Pesan Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 4 January 2017

“Jo, kok kamarnya berantakan sih?!” suara Mama terdengar keras. Aku yang sedang asyik memainkan game Minecraft terkejut. Segera kuletakkan ponselku dan menatap Mama dengan enggan. Aku yakin, sebentar lagi Mama bakal ngomel dan memberikan “kuliah gratis” untukku.
“Jo, Mama kan sudah berkali-kali bilang, kamar dirapiin. Buku-buku diberesin.. PR dikerjain, baru boleh main kalo semua sudah rapi”. Betul kan dugaanku, ucapku dalam hati.
“Iya, Ma,” jawabku sambil menarik seprai yang berantakan. Kurapikan bantal-bantal, kukembalikan buku fisika yang ada di atas ranjang ke meja belajarku.
“Sudah sholat belum?” tanya Mama sambil menatapku penuh selidik. Oooppss.. aku lupa.. Belum sholat ashar. Melihat perubahan wajahku, Mama sudah dapat menduga kalau aku belum sholat. Kulihat mulut Mama sudah terbuka, sebelum keluar rentetan omelan dari mulutnya, aku segera berlari ke kamar mandi. Kutinggalkan Mama yang mulai mengomel dengan omelan itu-itulah.. haddeww.. jujur, bosan aku mendengarnya.. seandainya bukan Mamaku, pasti sudah kuteriakkan untuk stop, tapi mana aku berani.. karena dia mamaku..

Aku tahu, Mama sangat menyayangiku. Saking sayangnya, Mama berkesan sangat mengatur. Waktu aku kecil, iya sih, no problem. Tapi sekarang aku kan sudah gede, sudah SMA, masa masih harus diatur. Harus begini.. harus begitu.. tidak boleh ini.. tidak boleh itu.. dan sebagainya. Kadang aku ingin seperti teman-teman yang lain, yang bisa jalan-jalan kalau pulang sekolah. Nonton, hangout atau sekedar mejeng di mall. Atau pergi sekolah sendiri tanpa perlu diantar. Aku kan bisa mengendarai motor, banyak teman-temanku yang mengendarai motor ke sekolah dan orangtua mereka mengizinkan meskipun sekolah melarang. Bahkan Bagus, anak SMP yang tinggal di sebelah rumahku, sudah diizinkan orangtuanya mengendarai motor sejak dia SD. Aku iri, aku juga ingin seperti itu. Rasanya mungkin bebas dan bahagia.. mungkin, karena aku tidak pernah merasakan itu.

Aku anak tunggal. Dan mama adalah ibu rumah tangga. Kerja mama ya itu, cuma mengurusi aku dan papa. Berhubung papa lebih banyak di luar kota, praktis mama hanya mengurusiku. Mulai dari menyiapkan sarapan, mengecek buku-buku pelajaran, menyiapkan pakaian seragam, dan mengantar aku sekolah, itu yang dilakukan mama setiap pagi. Nanti kalau pulang sekolah, mama akan menjemputku. Mama tidak hobi masak, makanya mama jarang masak. Biasanya setelah menjemputku, kami akan pergi makan di luar. Dalam seminggu bisa empat sampai lima kali, kami makan di luar. Biasanya mama akan menanyakan kegiatanku di sekolah. Tentang pelajaran yang kuikuti, tentang teman-teman, tentang guru-guru, semua deh.. Waktu aku masih kecil, aku suka bila mama menanyakan itu dan aku akan bercerita dengan semangat tentang kegiatanku di sekolah. Tapi sekarang, aku merasa mama kepo deh.. Tapi ya, untuk menyenangkan mama, aku tetap bercerita tapi seperlunya saja. Aku tidak tahu, apakah mama bisa merasakan perubahanku. Yang aku tahu, mama tetap seperti dulu, sayang tapi mengatur.

Setelah makan, kami baru pulang. Biasanya kami sampai di rumah sudah hampir maghrib. Setelah mandi dan shalat maghrib, aku akan siap-siap belajar dan mama akan duduk menemaniku belajar. Kalau aku terlihat lelah, mama akan membuatkanku segelas susu coklat hangat. Lalu mama akan mengelus rambutku, mencium keningku, dan berkata, “Belajarlah yang pintar, biar nanti jadi orang hebat!”. Waktu aku kecil, aku suka diperlakukan seperti itu. Aku akan menarik leher mama dan mencium pipinya. Mama akan tersenyum. Tapi sekarang, setelah aku SMA, aku tidak suka diperlakukan seperti itu. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tidak suka dicium lagi. Tapi seperti biasa, mana berani aku protes, aku diam saja, tapi tidak lagi menarik leher mama dan mencium pipinya. Aku hanya diam saja!

Malam ini aku sebenarnya ingin mengerjakan tugas bahasa inggris membuat lagu. Tapi aku tidak punya ide lagu apa yang ingin kutulis. Melihat aku yang hanya bengong, mama bertanya. Dengan enggan kukatakan kalau aku ada tugas menulis lagu dalam bahasa inggris. Dan tugas itu harus dikumpul empat hari lagi.
“Ntar mama bikinin,” jawab mama.
“Emang mama bisa?!” tanyaku tak percaya. Bukan apa-apa, aku saja yang bisa memainkan 2 alat musik tidak punya ide, apalagi mama yang cuma ibu rumah tangga biasa.
“Bisa, tapi cuma syairnya. Ntar Jo cari notnya ya”.
“Sip..”. Mama tersenyum mendengar ucapanku.

Pulang sekolah, seperti biasa mama menjemputku. Tapi tidak biasanya, kali ini mama mengajakku ke rumah sakit. Bagus, tetanggaku, mengalami kecelakaan. Dia bertabrakan “adu kambing” dengan sedan yang melaju dari arah depannya. Cerita mama, Bagus berusaha mendahului mobil yang ada di depannya. Dia memotong dari arah kanan, tapi dari arah berlawanan ada mobil sedan yang juga sedang memotong truk yang ada di depannya. Bagus tidak dapat menghindar, sehingga kecelakaan itu terjadi. Bagus luka parah, karena Bagus tidak memakai helm.

Kami tiba di rumah sakit dan segera menuju ke UGD. Tapi semuanya sudah terlambat. Bagus sudah “pergi”. Aku melihat mamanya yang menangis dalam pelukan mamaku. Aku ingin masuk ke dalam dan melihat Bagus, tapi aku tidak berani. Selain itu, kami memang dilarang masuk karena Bagus sedang “dibersihkan”. Aku melihat kesedihan di wajah keluarga Bagus. Mama Bagus yang tadi menangis dalam pelukan mamaku, sekarang malah sudah pingsan dan digotong ke ruang UGD. Aku melihat papa Bagus yang diam-diam menghapus air matanya dan berusaha untuk tegar. Nabila, adik Bagus yang baru datang kudengar berteriak histeris memanggil nama kakaknya. Aku hanya diam melihat itu semua. Tak dapat aku bayangkan, apa yang akan mama rasakan bila itu terjadi padaku. Mungkin mama bisa mati. Perutku yang tadi terasa lapar, tiba-tiba terasa penuh. Nafsu makanku menguap. Seseorang menepuk punggungku. Aku menoleh. Mama sudah berdiri di belakangku.
“Ayo kita pulang, Jo. Kita harus menyiapkan rumah dan mengabari tetangga-tetangga yang lain,” ajak mama padaku. Kuikuti langkah mama tanpa bicara. Aku bingung.
“O iya, kamu belum makan ya. Tapi hari ini mama masak. Kita makan di rumah saja ya”. Aku hanya mengangguk. Rasanya aku masih tidak percaya dengan kejadian yang barusan terjadi. Masih kuingat senyum mengejek Bagus pagi ini sewaktu mau berangkat sekolah tadi. Dia biasa melakukan itu terhadapku. Dia merasa hebat karena sudah boleh mengendarai motor kemana-mana, sedangkan aku masih diantar mamaku.
“Itulah Jo, mengapa mama melarangmu mengendarai motor sendiri. Mama takut hal seperti ini terjadi. Bukan apa-apa, kalian itu masih muda, masih labil emosinya. Berkendara itu membutuhkan tanggung jawab yang besar. Resikonya menabrak atau ditabrak, gak ada yang enak,” suara mama membuyarkan lamunanku.
“Mama tahu, Bagus sering menggodamu. Sekarang dia sudah “pergi”. Maafkan ya, kesalahannya, kekhilafannya”. Aku mengangguk. Kulihat mama menyunggingkan senyum di bibirnya.

Sampai di rumah, mama segera menyiapkan makan untukku. Tumben, hari ini mama masak sop bola-bola bakso kesukaanku. Rasa lapar yang sempat hilang, sekarang timbul kembali. Setelah mencuci tangan, aku segera duduk di meja makan.
“Jo, mama mau ke rumah Bagus ya. Itu syair lagunya sudah mama bikin. Mama taruh di atas meja belajarmu. Nanti kalo tahlilan, kamu kesana ya”.
Aku mengangguk. Mama segera pergi ke rumah Bagus. Kunikmati makanku sendirian tanpa mama. Rasanya ada yang kurang. Sepi.. biasanya ada mama di sebelahku. Mama yang kepo, yang selalu bertanya tentang hariku di sekolah. Tiba-tiba aku ingin bercerita tentang ulangan fisikaku yang dapat nilai 90, aku juga ingin bercerita tentang murid baru yang sudah seminggu pindah ke kelasku. Murid baru yang bernama Santi. Tapi mama gak ada, mama sedang di rumah Bagus.

Selesai makan, segera kurapikan piring dan gelas yang kotor. Kubersihkan meja makan. Aku lalu beranjak ke kamarku. Kucari syair lagu yang dibuatkan mama untuk tugas bahasa inggrisku. Kubaca syair itu dan tanpa sadar, aku menangis. Syair itu bercerita tentang perasaan mama, juga berisi pesan mama untukku. Aku sadar, harusnya aku bangga dan bahagia mempunyai mama seperti mamaku. Mama yang selalu ada untukku. Mama yang suka ngomel tapi itu semua karena dia sayang padaku. Semua untuk kebaikanku. Mama yang kepo, karena mama mulai merasa “sepi”. Mama yang hebat karena dia selalu mampu mengatasi masalahku.

Kuletakkan kembali kertas syair lagu tersebut di atas meja. Dalam hati aku berjanji, mulai sekarang aku tidak ingin lagi mengecewakan mama. Aku akan membahagiakan mama selama aku bisa. Menemani mama selama aku mampu sampai nanti tiba saatnya aku harus “pergi” meninggalkan mama karena aku harus kuliah atau kerja di kota lain atau menikah. Bila itu terjadi, mama berpesan, ingatlah saat-saat kita bersama.
Lalu akan tiba saat dimana mama yang harus “pergi”. Mama berpesan, tolong doakan mama dalam shalatku..

Then I relize time is a traitor..
Now you grown up and getting older..
Wanna see your own world, leaving me alone in my loneliness..

If oneday you have to leave me..
Remember the time we spend together
If oneday I have to leave you..
Please whisper my name in your pray..

Cerpen Karangan: Elly Yuliati

Cerpen Pesan Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aki Aki Keladi

Oleh:
“Ki, ambilin rapot Rino dong…” pinta Rino yang melihat Akinya tengah duduk bersantai diteras rumah “Ogah ah!” jawab Aki malas Tiba-tiba Bang Tarjo tetangga Rino melewati depan rumahnya. “Baaang!!”

Satu Opini Untuk Tuhan

Oleh:
Semilir angin menerpa wajahku membuat berantakan tiap helai rambutku, terus-menerus aku gerakkan pena kesayanganku mengisi tiap-tiap lembar kosong dengan imajinasiku. Aku Cindy anak dari seorang petani di desa seberang,

Gurindam Dadooah

Oleh:
“Kau seperti benalu di keluarga ini, jika bukan karena jasa Ayahmu. Aku pasti telah mengusirmu jauh-jauh hari.” Lidah kalut Wanita menyebalkan itu benar-benar menyayat batinku. Siapa ia hendak mengusirku

Dilema Kehidupanku

Oleh:
Debi seorang sekertaris sebuah perusahaan konsultan pendidikan milik keluarganya dan berlokasi di Sumedang. Dia sesosok perempuan yang pendiam, sederhana dan selalu mengalah. Sedang aril adalah suaminya yang dulunya direktur

Ratapan hati

Oleh:
Dari sudut kamar, tampak sunyi. Tak terdengar bisikan udara. Hanya tampak wajah yang menyimpan sejuta kesedihan. Mulutnya diam. Namun hatinya selalu bergerak bertanya. “Mengapa aku sekarang bersedih?” ia tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *