Pertemuan Terindah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 14 May 2018

Hari ini sudah genap 3 tahun aku pergi meninggalkan rumah. Entah bagaimana kabar ayah dan ibuku juga adik lelakiku. Masih tergambar jelas di memoriku kejadian 3 tahun lalu yang membuatku melakukan hal ini.

Pada saat itu, lebaran kedua di rumahku kami kedatangan tamu. Sepasang suami istri dan anak lelaki mereka yang kira-kira dua tahun di atasku. Awalnya aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sampai akhirnya ibu bertanya padaku maukah aku menikah dengan anak lelaki itu. Sontak aku kaget. Memang di umurku yang sudah menginjak usia ke 24 tahun sudah sepantasnya aku untuk menikah. Namun aku ingin menikah dengan lelaki pilihanku bukan dengan cara dijodohkan seperti ini. Aku pun langsung menolak permintaan itu. Mendengar hal itu, kulihat wajah orang-orang di sekitarku berubah dan tak lama kemudian tamu kami pun meminta izin untuk pulang.

“Ada apa denganmu, Syifa? Mengapa kamu menolak dijodohkan dengan Syawal?”, tanya ayah.
“Syifa tidak mau dijodohkan seperti ini, yah. Syifa ingin menikah dengan lelaki pilihan Syifa sendiri”, jawabku.
“Tapi Syawal itu anak yang baik dan juga sholeh makanya ayah ingin dia menjadi suami kamu. Ayah tidak ingin kamu salah memilih lelaki”.
“Maafkan Syifa, yah. Tapi Syifa tidak bisa menerima perjodohan ini”.
“Apapun alasan kamu, ayah tetap akan menikahkan kamu dengan Syawal dan ayah rasa itu yang terbaik buat kamu”.
Aku lemas mendengar hal itu. Dan entah ide dari mana aku memutuskan untuk pergi dari rumah.

“Aku lihat dari kemarin kamu melamun terus. Ada apa sih?”, tanya Ayu, teman satu kos ku.
Aku kaget dan langsung tersadar dari lamunanku. “Tidak ada apa-apa. Ini sudah puasa ke berapa?”.
“Sudah ke 22. 2 hari lagi kita akan libur. Aku tidak sabar ingin segera pulang ke rumah. Kamu pulang juga kan?”, tanyanya.
Aku menggeleng. Ayu memelukku. “Kamu harus menyelesaikan masalahmu. Jangan sampai suatu saat nanti kamu menyesal. Lagipula orangtuamu pasti merindukanmu. Kamu harus berani”, nasehat Ayu.
Aku bersandar di bahunya. Air mataku jatuh membasahi bajunya. Dalam dekapannya aku berjanji akan pulang ke rumah dan meminta maaf pada kedua orangtuaku. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku.

Lebaran tinggal 3 hari lagi. Aku menatap sendu foto yang ada di tanganku. Foto kedua orangtuaku yang tersenyum bahagia bersamaku ketika aku lulus menjadi sarjana dengan nilai terbaik. Aku menangis. Sedikit rasa penyesalan menyelinap di lubuk hatiku. Harusnya aku tidak pergi dari rumah, harusnya aku menerima perjodohan itu, harusnya aku menuruti permintaan ayah, pasti saat ini aku sedang berada di rumah menikmati ramadhan dengan keluargaku. Menanti lebaran dengan berbagai kegiatan, membuat kue ataupun sibuk menjahit baju baru.

Aku melangkah gontai menuju lemariku. Mengeluarkan semua pakaianku dan memasukkannya ke dalam koper. “Ayah, Ibu, aku akan pulang”.

Terik matahari terasa sangat menyengat tubuhku. Keringatku pun mulai bercucuran. Aku memandangi sekelilingku. Kota ini sama sekali tidak berubah. Aku segera melangkahkan kakiku mencari becak ataupun bus. Dan setelah berpanas-panasan di dalam bus yang penuh dengan penumpang, aku sampai di depan sebuah gang. Aku menarik nafas dan dengan sedikit rasa takut dan juga gugup, aku berjalan memasuki gang itu. Kutahan tangisku melihat pemandangan di sekitar rumahku. Anak-anak bermain bersama, ayah mereka sibuk mengecat rumah sedangkan ibu mereka pasti sedang berada di dapur untuk membuat kue. Sungguh aku sangat merindukan suasana di rumahku, merindukan keluargaku. Langkah demi langkah sambil terus berharap Allah mengabulkan doaku.

Tiba-tiba terdengar bunyi klakson dari belakangku. Aku membalikkan badan dan tersenyum melihat siapa yang ada di depanku saat ini. Dan tentu saja hal itu membuatnya bingung. Aku tidak heran bila dia tidak mengenaliku lagi, mengingat penampilanku yang sudah jauh berubah. 3 tahun lalu aku masih memakai pakaian yang sekedar menutup aurat tanpa memperhatikan bagaimana cara menutup aurat yang benar bahkan sesekali aku juga masih mau pergi keluar rumah tanpa menutup auratku. Tapi sekarang aku muncul di hadapannya sebagai wanita muslimah yang benar-benar telah menutup auratnya.

“Maaf, mbak ini kenapa ya? Mengapa memandang saya seperti itu?”, tanyanya.
“Kamu sudah tidak ingat lagi sama mbakmu ini. Apa selama mbak pergi kamu sudah mendapatkan kakak yang baru?”, kataku.
Kulihat sebuah senyum terukir di bibirnya, senyum yang sangat kurindukan. “Mbak Syifa”, teriaknya yang langsung turun dari sepeda motor lalu memelukku. “Ardi kangen sama mbak. Kenapa mbak pergi dari rumah? Ayah dan ibu sangat khawatir. Ibu jarang bicara semenjak mbak pergi. Ayah juga sering sakit dan terus menanyakan kapan mbak pulang”.
“Maafin mbak ya. Itu semua memang salah mbak dan sekarang mbak akan memperbaiki semua kesalahan mbak. Ya sudah ayo kita pulang”.

Sebuah rumah berwarna putih tampak berdiri kokoh dihadapanku. Rumah itu masih sama seperti ketika aku pergi. Ardi membuka pintu pagar dan menarik tangan ku. Mungkin dia tahu ketakutan yang ku rasakan. Sepertinya ada seseorang yang mengetahui kedatangan kami dan segera membukakan pintu. Aku langsung bersembunyi di belakang Ardi.

“Kamu bersama siapa, di?”, tanya seseorang.
Aku harus menahan tangisku lagi mendengar suara itu. Suara seseorang yang telah bekerja keras untuk menafkahi keluargaku, seseorang yang selalu terlihat tegar meski banyak masalah menghampirinya dan seseorang yang tidak pernah mengeluh atas apapun yang terjadi.
“Apa mbakmu sudah pulang?”, tanyanya lagi. Ardi menoleh padaku. “Mbak, temui ayah. Dia sangat merindukanmu”.
“Ardi, jawab pertanyaan ayah. Apa mbakmu sudah pulang?”, suara itu semakin serak.
“Ayah, Syifa pulang”, kataku yang langsung berdiri di samping Ardi.
“Syifa”, ayah langsung merentangkan kedua tangannya, memanggilku ke dalam pelukannya. Aku menangis di pelukannya. Meminta maaf atas semua kesalahan yang kuperbuat padanya. Rasanya aku tak ingin lagi melepas pelukan itu, namun aku tak boleh melupakan seseorang yang sedang memandang kami dengan air mata yang membasahi pipinya.

“Ibu, maafin Syifa”, kataku dan langsung memeluknya.
“Ardi, kenapa kamu berdiri di situ? Kamu kan juga anak ayah dan ibu, sekarang mbakmu sudah pulang. Lebaran tahun ini akan terasa indah”, kata ayah dengan penuh semangat.

Aku tersenyum bahagia bersama keluargaku. Aku juga sudah memutuskan untuk mencari pekerjaan di kotaku agar aku bisa bersama dengan keluargaku. Aku tidak ingin meninggalkan mereka lagi, kecuali jika aku sudah menikah.
Pertemuanku hari ini dengan keluargaku akan menjadi awal kehidupanku yang baru. Dan atas usaha serta doa dari kedua orang tuaku, aku berhasil menjadi staf di salah satu perusahaan di kotaku, sedangkan Ardi dia baru saja lulus kuliah dan sudah di kontrak untuk bekerja di sebuah kantor pemerintahan di kotaku.
Untuk yang pertama kalinya setelah aku kembali ke rumah, aku melihat kedua orangtuaku kembali tersenyum bahagia melihat kedua anaknya menjadi sukses.

“Ayah, Ibu, terima kasih”.

Cerpen Karangan: Febri Wulandari Siregar
Facebook: febri_sahabat[-at-]ymail.com
Nama: Febri Wulandari Siregar
TTL: Pematangsiantar, 27 februari 1998
Pendidikan sekarang: Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Malikussaleh

Cerpen Pertemuan Terindah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perasaan Kita (Part 2)

Oleh:
Saat capucino pesananku telah datang… “minumlah alvin..” “iya..” “bagaimana rasanya?” “harum..” Aku sangat senang sekali mendengar jawaban itu.. 17 tahun lamanya aku tak pernah mendengar kata-kata itu.. terima kasih

Gadis Kecilmu

Oleh:
Mama aku rindu. Perasaan itu aku rasakan seumur hidup aku, allah lebih sayang mama sehingga beliau dipanggil begitu cepat, meninggalkan aku dan ayahku. Sejak aku berumur 5 bulan mama

Penyakit Ini Akhir Hidupku

Oleh:
Pagi ini aku berangkat sekolah di antar oleh kakakku karena papa tidak sempat mengantarku, ada urusan mendadak. Keluargaku sangat mengasihiku kami hidup sangat rukun dan berkecukupan, rumahku penuh canda

Ratapan hati

Oleh:
Dari sudut kamar, tampak sunyi. Tak terdengar bisikan udara. Hanya tampak wajah yang menyimpan sejuta kesedihan. Mulutnya diam. Namun hatinya selalu bergerak bertanya. “Mengapa aku sekarang bersedih?” ia tak

Penjajah Sebenarnya

Oleh:
Hidup memang tak selalu ingin sempurna. Dan mengharapkan sesuatu yang terbaik. Inilah aku. Anak desa yang terjerat wabah desanya. Sebuah desa yang konon adalah tempat pembuangan mayat hasil buruan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *