Penyesalanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 14 November 2017

Andaikan malaikat itu nyata wujudnya, tidak akan mungkin ada malaikat yang terluka hatinya karena lidah yang bersilat. Andaikan hati malaikat itu tidak lebih lembut dari sutera, pastilah hatinya tak akan koyak meski terucap ribuan kata pahit yang menggoresnya. Andaikan saja, satu dari ribuan malaikat itu tidak menjelma menjadi sesosok yang bernama Ibu tidak akan mungkin aku menyesali perbuatan hinaku selama ini

Aku bukanlah anak yang lahir dari rahim seorang wanita kaya, apalagi sampai bermimpi hidup glamour, menghamburkan kekayaan orangtua. Meski aku selalu bermimpi menjadi anak orang kaya, namun nyatanya aku masih di sini, diam di rumah yang kumuh ini, dengan kedua orangtua yang tidaklah muda lagi. Jangankan untuk menuruti semua keinginanku, untuk menyekolahkanku saja, Bapak dan Ibuku harus bekerja ektra.

Kata orang aku ini orangnya supel. Maka, tidak heran kalau teman-temanku sangat menyukaiku. Awalnya, aku mau berteman dengan siapa saja, namun setelah tahu kelebihanku, aku mulai memilih teman yang bisa dekat denganku. Apalagi dengan otakku yang pandai, semakin banyak teman yang meyukaiku. Maka, aku pun mulai memilih teman dari golongan menengah ke atas. Aku tidak lagi mau berteman dengan anak yang setara denganku.

Kebahagiaan aku dapatkan dari berteman dengan anak-anak orang kaya ini. Barang yang tidak bisa orangtuaku berikan, terpenuhi dengan bertemankan mereka. Sedari SMP aku sudah banyak mendapatkan hadiah dari teman-temanku yang memintaku mengajari mereka. Bahkan, orangtua mereka pun ikut senang padaku.

Selama ini, aku tenang-tenang saja berteman dengan mereka, toh, aku malah untung dibuatnya. Aku jarang sekali pulang ke rumah, jika ada teman yang mengajakku tidur di rumahnya, maka dengan senang hati aku akan menerima tawaran itu. Jika, orangtua mereka bertanya, bagaimana dengan orangtuaku, maka aku akan menjawab bahwa orangtuaku tengah berada di luar negeri. Hal yang mudah sekali diucapkan, meskipun aku belum tahu, Azab apa yang akan kudapatkan kelak.

Kalaupun sesekali aku pulang ke rumah, maka aku hanya akan meminnta uang jajan yang tidak seberapa itu. Aku tidak pernah tahu, kalau orangtuaku amat terluka melihat sikapku yang sangat angkuh dan cuek pada mereka. Sama sekali berbeda denganku di luar sana. Aku yang supel, sopan, dan ramah tidak berlaku untuk kedua orangtua yang telah memberiku kehidupan itu.

“Nanti mau dimasakin apa Nduk?” Tanya Ibu yang tidak pernah bosan menanyakannya ketika aku pulang.
“Nggak usah, aku nggak pulang malam ini.” Jawabku ketus.
“Oh, ya sudah. Mau nginap di rumah siapa nduk? Coba sekali-kali temannya itu diajak nginep di sini, gantian.” Kata Ibu dengan intonasi bergetar.
“Alaah, Ibu ini pura-pura nggak tahu lagi. Mana mungkin aku ngajak temanku ke rumah reot ini. Yang ada mereka malah ninggalin aku nanti. Aku aja nggak betah di sini, apalagi teman-temanku yang orang kaya.” Jawabku lagi dengan kasar.
“Ya sudah kalau ndak bisa.” Aku tahu, suara Ibu saat itu bergetar menahan tangis. Tapi Ibu tidak pernah sekalipun mengeluarkan air matanya di depanku, Bapak juga tidak pernah marah saat aku berbicara kasar. Hanya raut wajahnya saja yang berubah muram, kecewa pada dirinya sendiri yang hidup miskin. Tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk putri satu-satunya ini.

Aku tahu aku mengecewakan Bapak dan Ibu. Aku tahu kesalahanku yang selalu ingin hidup kaya. Namun, rasa gengsi yang amat besar jika aku mengakui keadaaku yang sebenarnaya pada teman-teman yang menganggapku kaya selama ini, menutupi semua rasa takutku akan dosa. Tanpa rasa iba, aku terus memaksa keadaan orangtuaku yang tidak mampu untuk memenuhi apa yang aku kehendaki.

“Oh iya Bu, besok ada perayaan hari kartini. Sekolahku mau ngadai fashion show, aku nggak mau tahu, pokonya aku harus punya kebaya baru. Kebaya modern kayak punya teman-temanku.”
“Iya nanti Ibu usahain ya Nduk. Kalau nggak ada yang baru, nyewa dulu nggak papa to? Nanti kalau Ibu sama Bapak punya rejeki, baru dibelikan yang kamu mau.” Ibu memberiku pengertian dengan intonasi yang amat ia jaga, untuk menjaga suasana hatiku agar tidak meledak tiba-tiba.
“Ishh, pokoknya aku mau kebaya modern itu udah ada di kamarku besok pagi!” entah setan apa yang merasukiku, aku langsung masuk ke dalam kamar sambal menhempaskan pintu.

Tanpa kusadari, setelah aku meninggalkan Ibu, Ibu menangis sambil membungkam mulutnya rapat. Tidak ingin suara tangisnya terdengar olehku. Tanpa kusadari pula, dibalik pintu rumah, di luar sana ayah mendengar percakapanku dengan Ibu. Sengaja tidak langsung masuk, agar bisa meredam amarahnya padaku. Lagi-lagi mereka tidak mau memperlihatkan rasa kecewa mereka langsung di hadapanku.
Setelah mendengar hempasan pintu kamarku, barulah Ayah masuk ke dalam rumah. Menguatkan hati ibu yang saat itu masih berkutat dengan isaknya.

“Bu. Ingat penantian lama kita untuk mendapatkan seorang anak. Ingat janji kita yang akan menerima setiap kesalahan yang akan anak kita perbuat pada kita. Mari kita sadarkan putri kita dengan ketulusan, dengan pengorbanan yang kita tanamkan selama ini.” Kata Ayah sembari merangkul tubuh kurus ibu.
“Iya pak. Malam ini Ibu akan langsung datang ke toko, membeikan kebaya untuk puteri kita. Semoga uangnya masih cukup.” Kata Ibu, yang sudah lebih menguatkan hatinya.

Dibalik pintu kamar, aku mendengar apa yang Bapak dan Ibu bicarakan. Entah mengapa, saat itu pula aku merasa ada ribuat jarum menusuk ulu hatiku, menghujam relung hati yang selama ini kerasnya melebihi batu.
Aku menangis sejadi-jadinya malam itu. Menyesali segala perbuatan hinaku pada orang yang sudah mengorbankan hidupnya untukku. Tidak penting harta yang melimpah, yang utama adalah kasih sayang yang tidak akan pernah tergoyah meski dengan limpahan air mata darah.

Malam itu pula, aku menyesali semuanya. Aku bersujud memohom maaf kepada Bapak dan Ibu. Meminta ridho dan keikhlasannya untuk memaafkanku. Menangis sejadi-jadinya di pangkuan Ibu, dan berjanji akan menjadi yang lebih baik lagi.

Malam itu hatiku sepenuhnya terbuka, kebahagiaan bukanlah datang dari harta dan kemewahan yang melimpah. Cinta akan kita peroleh dari kasih sayang tulus dari orang-orang yang telah berkorban dan mengorbankan apa yang mereka miliki untuk kita.

Cerpen Karangan: Dian Indria A
Facebook: Dian Indria Astuti

Cerpen Penyesalanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengorbananku

Oleh:
Malam ini bulan bersinar terang menampakkan cahaya nya ke berbagai penjuru dunia. Namun, terangnya bulan itu kini tak seterang keadaanku. Aku hanya bisa terduduk di atas rerumputan dan memandangi

Penantian Tak Berujung

Oleh:
“Beib bolehkah aku besok pergi ke Jakarta untuk menggantikan posisi Ayahku di perusahaannya?” ucap Dimas kekasih Mya. “Emm, kenapa secara mendadak begini?” ucap Mya. “Maafkan aku sayang, tapi Ayahku

Kado Buat Mama

Oleh:
Aku tinggal di sebuah kota di komplek yang mayoritas pemilik rumahnya adalah kalangan pengusaha. Aku tinggal bersama mama dan seorang pembantu karena Papaku kembali ke Amerika setelah papa dan

Tarian Hujan

Oleh:
Setiap kali hujan datang, aku sering kali menyambutnya dengan cara menadahkan wajahku, membiarkan setiap bagian dari mukaku dihujani air dari langit, lalu aku tersenyum usai mukaku dibelai halus oleh

Penyesalan Ibu Gajah

Oleh:
Pada suatu hari, Di hutan Afrika, ada sebuah keluarga gajah. Keluarga tersebut terdiri dari Ibu Gajah, Ayah Gajah, Dan seekor anak gajah yang bernama Olive. Esoknya, ibu gajah melahirkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *