Penyesalan Seorang Ayah (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 6 February 2019

Anton berjalan menuju tempat penyekapan. Sesampainya di sana, ia disambut teman-temannya yang sedang bermain kartu.
“Kenapa kalian meminta uang dua kali lipat dari yang direncanakan?” tanya Anton menahan amarah.
“Kita perlu bersenang-senang Anton. Setelah kita melunasi hutang-hutang kita, kita akan membuat pesta yang besar yang akan membutuhkan banyak uang. Keluarga istrimu tidak akan jatuh miskin Anton. Santailah sobat,” jawab Roy.
“Kalian tidak melukainya kan?” tanya Anton.
“Tenanglah sobat. Kami hanya membius dan mengikatnya, itu saja. Sesuai rencana,” jawab Roy santai.

Anton berjalan menuju ruangan tempat Adrian disekap. Dia membuka pintu dan mendapati Adrian yang masih berpakain sekolah tengah terikat di kursi dengan tangan kebelakang, kaki yang diikat di kaki kursi, matanya ditutup kain dan mulutnya dilakban. Anton melihat pergelangan tangan Adrian yang lecet karena diikat dengan sangat kencang. Dia mengumpat dan pergi menemui teman-temannya.

“Kalian bilang tidak akan menyakitinya,” bentak Anton.
“Kecilkan suaramu sobat. Kalau tidak, anakmu akan menyadari keberadaanmu,” ujar Roy.
Anton sadar suaranya terlalu kencang karena teralu emosi. Dia pun menenangkan dirinya.
“Kami tidak menyakitinya Anton. Kami bersumpah,” ujar Jaka.
“Kalian mengikat tangannya terlalu kencang yang menyebabkan tangannya lecet.”
“Lalu kami harus mengikatnya dengan ikatan yang kendur sehingga dia bisa kabur dan kita jadi budak!!! Kali ini Roy yang membentak. Anakmu tidak akan mati hanya karena diikat. Aku mengerti perasaanmu. Tapi kita harus melakukan ini,” sambung Roy.

Anton meninggalkan teman-temannya dan kembali ke ruangan tempat Adrian disekap. Anton tidak tega melihat Adrian diikat, namun ia tak punya pilihan lain. Adrian dapat merasakan keberadaan orang di ruangan itu, tapi ia tidak mengetahuinya karena matanya tertutup.
“Mmmmpppphhhh,” Adrian berusaha berbicara.
“Ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu?” tanya Anton dengan nada suara yang agak diberatkan agar Adrian tak mengenalinya.
Adrian mengangguk.
“Baiklah, aku akan membuka lakbannya tapi berjanjilah kau tidak akan berteriak.”
Adrian kembali mengangguk. Perlahan dibukanya lakban yang menutupi mulut Adrian. Adrian sedikit meringis kesakitan ketika lakban yang menutupi mulutnya dibuka.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Anton yang sudah membuka lakbannya.
“Aku haus, bolehkah aku minta minum?” tanya Adrian.
“Tentu.”

Anton mengambil botol mineral yang ada di meja. Dibukanya tutup botol minuman itu, dimasukkannya sedotan kedalamnya dan didekatkannya setodan itu ke bibir Adrian. Adrian lalu meminum air melalui sedotan.
“Sepertinya kau haus sekali,” ujar Anton ketika Adrian selesai minum dan melihat air di botol tinggal setengah. Adrian hanya diam. Apa kau lapar?”
Adrian menggeleng.
“Bolehkah aku minta sesuatu lagi?” tanya Adrian
“Ya, katakanlah.”
“Tolong lepaskan aku. Aku akan memberikan uang sebanyak yang kalian mau. Aku berjanji tak akan melaporkan kalian ke polisi. Kumohon, lepaskan aku” pinta Adrian.
“Kau tahu itu tidak akan aku lakukan.”
“Kumohon. Malam ini aku harus menginap di rumah ayahku. Aku sudah berjanji padanya, aku akan menjaganya malam ini. Dia sedang sakit sekarang,” pintanya lagi.
Anton hanya diam. Dia tak menyangka disaat seperti ini, Adrian masih memikirkan tentang dirinya. Dia begitu malu dengan dirinya sendiri. Dilihatnya air mata mulai mengalir di pipi Adrian. Adrian menangis sesenggugukan. Dia ingin bertemu dengan ayahnya.
“Aku tidak bisa. Kau akan bertemu dengan ayahmu setelah urusan ini selesai.”
“KALIAN AKAN MENYESAL KARENA TELAH MENCULIKKU. AKU YAKIN AYAHKU PASTI AKAN DATANG MENYELAMATKANKU DAN MENGHAJAR KALIAN SEMUA LALU MEMASUKKAN KALIAN KE PERNJARA!!!!” Bentak Adrian.
Anton membekap mulut Adrian. “Kau sudah berjanji untuk tidak berteriak, kan? Dia tak akan datang. Tenanglah, setelah kami mendapatkan uangnya kami akan mengembalikanmu ke keluargamu,” ujar Anton sambil menangis. Ya, Anton menangis mendengar perkataan Adrian barusan. Adrian yakin kalau ayahnya akan menyelamatkannya. Anton tak tahu apa yang Adrian lakukan jika ia tahu bahwa ayahnyalah yang telah menculiknya.

Anton kembali melakban mulut Adrian dan pergi meninggalkan Adrian yang masih menangis. Dia berjalan keluar dari tempat penyekapan itu dengan perasaan yang sakit. Dia bahkan tak menggubris panggilan dari teman-temannya.

Entah sudah berapa lama Anton berjalan tanpa arah. Dia terus memikirkan apa yang sudah dilakukannya. Dia duduk termenung di pinggir jalan. Suara azan isya membuyarkan lamunannya. Entah mengapa rasanya suara azan itu sedikit menghibur hatinya. Anton berdiri dan kakinya terasa bergerak sendiri menuju ke arah masjid. Diambilnya air wudhu dan pergi menunaikan ibadah shalat isya berjamaah.

Selesai shalat, hatinya mulai sedikit tenang. Dia berdoa kepada Allah meminta bantuan-Nya. Dia merasa malu kepada Sang Pencipta dan bertanya-tanya kenapa seorang yang bejat seperti dia dikaruniai anak yang berhati mulia seperti Adrian. Adrian yang selalu membangga-banggakan ayahnya meskipun ayahnya hanya seorang preman. Dia berdoa sambil terisak-isak mengharap pertolongan-Nya. Lama ia berada di sana, akhirnya ia mendapatkan keputusan yang menurutnya tepat. Dia harus segera mengakhiri semua ini sekarang. Dia harus menyelamatkan Adrian.

Anton kembali ke tempat penyekapan dan langsung menghampiri teman-temannya.
“Aku rasa kita harus melepaskan Adrian sekarang juga,” ucapnya. Teman-temannya yang sedang asyik bermain kartu menghentikan perrmainan mereka dan menatap Anton.
“Apa maksudmu Anton?” tanya Bayu.
“Sudah jelas maksudku kan? LEPASKAN PUTRAKU SEKARANG JUGA!!!!” bentak Anton.
“KAU SUDAH GILA YA!!!! Melepaskan putramu? Kau ingin menjadi budak seumur hidupmu, hah?” kini giliran Roy yang membentak.
“Aku berjanji kepada kalian, aku akan berusaha memberikan uang kepada kalian,” kata Anton.
“Jangan membuatku tertawa Anton, bagaimana kau akan memberikan kami uang sementara kau saja tidak mempunyai uang.”
“Kumohon Roy, lepaskan putraku. Aku akan berusaha.”
“Cihhh. Jangan harap. Sebaiknya kau tinggalkan tempat ini, kau hanya jadi pengganggu di sini.”
“Aku tidak mau. Jika kalian tidak mau melepaskannya biar aku saja yang melakukannya sendiri,” ujar Anton.
“Dan kau pikir kami akan membiarkannya begitu saja?”
“Tenanglah kalian berdua,” Surya melerai. “Anton kau kenapa? Kami tidak menyakiti Adrian, bukan? Bukankah kau sudah setuju dengan semua ini?”
“AKU TIDAK PERNAH MENYETUJUINYA. AKU HANYA MELAKUKAN INI KARENA TERPAKSA. KALIANLAH YANG MEMAKSAKU MELAKUKAN SEMUA INI!!! APA KALIAN MENGERTI PERASAANKU SEKARANG, HAH? AKU HARUS MENCULIK PUTRAKU DEMI UANG,” ucap Anton dengan geram.
“Apakah kalian setuju jika kita menghabisinya?” usul Roy.
“Ya, kami tidak keberatan,” jawab mereka serempak.

Roy memberi aba-aba untuk menyerang Anton. Namun Anton tak gentar, dia tak mundur sedikitpun. Dia tak takut melawan mereka berlima. Erwin, Surya, Bayu dan Jaka langsung maju ke depan untuk menghajar Anton sementara Roy tak bergeming dari tempat dia berdiri. Anton yang mempunyai tubuh lebih besar dari mereka berempat dengan mudah menghajar mereka hingga tewas. Kini tinggal ia dan Roy.

“KAU SUDAH GILA ANTON!!! KAU SUDAH MEMBUNUH TEMAN-TEMAN KITA!!!!”
“BERHENTI MEMBENTAKKU DAN MAJULAH.”
“KAU PIKIR AKU TAKUT PADAMU, HAH!!!!”

Roy dan Anton mulai berkelahi. Baku hantam antara keduanya tak terelakkan lagi. Roy sedikit diuntungkan dalam pertarungan ini karena tubuh Anton yang sudah mulai kehilangan stamina karena bertarung dengan keempat temannya tadi. Roy mengambil balok kayu dan memukul tubuh Anton berkali-kali dan membuat darah segar keluar dari tubuh Anton. Anton tak tinggal diam, diambilnya kursi dan dihantamkannya ke kepala Roy. Roy jatuh tersungkur. Dilihatnya sebuah benda berkilau di bawah meja. Tanpa pikir panjang diambilnya benda yang tak lain adalah pisau dan ditusukkannya ke perut Anton. Anton tumbang seketika.

“Kau lihat Anton!!! Akulah yang menang!!!” ejek Roy sambil menginjak-injak perut Anton.
Anton meringis kesakitan tapi dia berusaha untuk melawan. Dia tidak mau mati dulu. Dia belum menyelamatkan Adrian. Anton menangkap kaki Roy dan menarik kakinya yang membuat Roy terbanting dan darah keluar dari kepalanya. Anton bangkit dan mengambil kursi lagi. Kali ini dia menghantam kursi itu tepat di wajah Roy yang membuatnya mati seketika. Anton berjalan menuju ruangan dimana Adrian disekap dengan lemah sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah.

Adrian merasa resah dari tadi. Dia mendengar suara ayahnya bertengkar dengan beberapa orang. Apakah itu memang ayahnya, pikirnya. Dia semakin resah ketika mendengar suara kegaduhan. Apakah ayahnya sedang bertarung untuk menyelamatkannya? Sekarang dia tak mendengar apapun. Apakah pertarungannya sudah selesai? Dia mendengar pintu ruangan tempat dimana dia disekap terbuka. Dia sangat takut sekali. Adrian berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya.

“Tenanglah Adrian, ini bapak nak. Bapak datang menyelamatkanmu, nak,” ujar Anton lirih sambil membuka penutup mata Adrian.
Betapa terkejutnya Adrian ketika penutup mata itu dibuka. Dia melihat tubuh kekar ayahnya dipenuhi darah dan wajah ayahnya babak belur. Anton membuka lakban dan ikatan tangan dan kaki Adrian.
“Pak, kita harus segera ke rumah sakit sekarang. Bapak harus segera diobati,” ujar Adrian ketika dia sudah terbebas dari ikatan.
Anton jatuh tak sanggup lagi berdiri.
“Pak, bertahanlah pak. Jangan mati di sini. Adrian gak mau kehilangan bapak,” ucap Adrian sambil memangku kepala ayahnya.

Tiba-tiba segerombolan polisi datang menyergap tempat itu. polisi terkejut melihat beberapa mayat yang ada di dalam. Salah seorang polisi menemukan Adrian bersama ayahnya dan memberitahu ke rekan-rekannya. Lena dan orangtuanya yang mendengar langsung menerobos masuk dan terkejut melihat kondisi Anton.

“Mas, apa yang terjadi? Kenapa mas bisa seperti ini?”
“Bapak mencoba menyelamatkan Adrian bu. Dia bertarung melawan para penculik itu sendirian,” jawab Adrian.
“Apa yang kalian lihat?! Cepat bawa Anton ke rumah sakit!!” perintah Lena.

Beberapa polisi bersiap mengangkat tubuh Anton.
“Gak… per.. lu.. Lena. Ja..ngan… ba… wa.. a..ku ke… ru… mah sa…kit,” ucap Anton terbata-bata.
“Apa maksud kamu mas? Kamu berdarah dan kamu harus segera diobati.”
“A.. ku.. gak… ak..an… sela… mat.”
“Jangan ngomong gitu pak. Jangan tinggalin Adrian.”
“Ma..afin… ba..pak… nak.”
“Maaf buat apa pak. Bapak gak bersalah. Adrian yang salah. Seharusnya Adrian berhati-hati hari ini. Kalo aja hari ini Adrian berhati-hati, Adrian pasti gak diculik,” ujar Adrian sambil menangis.
“Kenapa mas datang ke sini sendirian? Kalo mas tahu dimana Adrian disekap seharusnya mas ngomong ke kami. Kenapa kamu datang sendiri mas? kenapa mas? kenapa?” ujar Lena dengan isak tangisnya.
Anton hanya diam. Dia tak dapat berkata-kata lagi, lidahnya kelu. Dielusnya pipi Adrian, dia menyesal atas perbuatannya kepada Adrian. Penglihatannya makin pudar. Dia merasa dia akan mati di sini. Tapi itu tak masalah baginya karena dia telah berhasil menyelamatkan putranya.

Akhirnya Anton menghembuskan nafas terakhirnya. Tangis Lena dan Adrian makin pecah. Mereka terus mengguncang-guncang tubuh kekar Anton yang sudah tak bernyawa. Perbuatan Anton yang ceroboh membuatnya kehilangan nyawa namun satu hal yang pasti membuatnya bahagia adalah Adrian pasti menganggapnya mati sebagai pahlawan bukan pecundang.

Cerpen Karangan: Siti Aisyah

Cerpen Penyesalan Seorang Ayah (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Antara Kita dan Dirinya

Oleh:
Angin lembut membelai rambutnya. Teresa duduk terpekur memandang hujan yang mulai berjatuhan di tanah. Hatinya tak menentu, ia begitu kalut. Seperti orang buta kehilangan tongkat, ia tak tahu bagaimana

Mata Pelangi

Oleh:
Gadis kecil itu duduk di teras rumah seorang diri. Tidak ada ayah ataupun nenek yang menemaninya kali ini. Hujan masih turun membasahi halaman rumah. Taman. Bunga. Pohon-pohon. Ayunan. Semua

Candy Girl

Oleh:
Candy Girl. Julukan yang tepat buat Da Vinci Mozart. Pasti kalian langsung mikir Leonardo Da Vinci seorang pelukis (1452-1519) yang melukis The Last Super dan Mona Lisa. Dan pastinya

Semuanya Milikmu Kembaranku

Oleh:
Sungguh membosankan sekali hari ini. Nilai metematika aku jeblok, terus aku harus nganter temen sekelas aku ke ruang piket, ceritanya sakit terus mau pulang, tapi enggak tau juga sih

Seragam Kucel Warisan Kakak (Part 1)

Oleh:
Ini adalah hari pertamaku masuk Sekolah Dasar (SD). Ya… berbekal seragam merah putih yang sudah kucel warisan dari kakak pertamaku Wahyu, serta satu buah seragam baru yang dibelikan orangtuaku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Penyesalan Seorang Ayah (Part 2)”

  1. Nadia says:

    Bagus bangeeettt..!!!
    Gila! Aku terharu bacanya! Cerpen ini spesial!! Temanya menarik walau judulnya agak membosankan!!

    Sukses terus Siti Aisyah..!! 🙂

    Salam, Nadia

  2. Habil says:

    Wah alurnya bagus sekali bikin emosi meningkat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *