Penyesalan yang Tak Berarti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 7 June 2014

Hari-hari seperti biasanya dan tidak ada yang berubah. Seperti biasa, setiap sore aku habiskan waktu untuk bermain sepeda bersama teman-teman seusiaku. Maklumlah, pada saat itu bersepeda sore sedang nge-trend di kalangan siswa SD sepertiku. Biasanya kami berkeliling komplek dan sesekali berhenti membeli makanan kecil untuk mengganti energi yang keluar.

Sore itu terasa sangat bersemangat. Terus aku kayuh dan kayuh meskipun terkadang aku harus menanggung beban temanku yang meminta boncengan gratis. Napas terengah-engah dengan tetesan keringat yang jatuh disertai rasa pegal pada kaki pun tak aku sadari.

Matahari mulai turun dan adzan Maghrib terdengar berkumandang jelas di telingaku. Dengan tergesa-gesa aku bergegas pulang dengan harapan semoga esok akan selalu seperti sore ini. Ku masukkan sepeda berdampingan dengan motor milik Ayahku di teras. Segera aku tutup pagar dengan baik dan masuk kamar.

Lusa mendatang adalah hari pertama Ujian Akhir Semester. Tentu sudah menjadi kewajibanku sebagai pelajar untuk membaca buku dan bertempur dengan soal-soal yang akan muncul pada kertas soal ujianku nantinya. Ku segera mempersiapkan buku yang akan aku baca dan membacanya dari halaman ke halaman.

Setengah jam berlalu, tiba-tiba terdengar suara aneh dari arah depan. Lebih jelasnya lagi terdengar seperti benturan besi yang keras dan sama sekali tidak ada firasat buruk pada saat itu, “Mungkin anak-anak yang usil” pikirku. Tetapi mungkin pikiran mama berbeda denganku. “Ade, lihat tuh di depan ada apa!” terdengar ucapan Mama dari arah ruang keluarga. Di satu sisi aku pun penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, namun di sisi lain aku terlalu penakut ditambah lagi terpengaruh oleh ilusiku yang mulai berlarian ke hal-hal mistis. Aku memutuskan untuk tetap diam dan mencoba menghilangkan ilusi gilaku itu. Rasanya terlalu paranoid, tetapi Mama berulang-ulang mengucapkan hal yang sama. Dengan pikiran positif aku melangkah dan memberanikan diri untuk melihat ke arah teras dan mengintip sedikit lewat jendela. Ternyata ilusiku itu memang benar-benar ngawur, tidak ada apa-apa disana.

Aku kembali ke kamar, membaca buku dan berkonsentrasi kembali. Dan untuk kedua kalinya terdengar lagi suara dari arah depan, tapi yang satu ini memang tetanggaku yang berkepentingan dengan Ayah. Ayah segera keluar, tapi anehnya sebelum ia akan meninggalkan rumah, Ayah masuk menghampiriku dengan raut wajah penuh kecemasan bertanya dimana sepedaku berada. “Aneh, jelas-jelas tadi Ayah juga melihat sendiri kan dimana aku menyimpan sepedanya. Ah, mungkin Ayah hanya bercanda saja kali,” pikirku. Tapi raut wajah Ayah menggambarkan keseriusan tentang apa yang ditanyakannya itu. Spontan aku berlari menuju teras dan ternyata tidak disangka-sangka sepeda itu memang tidak ada di tempat dimana aku menaruhnya tadi.

Mama dan Kakakku yang sedang asyik menonton sinetron favoritnya pun kaget dan langsung saja kami berempat memutuskan untuk mencarinya di daerah komplek dan bertanya-tanya kepada tetangga. “Mungkin suara benturan tadi itu adalah benturan pagar dengan sepedamu, De. Tadi kan jelas-jelas pagarnya sudah ditutup rapat. Seandainya pagarnya dibuka pun pasti terdengar suaranya. Mungkin ada yang mengambil sepedamu.” Mama mulai menerawang dan menduga-duga. “Mungkin juga sepeda itu diambil oleh 2 orang pencuri. Mana mungkin pencuri itu bisa mengangkat sendiri sepedamu, sepedamu kan berat, De.” Kakak perempuanku menambahkan. Aku pikir apa yang mereka ucapkan itu benar adanya. Setelah Ayah, Aku, Kakak dan Mama berpencar dengan harapan pencurinya belum jauh dari daerah komplek pun gagal, nampaknya pencuri itu sudah pergi jauh.

Entahlah, yang jelas meskipun sepeda itu modelnya bisa dikatakan ‘jadul’ tetapi tetap saja aku merasa menyesal. Esok sore tak akan seindah sore tadi. Kini rasa bersalah, kesal dan menyesal menjadi satu. Namun kini tak ada gunanya lagi untuk menyalahkan diri sendiri. Mungkin ini balasan bagi orang-orang yang tidak bisa menjaga barang dengan baik sepertiku.

Cerpen Karangan: Tasya Tiara Puspa
https://twitter.com/tasyatiarp
Tasya Tiara Puspa, 27 Januari 1999.

Cerpen Penyesalan yang Tak Berarti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan Yang Berharga

Oleh:
Pada hari ini aku seperti biasa pergi ke sekolah jam setengah enam pagi. Di sekolah aku langsung duduk di kelas. Aku duduk di bangku paling belakang bersama temanku namanya

Kartini Yang Salah

Oleh:
Langkah berisik dari badan jalan benar-benar mengganggu. Bau rokok di mana-mana, tatapan mata yang menghujani lorong-lorong sempit perumahan kumuh. Aku marah, kesal dan segala jenis peluapan emosi negatif. Negeri

Titania’s Life (Part 3)

Oleh:
Daffa yang kesal diacuhkan oleh Titan segera menarik tangan Titan, sekarang mereka saling berhadapan. Tapi pandangan Titan tertunduk. “Kamu kenapa?” Tanya Daffa. Titan tak menjawab pertanyaan Daffa. Wajah Titan

Alicia Yeoh

Oleh:
Malam mulai hinggap di atas kota kecilku. Warna hitam merayap, mendekor langit berlapis–lapis. Burung–burung gereja kecil, bercericit dalam kawanan, pulang ke sarang. Karyawan, buruh, tukang becak, pedagang kaki lima,

Cinta Mu Bukan Untuk Ku (Part 2)

Oleh:
Hari ini aku ke rumahnya. Jarak yang lumayan jauh. Tanpa kesulitan yang berarti aku menemukan lokasi rumahnya. Ku parkirkan motorku di halaman rumahnya sambil berjalan untuk mengetuk pintu, lalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *