Perasaan Kita (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 21 March 2014

Andai yang di samping kamu adalah aku.. andai jari itu adalah milikku dan cincin itu untukku.. aku mencoba mengalihkan pandanganku saat cincin itu akan dilekatkan di jari manis seorang gadis yang usianya kira-kira 4 tahun di bawahku.. dari balik pintu ini aku menyaksikan seseorang yang selama ini menjadi belahan jiwaku menikah dengan gadis lain.. terluka sangat terluka, tapi tak ada dendam sedikitpun untuknya, cinta ini mengalahkan kebencianku.. begitu juga kenyataan ini, mengalahkan semua mimpiku..

Aku berusaha meninggalkan tempat itu.. sebuah gedung yang sangat megah, sesekali ku lihat papan bunga yang ada di kiri dan kanan.. kenyataan yang tak sesuai dengan impian.. mungkin ‘takdir’ mungkin ‘tak jodoh’.. hanya itu yang terucap dari hatiku..

Aku berjalan sendirian dengan lamunan-lamunan yang mulai menghantarkanku pada kekecewaan.. aku menuju ke ‘coffe shop’.. ku pesan langsung 3 cangkir capucino, aku duduk paling pojok dimana biasanya dia ada di sebelahku.. ku tenguk capucino yang baru saja diantarkan pelayan sesuai pesananku, tanpa menyadari air mata ini berlinang mengingatkanku pada kejadian beberapa bulan yang lalu..

“maaf bolehkan anda pindah ke tempat duduk lain saja?”
Tatapan sinis menjawab pertanyaanku, tapi aku tak menyerah untuk menyuruhnya pindah dari tempat yang biasa aku duduk..
“saya mohon, pindahlah mas..”
Sudah 3 kali akumengatakan perkataan yang sama namun dia takmenjawabku sedikitpun.. aku langsung keluar dari coffe shop itu namun aku tak langsung pergi.. aku berdiri di depan pintu sambil sesekali melihat ke arahnya, berharap dia pergi..

Sudah hampir 1 jam aku berdiri namun dia tak kunjung pergi.. apa dia sengaja, atau memang dia akan menginap di sana.. emosiku mulai tidak stabil, ingin rasanya aku menariknya keluar agar dia pergi namun aku tak berhak untuk melakukan itu.. coffe shop ini bukan milikku..

Aku tetap menunggu di depan pintu.. hingga 1 jam lewat 15 menit berlalu akhirnya dia meninggalkan tempat itu.. aku segera duduk di kursi itu dan memesan capucino.. namun belum lagi capucino aku habiskan, dia duduk di sebelahku..
“maaf mas, apa yang anda lakukan di sini..”
“duduk..”
“segampang itu kah?”
Senyum yang dia tunjukan padaku..
“mas tolong pergi dari sini.. dari tadi saya sudah bersabar agar bisa duduk di sini.. tolong jangan ganggu saya..”
“saya hanya ingin duduk di sini..”
“saya juga mas..”
“kalau begitu saya dan kamu, kita sama-sama duduk di sini..”
“tidak..” air mata ku mengalir

Segera aku berlari meninggalkan coffe shop itu.. perasaan ini sangat sedih.. aku tidak bisa membiarkan 1 orang pun yang duduk di depanku atau dengan kata lain 1 meja denganku.. tidak aku tidak mau.. aku langsung pulang ke tempat kostku..

Esok harinya seusai aku pulang kerja, aku kembali menuju coffe shop itu.. aku berharap tidak lagi menemukan lelaki itu.. aku kembali tersenyum ketika aku melihat kursi yang biasa aku duduk ternyata kosong.. segera aku duduk, aku memesan capucino yang sangat aku suka.. setelah capucino itu habis aku segera membayarnya..
“mba ini uangnya..”
“maaf mba.. capucino anda sudah dibayar..”
“siapa yang membayarnya mba?”
“seseorang mba dan saya tidak bisa mengatakannya..”
Aku hanya diam membisu.. perlahan meninggalkan coffe shop itu.. siapa yang telah membayarnya? dalam hatiku bertanya..

Ketika aku berjalan menuju tempat kost ku.. aku melihat seorang anak kecil yang merengek-rengek minta dibelikan balon pada ayahnya.. air mataku terjatuh dan lebih deras lagi mengalir ketika aku melihat ibu anak itu datang membawakan balon untuknya..
‘mama.. aku kangen mama.. aku ingin mama di sini.. bersamaku juga ‘papa’..’
Hati kecil ini sejujurnya sangat merindukan kasih sayang kedua orangtua.. tak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang mereka.. tapi ini takdirku.. aku harus terbiasa tanpa mereka.. aku melangkah menuju ke tempat pemakaman.. ku cabut bunga yang ada di sekitarku.. aku menghampiri sebuah makam.. aku menjatuhkan lututku..
“mama.. apa kabar? aku kangen sama mama.. aku ingin sekali memeluk mama.. bila perlu aku menyusul mama..”
Airmata yang tak berdosa ini adalah pertanda kesedihan di hatiku.. aku tak tau harus berbuat apa saat selain menangis..
“ini sapu tangan untuk menghapus airmatamu..”
“kamu lagi.. mau apa?”
“hanya memberikan sapu tangan ini untukmu..”
“maaf aku tidak butuh..”
Aku langsung meninggalkan lelaki itu..
“tunggu..”
Ku hentikan langkahku, namun aku tidak menoleh ke belakang untuk memandang wajahnya.. bukan aku membencinya karena kejadiaan di coffe shop itu, namun aku Cuma tak mau ada orang lain yang menganggapku lemah..
“bolehkah aku berteman denganmu?”
“untuk apa?”
“mungkin aku menyukaimu..”
“menyukaiku? kamu salah orang..”
“aku tidak mungkin salah orang.. karena dari semua mata, hanya mata kamu yang berbeda..”
“maaf aku tak sempat mendengarkanmu..”
“jika tak sempat, bolehkah memberikan aku kesempatan sekali saja?”
Aku tak menjawab pertanyaannya.. aku bingung, aku merasa ragu untuk menjawabnya.. aku takut memberikan jawaban yang salah karena aku tak mau menyakitkan hati orang lain..
“tolong..”
“baiklah.. aku Fiska..” aku menoleh ke belakang
“aku Alvin..”
“terima kasih..”

Aku langsung berlari meninggalkannya.. aku menuju tempat kost ku.. aku membuka pintu kamarku dengan tergesa-gesa.. aku kembali mengunci kamarku.. ku dekati perlahan boneka yang sudah cukup lamanya selalu mengikutiku.. aku menjatuhkan airmata tepat di tangan boneka itu.. aku merindukan seseorang, seseorang yang memberikan boneka ini padaku, 17 tahun yang lalu.. aku memeluknya hingga membuatku terlelap..

Matahari yang selalu setiamemberikan kehangatannya juga sinarnya yang menerangi kehidupanku mengusik mimpiku.. aku harus bangun, karena ini jam sudah menunjukan pukul 10.23 wib..

Aku bergegas mandi, berpakaian dan bersiap-siap menuju coffe shop.. hari ini aku cuti kerja.. sangat senang sekali saat cuti, aku bisa berlama-lama duduk di coffe shop itu..

Langkah kakiku menuju coffe shop sangat aku percepat karena aku takut ada orang yang mendahuluiku.. aku berharap kursi itu kosong.. sampainya di sana ternyata kosong.. terima kasih Tuhan..

Ku pesan kembali capucino.. aku duduk dengan senyum yang sangat indah..
“Fiska..”
“alvin..”
Namun dia tak duduk 1 meja denganku, melainkan di meja sebelahku..
“apa yang kamu lakukan di sini? apa ingin lagi menggangguku?”
“tidak.. kamu tidak lihat aku duduk dimana?”
“terima kasih..”
“Fiska bolehkah aku mengajakmu makan siang?”
“aku tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum aku menghabiskan capucino..”
“aku akan menunggunya..”

Aku sengaja menghabiskan perlahan capucino itu.. aku berharap dia jenuh menungguku hingga dia tidak jadi mengajakku.. namun sudah hampir 1 jam, dia masih tetap menungguku.. aku mulai merasa tidak enak dengannya..
“aku sudah selesai..”
“oke.. sekarang ayo kita menuju tempat makan..”
“baiklah..”

“mba, berapa semuanya? meja saya dan meja mas ini..”
“maaf mba sudah dibayar..”
“siapa yang membayarnya?”
Lagi-lagi pelayan itu tidak menyebut orang yang sudah membayar capucinoku..
“mungkin kamu punya pengagum rahasia..”
“tidak mungkin..” aku memberikannya senyuman
“kamu tunggu di sini, aku akan…”
“itu angkotnya sudah datang, ayo kita segera naik.. soalnya angkot di sini susah loh..”
“kenapa naik angkot.. naik…”
Aku langsung berjalan meninggalkannya, namun dia berusaha mengikutiku.. ketika aku naik dia juga mengikutiku.. ku lihat raut wajahnya yang mulai kusut, aku rasa dia mulai tidak nyaman denganku namun aku hanya memberikan senyuman padanya.. aku berharap besok dan lusa ataupun seterusnya dia tidak lagi mau mengikutiku apalagi mengajakku..

“sudah sampai.. ayo turun..”
“ini ongkosnya..”
“50 ribu? kamu pikir ini naik taksi? jangan memberikan uang besar pada supir angkot, bisa-bisa dia tidak mengembalikannya sisanya.. pakai uang aku saja.. aku ada uang pas..”
“iya..”
Aku sengaja mengajaknya makan bakso di pinggir jalan.. jujur saja aku sengaja mengerjainya.. memberikan pelajaran sedikit untuknya..
“mas baksonya 2.. pedas ya mas..”

Kami pun menyantap bakso bersama.. saat melihatnya makan bakso aku pun tertawa kecil..
“perutku..”
“kenapa perut kamu?”
“rasanya sakit sekali..”
“kenapa bisa sakit sich.. ini kan Cuma bakso..”
“aku gak tau..”
Tiba-tiba dia pingsan.. dengan paniknya aku meminta orang-orang di sekitar untuk membantuku mengantarkan kami ke tempat kostku.. bersyukur ada orang baik yang mau membantuku..

Semoga kamu cepat sembuh.. maaf jika akumembuatmu sakit.. perasaan bersalah terus menghantuiku.. mungkin aku terlalu jahat.. harusnya aku tidak memesan bakso yang super pedas.. mungkin dia tidak terbiasa makan di pinggiran jalan.. lain kali aku tak akan lagi mengerjainya.. maafkan aku alvin.. aku menatapnya dengan harapan dia sadar.. aku tak bisa membawanya ke rumah sakit, karena jujur aku tak punya biaya.. untuk kehidupan aku yang sehari-hari saja aku masih berkekurangan.. aku sangat merasa bersalah.. hanya doa yang bisa aku lakukan..

“kenapa kamu tidur di situ?”
“sudah pagi ya.. gimana kondisi kamu? kamu baik-baik saja kan?”
“aku baik-baik saja.. ternyata kamu menghawatirkanku..”
“tidak.. aku tak menghawatirkanmu sama sekali.. aku hanya tak ingin kamu merepotkanku.. pulanglah hari sudah pagi..”
“kamu mengusirku begitu saja? apakah kamu tau perutku masih sakit?”
“jadi kamu masih merasakan sakit? bukannya kamu bilang baik-baik saja..”
“aku baik tapi perutku tidak..”
“kalau begitu istirahat sajalah di sini sampai kamu benar-benar pulih..”
“benarkah?”
“iya.. sebentar aku akan membuatkan bubur untukmu..”
“tapi aku ingin nasi goreng..”
“nanti kamu tambah sakit..”
“kalau kamu gak buatkan nasi goreng aku pasti sakit..”
“iya.. baiklah kalau begitu..”

Aku meninggalkannya dengan senyuman.. aku ke dapur dan memasak nasi.. setelah nasi mateng aku membuat 2 piring nasi goreng.. aku berharap dia suka nasi goreng ini..
“ini nasi gorengnya.. kamu makan saja duluan.. aku mau mandi dulu..”
Aku langsung meninggalkannya menuju kamar mandi.. selesai mandi..
“loch kenapa kamu gak makan?”
“nungguin kamu..”
“buat apa?”
“ini kan masakan kamu jadi aku harus makan sama kamu..”
“iya sudah.. selamat makan..”

“aku mau berangkat kerja, kalau kamu sudah merasa baikan tolong tingalkan tempat ini secepatnya..”

Tanpa mendengarkan jawabannya aku langsung pergi meninggalkannya.. maaf aku berbuat begini tapi aku tak tau lagi harus bagaimana.. aku selalu berjalan kaki menuju tempat kerjaanku..

“mba pesan capucino seperti biasa..”
“baik mba..”
“terima kasih..”
Aku merasa ada yang hilang sedari aku sampai ke tempat kostku.. perasaan yang hilang itu langsung mengantarkan kaki kecilku ke tempat ini ‘coffe shop’.. apa yang hilang? bukankah itu lebih baik? aku yang memintanya untuk meninggalkan tempat itu tapi kenapa aku merasa kehilangan? apa mungkin aku… Aku menyukainya? tidak.. mungkin ini hanya perasaan bersalah.. aku tak boleh memikirkannya..

Seusai aku menyantap nikmatnya capucino favoritku, aku langsung bergegas keluar.. tapi ternyata hujan rintik, mau tidak mau aku harus pulang.. aku berjalan lebih cepat dari biasanya.. namun sebelum sampai setengah perjalanan, hujan turun sangat deras.. aku langsung berteduh di depan rumah yang mungkin sudah tidak berpenghuni lagi..

‘mama.. aku takut suara petir itu..’
‘jangan takut sayang, petir itu tidak seseram yang kamu dengar.. berdoa saja Tuhan pasti melindungi kamu.. mama juga akan selalu memelukmu dengan hangat..’

Tiba-tiba aku teringat perkataan itu.. perkataan yang membuatku harus meneteskan lagi airmata.. aku kangen mama..

“apa yang kamu lakukan di sini?”
“kamu? kenapa terus mengikutiku?”
“aku Cuma lewat.. dan aku melihatmu jongkok.. sedari tadi aku klakson tapi kamu tidak menoleh ke arahku.. aku kira kamu kenapa-kenapa..”
“tidak, aku baik-baik saja.. jangan memperdulikanku..”
Duar.. suara petir yang sangat kuat terdengar, tanpa sadar aku langsung memeluk alvin..
“maaf aku tak sengaja..”
“iya aku tau.. kamu takut ya sama petir?”
Aku hanya diam menunduk..
“kalau begitu bolehkan aku mengantarmu pulang?”
“tidak.. aku akan menunggu hujan reda..”
“kalau begitu aku juga akan menunggunya..”
“pergi.. sana pergi.. kamu selalu saja muncul di hadapanku.. seperti nyamuk yang tak pernah diundang..”
“terserah kamu mau menganggapku apa.. yang pasti aku tetap menunggumu di sini..”

Aku langsung berlari meninggalkannya padahal hujan belum reda.. dia berlari mengikutiku dan langsung menarik tanganku..
“kamu apa-apaan.. sakit tau..”
“kamu kalau dibilangin selalu aja membantah.. sifat kamu keras kepala.. kalau dibiarkan kamu bisa sakit..”
“kalau aku sakit itu adalah urusanku bukan urusanmu..”
“jelas saja itu urusanku karena aku menyukaimu..”
“apa maksudmu?”
Kami berdua menghentikan langkah kaki kami..
“iya aku mencintaimu..”
“cinta seperti apa? kamu baru mengenalku.. tidak tau siapa sebenarnya aku.. tidak tau bagaimana kehidupanku..”
“cinta tak mengenal apapun..”
“itu mustahil..”
“tolong.. jangan bandel lagi..”
“kamu tidak tau apa-apa tentang cinta..”
“aku memang tak tau tapi yang aku tau aku mencintaimu.. hanya itu..”
“aku tak butuh sebuah cinta.. aku membenci cinta.. cinta itu Cuma keegoisan semata.. membahagiakan tapi melukai dengan sesukanya..”
Aku menangis menjatuhkan airmata yang tak berdosa..
“aku tau ada sesuatu yang sangat membuatmu terpuruk.. tapi jangan biarkan kamu menganggap semua orang itu sama Fiska..”
“kamu tau apa? tolong tinggalkan aku.. aku tak ingin ada kesialan yang menghantui hidupmu..”
“jangan katakan apa-apa.. aku yang akan mengantarkanmu pulang..”
Aku hanya mengikuti langkahnya karena aku benar-benar tak tau harus bagaimana.. airmata ini tak bisa lagi aku hentikan.. di dalam perjalanan menuju tempat kostku, aku melihat tubuhnya menggigil dan suara bersin menemaninya..
“kita sudah sampai.. turunlah..”
“ikutlah ke dalam..”
Kali ini dia yang mengikuti langkahku..

“keringkan badanmu dan pakailah ini.. ini baju cowok kok..”
“terima kasih..”
Aku langsung meninggalkannya dan menuju toilet umum di tempat kostku.. dia juga langsung menuju toilet yang ada di kamarku.. setelah aku mengganti pakaianku, aku langsung menuju kamarku..

“ini teh.. minumlah biar badanmu hangat..”
“bagaimana, apa baju ini cocok untukku?”
Aku memberikan senyuman untuknya tapi lagi-lagi airmata ini menetes..
“kamu kenapa? apa aku salah?”
“tidak tapi segera habiskan teh itu dan tinggalkan tempat ini..”
“baiklah.. terima kasih..”
Aku melihatnya menghabiskan teh buatanku dan langsung meninggalkan ku.. maafkan aku.. lagi-lagi hanya kata-kata itu yang bisa akau ucapkan..

Tok tok tok… suara pintu kamarku membuat aku terkejut, padahal saat itu aku baru pulang dari tempat kerjaku.. aku langsung membuka pintu kamarku..
“sore Fiska, ini bajunya aku kembalikan.. sudah dicuci kok..”
“tidak.. buat kamu saja.. kamu lebih pantas memakainya.. anggap saja itu hadiah kecil dariku, ucapan permintaan maaf dariku..”
“maaf untuk apa? kamu tidak bersalah..”
“sudahlah alvin aku tak ingin membahasnya..”
“oke baiklah.. apa boleh aku mengantarmu ke coffe shop..”
“tidak.. aku bisa pergi sendiri..”
“kalau begitu ambil kembali pakaian ini..”
“kamu kenapa sich..”
“kamu yang kenapa, selalu memaksa tapi dipaksa tidak mau..”
“baiklah.. antarkan aku..”

“ikutlah denganku..”

“mba pesan 2 capucino yang seperti biasa..”
“baik mba.. silakan menunggu..”
“terima kasih..”

“duduklah alvin, apa yang kamu lakukan di situ.. seperti patung yang berdebu..”
“maaf..”
“untuk apa duduk di sana.. tidakkah kamu melihat ada tempat duduk kosong di mejaku?”
“apa boleh aku duduk di situ?”
“iya..”
“terima kasih..”

Bersambung

Cerpen Karangan: Zee Choco
Blog: bczchoco.blogspot.com

Facebook: http://www.facebook.com/choco.chofamz
Twitter : @ZeeChoco_

baca jua cerpen lainya :
* My First Love is Failed
* Bukan Dia tapi Aku
* Sahabat jadi Cinta
* Tangisan Terakhirku
* Waktu
* Dendam yang Memudar
* Jurang dari Keterpaksaanku
* Aku Bukan Gadis Menjijikan !!
* The End of My Life

Cerpen Perasaan Kita (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Balik Awan

Oleh:
Malam yang kelam dihiasi oleh rintikan hujan. Malam ini ustad Syahrir menanyakan padaku apa impian terbesarku? Aku hanya terdiam, tak menjawab. “Vita, kenapa kamu tidak menjawab?” tanya ustad Syahrir

Senyum Ku Bersemi Kembali

Oleh:
Satu tahun yang lalu, mimpi itu pernah hadir membawaku melayang ke angkasa. Dua garis itu ku dapati ketika lima bulan pernikahanku. Kebahagiaan itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun

Sepucuk Kata Unuk Suamiku

Oleh:
Kukatakan sekali lagi. Sudah berapa kali aku mengatakan padamu? Jangan pernah lagi pulang malam malam. Sebenarnya apa yang kau lakukan? Adakah di dunia ini yang hidupnya hanya menghabiskan waktu

Surat Tanpa Tuan

Oleh:
“Hai aku kembali! Di saat sang langit menangis namamu terlintas di benakku. Seolah mendekap padahal jauh. Kamu tahu kenapa namaku tak tertera di setiap surat yang ku kirim? Agar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *