Perjuanganku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 21 May 2018

Alam begitu indah, pohon-pohon mengayunkan dahannya, matahari sore yang bewarna orange sangat menakjubkan, kulihat banyak burung-burung pulang kembali ke sarang mereka masing-masing dan terlihat mereka sangat bahagia, tapi lalu aku berpikir “andaikan aku bisa sebahagia mereka…”, aku pun tertunduk sambil berjalan perlahan demi menuju rumahku yang terletak di seberang sungai di pedesaan.

Sesampainya di rumahku, kujumpai ibuku sedang memasak makanan yang sama setiap harinya yaitu tahu dan tempe, tidak pernah sekalipun aku dibelikan ayam atau daging. Oh pernah sekali sewaktu makan di rumah tetanggaku, ibu juga memasak nasi di sebuah penanak nasi, dan tiba-tiba ibu memanggilku untuk makan dan aku dengan kesal menjawab “diam!!!” Kubentak ibuku, lalu ibu menanyaiku “Anton, mengapa belakangan ini kamu terlihat sangat sedih?”, Tanya ibu. Lalu tanpa menghiraukan perkataan ibu aku pergi ke kamar dan membanting pintu kamar dengan keras.

“Ayo nak, makan. kalau ada masalah kamu bisa ceritakan pada ibu”, kata ibu dengan suara lemah lembut dan berdiri di depan pintu kamarku, aku pun menangis tersedu-sedu dan mengatakan “ibu jahat”, ibuku terdiam sambil meletakkan tahu dan tempe di piring dan ibu makan sendiri dengan wajah bercampur aduk. Sementara itu, di dalam kamarku aku sedang menangis sejadi-jadinya.

Hari demi hari berlalu, sekarang aku kelas 2 SMA negeri, di sekolahku selalu saja kulihat teman-temanku memamerkan barang-barang terbaru yang mereka punya, seperti Smartphone, motor Ninja terbaru dan mainan yang tak asing lagi yaitu Spinner. bukan hanya itu mereka juga mengejekku dengan mengatakan “Hah … dasar orang miskin, memang kamu punya barang barang bagus seperti kami dan emang kamu punya hp, palingan HP jadul yang sudah using itu, ibumu kan miskin dan kamu juga akan seperti dia di masa depan, dan ibumu itu… kumuh”.

Aku berlari ke dalam kelas, mataku berkaca-kaca dan aku pun mulai menangis kecil, seandainya aku atau ibuku bisa membeli barang-barang seperti itu… Ahh!! Tak usah dipikirkan lagi, aku ini memang miskin dan begitu juga dengan ibuku juga sangat… huh, kami bisa makan sehari saja sudah syukur. Andaikan ada ayah yang membantu kami membantu ibuku mencari nafkah untuk keluarga kami, pasti sekarang aku dan ibu sudah agak bahagia dan aku tidak diejek-ejek lagi leh teman-temanku.

Tapi sayangnya, aku dan ibuku tidak tahu ke mana perginya ayahku sekarang, menurut kata banyak saksi mata, ayahku kecelakaan di tengah perjalanan di saat pulang kerja sekitar jam sebelas lewat tiga puluh setempat di malam hari, tetapi yang anehnya, jasad ayahku tidak ditemukan oleh siapapun.

Kringggg… jam masuk sekolah dimulai, semua murid termasuk aku masuk ke dalam kelas masing-masing, setelah memberi salam kepada guru yang mengajar kami duduk lagi dan aku termenung sambil berpikir.

Ada satu hal lagi mengapa aku terus diejek, yaitu tentang buku pelajaranku yang sangat kotor dan berbeda dari yang lain, bagaimana tidak, buku itu adalah peninggalan buku dari sekolah ibuku yang dahulu, ibuku tidak bisa membelikanku buku pelajaran yang baru sehingga aku terpaksa diberikan buku dari ibuku. pelajaran dan materinya berbeda sekali, sehingga sulit untuk dipahami. pantas saja jika nilai harian dan nilai ulanganku selalu buruk dari yang lain. Tapi bagaimanapun itu aku sangat sedih.

Setibanya di rumah aku berkata kepada ibuku dengan suara tinggi “mengapa ibu sangat miskin sehingga aku terus diejek oleh teman-temanku?”, ibuku duduk di kursi dan menyuruhku duduk dan ibu mulai menasehati “kamu harus belajar dengan giat, nak dan terus berjuang agar setelah kamu lulus kamu bisa mencari nafkah dan nasibmu tidak akan seburuk nasib ibu yang sekarang, yang sangat malang”.
Mataku berkaca-kaca, lalu aku mengatakan kepada ibu, “ibu jahat, ibu tidak berguna!!, padahal aku hanya ingin membeli sebuah ponsel kepada ibu, tetapi ibu menasehatiku”, lalu aku pun pergi ke luar rumah dan pergi ke luar dan duduk di antara rerumputan untuk menahan tangisku.

Kesokan harinya, kulihat ibu sudah mulai bekerja di jam empat subuh sementara aku baru saja ke toilet untuk mencuci muka, hari demi hari, kulihat ibu bekerja keras dua kali lipat dari biasanya, aku bingung dan heran.
Tanpa berpikir panjang, aku mulai sarapan tahu dan tempe dengan nasi yang dimasak oleh ibuku dan aku menyusun buku pelajaranku dan pergi sekolah, tanpa memikirkan ibuku, juga tanpa berpamitan dengan ibuku. aku berjalan kaki ke sekolah.

Perlahan demi perlahan, akhirnya aku sampai juga di sekolah, seperti biasanya, sesampainya di sekolah aku selalu diejek oleh teman-temanku, aku sedih dan tidak berdaya. Andaikan aku bisa membalas perbuatan mereka.

Seperti biasa, di sekolah aku hanya belajar dan jika bunyi loceng bel berbunyi aku akan segera mengambil kotak makan plastikku, lalu duduk sendiri di kelas sambil makan masakan ibuku yang sangat kubenci, sementara semua teman-temanku menikmati enaknya makan makanan yang dibeli dari kantin, andaikan ibu bisa membelikannku makanan seperti mereka, terkadang aku pun meminta sedikit makanan mereka, tapi mereka tidak memberiku.

Lalu selesai sekolah, aku pulang ke rumahku ternyata ibu belum juga pulang padahal sekarang sudah jam delapan malam. “ibu pergi ke mana ya” tuturku, aku agak khawatir dengan ibuku, tiba-tiba ada suara sirene polisi menuju ke rumahku, kulihat di jendela ada dua polisi mengetuk pintu rumahku, kubuka pintunya lalu kutanya “ada apa ya pak?” “Ibu anda… meninggal karena kecelakaan sewaktu berjualan”.
Dengan rasa tidak percaya aku bertanya “apa benar bapak tidak salah rumah tujuan bapak ke sini?” “iya, benar kami datang ke sini karena ibu anda meninggal karena kecelakaan saat bekerja”

Mataku mulai mengeluarkan air mata, betapa banyaknya kesedihan yang kualami belakangan ini. aku lalu bertanya “di mana ibuku sekarang?” “ayo kami antarkan ke rumah sakit tempat ibu anda dirawat” “ayo.. ayo” jawabku, aku lalu pergi ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit aku berlari ke ruang ibuku dan melihat ibu akan disemayamkan, “ibu…” Kataku, “jangan mati bu, hu.. hu.. hu..” suara tangisku sangat keras.
“Ibu, aku berjanji aku akan berjuang sendiri tanpa ibu, aku tidak akan lagi diejek oleh teman-temanku, aku akan mencari nafkah sendiri hingga sukses dengan halal bu, aku berjanji, bu, bu maafin anton juga ya, selama ini anton suka marah marah, kasar dan melawan terhadap ibu, selamat tinggal bu, semoga ibu diterima di sisi yang mahakuasa. Amin”, lalu aku pun tidak sekolah lagi demi mencari uang untuk kehidupanku sendiri.

“Di rumah sepi bu dan gak nyaman tanpa ibu” kataku dalam hati, aku bekerja berjualan tahu dan tempe buatan ibu. lakunya banyak, entah mengapa banyak yang menggemari tahu dan tempe buatan ibu “hahahaha…” senyumku kecil saat berjualan, tiba-tiba saat berjualan ada seorang wanita yang sangat cantik sehingga kami pun mulai menjalin hubungan dan pada saat umurku mencapai 27 kami pun mulai menikah.

Setelah menikah, kami dikaruniai seorang anak laki-laki yang amat lucu. kami pun sama sama berjualan tahu dan tempe hingga bisnis kami sekarang ada tiga puluh delapan pusat yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia, “tahu ibu memang yang terbaik heheheheheheh” sewaktu kecil aku tidak suka tahu dan tempe ibu tapi sekarang hampir setiap hari aku makan tahu dan tempe ibu, walaupun kami sudah sukses dan sudah kaya raya, kami tidak sombong.

Teman-temanku yang dahulu pun sekarang telah mengetahui bahwa aku telah sukses setelah diejek-ejek dan diolok-olok setiap hari, mereka sekarang memujiku dan berjualan tahu bersamaku, aku sangat senang sekali, ternyata tanpa kusadari, ibu yang sekarang adalah ibu terbaik, dari kecil ibu merawatku dan sewaktu besar aku melawan tetapi tidak sedikitpun ibu marah, terima kasih ibu

Cerpen Karangan: Christopher Chuadra

Cerpen Perjuanganku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Uang Banyak Hati Kenyang

Oleh:
Bintang begitu indah di dalam bentangan langit malam. Kemerlap dalam ribuan lampu kota. Ramainya jalanan membuat sesak dalam dada meskipun, deru AC mobil mendominasi. “Arus mudik!,” gumam Riska. “Ya..

Sedih

Oleh:
Gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Mama! Papa! Kakak! Tolong aku. Aku tak ingat apa yang terjadi, tolong bantu aku. “Luthfia, bisa lihat Papa, nak?” suara Papa! Tapi aku

Akhir Sebuah Kebencian

Oleh:
Tangisku terus membasahi pipiku, lembaran tissue telah berserakan di lantai kamarku. “Aku membencimu! Sangat membencimu? Kau telah membunuh Ibuku? Kau pembunuh Ibuku!” hatiku terus berkata itu, tak henti-henti setelah

Aku Tetap Anakmu Ayah

Oleh:
Aku bertemu laki-laki itu. Kuingat saat masa kecilku ia selalu berada di dekatku. Tapi sekarang, ia berada di mana, Ibu? Mengapa ia tak sedekat dulu denganku? Apakah ia sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *