Perjuangan Ibu Untuk Anaknya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 18 July 2016

Embun pagi menyelimut kota seribu menara itu, pada saat pagi hari ada seorang ibu menggunakan sepeda sedang mengantar anaknya ke TK yang mungkin sekitar 3 km dari rumahnya sang ibu begitu senang melihat anaknya bisa mendapatkan pendidikan terbaik, ketika sampai di pintu gerbang sang ibu berencana untuk mengantar anaknya hingga ke depan kelasnya tetapi anaknya berkata kepada ibunya “Wahai ibuku sampai sini saja engkau mengantarku aku malu terhadap temanku” Kata sang anak
Ibu pun terkejut mendengar perkataan anaknya “Mengapa engkau mesti malu wahai anakku?” Tanya sang ibu
Sang anak menjawab “Aku malu melihatmu karena matamu buta sebelah wahai ibuku”

Sang ibu pun tak pernah menyerah untuk mengantar anaknya ke sekolah walaupun sang anak terus melarang ibunya untuk masuk ke dalam sekolahnya, ketika sang anak beranjak dewasa setelah lulus dari SMA sang anak memutuskan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Sang anak semakin malu melihat sang ibu yang buta sehingga sang ibu dilarang untuk ke luar rumah oleh sang anak.

Ketika sang anak telah lulus kuliah dan menjadi orang yang sukses dan memiliki harta yang banyak serta istri yang cantik jelita, sang anak bercakap cakap dengan sang istri di ruang tamu lalu sang ibu pun datang sambil menghidangkan teh dan roti
“Suamiku, siapakah perempuan tua yang menghidangkan minuman dan roti ini?” Tanya sang istri
“Ini pembantu rumah” Jawab sang anak
Sang ibu ketika mendengarkan percakapan sang anak seketika langsung sakit hati dan memberitahu sang anak tentang mata buta yang dimiliki ibunya ini “Wahai anakku sebenarnya ketika waktumu bersekolah di taman kanak-kanak engkau bermain sepeda bersama dengan temanmu, aku pun saat itu bercerita bersama temanku dan aku tak memerhatikanmu sehingga ketika kamu sedang asik bermai sepeda kamu menabrak sebuah pohon berduri dan mengenai matamu hingga buta dan aku pun terkejut dan segera membawamu menuju rumah sakit dan tidak ada cara lain kecuali mengganti matamu yang infeksi dan aku berpikir jika anakku buta, jika ia besar nanti pasti akan diejek-ejek oleh teman-temannya maka aku pun bersedia untuk menggantikan matamu, maka pada saat itulah engkau mulai hidup dengan bahagia dengan memiliki anggota tubuh yang lengkap tetapi apa balasanmu terhadapku engkau malah mencelaku” Kata sang ibu
Sang anak pun menangis sambil berkata kepada ibunya “Maafkan aku wahai ibuku” Kata sang anak
Sang ibu pun memaafkan anaknya dan memeluk ibunya

Cerpen Karangan: Ahmad Fauzan
Facebook: Ahmad Faudzan

Cerpen Perjuangan Ibu Untuk Anaknya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Terbaik

Oleh:
Pagi ini tak seperti biasanya, terlihat di salah satu kompleks perumahan yang biasanya sepi, khusus pagi ini sangat ramai sekali orang di luar rumah. Oh… ternyata mereka sedang menyambut

Hijrah

Oleh:
Rintik-rintik hujan begitu deras menghantam atap rumah yang sudah sangat reot itu. Hampir lima belas tahun aku merasakan kepahitan hidup dibawah garis kemiskinan. Semua berawal ketika aku masih berusia

Tetap semangat menjalani Hidup

Oleh:
“pada hari ini… Kulantunkan puisi ini untuk seorang ibu… Doa yang selalu kulantunkan saat sholat… Ibu yang membesarkan ku… Yang membelaiku dengan kasih sayang sepenuhnya… Yang mengandungku selama 9

Jendral Ketumpahan Kopi

Oleh:
Tahun 2017 adalah tahun dengan banyak tren aneh di dalamnya. Mari ambil contoh, fidget spinner misalnya. Mainan yang cara mainnya cuma diputer-puter dan gak menghasilkan kesenangan apapun untuk layak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *