Perfectionis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 20 February 2016

Kalau bicara akhwat (wanita) ini selalu pakai nada tinggi bahkan kadang terlalu tinggi. Tertawanya lepas dan apa adanya. Jujur dan menjaga perasaan orang lain apalagi ibunya. Parfum yang ia pakai sangat khas. Siapa pun pasti akan tahu jika telah menghirupnya barang satu kali saja. Dia baik apalagi sama saudara-saudaranya. Dia menuntut kesempurnaan dan semua hal haruslah yang terbaik. Dia pemimpi, pekerja keras, dan mulai berhijrah ke jalan yang lebih baik. Umurnya 33 tahun tapi sayang belum menikah. Entah apa yang membuatnya belum menikah. Jika aku seorang ikhwan (laki-laki) saya akan menikahinya. Bagaimana tidak dia adalah ibu yang baik yang bertanggung jawab yang memastikan semua hal dengan baik dan benar. Penuh kasih sayang namun tegas.

“Udahlah Bu, kula mboten napa-napa, yen sampun wektune mengke jodone kula mesti thugi kiambak lan kula bakale nikah. (Udahlah Bu, saya tidak apa-apa, jika sudah tiba waktunya maka jodoh saya akan datang dan saya akan segera menikah.)”
“Tapi nduk, adhi-adhimu ki is pada nikah, koe ki aja ta ngrekasakke awakmu terus. Ndang golek jodoh Ibu ndang tenang. (Tapi Nak, adik-adikmu itu udah menikah semua, kamu itu jangan menyiksa dirimu terus. Cepatlah mencari jodoh, segeralah Ibu tenang.)

Percakapan itu terjadi dalam waktu yang lama. Sedikit lelah aku mendengarkannya. Ya aku menguping pembicaraan. Ya mau gimana lagi, kebetulan lewat. Saat tanteku itu bangun dan berdiri menyudahi pembicaraan dengan sigap aku sembunyi. Aku dapat melihat bahwa tanteku menyimpan rasa sedihnya karena sampai saat ini belum dapat mengabulkan impian ibu dan alm. Ayahnya agar dia cepat menikah.

Lambat laun aku tahu bahwa tanteku tidak tega meninggalkan ibunya. Karena dia tahu seorang wanita yang telah menikah sepenuhnya wanita itu adalah hak suami. Jadi tanteku berpikir bahwa pasti suaminya nanti akan menyuruhnya tinggal dengannya dan jauh dari ibunya. Bukan hanya itu saat sudah berkeluarga maka seorang istri harus mengurus suami dan anak-anaknya kelak. Belum lagi pekerjaan rumah. Secara tanteku adalah orang yang menuntut kesempurnaan dia tidak suka melihat tempat kotor dan berantakan.

Lagi-lagi aku tahu semua ini dari buku diari tanteku yang entah sengaja atau tidak berada di tempat sampah. Saat itu aku mulai berpikir. Betapa tanteku memiliki cinta yang sangat besar pada ibunya. Pada suaminya yang belum nyata. Pada anak-anaknya kelak. Aku berpikir. Beliau telah merencanakan semua hal. Mempertimbangkan satu per satu, menimbang dan menghitung resiko yang ada. Hingga saat ini tanteku belum juga memiliki pasangan bahkan aku belum pernah melihat ada seorang pria yang dekat dengannya. Setakut itukah tanteku meninggalkan ibunya. Entah sampai kapan tanteku, tante Zati akan memeluk ibunya, atau sampai kapan tanteku, tante Zati akan menunggu jodohnya?

Ini menjadi sebuah pertanyaan di otakku yang seperti lorong panjang berisikan loker dan rak-rak kecil yang menyimpan banyak pertanyaan baru dan jawaban dari pertanyaan lamaku yang telah terjawab tentunya. Dan saat muncul pertanyaan baru aku harus mencari loker kosong di otakku menyusuri lorong-lorong. Menemukan tempat yang tepat menyimpan pertanyaan baru itu. Dan mulai mencari di rak-rak yang telah menyusun banyak jawaban. Ini membuatku lelah, perjodohan, kerja keras, cinta terhadap ibu, kenapa serumit itu. Bahkan tulisan ini terlalu sederhana. Untuk kermitan yang ada di kehidupan ini. Dan aku menunggu kesempurnaan itu menjadi sempurna dengan adanya cinta.

The End

Cerpen Karangan: Zula

Cerpen Perfectionis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Caroline

Oleh:
“Aku menghindar bukan karena aku seorang yang penakut atau pecundang yang takut ketika aku melihat mukamu. Aku menghindar untuk menahan emosiku yang mengebu-gebu tiap aku mendengar kata-kata itu dari

Arina Mana Sikana

Oleh:
“Ibu berwajah bulat, sama sepertimu Rin. Tapi kadang terlihat lonjong. Ah, mungkin wajah ibu sedikit oval dan sedikit lonjong. Akak tak pernah memperhatikan secara detail, tapi karena setiap hari

Ibu

Oleh:
Kutarik lagi tas yang melorot di pundak kananku. Pegal rasanya berjalan kaki mengelilingi kota ini. Mungkin tidak hanya diriku yang berjalan dengan menenteng amplop cokelat di tengah kota yang

Ayah Aku Merindukan Kamu

Oleh:
Waktu di dalam rumah, aku merasakan jenuh dan bosan dengan aktivitas yang aku lakukan seharian di dalam rumah, aku berniat untuk pergi ke salah satu taman yang letaknya tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *