Persahabatan Chintya dan Sisca

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 May 2014

Siang yang panas, sepanjang perjalanan pulang ramai kendaraan berlalu lalang. Chintya segera merapat ke punggung mamanya yang sedang menyetir sepeda motor. Namun hawa panas masih terasa menyengat tubuh Chintya. Sepanas hati Chintya yang sedang gundah.

Tak terasa Chintya dan mamanya sudah sampai rumah. Setelah membuka pagar dan pintu depan rumah, bergegas Chintya dan mamanya menuju ruang tengah.
“Ayo… sayang, cuci tangan dan segera makan siang” ajak mama Chintya.
“Malas ma… gak nafsu makan” jawab Chintya sambil menghempaskan tubuhnya di kasur depan televisi. Mama Chintya agak heran dengan sikap Chintya dan segera menghampiri.
“Kenapa cantik… ada masalah ya”
“Tidak ada ma. Lagi malas saja”
“Ya sudah… ayo sana mandi dulu. Sebentar lagi papa pulang. Kita shalat duhur bersama seperti biasa. Mama mau membersihkan tempat shalat dulu yaa…” kata mama Chintya sambil mencium pipi Chintya. Mendapat ciuman mamanya yang lembut, hati Chintya tak lagi panas. Bergegas dia ke kamar mandi.

Selesai mandi dilihatnya papa dan mamanya sudah bersiap shalat Dzuhur. Mereka segera menunaikan shalat Dzuhur. Setelah itu mereka makan siang bersama.
“Ma… boleh Chintya menyampaikan sesuatu”
“Tentu boleh”
“Papa boleh juga khan?” tanya Chintya sambil melirik papanya. Papa Chintya tidak menjawab, tetapi memberi isyarat dengan kedipan matanya.
“Ehm… dua minggu ini sebetulnya Chintya kesal sama anak baru”
“Lho… memangnya kenapa sayang?. Seharusnya bersyukur dan senang punya teman baru”
“Ya tidak ma. Teman aku itu sering dipuji sama Bapak dan Ibu Guru”
“Kalau sering dipuji tentu ada sebabnya kan sayang?”
“Iya… sih. Dia itu pintar ma… bahkan kata teman-teman, bahasa Inggris dan Matematikanya lebih pintar dari Tya”
“Oh begitu. Terus…”
“Kan bahaya ma. Tya punya saingan berat tuh nantinya. Bisa-bisa Tya digeser jadi juara kelas” jawab Chintya cemberut.
Papa dan Mama Chintya tersenyum. Mereka saling lirik. Kali ini papa bicara.
“Jangan punya pikiran jelek. Nanti kecantikan Tya bisa berkurang”
“Ah.. Papa. Mana mungkin orang yang sudah cantik bisa berkurang hanya dengan punya perasaan curiga sama teman”
“Eit… ukuran kecantikan seseorang bukan hanya dilihat dari penampilan wajah, sayang… tapi juga dari tutur kata, sikap dan tingkah laku yang baik pada orang lain. Termasuk menilai baik seseorang. Apalagi teman yang baru dikenal. Iya khan Ma..” jawab papa sambil mengedipkan mata sebelah kiri ke Mama.
“Betul Tya. Seharusnya Tya berteman baik dengan siapapun tanpa menilai kelebihan dan kekurangannya. Apalagi teman yang pintar. Khan bisa untuk teman diskusi dan tukar pengetahuan” jawab mama Tya sambil membelai rambut Tya yang lembut. Chintya segera menyadari sikap dan pikirannya yang keliru.

Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul satu siang kurang lima belas menit.
“Ma.. papa harus segera ke kantor. Hati-hati di rumah ya..”
“Oh ya.. pa. Sore nanti mama ada janji sama Bu Novi. Dia orangnya pintar bahasa Inggris, sopan dan rendah hati. Mama ingin belajar lebih banyak Bahasa Inggris ke Bu Novi. Boleh kan pa..”
“Boleh ma… hati-hati di jalan dan pulangnya sebelum Maghrib ya..”. Mama Chintya terlihat senang. Tidak lupa mengajak pula Chintya.

Sore yang cerah. Chintya dan mamanya segera berangkat ke rumah Bu Novi. Sesampainya di kota, mama Chintya mampir dulu ke Swalayan. Membeli oleh-oleh untuk Bu Novi dan seragam sekolah Pramuka seukuran Chintya. Kata mama Chintya, seragam Pramuka itu akan diberikan ke adiknya Bu Novi yang masih sekolah di SD.

Tak lama kemudian sampailah mereka di rumah Bu Novi. Mereka disambut seorang perempuan muda berjilbab. Orangnya sederhana, namun terlihat cantik. Sekilas Chintya seakan sudah mengenal Bu Novi. Mama Chintya terlihat bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris dengan Bu Novi. Chintya merasa bangga dengan mamanya. Bahasa Inggris mama Chintya sudah lancar, bahkan di rumah, mama Chintya adalah guru terbaik bahasa Inggris bagi Chintya. Bu Novi kemudian mempersilahkan kami duduk.
“Maaf rumah kami begini adanya, kurang terawat sejak orang tua kami meninggal. Maklum saya hanya tinggal berdua dengan adik perempuan satu-satunya. Namanya Pertiwi”
Chintya ingat cerita mama sebelum berangkat tadi. Kata mama, kedua orangtua Bu Novi meninggal akibat kecelakaan saat berlibur ke Bali dua tahun yang lalu.
“Can you speak English?” tanya Bu Novi ke Chintya.
“Yes, I can. A little” jawab Chintya singkat.
“Very good. Kenalan sama adik saya ya… bahasa Inggrisnya lumayan. Sejak kecil kami dibiasakan berbahasa Inggris oleh papa kami. Papa kami dulu Dosen di Sastra Inggris”.

Segera Bu Novi ke belakang memanggil adiknya. Sesaat kemudian muncul gadis seumur Chintya. Mata Chintya terbelalak melihat sosok gadis di depannya.
“Sisca!” tanpa sadar Chintya memanggil gadis yang sebaya dengan umurnya. Mama Chintya dan Bu Novi saling pandang keheranan. Namun mereka segera menyadari bahwa antara Chintya dan Sisca sebenarnya sudah saling kenal.
“Ma… Sisca ini yang Chintya bicarakan sama mama dan papa tadi siang. Tapi…?! kenapa Bu Novi menyebut nama Sisca dengan Pertiwi?” tanya Chintya ke Bu Novi.
Bu Novi tersenyum dan menjawab, “Sebetulnya nama lengkap adik saya Sisca Pertiwi. Di sekolah dia biasa dipanggil Sisca, sedangkan di lingkungan rumah kami orang-orang biasa memanggil Pertiwi”
Chintya dan mamanya barulah memahami. Mama Chintya segera menyuruh Chintya memberikan oleh-oleh dan baju seragam Pramuka yang baru dibeli di Swalayan kepada Sisca. Dengan senang hati Chintya memberikan ke Sisca. Dengan malu-malu Sisca menerima pemberian Chintya.

“Sisca. Saya minta maaf. Selama ini saya menilai keliru dirimu. Maukah Sisca mulai sekarang dan seterusnya menjadi sahabat Chintya?”
Sisca segera mengangguk dan berkata,”Terima kasih Chintya. Semoga pertemuan ini menjadi awal yang baik untuk persahabatan kita”

Akhirnya Chintya dan Sisca saling berpelukan. Mama Chintya dan Bu Novi turut haru dan gembira. Sejak saat itu, Chintya dan Sisca bersahabat. Tidak ada lagi rasa persaingan di antara mereka. Bahkan persabahatan Chintya dan Sisca menjadi contoh teman yang lain untuk saling bekerjasama dalam kegiatan sekolah, mewujudkan cita-cita yang kelak akan mereka raih.

Cerpen Karangan: Abdullah
Facebook: said_amrul12[-at-]yahoo.co.id
seniman ae

Cerpen Persahabatan Chintya dan Sisca merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Just Want To Say Sorry

Oleh:
Kuamati lekat-lekat wajah itu. Mungkin hanya beberapa detik yang tersisa untukku berada disampingnya. Sorot matanya mulai meredup. Sepertinya aku harus mengatakannya sekarang. Kata-kata yang telah lama kupendam dan membuatku

Kebahagiaan dan Kesedihan

Oleh:
Adzan Shubuh membangunkanku dari mimpi indahku. Hari ini aku sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Aku segera beranjak menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari yang sangat aku nantikan,

Bumi Pertiwi (Part 3)

Oleh:
20 November 2013. Lensa kamera Bumi sudah sejak tadi sibuk mengejar objek yang ingin dia abadikan. Jemarinya sibuk memutari lensa kamera untuk mencari fokus yang diinginkan. Sebuah pemandangan yang

Rahasia Bintang Kelas

Oleh:
“Duh, dapat enam lagi!” seru Heru kesal ketika Pak Dodi membagikan hasil ulangan IPA-nya. “Kamu pasti dapat sepuluh!” katanya pada teman sebangkunya, Fajar. “Ah, cuma dapet sembilan, kok” kata

Ayah, Aku Rindu Padamu (Part 1)

Oleh:
Pagi yang cerah, aku masih terbaring malas di kasur tepatnya di kamarku. Entah mengapa hari ini aku merasa sangat malas untuk bangun dan masih saja mengantuk. Mungkin karena semalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *