Perfect Dad

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 29 September 2017

Ayahnya adalah sosok yang hebat. Pekerjaannya luar biasa, seorang pengusaha dari sebuah perusahaan ternama. Penghasilannya pun luar biasa. Sering kerjasama dengan orang-orang penting. Sering pergi ke luar negeri. Lebih luar biasanya lagi, ayahnya adalah orang yang jujur. Oleh karena itu ayahnya sangat dipercaya oleh siapapun. Ayahnya selalu menjadi panutan bagi siapa saja. Kata teman-temannya, ayahnya adalah ayah yang paling sempurna.
Tapi kenyataannya, tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna.

Namanya Eliz, anak tunggal yang sangat disayang oleh kedua orangtuanya. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa dan ayahnya adalah seorang pengusaha yang sangat sukses. Hidupnya bisa dibilang lebih dari cukup. Semua kebutuhannya dipenuhi, tak ada yang kurang. Meski semua kebutuhannya terpenuhi, ia tidak memiliki satupun pembantu di rumah. Sejak kecil ia sudah dilatih untuk menjadi mandiri, sehingga Eliz tidak mengenal istilah manja. Ia disekolahkan di sekolah yang ternama, pendidikannya berkualitas, biayanya tak tanggung-tanggung. Hampir semua keinginannya terpenuhi.

Tunggu, hampir? Apa lagi yang belum Eliz dapatkan dengan hidupnya yang sudah sempurna itu?
Ok, koreksi lagi. Di dunia ini, tidak ada yang sempurna.

“Besok pagi ayahmu pulang loh! Ayah akan berangkat nanti sore dari Amerika!”
Eliz tidak peduli dengan apa yang ibunya bilang barusan. Toh, kalau ayahnya pulang, pasti ayahnya akan disibukkan dengan pekerjaan, pekerjaan yang semakin hari seperti tidak pernah berhenti. Kapan ayahnya tidak disibukkan dengan pekerjaan? Bisa dibilang, ayahnya adalah penggila kerja.

“Hore…” jawabnya tidak semangat. Matanya masih terfokus pada layar ponsel, tidak peduli. Ibunya hanya bisa menghela nafas. Setiap kali ibunya berbicara mengenai ayahnya, sikap Eliz langsung berubah menjadi tidak peduli. Membuat suasana menjadi sedikit tidak nyaman.

“Eliz masih kesal sama ayah?” tanya ibunya pelan. Ibunya menghampiri dirinya lalu mengelus kepalanya perlahan.
Eliz memalingkan wajahnya, “Itu udah lewat, ibu. Mau kesel seperti apapun tetap nggak bakal bisa diulang lagi, `kan?” Disaat wisuda SMP 6 bulan yang lalu, ayahnya tak bisa datang. Katanya, ayahnya sibuk melakukan kerjasama dengan perusahaan besar di Jepang, padahal ayahnya sudah janji akan datang menyaksikan dirinya wisuda. Sesempurna apapun ayahnya, tetap saja tidak bisa menepati janji dengannya. Tapi, apakah dia kesal karena itu? Lagi pula, itu bukan pertama kali ayahnya ingkar janji padanya. Sudah sekian kali, dengan alasan yang sama. Jadi untuk apa kesal? Toh, dia sudah biasa.

“Besok `kan Eliz ulang tahun, kenapa nggak minta hadiah sama ayah?” saran ibunya. “Besok umur Eliz udah enam belas tahun `kan? Minta hadiah yang spesial sama ayah!”
Eliz sedikit mendengus, “Ayah aja nggak pernah kasih hadiah sebelumnya. Memangnya ayah ingat ulang tahunku? Mungkin aja ayah pulang karena kebetulan ada pekerjaan di sini.”
“Jangan berprasangka buruk dong! Ayah pulang karena ingin ketemu sama Eliz kok!” seru ibunya. “Mana mungkin ayah lupa hari ulang tahun anak kesayangannya,” ibunya berusaha untuk menghiburnya.

Anak kesayangan? Apakah dia benar-benar anak kesayangan ayahnya? Kesayangan dari mana? Menepati janji pada anaknya saja tidak bisa, apalagi hal lainnya. Tunggu, apakah ayahnya masih menyayanginya?
Kalau dipikir-pikir lagi, kapan terakhir kali ia makan malam bersama ayahnya? Sebulan? 2 bulan? Oh, kalau tidak salah 7 bulan yang lalu. Kapan terakhir kali ia berbicara langsung pada ayahnya? Telepon saja sering tak diangkat oleh ayahnya. Sesibuk itukah ayahnya?

Malam hari itu, ibunya mendapat panggilan telepon tiba-tiba. Eliz tak tahu apa yang ibunya dan seseorang di telepon itu bicarakan, yang jelas setelah menelepon, ibunya langsung buru-buru bersiap-siap.
“Ibu, ada apa? Tadi siapa?” tanya Eliz. Ia melihat ibunya yang sedang mondar-mandir di ruang tamu, tampak sedang mencari sesuatu. Ekspresi gelisah sekaligus panik terlihat di wajah ibunya. “Lagi nyari apa?”
“Oh, Eliz. Ibu lagi nyari tas ibu. Tas yang biasa ibu pakai untuk ke luar.”
“Kurasa ada di balik pintu kamar ibu,” kata Eliz. “Ibu mau pergi? Ke mana?”
“Nggak lama. Ingin mengecek sesuatu,” kata ibunya sambil mengambil tas di balik pintu dengan terburu-buru. Eliz melihat jam di dinding, “Tapi sekarang udah jam sembilan.”
“Ibu akan pergi sebentar. Eliz jaga rumah ya.” Tanpa basa-basi lagi, ibunya langsung pergi menggunakan mobil. Ibunya bahkan belum menjawab akan pergi ke mana. Sekarang Eliz sendirian di rumah. Tapi tak masalah, ia sudah biasa sendirian di rumah.

Ia hanya bermain ponsel di kamar sambil menunggu ibunya pulang. 30 menit telah berlalu. Tiba-tiba ia mendengar suara bel pintu rumahnya berbunyi. Segera ia melihat siapa yang membunyikan bel. Siapa yang membunyikan bel pada jam setengah 10 malam?

Seorang laki-laki bertubuh tinggi mengenakan setelan jas berdiri di depan pintu rumahnya, Eliz melihatnya dari balik jendela di sebelah pintu depan. Bagaimana caranya laki-laki itu masuk melewati pagar rumahnya yang ia sangat yakin ibunya telah mengunci pintu pagar? Seharusnya laki-laki itu melewati pintu pagar lebih dulu baru ke pintu depan rumahnya `kan?

“Siapa?” tanyanya dengan waspada.
“Eliz,” lelaki itu menyebut namanya, “Ini ayah. Ayah pulang.”

Ayah? Bukankah kata ibunya ayahnya akan pulang besok pagi? Tapi suara laki-laki itu memang sangat mirip dengan suara ayahnya yang pernah ia dengar. Sudah lama sekali sejak ia terakhir kali mendengar suara ayahnya. “Rencananya memang ayah akan pulang besok pagi, tapi siapa tahu ayah akan pulang lebih cepat?” laki-laki itu tertawa canggung. “Boleh ayah masuk?” tanyanya.
Eliz membuka pintu depan rumahnya. Ia dapat melihat sosok laki-laki itu dengan jelas. Itu memang ayahnya, wajahnya seperti yang terakhir kali ia lihat. Tidak banyak yang berubah, kecuali rambutnya yang semakin beruban.
“Tentu ayah boleh masuk,” ujar Eliz. Lelaki itu memasuki rumahnya, ekspresi gelisah sekaligus canggung terpampang di wajahnya. Laki-laki itu duduk di salah satu sofa yang berada di ruang tamu. Sebaiknya Eliz menemani ayahnya, akan sangat tidak sopan bila ia pergi ke kamarnya sementara ayahnya baru saja sampai di rumah dengan lelah. Ia akan menemani ayahnya hingga ibunya pulang.

“Di mana ibumu?” tanya ayahnya tiba-tiba.
“Tadi ibu keluar, tak tahu ke mana,” jawab Eliz sambil duduk di sofa di depan ayahnya.
“Oh,” ujar ayahnya. “Jadi, apa kabar?” tanya ayahnya ragu-ragu. Sudah lama mereka tak bertemu dan saling berbicara, suasana menjadi canggung.
“Baik,” jawab Eliz singkat. “Ayah sendiri? Ayah capek? Mau diambilkan minum?”
“Ayah baik-baik saja, nggak capek, nggak usah diambilkan minum.”

Suasana kembali hening. Tak ada yang berbicara, Eliz sibuk dengan ponselnya sementara ayahnya hanya duduk diam sambil memerhatikan putrinya.

Ayahnya mencoba untuk membuka pembicaraan, “Gimana sekolahmu?
“Baik,” hanya satu kata yang dilontarkan Eliz. Ia tetap fokus pada layar ponselnya.
“Kabar ibumu bagaimana?”
“Baik.”
“Teman-teman sekolahmu? Ada masalah?”
“Baik. Tidak.”

Ayahnya sudah kehabisan bahan obrolan. Suasana menjadi sangat canggung. Tunggu, sejak kapan ayahnya menanyakan kabar dirinya?

“Uh, selamat ulang tahun, Eliz,” kata ayahnya. Eliz menghentikan aktivitas bermain ponselnya dan menatap ayahnya. Sungguh? Ulang tahunnya masih besok! Apa jangan-jangan ayahnya salah mengetahui hari ulang tahunnya? “Ulang tahunku masih besok,” ujar Eliz.
“Ayah tahu,” kata ayahnya, “ayah hanya ingin mengucapkannya sekarang.”
“Oh.” Suasana kembali hening. Apa yang harus ayahnya lakukan? Mereka sudah lama tak bertemu, seharusnya ini menjadi reuni yang indah, bukan?

“Ayah nggak pernah menyangka akan jadi sangat canggung berbicara dengan putriku,” ayahnya tertawa pelan, “Ayah cuman mau bilang, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Maafkan ayah yang sangat jarang menemuimu.”
Eliz menatap ayahnya. Sejak kapan ayahnya menjadi perhatian? “Itu `kan memang pekerjaan ayah yang bikin ayah sibuk,” kata Eliz.
“Memang benar sih,” wajah ayahnya terlihat sedih, “Apakah ibumu pernah menyuruhmu untuk membuka lemari yang ada di kamar ibu?”
“Lemari apa?”
“Lemari kayu yang berwarna cokelat tua, di sebelah lemari pakaian ibu,” jelas ayahnya. Eliz menggeleng, “belum pernah.”
“Kalau begitu, bukalah sekarang,” kata ayahnya.

Eliz menuju ke kamar ibunya. Sesuai yang dikatakan oleh ayahnya, ia membuka lemari yang dimaksud. Ia memang tidak pernah membukanya, karena lemari itu sebelumnya adalah lemari pakaian milik ayahnya, sekarang lemari itu hanya lemari tua biasa.
“Apa ini?” tanya Eliz. Ia terdiam melihat isi dari lemari tersebut. Lemari itu berisi bingkisan-bingkisan hadiah berbagai ukuran. Jumlahnya memenuhi isi lemari tersebut.

“Ayah selalu ingat hari ulang tahunmu,” ayahnya menghampiri dirinya yang sedang terdiam di depan lemari. “Selalu ingat untuk membelikanmu hadiah.”
Eliz terdiam, “Tapi kenapa aku nggak pernah menerima hadiah ini?”
Ayahnya menghela nafas, “Karena ayah ingin ayah yang memberikan hadiah ini langsung pada Eliz.” Ayahnya terdiam sebentar, “Ayah selalu menitipkan hadiah pada ibumu tiap tahun, supaya di hari ulang tahunmu ayah dapat memberikannya langsung padamu. Tapi sepertinya, selama lima belas tahun ini belum tersampaikan.”
“Tapi ayah bisa memberikannya di hari setelahnya `kan?”
“Itu yang ayah pikirkan selama ini.” Ayahnya duduk di atas tempat tidur yang berada di sebelah Eliz, “Tapi tiap kali ayah ingin memberikan ini kepadamu, ayah selalu ragu. Apakah Eliz akan suka dengan hadiahnya? Apakah Eliz mau memaafkan ayahnya yang selalu ingkar janji pada Eliz? Ayah sering bilang, ‘Mungkin diberikannya nanti saja. Sekarang bukan waktu yang tepat’. Hingga nggak terasa umurmu akan menjadi enam belas tahun. Ayah macam apa aku ini? Membuat anaknya kecewa.”
Eliz terdiam, ia hanya mendengar perkataan ayahnya.

“Ayah memaksa pulang, meninggalkan pekerjaan ayah sementara. Hadiah-hadiah itu akan berada di sana selamanya jika ayah nggak memberikannya ke Eliz,” ujar ayahnya, “Jadi Eliz, itu semua milikmu. Maafkan ayah yang baru memberikan hadiah kepadamu sekarang. Maafkan ayah yang baru meminta maaf sekarang. Ayah menyayangi Eliz, sangat sayang.”

Ingin sekali Eliz memeluk ayahnya, namun tubuhnya tak bergerak. “Makasih,” ujarnya. “Tapi sebenarnya, ayah nggak perlu memberiku hadiah. Aku cuman ingin menghabiskan waktu bersama ayah.”

“Kalau gitu, kita habiskan waktu dengan merayakan ulang tahunmu bersama. Bongkar hadiah besok aja,” saran ayahnya. “Belum pernah merayakan ulang tahun sama ayah `kan?”

Eliz terdiam. “Umurku hampir enam belas tahun dan merayakan ulang tahun hanya untuk anak-anak. Ulang tahunku juga besok kok, masih beberapa jam lagi,” kata Eliz, “memangnya ayah nggak capek? Ayah baru saja pulang `kan? Ayah istirahat saja, besok saja kita rayakan.”
“Ayah baik-baik saja,” ujar ayahnya. Kemudian ayahnya memelankan suaranya, namun Eliz masih dapat mendengarnya, “ayah nggak bisa berlama-lama di sini. Ayah nggak punya banyak waktu lagi.”
“Ayah mau pergi lagi?” tanya Eliz. Terbesit kekecewaan di wajahnya, namun Eliz berusaha untuk menutupinya. Ayahnya tampak sedikit bingung menjawab pertanyaan Eliz, “Err… ayah akan pergi lagi… Tapi nggak jauh kok, nggak bakal lama juga!”
‘Bohong’ Eliz dapat melihat ayahnya sedang berbohong. Berbohong bukanlah keahlian ayahnya. Sudahlah, Eliz berpura-pura untuk tidak menyadarinya. “Kapan berangkatnya?”
“Ayah rasa malam ini.”
“Malam ini?!” seru Eliz kaget, “Ayah baru saja pulang dan harus pergi lagi?”

“Eliz sayang,” ayahnya melembutkan suaranya. Ia tak ingat kapan terakhir kali ayahnya berbicara seperti itu, “Ke manapun ayah pergi, ayah nggak akan pernah jauh dari Eliz. Sejauh apapun ayah pergi, kalau Eliz ingat ayah, ayah akan terasa dekat dengan Eliz. Ingat selalu kalau ayah selalu menyayangi Eliz, selalu peduli Eliz, selalu mengingat Eliz. Jadi jangan sampai berpikiran bahwa ayah nggak peduli sama Eliz lagi, ok?”
Eliz mengangguk. Ayahnya masih menyayanginya.

“Ok sekarang, kita jadi nggak merayakan ulang tahun Eliz?” seru ayahnya.
“Tapi nggak ada kue,” ujar Eliz.
Ayahnya tersenyum, “Nggak perlu kue juga nggak apa-apa `kan?”

Tanpa kue ulang tahun, perayaan ulang tahun Eliz menjadi sedikit aneh. Sebenarnya mereka berdua tidak benar-benar merayakan ulang tahun Eliz. Setelah ayahnya menyanyikan lagu ‘Happy Birthday Eliz’, Eliz dan ayahnya hanya berbincang-bincang kecil. Sudah tidak ada rasa canggung di antara Eliz dan ayahnya.

Sangat banyak yang mereka bicarakan, mulai dari pengalaman-pengalaman sekolah Eliz yang ayahnya lewatkan, hingga keseruan ayahnya dalam menjalankan pekerjaannya. Eliz tidak memainkan ponselnya, dia sibuk berbincang dengan ayahnya. Canda tawa menyelimuti ruangan itu. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.

Eliz menguap karena mengantuk. Kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ibunya belum pulang juga? Ibunya pergi ke mana?

“Eliz sebaiknya tidur, sudah malam” seru ayahnya. Eliz kembali menguap, “Tapi ibu belum pulang.”
“Nggak usah nungguin ibu. Nanti ibu juga pulang kok,” kata ayahnya. Ayahnya mulai beranjak, “Sudah ya, ayah mau pergi.”
“Sekarang?” tanya Eliz. Ayahnya mengangguk. “Baiklah, aku akan buka pintu depan.”

Eliz mengambil kunci pintu depan. Ia membukakan pintu depan untuk ayahnya, sekaligus pintu pagar. Sambil menemani, Eliz kembali bercerita, “Ayah tahu? Di sekolahku, ayah dijuluki sebagai ayah yang sempurna oleh teman-temanku. Gara-gara ayah adalah orang yang sangat hebat. Pekerjaan ayah luar biasa. Ayah terkenal dan menjadi panutan.”
“Terus, Eliz senang nggak?” tanya ayahnya. Eliz terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, “Sejujurnya Eliz nggak senang.”
“Lho, kenapa?”
“Habisnya aku lebih senang ayahku nggak luar biasa tapi selalu menemaniku daripada luar biasa tapi sering bepergian seperti ini, bahkan jarang sekali menemaniku,” kata Eliz jujur.

Ayahnya menghela nafas, “Eliz tahu? Ayah nggak sempurna. Ayah selalu mengecewakan Eliz, padahal ayah sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Eliz. Ayah nggak sempurna karena banyak kesalahan. Banyak sekali. Oleh karena itu, maafkan kesalahan ayah. Maafkan ayah, ok? Ayah menyesal telah membuatmu kecewa. Ayah benar-benar menyayangi Eliz. Apakah Eliz mau memaafkan ayah?”
Eliz mengangguk, “Tentu saja aku memaafkan ayah,” katanya. “Selama ini aku bohong jika aku nggak peduli sama ayah. Sebenarnya aku peduli. Aku sayang ayah. Kangen ayah. Maafkan Eliz yang selalu berburuk sangka pada ayah.” Ayahnya tersenyum. Tentu saja ayahnya akan memaafkan putri kesayangannya, karena putri kesayangannya itu tak bersalah sama sekali. Justru dirinya yang bersalah.

Gembok pagar sudah terbuka. Eliz mengeluarkan gembok tersebut dari pegangan pintu dan membukakan pintu untuk ayahnya. “Ayah nggak naik mobil?” tanya Eliz. Ayahnya menggeleng, “Nggak perlu. Ayah jalan kaki. Nanti ayah juga dijemput kok.”

Kemudian, Eliz menyadari sesuatu. “Ayah nggak bawa koper? Koper ayah ke mana?”
“Ayah ke sini juga nggak bawa koper kok.”
“Oh,” kata Eliz, “Hati-hati di jalan!”
“Sebelum ayah pergi, tolong sampaikan ini pada ibu,” ayahnya berdeham pelan, “Bilang padanya, maafkan ayah. Ayah sangat minta maaf. Jangan lupa jaga kesehatan. Berusaha sebaik mungkin. Jangan terlalu capek, dan titip salam padanya. Katakan juga ayah menyayanginya. Mengerti?”
“Mengerti!”

“Untuk Eliz, dengarkan baik-baik,” ayahnya kembali berdeham, “Jadilah anak yang baik. Selalu jaga kesehatan. Turuti perintah ibumu dan bantu ibumu. Belajar yang rajin. Jangan menunda-nunda sesuatu seperti ayahmu, atau kau akan menyesal sepertiku. Ingat satu hal, ayah selalu sayang Eliz. Jika kangen ayah, ingat bahwa ayah nggak pernah jauh darimu. Ok?”
“Ok…” ujarnya. Kenapa tiba-tiba ayahnya berkata seperti itu? Setelah berkata demikian, ayahnya mulai berjalan pelan meninggalkannya.
“Dah ayah! Hati-hati di jalan!” Eliz melambaikan tangannya pada ayahnya. Ayahnya membalas lambaian tangannya. Kemudian sosok ayahnya berbelok dan tak dapat ia lihat lagi.

Setelah memastikan telah mengunci pintu pagar dan pintu depan rumahnya, ia beranjak menuju ruang tamu untuk mengambil ponselnya. Ia terkejut melihat banyak panggilan tak terjawab dan pesan-pesan dari ibunya. Ia membaca salah satu pesan dari ibunya.
Deg. Jantungnya seakan behenti. Tidak mempercayai apa yang ia baca.

‘Eliz, Sayang, maaf. Sepertinya ibu akan pulang terlambat. Mereka bilang ada kecelakaan pesawat tadi jam 8 malam. Pesawat itu adalah pesawat yang sedang ditumpangi oleh ayahmu. Sekarang sedang dalam proses evakuasi. –Ibu–’

Cerpen Karangan: Finaa
Facebook: Afina Syaifullah

Cerpen Perfect Dad merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebahagiaan Untuk Mama

Oleh:
Sore itu hujan deras. Suasana sepi, hanya deru hujan dan alunan lagu pelan —yang hampir tidak terdengar karena hujan— yang menemani Tasha di kamarnya. Matanya menerawang ke luar jendela,

Ilmy Berbohong

Oleh:
“Assalamualaikum! Bun! Pah! Dek Dhesmi!!!” salam Ilmy (baca:ilmi) seraya membuka sepatu di depan pintu. Ia sehabis pulang sekolah. “Waalaikum salam, kak Ilmy!!” jawab Adik kandung Ilmy yang masih TK,

Tina dan Tica

Oleh:
“Serius kamu, ca? wihhh, hebat. selamat ya ca!” ucap Tina. Tica, kembaran Tina meraih medali emas olimpiade sains. Jujur, Tina takjub sekali dengan Tica. Tica beda sekali dengan Tina.

Senyum Lastri

Oleh:
Semanis Kasih, Semanis Gethukmu Eyang… Lastri baru saja mengambil kotak Gethuknya di kantin sekolah. Dia bergegas menuju tempat parkir, hari ini dia dan kelompok belajarnya akan mengerjakan tugas kelompok

Jupiter dan Mars

Oleh:
Pada sore Jumaat itu Jupiter dan Mars sedang berjalan pulang dari sekolah. Saat itu mereka sangat senang sebab sekolah akan berakhir. “Akhirnya sekolah berakhir, saya sudah menunggu untuk saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Perfect Dad”

  1. Novyanthy Chanafy says:

    Cerita yang menarik..

  2. nailah kauniah says:

    ceritanya bagus,nyambung,judul dan genre nya nyambung bikin sedih. ditunggu cerita selanjutnya mba afinaa.. :).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *