Pesan Dari Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 May 2018

Embun dipagi buta, ibu membangunkan tiara dan tito untuk segera bergegas berangkat sekolah. Tiara dan tito sedang rapi-rapi untuk pergi ke sekolah sedangkan ibu mempersiapkan sarapan untuk tiara dan tito. Setiap hari tiara dan tito pegi ke sekolah berjalan kaki, terkadang mereka dianterin oleh ayahnya menggunakan motor. Ibu setiap hari berjualan kue keliling dari daerah rumah sampai pasar, sedangkan sang ayah bekerja sebagai tukang ojek.

Tiara sekarang duduk di bangku 7 smp, sedangkan tito duduk di bangku 5 sd. Tito anak yang sangat pintar dari kelas 1 sampai sekarang ia sering mendapatkan ranking, sampai-sampai ia ikut lomba matematika dan mendapatkan juara 2. Tiara juga anak yang pintar ia sering mendapatkan ranking 1, ia juga pernah ikut lomba ipa, matematika. Sekolahan tiara dan tito berdekatan.

Ibu berangkat bejualan kue, harga kuenya cukup murah dari harga Rp 2.000 sampai harga Rp 4.000. Setiap berjualan ibu membawa 50 kue dan terkadang juga lebih membawa kuenya. Kue ada yang titipan orang, dan sebagian buatan ibu. Sebelum berangkat berjualan ibu mengambil kue titipan bu jidah. Hasil jualan tersebut ibu tabung untuk biaya kuliah anaknya. Ibu pun mulai berjualan keliling, dari daerah rumah sampai pasar tapi sayangnya dari tadi tidak ada yang membeli kue ibu.

Adzan zuhur berkumandang, ibu pun bergegas untuk solat dzuhur. Ibu meninggalkan kue di depan masjid. Saat ibu sedang solat, banyak orang yang membeli kue tersebut. ibu tidak menghawatirkan kue yang ada di depan masjid, ibu pun tetap melanjutkan solat. Selesai solat ibu berdoa “Ya Allah, semoga tiara dan tito bisa menjadi anak yang soleh dan sholeha. Dan semoga mereka bisa jadi anak yang sukses, bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Amin”

Selesai berdoa bahu ibu dipegang oleh seorang wanita cantik. Wanita itu membawa kue yang ibu jual kedalam masjid. “permisi bu, ini dagangan ibu bukan?” tanya wanita tersebut “iya ini dagangan saya” “maaf, neng ini siapa ya, saya nggak pernah liat neng di sini?” jawab ibu sambil heran “saya tina bu, kebetulan tadi saya abis pulang kuliah. Saya mampir dulu ke masjid untuk solat, pas saya pengen masuk ke masjid, saya melihat dagangan kue. Sebelum solat saya jualin kue ibu, dan alhamdulilah kue ibu habis” jawab tina “terima kasih ya neng, udah jualin kue saya, ini buat neng karna neng sudah bantu saya jualan kue” jawab ibu sambil memberi uang ke tina “tidak usah bu, saya ikhlas membantunya” jawab tina “ya udah ya neng, saya duluan” ucap ibu “iya bu, hati-hati di jalan” jawab tina.

Ibu pun pulang ke rumah, sesampai di rumah ternyata sih tiara dan tito sudah sampai duluan sebelum ibu pulang. “ibu ke mana aja sih, dari tadi kita tuh cari ibu ke mana-mana” tanya tiara dengan kesal “ibu tadi solat dulu di masjid” jawab ibu dengan sabar “ya udah, sekarang makanannya mana?” tanya tiara “jangan makanan yang kemarin ya!” ucap tito. “kalo makanan tadi pagi mau gak nak?” tanya ibu “kenapa sih, setiap hari pasti ibu bilang makanan tadi pagi mau gak nak gak ada kata-kata lain apa?” sentak tiara “udah makan seadanya aja ya nak” jawab ibu dengan sabar.

Tiara pun menuju meja makan bersama tito, sedangkan ibu masuk kamar. Di kamar ibu menangis “kenapa anak-anakku durhaka ya Allah” “apa salahku.” Disaat ibu sedang menangis, tiara memanggil ibu dengan suara lantang “ibu… ini masakan udah basi tau” ucap tiara dengan kesal. Ibu pun menuju ruang makan sambil menghapu air mata. “ada apa tir?” tanya ibu “ini tuh makanan udah basi, masih aja disimpan” sentak tiara “tadi pagi baru ibu masak nak” jawab ibu “ibu duduk sekarang, ibu coba makanan tadi pagi masih enak atau gak?” sentak tiara. Ibu pun mengikuti perintah tiara, ibu pun duduk dikursi dan ibu juga memakan mkanan tadi pagi. Ibu tidak bisa tahan nangis, disaat ibu makan ibu mengeluarkan air mata dan hati ibu sangat pedih dimarahi oleh anaknya sendiri. “ibu kenapa nangis” tanya tiara, “ibu gak papa kok” jawab ibu “kalo ibu gak papa kenapa nangis” tanya tiara “sekarang habisin tuh makanan” sentak tiara. Ibu pun menghabiskan makanan tadi pagi.
“Sekarang tiara mau tidur dulu, dan satu lagi jangan ganggu tiara kalo lagi tiara lagi tidur” sentak tiara. Ibu hanya mendengarkan apa yang tiara kata kan, hampir setiap hari ibu disentak tiara, tapi ibu tetap sabar dan tabah.

Adzan ashar berkumandang, ibu membangunkan tiara “tir, bangun udah ashar. Solat dulu tir” ucap ibu, tapi tiara tidak bangun dari tidurnya.

Hari esoknya, tiara dan tito berangkat sekolah tanpa pamitan. Sedangkan ibu hari itu sedang sakit gara-gara makanan kemarin. Tapi ibu menahan sakitnya di depan anak-anaknya. ibu menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa. Ibu mulai berjualan keliling meskipun ibu sedang sakit tapi ibu terus berjuang demi anak-anaknya. Saat ibu sedang berjualan, ibu kena lemparan batu di bagian kepala. Kepala ibu berdarah, dan ibu ditolong oleh warga. Ibu pun dibawa ke rumah sakit. Sudah satu jam ibu tidak sadarkan diri.

Tiara dan tito sudah pulang sekolah mereka mencari-cari ibu “ibu, ibu di mana sih. Kebiasaan banget hilang” ucap tiara dengan kesal. Salah satu seorang warga lewat depan rumah tiara dan tito, warga tersebut menghampiri tiara dan tito “tiara ibumu masuk rumah sakit” ucap warga “ibu masuk rumah sakit, gak mungkin ibu masuk rumah sakit?” jawab tiara “ini benar tiara, kata dokter ibumu keracuan makanan, dan kepala ibumu juga berdarah” ucap warga “ini bohong kan?, tadi ibu sehat-sehat aja” jawab tiara “ini benar, kalo gak percaya kamu ikut saya ke rumah sakit” ucap tiara. Tiara dan tito pun ikut salah satu warga ke rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, tiara dan tito pun kaget melihat kondisi ibunya. Tiara dan tio pun masuk ke ruangan. “ibu, sadar bu..” maafin tiara kalo selama ini tiara suka ngebentak ibu” ucap tiara “bu… tito sayang ibu, ibu jangan tinggalin tito” ucap tito “tiara juga sebenarnya juga sayang ibu, tiara bukan anak durhaka bu” ucap tiara. Ibu mensadarkan diri “tiara tito ibu suadah tidak kuat lagi” ucap ibu “ibu kenapa ngomong seperti itu?” tanya tito. Ibu menyuruh tiara dan tito mendekat “tiara tito, ibu mempunyai pesan untuk kalian, dan tolong pesan ini disimpan baik-baik di hati kalian” ucap ibu “pesan apa bu?” tanya tiara “ibu ingin kalian jadi anak yang sukses, selalu ingat kepada Allah, selalu berbuat baik, kalian harus saling membantu. Maafkan ibu selama ini ibu belum bisa mendidik kalian menjadi anak yang benar. Dan satu lagi tiara kamu tolong jagain tito, dan tito tolong jagain kakak tiara” ucap ibu. Ibu pun menutup matanya untuk selama-lamanya. “ibu… ibu…” ucap tiara dan tito “ibu bangun bu, tiara gak mau ditinggal ibu” ucap tiara “ibu… tito sayang ibu, jangan tinggalin tito. Ibu… ibu kenapa pergi bu” ucap tito.

Raja siang keluar dari ufuk utara, ibu dimakamkan di dekat rumah. Tiara dan tito masih menangis sejak tadi. Tito mengadzankan mayat ibunya. Sesudah dikubur, semua orang sudah pulang, kecuali tito, tiara dan paman. Tiara dan Tito menyesal apa yang terjadi selama ini.

Cerpen Karangan: Azharia

Cerpen Pesan Dari Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Memandang Lewat Matamu

Oleh:
Aku bisa merasakan betapa dingin tangannya. Aku juga bisa mendengar alat pendeteksi detak jantung dengan nada putus putus di sampingnya. Entah di samping mana. Kiri atau kanannya aku tidak

Namaku Suganda

Oleh:
Tak ada yang pantas untuk dipaksakan. karena semuanya sudah ALLAH tetapkan. Jika kau sayang, mohon lepaskan. Jika kau cinta, tolong tinggalkan. Lanjutkan hidupmu, dan aku lanjutkan hidupku. Tak perlu

Hadiah Keberhasilan Ku

Oleh:
“Tidak, aku tidak mungkin bisa, aku tidak mungkin bisa bermain gitar.” kataku kepada Kak Fia, seraya pergi ke kamarku dan menutup pintu rapat rapat. Sesampainya aku di kamar, aku

Hilang

Oleh:
Pagi-pagi sekali mama sudah sibuk menyiapkan sarapan, tak lupa juga mama selalu menyanyi dengan suaranya yang cempreng dan bernyanyi dengan nada-nada yang kurang pas. Bukannya mengolok, tapi hanya memberi

Manusia-Manusia Trotoar

Oleh:
“Pak, Bu, Mbak! Tolongin ibuku, Mas! Kumohon! Aku nggak bohong.” Orang-orang masih saja lalu lalang melewati trotoar depan minimarket itu. Seorang gadis kecil semakin keras menangis sambil memeluk ibunya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *