Perjuangan Yang Hanya Sia Sia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 12 March 2015

Ada Sebuah anak yang bernama ridwan. Ia adalah anak dari pasangan Ibu Sulastri dan Bapak Hendra. Ridwan ada anak satu-satunya. Ia masih berumur 14 Tahun (Kelas 3 Smp) Hidup ia sangatlah sulit ayahnya seorang nelayan, dan ibunya hanyalah Ibu rumah tangga. Pendapatan ayahnya pun tidak menentu tergantung hasil nelayannya, kadang sedikit kadang juga pas-pasan.

Pagi Hari, aktivitas ridwan sama seperti anak-anak yang seumurannya yaitu sekolah, ia bersekolah di sekolah negeri dekat rumahnya. Ia termasuk anak yang digolongkan sebagai anak yang agak malas. Dipikirannya pun hanya memikirkan bermain saja. Tetapi dia anak yang tidak banyak ulah dan mudah mencari teman, dan juga bersosialisai

Pada saat bel istirahat dibunyikan, Ia sedang asik mengobrol dengan teman-temannya di dekat lapangan. Tiba-tiba ia dipanggil oleh Ibu Jumansih. Ibu Jumansih ialah wali kelas ridwan, Ia menyuruh ridwan untuk ke ruangannya. Lalu Bu Junarsih berkata kepada ridwan untuk melunasi biaya SPP yang sudah menunggak 4 bulan. Dan gurunya berkata apabila dia tidak melunasi dia tidak akan bisa ikut melaksanakan Ujian Nasional (UN)

Saat pulang sekolah, di jalan menuju rumah sambil memikirkan bagaimana cara berkata kepada orangtuanya untuk segera membayar SPP sekolah, Ia juga memikirkan ekonomi keluarganya yang sedang sulit, Ia melihat ada bendera kuning di depan rumahnya. Ridwan langsung bergegas lari ke dalam rumahnya. Dan apa mau dikata ternyata ibunyalah yang terbaring kaku disana. Lalu, ridwan berteriak “Ibu… Ibu… Mengapa ibu terlalu cepat meninggalkanku, aku belum sempat membahagiakanmu Ibu…” Dipeluklah sang Ibu yang ia sayangi itu dan sudah tak bernapas itu. Ayahnya pun segera menenangkan Anaknya itu. Ayahnya pun memberitahu anaknya bahwa penyakit yang diderita ibunya itu adalah penyakit kanker dan ibunya itu tidak pernah memberitahu kepada mereka, menyembunyikan hal itu sendiri. Karena ibunya tak mau ayah dan anaknya itu sedih memikirkan dirinya. Ridwan pun terus menangis sampai jasad ibunya pun dikubur.

7 Hari setelah ibunya meninggal. Ia pun sangat terpukul akan hal itu. Di rumahnya pun ia hanya sendiri, ayahnya pergi berlayar untuk beberapa minggu. Ridwan pun belum masuk sekolah. Karena masih terpukul atas kepergian ibunya. Lalu ia berfikir, saat ibunya meninggal ia pun belum membahagiakan ibunya, ia pun tidak mau hal itu terulang lagi pada ayahnya, ia sangat takut apabila kehilangan ayahnya kembali. Jadi ia akan segera berusaha untuk rajin belajar, mencari penghasilan sendiri agar tidak memberatkan beban ayahnya. Dan kemudian, Ridwan pun langsung bangkit dari keterpurukan semangatnya pun kembali terisi dan dia siap berjuang untuk membuat orang yang satu-satunya ia punya yaitu ayahnya bahagia.

Setelah itu ia pun segera bekerja apapun yang menghasilkan uang. Untuk membayar SPP sekolahnya, Agar ia bisa ikut Ujian Nasional (UN). Dan dia juga akan berusaha belajar segiat mungkin agar mendapat juara, dan juga bisa membahagiakan orangtuanya, terutama ayahnya.

Keesokan harinya ia pun mulai bersekolah kembali dengan semangat yang baru, di sekolah pun ia sangat berkonsentrasi saat memperhatikan guru. Bu Junarsih pun heran tumben sekali ridwan begitu serius dengan pelajaran sekolah, Ia pun berpikir apakah ini dampak atas ditinggal oleh ibunya. Setelah diperhatikan selama 3 minggu ridwan pun ada kemajuan, Ia mendapat peringkat ke-3 pada ujian semester 2. Itu yang membuat Bu Junarsih simpatik kepadanya dan Ibu Junarsih pun membantu ridwan untuk membayar kekurangan SPP yang diderita ridwan dan juga mengajak ridwan les private khusus untuk menghadapi UN yang tinggal sebentar lagi itu. Bu Junarsih yakin bahwa ridwan mempunya semangat yang keras.

3 minggu kemudian, ia sedang belajar di rumah untuk persiapan UN. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya. Lalu, ia bergegas untuk membuka pintu dan berharap ayahnya yang akan datang. Setelah dibuka ternyata bukan ayahnya. Ternyata adalah teman ayahnya, ia memanggilnya dengan paman Udjo dan ia memberitahu si Ridwan bahwa ayahnya akan datang pada waktu dekat ini, dan ridwan pun senang mendengar hal itu.

1 Minggu kemudian, UN telah ia lalui dengan mudah dan Ridwan pun yakin dia akan meraih hasil yang bagus. Saat sorenya, Pengumuman kelulusan pun sudah terpampang di Mading. Dan ia sangat senang bahwa ia mendapat nilai UN tertinggi di Provinsinya, Ia pun akhirnya mampu membuat ayahnya gembira. Bu Junarsih pun segera memanggil ridwan dan mengucapkan selamat kepadanya, tidak sia-sia ia mengajarkannya les private setiap hari. Dan ia juga memberitahu ridwan bahwa dia bebas memilih SMA yang ia pilih dan tidak dipungut biaya hingga lulus. Kemudian, ia juga berterima kasih kepada gurunya yang telah membantunya dari Uang SPP hingga les private dan ia sudah menganggap bahwa gurunya itu adalah ibunya juga. Ia juga berpikir kalau tidak ada Bu Junarsih dia tak mungkin bisa seperti ini.

Setelahnya ia pun segera ke pantai untuk menyusul ayahnya dan memberitahu akan hal ini, “Ayah pasti akan gembira mendengarnya” Ucap ridwan dengan penuh kegembiraan. Sesampainya di tepi pantai ia pun bertemu dengan Paman Udjo yang pernah datang ke rumahnya. Ia pun bertanya kepada Ridwan “Sedang Apa Kamu Disini”. Lalu ridwan menjawab “aku akan menjemput ayahku, apakah ayahku sudah pulang?”. Dengan berat hati paman Udjo pun berkata bahwa ayahnya sudah meninggal karena terkena badai laut dan ayahnya terkena benturan keras dengan karang. Ridwan pun bergegas ke rumahnya dengan diantar oleh Paman Udjo dan Ridwan pun itu hanyalah lelucon, Karena yang ia tahu paman Udjo senang sekali berlelucon.

Sesampainya di rumah, benar apa yang dikatakan oleh paman Udjo. Bahwa ayahnya telah meninggal. Ia pun hanya diam dengan badan yang lemas dan Ia pun sangat marah kepada Tuhan mengapa ia tidak diizinkan untuk membahagiakan orangtuanya. Nilai UN yang ia banggakan kini pun menjadi sirna dan tidak ada artinya lagi. Dia pun gagal membahagiakan orangtuanya lagi dan Ridwan pun sekarang hanya hidup sebatang kara. Walaupun Bu Junarsih sudah menawarkan untuk tinggal bersamanya. Tetapi ridwan masih belum menjawab ajakan guru itu. Karena masih terpukul akan kejadian yang ia derita.

Dia pun menyendiri di rumah setelah beberapa hari kepergian ayahnya. Lalu saat sore hari, ia berjalan-jalan di pinggir pantai dan menatap matahari sambil memikirkan kehidupannya yang penuh cobaan ini. Tiba-tiba ada seseorang kakek lewat dan berkata kepada ridwan “Hey nak, janganlah kau berputus asa. jalanmu masih panjang nak, ayah dan ibumu masih ada di sisimu mengawasimu dan mereka sangat ingin melihatmu sukses.” Setelah selang beberapa detik, Ia pun melihat ke arah kakek-kakek yang berbicara kepadanya dan ia tidak melihat seorang pun di pantai itu. Lalu, ridwan segera lari ke rumah dan segera berkemas untuk pindah ke tempat gurunya yang sudah ia anggap sebagai ibu asuhnya sendiri. Bu Sunarsih pun sangat menerima kedatangannya ridwan. Dan Ridwan pun akhirnya tinggal di tempat bu Sulastri dan akan terus berjuang kedepan dan mencapai cita-cita yang ia inginkan.

Cerpen Karangan: Galih Budi Sulistono
Facebook: Galih Budi Sulistono
Ini Cerpen Pertama Saya yang saya buat. Semoga menjadi cerpen pembuka yang menarik untuk dibaca…

Cerpen Perjuangan Yang Hanya Sia Sia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Power Of Aisa

Oleh:
“Bu, aisa pergi sekolah dulu ya”, aku mencium tangan ibuku, “ya” sahut ibuku, begitulah setiap hari, ibuku bukan perempuan yang banyak bicara, ia sangat pendiam, aku selalu berpikir bahwa

Hari Minggu

Oleh:
Kalau kamu tanya hari apa yang paling menyenangkan, aku akan bilang itu hari minggu. Hari dimana aku terbebas dari tugas tugas, keluar bersama teman teman, dan yang terpenting adalah

Allah Itu Adil

Oleh:
Terdengar suara riuh rendah di lokal Aqira, yaitu IV-D. Pak guru sedang membagikan hasil ulangan Matematika. Semuanya takut dan agak deg-degan sambil menelan ludah. Menurut mereka, matematika adalah mata

Harta Warisan Ayah

Oleh:
“Nulis lagi kamu Iz?” “Ngak Ma, aku nggak nulis” “Jangan bohong kamu! Itu apa buku sama pulpen” Bu Anisa merampas paksa buku tulis dan pulpen Faiz. “Harus berapa kali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *