun sang istri akan memberikan kebebasan Anton untuk melihat anaknya.
Dimasukkannya kembali foto itu ke sakunya, dibuangnya puntung dan mencoba untuk tidur.

Mentari sudah menampakkan dirinya sekitar satu setengah jam yang lalu. Anton dan teman-temannya mulai mempersiapkan segalanya. Setelah persiapan selesai, Anton pergi menuju sekolah Adrian sementara teman-temannya menunggu di rumah Anton. Di perjalanan, Anton masih berpikir apakah ia harus melakukan hal ini. Kebimbangan hatinya menemaninya sepanjang jalan.

Sampailah ia di SMA Tunas Bangsa dimana Adrian bersekolah. Diambilnya lagi foto Adrian yang ada di sakunya. Ia tak menyangka, Adrian kecil sekarang sudah tumbuh besar. Dimasukkannya kembali foto itu dan berjalan ke warung yang berada di depan sekolah. Ia menunggu Adrian pulang sekolah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 Wib. Pelajar-pelajar SMA Tunas Bangsa keluar dari sekolah. Anton bangkit dari duduknya dan membayar pesanannya. Matanya terus melihat siswa siswi yang keluar dari gerbang sekolah berharap menemukan Adrian. Akhirnya mata Anton berhenti ketika melihat seorang lelaki dengan perawakan tinggi, berkulit putih dan mempunyai paras yang tampan yang tak lain adalah Adrian. Dia melihat Adrian sedang berjalan sambil bersenda gurau dengan teman-temannya.

“Adrian…!!!” teriak Anton.
Adrian yang mendengarnya berusaha mencari sumber suara. Matanya tertuju kepada seorang pria berbadan kekar yang tengah berdiri di seberang jalan. Adrian tersenyum melihatnya dan berpamitan kepada teman-temannya. Adrian berjalan mendekati pria itu dan langsung menyalami tangannya.
“Bapak kemana aja? Kok jarang jumpain Adrian? Bapak udah gak sayang lagi sama Adrian?” tanyanya dengan nada manja.
“Mana mungkin bapak gak sayang kamu lagi. Kamu kan anak bapak satu-satunya. Bapak cuma lagi sibuk aja.”
“Sibuk apa sih pak? Udah 2 bulan gak ada kabar. Adrian kan kangen sama bapak. Adrian pikir bapak sakit jadi Adrian ke rumah tapi bapak gak ada. Adrian terus datengin rumah bapak tapi kata tetangga bapak, bapak ada di rumah cuma malam,” jelasnya.
Anton terkejut mendengar perkataan Adrian. Ia tak menyangka anaknya begitu perhatian kepada dirinya. Disaat anaknya mengkhawatirkan dirinya, dia malah merencanakan penculikkan terhadap Adrian. Anton terdiam. Dia tak tahu harus berbuat apa. Adrian melihat kecemasan di wajah ayahnya. Adrian berpikir kalau ayahnya pasti punya masalah.

“Bapak kenapa?”
Anton terbangun dari lamunannya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
“Bapak bohong. Bapak pasti nyembunyiin sesuatu. Cerita dong sama Adrian,” rengek Adrian.
“Bapak gak papa kok. Bapak cuma capek aja. Kamu mau nganterin bapak pulang? Hitung-hitung sekalian kita jalan-jalan.
Adrian tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Mereka pun berjalan menjauhi sekolah. Mereka mengobrol sepanjang perjalanan. Mereka hampir tiba di rumah Anton. Mereka masuk ke dalam gang rumah Anton. Gang itu terlihat sepi karena kebanyakan pemilik rumah di sekitaran gang itu tidak berada di rumah. Di saat siang hari seperti ini, mereka sedang di luar rumah untuk bekerja. Terlihat sebuah mobil hitam terparkir agak jauh dari rumah Anton. Anton tahu kalau itu mobil yang sudah disiapkan oleh teman-temannya untuk menculik Adrian.

Adrian sejak awal sudah mulai curiga dengan tingkah laku ayahnya. Apalagi ketika mereka melewati mobil hitam yang terparkir itu. Ayahnya terus melirik ke arah mobil itu. Ketika Adrian bertanya, ayahnya selalu mengatakan kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Akhirnya mereka di rumah Anton.

“Bapak yakin gak papa?”
“Kamu sudah menanyakan hal ini berkali-kali. Bapak gak papa kok. Bapak cuma capek aja.”
“Yakin pak?”
“Iya Adrian, bapak gak papa.”
“Pasti bapak kerja berat banget ya sampai capek seperti ini. Nanti Adrian minta izin sama ibu, kakek dan nenek untuk nginap di sini malam ini.”
“Buat apa nak?”
“Ya buat ngejagain bapak. Kalo bapak kenapa-kenapa gimana? Adrian kan khawatir pak.”
Air mata Anton mengalir mendengar ucapan putranya. Pikirannya kembali bimbang. Apa dia tega menculik anak sendiri demi uang? Tapi jika dia tidak bisa mendapatkan uang secepat mungkin dia akan jadi budak dan tidak dapat melihat Adrian lagi. Anton harus memilih dan dia memilih melanjutkan rencananya bersama teman-temannya. Setan sudah menguasai pikiran Anton.

“Bapak gak usah nangis, ini sudah menjadi tanggung jawab Adrian untuk menjaga bapak,” ujar Adrian sambil mengusap air mata ayahnya.
Anton menangkap tubuh putranya dan memelukknya seerat mungkin. Adrian membalas pelukan ayahnya. Selesai berpelukkan, Adrian pamit kepada ayahnya.
“Adrian pulang dulu ya pak. Takut dicariin sama ibu. Nanti Adrian datang lagi,” ucapnya sembari menyalami tangan ayahnya.
“Hati-hati di jalan ya nak dan semoga pulang dengan selamat,” pesan Anton meskipun ia tahu bahwa Adrian tak akan pulang hari ini.
“Iya pak. Adrian pulang dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”

Adrian berjalan menjauhi rumah Anton. Anton masuk ke rumah, ia ingin melihat aksi teman-temannya. Namun itu tak mungkin karena tak ada tempat yang pas untuk dia mengintip dan bersembunyi.
Adrian yang tak tahu sedang dalam bahaya hanya berpikir apa yang akan dia bawakan untuk ayahnya nanti malam. Dia merasa senang akan menginap di rumah ayahnya. Ketika Adrian melewati mobil hitam itu, 3 orang menggunakan topeng keluar dari mobil. Dua diantaranya menarik lengan Adrian.

“Hei!!! Apa-apaan ini? Lepaskan aku!!” perintah Adrian. Adrian mencoba melawan namun ia tidak akan menang melawan 2 orang dengan badan yang cukup besar.
“Lepaskan aku!!! TOLO..mmmmpppphhhhh,” Jaka dengan sigap membekap mulut Adrian yang hendak berteriak dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Adrian akhirnya pingsan dan mereka memasukkan Adrian ke dalam mobil dan mobil itu berjalan menjauhi tempat itu.

“Kurasa lima ratus juta terlalu murah untuk anak ini,” ujar Roy sambil melihat Adrian yang tak sadarkan diri.
“Apa maksudmu, Roy?”
“Kita akan meminta dua kali lipat.”
“Kau yakin keluarganya akan memberikan uangnya?”
“Tentu. Dia adalah pewaris tunggal, bukan? Mereka akan melakukan apapun untuk keselamatannya”
“Apa Anton perlu diberitahu?”
“Tidak perlu. Nanti dia akan tahu sendiri, ujar Roy dengan senyuman sinis.

Sudah 1 jam Anton menunggu kabar dari teman-temannya. Mereka belum memberi kabar apapun. Ponsel Anton berdering pertanda sebuah SMS masuk. Anton membukanya dan ternyata itu pesan dari Jaka yang berisi bahwa mereka telah mengabari keluarga Adrian dan meminta uang tebusan. Dan mereka akan mendapatkan uang tebusan itu 2 hari kemudian. Ponsel Anton kembali berdering, kali ini ada panggilan masuk. Anton membaca nama yang terpampang di layar ponsel. Lena, itu adalah mantan istrinya. Anton segera mengangkatnya.

“Halo mas,” sapa suara diseberang yang terdengar sedang menangis.
“Iya Lena. Ada apa? Sepertinya kau sedang menangis? Apa terjadi sesuatu?” tanya Anton.
“Adrian mas… Adriann…,” ujar Lena masih dengan isak tangis.
“Adrian kenapa Len?” tanyanya yang berpura-pura tidak tahu.
“Adrian diculik mas.” Tangis Lena makin pecah.
“APA!!! Diculik???”
“Iya mas. Mas harus ke rumahku sekarang mas.”
“Iya Len. Aku segera ke sana segera,” jawabnya sambil mematikan ponselnya.

Anton kini berdiri di depan rumah mewah yang tak lain adalah rumah Lena. Ia melihat dua mobil polisi yang terparkir di halaman rumah Lena. Anton tak menyangka Lena akan memanggil polisi untuk menyelamatkan Adrian. Dengan berat hati dia masuk ke rumah Lena. Diketuknya pintu dan tak berapa lama pintu dibuka oleh ibu Lena. Sebelum kaki Anton melangkah masuk, Lena datang dan langsung memeluknya sambil menangis.

“Mas, Adrian mas,” ucapnya dengan isak tangis.
“Tenanglah Lena. Menangis tak akan membantu. Berdoalah semoga Adrian baik-baik saja. Mereka tak akan berani menyakitinya sebelum mendapatkan uang. Tenanglah,” hibur Anton sambil menghapus air mata Lena.
Lena mengangguk kecil dan kembali memeluk Anton.
“Berapa banyak yang mereka minta Lena?” tanya Anton.
“Satu miliar mas.”
“APA!!! SATU MILIAR?”
“Mas gak perlu memikirkan uangnya. Uangnya sudah kami siapkan. Mereka bilang mereka akan mengembalikan Adrian setelah mereka mendapatkan uangnya. Tapi aku takut mereka gak akan menepati janji mereka mas.”

Sebenarnya Anton tak mencemaskan dari mana uang itu didapatkan. Yang membuat Anton terkejut adalah jumlah uang yang diminta oleh teman-temannya. Mereka sepakat hanya meminta 500 juta saja, tapi kenapa mereka malah meminta dua kali lipat dari jumlah yang sudah direncanakan.

“Jangan khawatir Lena. Akan kupastikan mereka menepati janji mereka.”
“Apa maksudmu mas?”
Anton tak menjawab. Dia melepaskan pelukan Lena. Lena melihat kemarahan di wajah Anton.
“Apa yang akan kau lakukan mas?”
“Apa yang seharusnya aku lakukan. Aku akan menyelamatkan putra kita Lena.”
“Bagaimana caranya mas? Kami sudah memanggil polisi mas. Kita harus menunggu penyelidikan mereka.”
Anton tak menggubris perkataan Lena. Dia berlalu pergi meninggalkan rumah Lena. Lena hanya terdiam. Dia hanya berpikir, apa yang akan dilakukan Anton.

Cerpen Karangan: Siti Aisyah

Cerpen Penyesalan Seorang Ayah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangisan Bisu

Oleh:
“Aku tidak dilahirkan untuk menangis.” Biarkan aku menonton film romantis yang (katanya) menyentuh sampai berpuluh-puluh judul. Ceritakan padaku cerita-cerita yang (katanya) menyentuh —baik dari video motivasional (yang ternyata iklan

Menyapa Heningmu

Oleh:
Hujan yang mengguyur kota kecil ini yang membuat perasaan gembira pada anak-anak yang menjadikan setiap hujan merupakan balasan dari Tuhan atas doa mereka, dan membasahi jiwa-jiwa yang tandus dengan

Amare, Di Dalam Mimpi

Oleh:
Mimpi bukanlah kata yang asing bagi kita semua. Dalam kamus, mimpi adalah sesuatu yang kita lihat atau rasakan saat tidur. Jadi, tentu saja mimpi itu tidak nyata. Tapi bagaimana

Pelukan

Oleh:
Bahagia bukan kepalang jika seorang laki-laki dan perempuan yang dijalin hubungan suami istri mempunyai buah cinta. Apalagi buah cinta tersebut merupakan pertama kalinya yang lahir ke dunia. Suara azan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *