Perasaan Kita (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 21 March 2014

Saat capucino pesananku telah datang…
“minumlah alvin..”
“iya..”
“bagaimana rasanya?”
“harum..”
Aku sangat senang sekali mendengar jawaban itu.. 17 tahun lamanya aku tak pernah mendengar kata-kata itu.. terima kasih alvin kamu menghadirkan kembali kata-kata yang bisa membuatku semangat..
Tak ada obrolan yang menemani kami menyantap capucino ini..
“aku pulang dulu..”
“aku antar..”
“jangan, aku bisa sendiri..”
“tapi..”
“tolonglah..”
Aku langsung menuju kasir dan segera meninggalkan coffe shop itu.. tapi belum lagi sampai di tempat kostku aku merasakan tubuhku sangat lemah.. pusing dan akhirnya aku merasakan dunia yang sangat gelap..

“gimana keadaan kamu?”
“pusing.. aku di mana alvin?”
“di rumah sakit.. kamu pingsan tadi.. makannya jangan bandal lagi Fiska..”
“aku mau pulang..”
“tunggu 1 infus ini habis biar tenaga kamu ada..”
“sekarang saja.. aku takut..”
“takut apa?”
“tak bisa membayarnya..”
“aku yang akan menanggung semua biaya rumah sakit..”
“jika aku sudah memiliki uang aku akan membayarnya..”

“alvin terima kasih..” setiba di tempat kostku tepatnya di kamarku
“sama-sama Fiska.. kamu untuk apa ke coffe shop itu jika kamu sakit? kamu terlalu memaksa.. lihat sekarang akibatnya.. bagaimana kalau seandainya aku tak mengikutimu?”
“benarkan selama ini kamu memang mengikutiku..”
“iya karena aku menyukaimu..”
“jangan lagi Alvin..”
“aku tak perduli.. jawab dulu pertanyaanku.. untuk apa kamu memaksa ke coffe shop itu?”
“untuk sebuah semangat..”
“ceritalah padaku Fiska.. anggaplah aku teman kamu..”
“untuk apa aku cerita Alvin? itu tak penting untukmu..”
“aku mohon Fiska.. aku selalu bingung kenapa setiap hari kamu selalu datang ke coffe shop itu walaupun dan sekalipun hujan sangat deras..”
“untuk sebuah semangat Vin..” air mata pun mengalir sangat deras
“semangat yang pernah hilang?”
“iya Vin..”
“pacar?”
“bukan..”
“kehangatan dari seseorang..”
“siapa Fiska..”
“papa?”
“papa kamu ke mana?”
“tak tau..”
“maaf.. aku membuatmu sedih..”
“kamu tau kan sekarang alasannya sekarang..”
“apa masalahnya Fiska.. papamu..”
“hanya di tempat itu terakhir kali papa memberiku kehangatan.. 17 tahun tanpa kehadirannya.. itu membuatku sangat terpuruk.. aku kehilangan kasih sayangnya.. bahkan dirinya.. setiap hari, aku rela berjalan kaki kemanapun agar tak mengeluarkan uang untuk ongkosku, jadi aku bisa pergunakan untuk ke tempat itu ‘coffe shop’ membeli 1 cangkir capucino yang dulunya aku dan papa selalu bersama ke tempat itu.. aku tak peduli selelah apa kaki ini harus melangkah, yang penting aku bisa merasakan kembali kehangatan itu, aku selalu semangat setelah aku ke tempat itu.. kamu mungkin bisa mengatakan aku aneh, tapi kamu tak tau gimana rasanya jadi aku.. kamu punya orangtua yang lengkap sementara aku?”
“aku mohon jangan teruskan.. aku tak ingin kamu menangis lagi..”
“kalau begitu jangan lagi memaksaku untuk menerima pakaian itu..”
“yang waktu hujan itu..”
“iya, aku membelinya saat aku mendapatkan gaji pertama.. tujuanku untuk papa.. tapi aku tak bisa menemukannya.. aku tak tau dia di mana..”
“aku akan membantumu.. Fiska apa kamu punya fotonya?”
“tidak.. aku sudah membuangnya.. karena waktu papa meninggalkan kami, mama selalu murung, menangis dan akhirnya jatuh sakit saat melihat fotonya.. aku tak bisa melihat mama terluka hanya karena keegosisanku..”
“berarti makam itu..”
“iya itu makam mamaku”
“jangan menangis lagi..” memelukku dengan hangat
“pulanglah Vin.. aku tak mau keluargamu mencarimu..”
“aku tak bisa meninggalkanmu sendirian..”
“aku akan baik-baik saja Vin..”
“kamu lagi sakit.. aku tak bisa meninggalkanmu.. kamu istirahat.. aku tidur di kursi ini saja..”
“maaf..”
“kamu lebih manis kalau lembut..”
“tu kan kamu mulai lagi..”

Begitulah seterusnya.. aku dan Alvin menjadi akrab hingga aku memiliki perasaan yang indah.. ‘cinta’.. aku mencintainya, jujur saja aku sebenarnya aku raga pada cinta.. tapi aku bisa menjadi orang munafik jika aku tak pernah merasakan cinta.. Alvin benar, tidak semua orang sama.. waktu berlalu begitu cepat hingga aku dan Alvin menjalin hubungan ‘pacaran’.. aku bahagia, sangat bahagia.. apalagi dia mengerti aku.. setiap hari dia selalu mengajakku ke coffe shop.. tempat favoritku.. semoga kami bisa bersama selamanya Tuhan ( Amin )..

“Alvin berterus teranglah padaku.. apa yang kamu sembunyikan dariku?”
“tidak ada..”
“pertunangan?”
“kamu tau dari mana?”
“tadi aku telpon ke hp kamu tapi mama kamu yang menjawabnya?”
“mama mengatakan semuanya?”
“iya..”
“aku mencintaimu.. aku tak akan mungkin menerima perjodohan itu..”
“tidak Vin.. aku harap kamu jangan menolaknya..”
“kenapa? apa kamu tak menyayangi aku lagi?”
“bukan.. tolong jangan berburuk sangka padaku..”
“lalu apa?”
“aku hanya tak ingin kamu bermusuhan dengan keluargamu hanya karena aku.. kehilangan keluarga cukup aku yang merasakannya Vin..”
“tapi aku tak bisa.. aku mencintaimu..”
“cinta tak boleh egois Vin.. aku tak akan menyalahkanmu.. ini sebuah takdir.. aku mohon demi aku terima lah.. jika kamu mencintaiku, kamu pasti akan mengikuti kata-kataku..”
“sama saja aku menyakiti hatimu Fiska..”
“tidak Vin.. justru hatiku akan lebih sakit jika aku melihatmu kehilangan keluarga..”
“Fiska…”
“Alvin.. Perasaan Kita tak akan pernah salah.. jika egois itu sama saja salah.. ada Tuhan yang tau.. jika kita berjodoh kita pasti akan bertemu lagi, bahkan bersama untuk selamanya.. percayalah dengan Perasaan kita?”
“baiklah..”
“pulanglah.. dan persiapkan hari esokmu dengan indah..”
“iya Fiska.. aku menyayangimu..”
“?”

Malam ini, adalah malam yang seharusnya menjadi malam terindah buat kami karena tanggal ini menjadi saksi hubungan kami yang sudah 5 bulan.. tapi sayangnya aku tak bisa merasakan kebahagiaan itu karena hari ini Alvin diperkenalkan dengan jodohan keluarganya.. semoga acaranya berjalan lancar sayang.. aku percaya ini yang terbaik buat kita.. bintang di langit menjadi saksi setiap tetesan air mata yang jatuh di pipiku.. happy anniv sayang.. aku meniup sendiri lilin yang menjadi teman kecil kue tart yang sengaja aku beli untuk merayakan 5 bulannya hubungan kami..

“hari ini kamu ke mana Vin?”
“mengantarkan Mita ke salon..”
“baiklah..”
“maafkan aku sayang..”
“aku sudah bilang ini bukan salahmu..”

“kamu di sini rupanya.. dia siapa sayang?”
“dia..”
“Alvin kamu selingkuh? dia siapa?”
“aku sahabatnya.. Fiska..” sambil mengulurkan tangga
“Mita.. sayang kamu kenapa tidak bilang kalau kamu punya sahabat?”
“aku baru sempat menemuinya sekarang.. ternyata dia sudah punya pacar..”
“calon istri..”
“iya itu maksud aku?”
“ayolah Alvin antarkan aku ke salon..”
“iya..”
“Kamu mau ikut Fiska?”
“tidak.. terima kasih.. aku harus pulang..”
“oke..”
“aku pergi dulu Fiska..” kata Alvin
Kamu tau Vin sebenarnya ini sakit.. sangat sakit, mengatakan aku adalah sahabatmu.. tapi ini semua keinginanku.. aku ingin kamu bahagia, hanya itu..

“apa? hari ini akan dibicarakan kapan pernikahan kamu dengannya?”
“iya Fiska.. aku tak kuat Fiska.. aku tak mencintainya.. aku tak ingin dia menjadi istriku..”
“Alvin jangan bahas ini lagi.. bukankah kamu sudah berjanji padaku?”
“tapi Fiska aku tak kuat lagi..”
“aku yang akan menguatkanmu..”
“maksud kamu?”
“aku ikut..”
“kamu hadir di acara penentuan tanggal pernikahanku?”
“iya.. karena dengan begitu aku percaya kamu kuat..”
“bagaimana bisa? kamu akan terluka Fiska..”
“aku yang memintanya.. berarti aku tak terluka Vin..”
“ini gila Fiska..”
“tidak.. ini yang terbaik..”
“maafkan aku..” sambil memelukku

Jujur.. aku terluka Vin.. aku yang tak kuat.. tapi aku tak bisa egois.. cukup aku, aku yang kehilangan kehangatan keluarga.. aku akan memperjuangkan kehangatan keluargamu bahkan mengorbankan apapun untuk itu..

“siapa kamu?” kata mama Alvin
“aku Fiska tante..”
“oh kamu Fiska yang waktu itu telpon?”
“iya tante..”
“untuk apa kamu ikut ke sini..”
“tante jangan berburuk sangka padaku.. aku hanya sahabatnya Alvin dan aku ke sini hanya ingin menyaksikan kebahagiaan Alvin..”
“sahabat? baguslah.. mana mungkin saya membiarkan anak semata wayang saya menikah dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya..”
“?”

Aku sadar aku siapa.. aku harus kuat karena ini keinginanku.. aku tak akan menyerah.. ini yang terbaik yang aku pilihkan untuk Alvin, orang yang sangat aku sayangi..

Aku menghampiri Alvin dan Mita.. namun perasaanku menjadi lain, ada yang mengganjal di jantungku, detaknya begitu kencang, ini bukan detakkan jatuh cinta tapi ini sebuah pertanda.. apa ini? ada apa.. apa yang akan terjadi?
“Pak Rudi Fransisco..” terdengar suara mama Alvin memanggil seseorang
Tidak.. orang itu.. dia… dia adalah orang yang selama ini aku cari.. dia adalah orang yang hilang selama 17 tahun ini.. apa ini? untuk apa dia di sini? jangan-jangan..
“Alvin, bapak itu siapa, untuk apa hadir di sini?”
“dia adalah Rudi Fransisco, papanya Mita..”
“papa?”
“iya..”
Tidak ini sebuah mimpi.. Mita adalah anak papa? berarti saudara tiriku?
“dia siapa bu?”
“dia sahabatnya Alvin pak..”
Aku siapa? tidakkah papa mengingatku? aku ini anak yang telah papa tinggalkan 17 tahun yang lalu.. apa wajahku tak bisa lagi papa ingat.. apa yang berubah dariku papa? hanya tinggi kan? tapi kenapa aku terlihat asing sekali bagimu?

‘aku tak mau punya keluarga ini lagi.. anak ini pembawa sial..’ Kata-kata itu kembali tergiang di telinga ku.. aku melangkah mundur dan meninggalkan acara itu.. aku berlari kencang, bila perlu aku menghilang dengan cepat dari kenyataan ini.. Tuhan, apa dosaku.. apa yang harus aku lakukan? saudara tiriku akan menikah dengan orang yang aku sayang? oke itu tak mengapa karena itu adalah keinginanku.. tapi yang sangat menyakitkan papa tak mengenalku.. iya mungkin beliau tak ingin lagi mengenalku karena aku Cuma anak sial di matanya..

Malam yang dingin, langit yang gelap tak lagi menjadi ketakutanku untuk menuju sebuah makam..
“mama.. aku telah menemukan papa.. tapi ini terlalu sakit ma.. di saat aku kehilangan orang yang aku sayang, aku malah bertemu dengan orang yang selama ini aku cari tapi melihatku dengan tatapan yang asing.. apa yang harus aku lakukan ma? ingin rasanya aku menyusul mama tapi aku sudah berjanji akan tegar menghadapi semua ini.. mama peluklah aku dari surga ma.. katakan padaku apa yang harus aku lakukan ma..”

“aku di mana..”
“kamu sudah bangun? gimana keadaan kamu sayang?”
“Alvin kenapa kamu di sini? bagaimana acaranya?”
“acaranya sudah selesai Fiska.. kamu pingsan di makam mamamu.. tadi aku melihatmu meninggalkanku.. untung acaranya cepat selesai, aku mencarimu ke tempat kost namun kamu tak ada.. entah mengapa perasaanku mengatakan kamu di makam mamamu.. ada apa denganmu sayang? aku berjanji akan mengakhiri semua ini.. aku tak ingin kamu terluka lagi..”
“jangan Vin.. ini bukan karena kamu..”
“lalu apa?”
“Pak Rudi..”
“ada apa dengannya?”
“beliau orang yang aku cari 17 tahun ini Vin..”
“dia papamu sayang?”
“iya.. tapi dia tak mengenaliku.. mungkin aku sudah tak ada di benaknya.. aku Cuma anak pembawa sial untuk hidupnya..”
“kamu ngomong apa sich.. jelas dia tak mengenalimu.. dia meninggalkan kamu saat kamu masih kecil..”
“tidak Vin.. aku masih mengingat apa yang beliau katakan pada mama.. aku membuat hidupnya hancur.. usaha papa bangkrut karena aku.. aku pembawa sial Vin..”
“tidak sayang.. jangan berpikiran seperti itu..”
“tapi tatapan matanya yang meyakinkanku Vin..”
“aku mohon bantu aku Vin..”
“bantu apa sayang? mengatakan semuanya pada dia?”
“tidak.. bantu aku menunjukan padanya kalau aku bukan pembawa sial dalam hidupnya.. bantu aku mewujudkan keinginan beliau..”
“keinginan apa?”
“Mita..”
“Mita kenapa?”
“menikah denganmu?”
“lalu perasaanmu? aku tak bisa mengabaikannya..”
“bukan perasaanku tapi Perasaan Kita.. kamu bisa aku juga akan bisa.. kamu mampu demikian dengan aku Vin..”
“Fiska.. aku tak bisa..”
“bisa.. janji kamu..”
“tapi..”
“Perasaan Kita yang akan membuat semuanya baik-baik saja Vin.. kamu tak kehilangan keluargamu, dan aku bisa membuatnya percaya aku bukan pembawa sial..”
“Fiska kenapa harus Perasaan Kita yang diabaikan?
“bukan diabaikan.. tapi Perasaan Kita lah yang membuat semuanya menyatu.. menikahlah dengan Mita.. jika kamu gagal menikah dengan Mita, dan beliau mengetahui penyebabnya adalah aku.. dia akan lebih sangat membenciku Vin..”
“aku ikutin semua keinginan kamu, demi kamu.. dan tolong bantu aku melangkah..”
“iya Vin.. terima kasih..”

“maaf mba apa mau pesan capucino lagi?”
“2 cangkirlah mba..”
“silahkan menunggu mba..”
Pertanyaan pelayan itu menghentikan lamunanku.. aku tak boleh menangis lagi.. aku harus tetap semangat.. selamat menempuh hidup baru Vin.. semoga kamu bahagia.. aku menuju kasir dan membayar capucino yang sudah sangat banyak aku minum.. aku melangkahkan kakiku menuju makam mama.. aku membawakan bunga kesukaan mama..
“mama andai mama masih di sini.. mama pasti bisa menenangkan aku yang terluka ini ma.. cinta yang egosi tak harus hadir ma.. apa yang aku lakukan ini mungkin ini yang terbaik ma.. besok aku akan berangkat ke luar kota ma.. aku butuh waktu untuk sendiri.. maafkan aku ma meninggalkan makam mama, tapi aku berjanji akan kembali secepatnya..”

*3 bulan kemudian*
“kamu kemana saja? mengapa meninggalkanku sendirian?”
“aku tak meninggalkanmu Vin.. tugasku mengantarkanmu pada kebahagian sudah selesai.. bagaimana sekarang Vin?”
“apanya?”
“perasaanmu..”
“Perasaan?”
“mencintainya?”
Aku tau Vin mata bersalah itu adalah jawaban kamu mulai mencintainya bahkan mungkin sudah sangat.. selamat Vin, semoga kamu bahagia.. aku ikhlas..
“pergilah.. aku tak ingin istrimu menghawatirkanmu..”
“besok malam datanglah ke rumahku.. ada acara penting..”
“iya.. tunggulah di sana..”

Aku tak tau apa yang membuat aku mengantarkan kaki kecilku ke acara ini.. aku takut bertemu dengan seseorang.. seseorang yang telah menganggapku asing.. tapi perasaan ini, mencoba menghancurkan ketakutanku..
“Pak Rudi perkenalkan.. ini adalah Fiska Fransisco..”
“apa yang kamu katakan Vin?”
“Fiska Fransisco?”
“iya Pak.. apa Bapak merasa mengenalnya?”
“cukup Vin jadi kamu mengundangku ke sini hanya untuk ini? kamu keterlaluan.. permisi..”

“untuk apa kamu mengikutiku? kamu jahat Vin.. untuk apa kamu mengatakan padanya yang sebenarnya..”
“kamu katakan padaku cinta itu tak boleh egois tapi kenapa kamu sendiri yang membuatnya?”
“apa yang aku perbuat?”
“kamu membuat aku menikah dengannya..”
“tapi sekarang kamu mencintainya kan?”
“itu tandanya aku juga harus membuat kamu kembali dengan papa kamu.. beliau harus tau yang sebenarnya..”
“untuk apa? aku hanya orang asing di matanya..”
“percaya padaku.. Perasaan Kita juga bisa mengubah penglihatan asing itu.. aku mempercayaimu, begitu juga kamu Fiska, harus percaya padaku..”
Air mata ini terjatuh dengan deras.. aku hanya takut mengganggu hidupnya Vin.. aku tak ingin beliau menghilang lagi dari pandanganku.. beliau sudah memiliki Putri yang sangat cantik ‘Mita’, tak ada harapan untukku.. bisa menemukannnya itu suatu kebahagiaan untukku Vin.. jika bisa aku yang ingin mengatakan semua kebenaranannya pada beliau, memeluk beliau dan merasakan kembali kehangatan yang sudah 17 tahun menghilang dari kehidupanku..
“aku pulang dulu..”
“iya Vin.. salam untuk Mita..”

‘Coffe Shop ini’ ‘capucino ini’ adalah saksi di mana terakhir kali aku merasakan kehangatan itu.. andai waktu bisa kembali berputar ingin rasanya tepat di saat itu aku mengulanginya.. papa aku kangen papa..
“boleh saya duduk di sini?”
“papa..”
“Fiska.. bagaimana kabarmu sayang?”
“baik pa.. apa yang terjadi.. apa papa tidak lagi membenciku?”
“maafkan papa sayang.. papa sudah tau semuanya.. bolehkah papa mencoba memperbaiki semuanya dari awal? papa bersalah sayang.. papa terlalu menyalahkanmu atas bangkrutnya perusahaan papa waktu itu.. padahal itu karena kesalahan papa..”
“papa sudahlah.. tapi memperbaiki itu semua, mama..”
“papa sudah tau sayang.. papa sudah dengar semua ceritanya dari Alvin.. beri papa waktu sayang untuk memperbaikinya..”
“terima kasih papa..”
“sama-sama sayang..”

Akhirnya aku tinggal dengan papa dan mama Mita.. ternyata mama Mita bisa menerima kehadiranku.. demikian juga dengan Mita.. tapi mereka tidak mengetahui 1 hal.. aku dan Alvin merahasiakan kalau kami pernah memiliki hubungan.. perasaan ini hanya aku dan Alvin yang tau ‘Perasaan Kita’.. dan aku percaya Perasaan Kita bisa menyatukan semuanya.. ini kenyataannya.. Perasaan Kita Vin yang membawa kita pada jalan terbaik.. kamu tidak kehilangan kehangatan keluarga, dan akhirnya kamu mencintainya.. aku tak kehilangan kamu pada jarak yang jauh karena kamu menikah dengan saudara tiriku.. meski aku tak bisa memilikimu tapi melihat yang akhirnya menjadi kebahagiaanmu aku sudah sangat bahagia.. dan Perasaan Kita juga yang membawa aku kembali menemukan seseorang yang telah lama hilang, 17 tahun lamanya.. kini kehangatan di ‘Coffe Shop’ itu kembali lagi.. terima kasih untuk semuanya Tuhan.. Perasaan itu halus namun tak boleh di selimuti keegoisan.. perasaan itu pasti bisa menemukan jalan terbaik untuk kita karena jika Perasaan Kita di temani dengan ketulusan maka akan berbuah sesuatu yang indah..

Cerpen Karangan: Zee Choco
Blog: bczchoco.blogspot.com

Facebook: http://www.facebook.com/choco.chofamz
Twitter : @ZeeChoco_

baca jua cerpen lainya :
* My First Love is Failed
* Bukan Dia tapi Aku
* Sahabat jadi Cinta
* Tangisan Terakhirku
* Waktu
* Dendam yang Memudar
* Jurang dari Keterpaksaanku
* Aku Bukan Gadis Menjijikan !!
* The End of My Life

Cerpen Perasaan Kita (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Untuk Ayah dan Bunda

Oleh:
Malam ini, Kakakku melamun di pojok rumah, ku lihat-lihat sambil ku selidiki masalah yang membuat Kakakku melamun. Saat ini pukul 20.00 Kakak masih saja melamun, waktu berjalan dan terus

Indonesia Bercahaya

Oleh:
Namaku Rafflya biasa dipanggil Lya. Aku masih sekolah dasar kelas 5. Aku tinggal di Bandung. Aku pernah mendapatkan beasiswa karena prestasi. Saat kecil aku sangat disayang oleh orangtuaku. orangtuaku

Pulang

Oleh:
Sejuk pagi hari, harum embun membuat kehidupan di desa begitu menenangkan dan damai. Berdiri di sana, di puncak gunung yang melihat matahari terbit seperti harapan yang ingin dia wujudkan,

Kunang Kunang Kenangan

Oleh:
Mentari pamit ke rembulan, meminta agar kini rembulanlah yang bertugas menerangi jagat kehidupan. Mungkin rembulan masih mengantuk, atau bahkan malu sehingga malam ini ia sembunyi di balik awan yang

Surgaku

Oleh:
PLAK!! Tamparan laki-laki itu tepat mendarat di pipi kirinya. Isak tangis di pendamnya. Digosok-gosoknya pipinya yang terasa panas. Ditatapnya wajah laki-laki itu dengan segumpal rasa jengkel. Wajahnya merah padam.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Perasaan Kita (Part 2)”

  1. jessica says:

    Keren bgt!! Menyentuh !!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *