Pergi Tuk Selamanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 January 2017

Mungkin tak semua orang sama dengan diriku. Aku berbeda sekali dengan mereka. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara sekaligus cucu pertama dari pihak ayahku. Keberadaanku sangat diharapkan oleh banyak orang.
Saat Ibuku mengandungku. Ibuku sangat senang akan kabar kehamilannya. Begitupun dengan Ayahku. Bahkan semua orang sangat menunggu kehadiranku di muka bumi ini.
Tapi apa hasilnya. Aku seperti orang tak berguna. Yang hanya bisa merepotkan kedua orangtuaku dan kedua adik perempuanku. Adik-adikku berbeda denganku. Mereka begitu sempurna dan begitu indah rupanya.

Pagi itu aku berniat baik. Sebagai kakak laki-laki tertua aku ingin membangunkan adik-adikku untuk berangkat ke sekolah mereka masing-masing. Aku hanya mengoyangkan tubuh mereka. Karena bibir indahku ini tidak bisa mengeluarkan suara. “sudah kubilang jangan menganggu tidurku dasar kau bisu” kata Annisa adik tertuaku yang sekarang bersekolah di sekolah menengah atas. Aku hanya bisa berkata dengan gaya bahasaku sendiri. Berusaha untuk menjelaskan maksud baikku pada Annisa. Namun dia tak mau mengerti dengan keadaanku ini. “Dasar anak bodoh!!” lagi lagi dia berkata kasar padaku. Saat aku akan menjelaskan maksud baikku membangunkannya. Tanpa dipedulikannya aku langsung didorong untuk keluar dari kamarnya, dan dia langsung membanting pintu setelah aku keluar dari kamarnya.

Kejadiaan itu sering terjadi padaku. Ayah dan ibu yang selalu sibuk dengan perkerjaan mereka. Aku mempunyai adik-adik perempuan yang tertua bernama Annisa, dan Angel. Hanya Angellah yang sangat baik padaku, yang mau menerima aku apa adanya. Usiaku memang tidak muda lagi. Usiaku sudah mencapai kepala dua. Annisa berumur 16 tahun yang tak lama lagi kan merayakan sweet seventeennya. Yang sangat ditunggu-tunggu olehnya. Adikku yang kedua Angel bersikap seperti laki-laki, umurnya masih 14 tahun. Tetapi aku tak pernah membedakan kedua adikku. Aku sangat menyayangi mereka.

Purnama muncul dengan gagahnya. Malam ini kami sekeluarga menikmati santap malam bersama-sama. Makan malam ini ditemani dengan kesunyian tak ada yang berbicara. “aku ingin sweet seventeenku dirayakan di salah satu mall” kata Annisa. “bukankah sebaiknya kita merayakannya di rumah saja sayang” ujar ibu. Ibu berkata seperti itu karena tidak ingin mengeluarkan banyak biaya. Ibu sudah banyak sekali mengeluarkan butiran-butiran uang untuk kesehatanku. “ibu tidak mengerti sekali dengan keadaanku saat ini. Aku ini sudah remaja. Dan sweet seventeen ini sangat berarti bagiku” katanya dengan kasar dan marah. Annisa langsung berdiri dari kursi makan dan berlari ke kamarnya dan membanting pintu dengan kencang. Aku pun berdiri dan berjalan menuju kamar adikku Annisa.

Sampai di depan pintu kamar Annisa aku mengetuk pintunya sudah sampai ketukan ketiga kalinya, tapi tak kunjung ada jabawaban dari balik pintu. Aku pun lantas membuka pintunya. Tapi apa yang aku temui, jendela terbuka dan Annisa tidak ada. Aku mencarinya ke dalam toilet yang tersedia di dalam kamarnya. Tapi nihil sekali hasil yang kudapat.
Aku panik sekali. Aku pun turun menuruni anak tangga satu demi satu. Menuju tempat makan keluargaku. Menarik tangan ibuku. aku berkata kepada ibu “boooo annnnsyaaaa iiaaanngggg” kataku dengan gaya bahasaku sendiri. Ibu tentu saja kaget. Aku pun menarik lengan ibuku menuju ke kamar Annisa. Setelah sampai di kamar Annisa betapa kagetnya ibu melihat jendela kamar Annisa terbuka dan tidak menemukan Annisa “ayaahhhhh…!!! Annisa tidak ada” setelah jeritan itu selesai. Ibu pun terjatuh. Ibu pingsan, aku langsung mengendongnya dan menidurkannya di kasur milik Annisa.

Ayah dan Angel naik ke atas letak kamar Annisa. Ayah berusaha tidak panik, tapi aku tau raut wajah ayah berkata bahwa dia sangaat panik. “kakak sama Angel temeni ibu yaa. Ayah mau cari Annisa dulu ke luar dulu” kata ayah. Angel tanpa berkata mengoleskan minyak kayu putih di tubuh ibu. Aku tak bisa berbicara, aku mengambil air putih untuk di minum ibu. Aku bukan bisu namun tak bisa berbicara dengan fasih seperti orang kebanyakan, namun aku mengerti dengan kondisi dan apa yang dikatakan oleh orang lain. Tak lama dari Angel mengoleskan minyak kayu putih di tubuh ibu, ibu pun akhirnya sadar.

Ayah pulang tak lama dari sadarnya ibu. “ayah telah mencari ke seluruh sudut kota ini dan telah menghubungi teman-teman terdekat Annisa dan tetap saja Annisa tak ada” kata ayah dengan terburu-buru. Ibu pun meneteskan air matanya. Aku tak tahan melihat seorang ibu menangis. Aku pun memeluk ibu. Ayah telah menghubungi seluruh teman adikku Annisa tak ada yang mengetahui.

Sudah beberapa hari ini ayah dan ibu mencari keberadaan Annisa. Namun tak ada titik terang dari kehilangan misterius Annisa. Kulihat ibu dari sudut mata, tubuh ibu semakin kurus dan di rahang ayah sudah tumbuh janggut-janggut kasar. Aku tau mereka sangat merasa kehilangan atas kepergian Annisa.

Ayah pun mengambil jalan terakhir melaporkan kehilangan Annisa kepihak kepolisian. Mungkin saja pihak kepolisian bisa membantu menemukan Annisa. Di kator polisi ayah duduk bersama ibu di depan seorang polisi. “saya sudah kehilangan putri saya, dia kabur dari rumah, sudah 7 hari lebih anak saya tak kembali. Saya ingin bapak bisa menemukan anak saya. Saya meminta bantuan bapak untuk bisa menemukan putri saya” kata ayah. Lagi-lagi ibu meneteskan air matanya. “baik, pak saya akan berusaha menemukan putri bapak secepatnya” kata bapak kepolisian tersebut. Ayah juga membuat di sebuah kertas HVS foto dan biodata Annisa di kertas tersebut tertulis ‘ORANG HILANG’. Ayah memperbanyak kertas tersebut dan menempelkan kertas itu di tempat-tempat ramai seperti pasar, terminal dan di berbagai tempat umum lainnya.

Polisi tak kunjung memberikan kabar atas kehilangan adikku Annisa. Kami sudah lama menunggu. Kira-kira sudah 2 bulan lamanya kami tak kunjung mendapatkan kabar dari Annisa. Ayah sudah mulai pasrah.

2 tahun berlalu…
Semenjak kehilangan Annisa keluargaku seperti tak pernah ada keceriaan tak ada kebahagian tak ada kesenangan tak ada kegembiraan lagi. Semua terasa sepi dan sunyi. Angel semakin pendiam. Ibu semakin irit berbicara dan mulai sering menghayal yang tak pernah masuk akal. Ayah pun mulai sibuk dengan perkerjaannya, tak jarang ayah pulang larut malam dan saat ayah pulang kami semua sudah berada di dalam mimpi masing-masing.

Hari minggu kali ini semua anggota keluargaku berada di rumah. Kami menikmati hari libur ini dengan kesepian yang senang tiasa berada dalam keluargaku. “bagaimana jika liburan kali ini kita liburan?” kata Angel. Sudah lama aku tak mendengar Angel berbicara lebih dari 3 kata. Biasanya dia hanya berbicara ‘aku pergi’ ‘aku sudah pulang’ ‘iya’ ‘tidak’ ‘terserah’ dan kata-kata yang singkat lainnya. “ibu setuju kita sudah lama tidak liburan” kata ibu. “benar juga terakhir kita liburan saat Annisa belum hilang” kata ayah. Aku hanya ber oh ria dalam hatiku sendiri. Percuma saja aku berkata. Karena suaraku tak akan pernah jelas untuk didengarkan bukan?

Sore minggu ini kami sekeluarga menikmati secangkir teh di bawah mentari sore. Dengan kesunyian seperti biasanya. Ibu menuangkan teh ke cangkir ayah lalu ke cangkir Angel lalu ke cangkirku. “bagaimana jika liburan kali ini kita habiskan di Sabang saja?” tanya Angel. “ide yang bagus. Kita akan menghabiskan sekitar sepekan lamanya di sana?” tanya ibu. “boleh juga itu, ayah akan mengurus penginapan dan transportasi menuju kesana” kata ayah sambil meletakan teh yang baru diminumnya.

Tepat pada hari ini kami akan pergi untuk menghabiskan penat di liburan kali ini. Kami akan mengunjungi kota Sabang. Kami berangkat menggunakan kapal feri. Yang tak butuh waktu lama untuk sampai di kota Sabang. Tak kurang dari 30 menit dari kota Banda Aceh menuju kota Sabang. Kami telah sampai di ujung barat Indonesia. Sejauh mata melihat semua begitu indah.

Kami pun memutuskan untuk langsung ke penginapan. Penginapan yang kami tempati begitu senderhana karena terbuat dari bahan utama bambu tua. Bukan kerena terbuat dari bambu tua lalu terkesan kuno dan menjengkelkan. Namun sangat nyaman dan indah. Kami tinggal di salah satu kamar besar yang khusus dirancang untuk satu keluarga. Karena kami hanya berempat. Dan ini adalah liburan pertama tanpa kehadiran Annisa. Kamar yang kami tempati sekeluarga berhadapan langsung ke samudera Hindia. Sungguh indah pemandangan yang bisa dilihat oleh retina mataku. Tak seperti hati nurani keluargaku yang baru saja kehilangan adikku Annisa.

Pagi pun menyambut kami dari mimpi indah. Kami pun memutuskan untuk sarapan. Kami sarapan di restoran yang disediakan oleh penginapan sederhana ini. Walau sederhana namun makanan yang disediakan begitu enak dan lezat. Kami makan dalam diam tak ada suara hanya denyitan sendok yang saling beradu.

“ayah kita akan kemana hari ini?” tanya Angel setelah habis menyantap sarapan paginya. “bagaimana jika kita ke pantai saja. Jalan-jalan di pantai dan diving? Angel maukan diving?” tanya ayah dengan lembut kepada Angel. “Angel mau yahhh…!!” seru Angel dengan kegembiraan yang sangat nyata. Ibu hanya senyum saja. Aku pun ikut diam seiring senyuman ibu. “ayo kita siap-siap dulu mengatur apa saja yang perlu dibawa ke pantai?” seru ibu sambil berdiri dari kursi meja makan yang tersedia di penginapan.

“ayah ibu pemandangannya sangat indah!!” seru Angel dengan kegirangan. Aku pun mengikuti Angel bermain dengan air di bibir pantai. “ayo kak ikut Angel main air” teriak Angel dari bibir pantai. Sedangkan ayah dan ibu menikmati air kelapa muda yang sangat segar sekaligus melihat Angel dan aku bermain air di tepi bibir pantai. Ini sungguh sangat menyenangkan. Menghabiskan penat bersama orang-orang yang sangat kau cintai. Keluarga lebih berarti dari apapun yang ada di muka bumi ini.

Tak terasa hari sudah sore. Mentari pun ingin bergantian dengan bulan. Sungguh pemandangan yang sangat indah. “ayo kita makan malam di daerah pantai. Restoran yang cukup indah dan menyajikan makanan yang enak?” kata ayah. “ayo aku sangat lapar yah..” kata Angel. “ibu juga setuju kita makan di restoran tersebut sambil menghabisi sisa malam” seru ibu. Sepertinya ibu juga setuju dengan usulan ayah.

Tak ambil pusing kami pun langsung menuju restoran tersebut. Restoran ini didominasi oleh turis-turis asing. Kami duduk di meja yang disediakan. Meja ini berhadapan langsung dengan laut bebas.

Seorang pelayan menghampiri kami memberikan menu-menu apa saja yang disediakan di restoran ini. Saat Angel ingin mengambil menu yang telah diberikan. Kami semua menatap pelayan tersebut. Tadi kami sekeluarga sedang menatap pantai dan laut bebas. Sekarang tatapan kami sekeluarga tertuju kepada gadis pelayan restoran ini. Aku seperti pernah melihatnya. Tiba-tiba ibu meneteskan air matanya. Angel dengan posisi mulut terbuka. Dan ayah hanya seperti biasa. Aku makin heran karena name tag yang berada di sisi kiri atas bahu nya tertulis nama Annisa. Jangan bilang bahwa adikku yang dulu suka bermanja-manjaan sekarang telah berubah menjadi pelayan restoran. Aku tak pernah akan menyangka seperti ini sebelumnya. “apa benar nama kamu Annisa?” tanya ayah. “benar sekali pak” seru gadis yang bername tag Annisa tersebut. “apakah kamu ingat pada saya?” tanya ibu kepada gadis bername tag tersebut. “sepertinya saya ingat” jawab gadis bername tag tersebut. “Annisa aku ini ibumu apa kamu lupa. Dulu kamu kabur dari rumah saat itu ibu tidak setuju kamu akan merayakan sweet seventeen mu besar-besaran karena keluarga kita tidak mempunyai biaya. Sudah banyak habis untuk keperluan kakakmu berobat” kata ibu menatap kedua bola mata Annisa. “aku ingat bu” kata Annisa dengan datar dan tatapan mata yang kosong. Air mata Annisa yang berusaha ditahan olehnya. Terpaksa keluar dari kedua kelopak mata indah yang dimilikinya.

Benar bahwa gadis yang bername tag ini adalah Annisa adikku yang sudah hilang tak ada kabar lebih dari dua tahun lamanya. Keluargaku pun membawa Annisa menuju ke penginapan “saat itu aku kabur dan aku tak menyangka bisa bertemu dengan teman lamaku. Dia mengajaku untuk pergi bersamanya. Dia hanya berkata akan mengajakku makan malam bersama. Ternyata saat makan malam 2 tahun lalu. Dia menaruh zat kimia yang bisa membuatku pingsan” kata Annisa dengan datar dan mata yang kosong kali ini air matanya keluar lagi. Aku tau dia sangat sedih.
“aku tak tau bahwa di makanan itu terdapat zat yang bisa membuat pingsan. Aku pun memakannya. Saat aku membuka mata ternyata aku sudah berada di tempat lain. Di sebuah ruangan. Dan ternyata tempat itu adalah tempat inap karyawan yang berkerja di restoran. Restoran tempat aku berkerja menjadi pelayan. Teman lamaku menjualku untuk menjadi pelayan” kata Anisa dengan tetes air mata. Ayah dan ibu yang mendengar sangat terkejut akan kabar ini.
“INI SEMUA KARENA KAKAK. JIKA KAKAK TIDAK CACAT MUNGKIN KELUARGA KITA ADA UANG UNTUK MERAYAKAN SWEET SEVENTEENKU. BUKAN UNTUK PENGOBATAN KAKAK. JIKA KELUARGA KITA MEMPUNYAI UANG MUNGKIN AKU TIDAK AKAN KABUR DARI RUMAH DAN AKU TIDAK AKAN DI JUAL OLEH TEMAN LAMAKU” teriak Annisa tepat di depan wajahku. Aku hanya diam. Mungkin ada benarnya dari apa yang telah dikatakan Annisa.

Setelah Annisa berkata itu kepadaku. Dia langsung berlari keluar dari penginapan. Menuju jalan raya. Aku pun mengejarnya. Tak kupedulikan yang lain. Sekarang aku ingin terus mengejar Annisa sampai dia kudapatkan dan kupeluk dan meminta maaf kepada. Karena kehadiranku dia jadi berubah seperti sekarang ini.

Saat aku sedang berlari mengejar Annisa. Tak ada hujan dan angin tiba-tiba saja mobil dengan kecepatan di atas rata-rata menuju ke arahku dan menabrak tepat padaku. “BRAAAKKK” bunyi tabrakkan itu.
“kakakkkkk” teriak Annisa terdengar untuk terakhir kalinya.
Setelah kejadian itu, aku tak tau apalagi yang terjadi. Semua terasa kosong dan hampa. Semua gelap. Tak ada cahaya apapun yang menerangiku lagi. Semua hampa.

Kini aku tidak lagi bisa menggangu Annisa, Angel, Ibu, dan Ayah. Sekarang aku telah tenang di alamku sendiri. Aku berharap Angel akan tenang karena aku tidak ada lagi di sisinya untuk selamanya seperti diinginkannya. Bukankah jika aku pergi Annisa tidak akan pernah marah lagi dan tidak akan terganggu oleh kehadiranku. Karena aku pergi untuk selamanya.

Apakah aku salah? ini yang diinginkan Annisa dan Tuhan pun menginginkanku kembali ke pangkuan Tuhan. Mungkin Tuhan merindukanku. Sehingga dia mengajakku pergi.
Aku tenang bisa berada di sisi Tuhan untuk selamanya.
Namun dari atas sini aku melihat keluargaku sangat sedih ibu terus-terusan menangis dan Annisa seperti tak punya semangat hidup lagi. Keluargaku seperti semakin hancur saja. Tapi bukan kah ini yang diiinginkan oleh Annisa. Aku pergi untuk selamanya. Tak akan bisa kembali lagi kedunia nyata. Akhirnya aku orang yang selalu menyusakan orang lain bisa pergi untuk selamanya tak akan pernah kembali lagi. Apakah aku salah atas kepergianku untuk selamanya?

TAMAT

Cerpen Karangan: Afifah Salsabila
nama aku Afifah Salsabila. Ini cerpen pertamaku lohh. aku tinggal di Aceh. lebih tepatnya Takengon. Aku sekolah di SMA N 1 Takengon.
instagram :@afifah.sa (pake titik jangan lupa yaa)
id Line: afifahsa1
salam kenal

Cerpen Pergi Tuk Selamanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senandung Untuk Ibuku

Oleh:
Masih ingatkah kau dongeng tentang Malin Kundang, sang anak durhaka itu? Tentu kau masih ingat bukan, tak mungkin kau tak tahu karena cerita, itu rutin dijadikan dongeng pengantar tidur

Bodohnya Diriku

Oleh:
Hari itu, aku sangat bahagia karena akhirnya orangtuaku mengizinkan aku untuk pergi bersama teman terdekatku ke luar negeri. Mamaku membolehkan aku pergi, walaupun ia sangat khawatir. Andai aku tahu

Ketika Kau pun Menjagaku

Oleh:
Malam itu ada yang aneh dengan mata saya, entah kenapa tapi air matanya selalu saja keluar. Padahal tidak kemasukan benda sekecil apapun. Saya lihat di cermin pun tidak kelihatan

Geavandra

Oleh:
Embun membasahi rerumputan segar halaman rumahku. aura sejuk membelai lembut kulit, bersama dengan hembusan angin. aku menatap sedih pada alam itu, suara decitan pintu kamarku berbunyi, adikku menghampiriku. “kakak!”.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *