Pergi Tuk Selamanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 June 2017

Pada hari itu adalah hari dimana umat muslim merayakan idul Fitri, saya merasa senang bisa berkumpul sama keluarga di kampung karena saya kuliah yang jauh dari kampung, maka itulah saya jarang ketemu sama keluarga kecuali ada libur panjang.

Esok harinya aku bercanda-canda sama adikku yang masih berumur 11 tahun tapi entah kenapa tiba-tiba adikku terlihat murung, saya bertanya padanya “kamu kenapa dek” dia hanya diam, saya pegang jidatnya ternyata dia demam, kemudian saya ambilkan obat pereda demam.

Pada malam harinya dia merasa kesakitan pada dadanya dan keluar segumpal darah pada hidungnya, adikku menangis sambil berteriak “Mama sakit”. mamaku panik melihat keadaan adikku seperti ini.

Esok harinya adikku dibawa ke puskesmas tapi dokternya tidak bisa menanganinya dan segera dirujuk di Rumah sakit Daerah. Saya menagis melihatnya yang darahnya tidak ada hentinya keluar pada hidungnya sehingga dokter melakukan penyedotan pada hidungnya.

Seminggu di Rumah sakit Daerah akhirnya dokter tidak bisa menangani lagi karena alasanya alatnya tidak lengkap sehingga adikku lagi dirujuk ke salah satu Rumah Sakit terbesar di Kota Makassar. Tiba di Rumah sakit, dokter mendiagnosakan bahwa adikku mengalami leukimia (kanker darah) sehingga harus ditranfusikan banyak darah.

Sebulan kemudian dirawat di Rumah Sakit akhirnya adikku dipulangkan juga karena sakitnya sudah mendingan. Dan saya juga merasa bersyukur akhirnya dia sudah sembuh meskipun tidak sembuh total.

Sebulan berlalu, tiba-tiba hpku berdering tanda penerimaan pesan, saya baca pesannya, “sabar nak, Adikmu telah menghadap sama ilahi” air mata tiba-tiba bercucuran di pipi dan rasa tidak percaya dengan apa yang terjadi seakan akan ini hanya mimpi. Kemudian saya bergegas pulang kampung, dalam perjalanan 8 jam baru sampai di kampung halaman.. Sampai di sana, hatiku seperti teriris oleh pisau yang tajam dan tidak yakin apa yang telah kulihat di depanku, hanya orang terbaring yang telah ditutupi kain panjang, kemudian kubuka kain itu, kulihat sosok yang wajahnya sudah pucat tampak sedikit senyum pada bibirnya dan badannya terasa dingin, saya pun tidak bisa menahan sakitnya di tinggalkannya, saya menangis sambil berkata “Kenapa kamu pergi begitu cepat dek” orangtuapun menahan saya agar saya tidak mengucurkan air mata pada jenazahnya.

Setelah dimakamkan saya hanya bisa menangis dan merelakan kepergiannya, mungkin kita sayang pada dia tapi Allah lebih sayang pada dia sehingga dia harus menghadap lebih dahulu.
Kematian tidak memandang umur, muda, tua, miskin ataupun kaya, pasti akan berakhir dengan selembar kain putih.

Cerpen Karangan: Desti Amaliah
Facebook: Desti Amaliah

Cerpen Pergi Tuk Selamanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Daisy Putih (Part 2)

Oleh:
Sudah seminggu lamanya semenjak hari pertama kedatangan Daisy ke rumah ini. Tapi kedua orangtuanya yang katanya akan menyusul tak kunjung tiba juga. Memang, waktu itu Daisy telah menjelaskan alasan

Hujan

Oleh:
Hujan, apa yang kau pikirkan tentang satu kata itu? Apakah hujan itu memberikan kebahagiaan? Kesedihan? Atau hujan adalah sesuatu yang dapat mewakili perasaan yang sulit untuk diungkapkan? Yah, mungkin

Aku Pergi Ma, Pa

Oleh:
Semilir angin malam menembus jendela kamarku. Hingga tiba-tiba pintu kamarku terketuk pelan. “Hem pasti Tante Lia.” Gumam Ara. “Ra, ayo makan malem, semuanya udah pada kumpul di bawah.” ajak

Mukena Untuk Ibu

Oleh:
Sinta! Seorang ibu rumah tangga dengan dua orang anak dan juga seorang janda yang ditinggal mati oleh sang suami yang bekerja sebagai nelayan. Sebenarnya Sinta belum mengetahui akan keadaan

Si Telon

Oleh:
“Itu…” teriak Rusdi sambil menunjukkan ke semak-semak yang ada di depan mereka. “Mana?” Rusdi berjalan membungkukkan badannya. “Itu, aku melihat ekornya!” “Ya, betul itu ekor si telon. Pelan-pelan, jangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *