Pesan Pena

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 November 2017

Hujan turun dengan derasnya, sehingga untuk bicara pun kadang tidak didengar dengan lawan bicara. Kesal rasanya siang itu, teman-teman pada usil, cowok yang disuka juga jadian sama orang lainn.. Kasihannya diriku…

Namaku airin saputri, panggilanku ririn. Aku adalah anak kedua dari 2 bersaudara, ayahku telah tiada semenjak aku berumur 5 tahun karena serangan jantung. Kakakku perempuan, hem tapi tak seperti perempuan, ia selalu pulang malam, gonta ganti cowok, dan berpakaian sangat minim. Aku ingin sekali mengomentarinya tapi percuma saja dia tak akan mendengarnya…

Hari ini aku pulang lebih awal karena kebetulan ada ulangan dan guru pun akan rapat untuk kelulusan kakak kelas. Seperti biasa aku selalu membantu ibu untuk berjualan bakso di pinggir jalan, ya itu kewajibanku sebagai seorang anak.

Saat aku tiba di kios bakso aku langsung menyapa ibu.
“assalamualaikum bu, laris jualannya hati ini?”
“alhamdulillah nak, ini berkat doamu juga, semoga allah selalu memberi rezeki untuk kita”
“aminn” ucapku sambil memeluk ibu.

Setelah dagangan bakso habis, aku dan ibu bergegas pulang. Sesampainya di rumah azan magrib langsung berkumandang. Aku dan ibu langsung mandi dan salat berjamaah di masjid.

Saat di jalan pulabg dari masjid. Ibu bertanya kaku padaku
“rin, itu kakakmu buuu…kan”
Langsung ku belokkan kepalaku dan melihat seorang wanita yang sedang bersama laki-laki yang tak kukenal.
“iya bu”.

Aku langsung menghampiri wanita itu dan kutampar wajahnya.
“kakak, 18 tahun ibu mengajarkan kebaikan kepada seorang wanita yang berdiri di depanku ini, apakah itu balasannya untuk seorang ibu yang sudah dengan tulus membesarkannya” aku menarik nafas dan melanjutkan perkataanku.
“tolong kak, tolong jaga harga diri keluarga kita. Kau lihat” sambil menunjuk ibu “wanita yang berada di seberang jalan sana, ialah seorang yang telah kau buat sakit, mungkin sekarang ia hanya terdiam kaku, tapi hatinya menangis.”
Aku langsung pergi bersama ibu tanpa mengizinkannya untuk berkata sepatah kata pun.

Sampai di rumah, aku tetap memikirkan hal yang terjadi sore tadi. Nafasku sesak dan kuobati dengan obat yang diberikan bu dokter kemarin. Masih terdengar olehku ibu menangis di kamarnya, dalam hatinya mungkin ia berkata “aku tak sukses membesarkan kedua anakku”.

Tak berapa lama suara tangisan ibu reda dan aku berniat untuk melihat ibu, sekarang di depan mataku telah tergolek lemas seorang wanita tua yang telah berjasa di hidupku tanpa sehembus nafas pun. Aku berteriak histeris memanggil manggil ibuku tapi apalah daya kini ia telah tiada.

Setelah sudah 5 hari kepergian ibu kakak tak pulang juga, aku pun berhenti sekolah dan lebih memilih melanjutkan usaha ibu berjualan bakso.

Berpikir semalaman otakku, akhirnya aku lebih memilih untuk pergi dari kota ini dan meninggalkan kenangan buruk.

Pagi pagi kucari resep rahasia bakso ibu, kususun pakaianku di tas yang biasa kupakai sekolah, surat tanah dan rumah, dan beberapa barang berharga dari ibu yang membawa banyak kenangan. Sebelum aku pergi kutulis sebuah surat menggunakan pena dari ibu

Untuk kakak
“kak, ibu dan ayah telah pergi meninggalkan kita, mereka telah bahagia di sana. Tapi saat kepergian ibu kakak tidak pulang untuk melihat jasad ibu yang terakhir kalinya, apakah tak ada rasa penyesalan dalam diri kakak. Kuharap kakak dapat berubah menjadi orang yang dapat membanggakan ibu dan ayah walau mereka tak ada di sini. Maaf aku pun akan pergi jauh dari kehidupan kakak untuk melanjutkan sekolah di daerah lain. Mungkin aku akan kembali tapi aku tak akan menemui kakak, tapi hanya untuk melihat makam ayah dan ibu dan sekedar melihat rumah dan tanah dari kejauhan. Aku harap kau berubah…”

Cerpen Karangan: Dzanela Ema Khumaira
Tinggalkan komentar untuk teman teman yang membaca, terutama untuk ngah ku.
Dzanela ema khumaira, liwa lampung barat.

Cerpen Pesan Pena merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tinta Hitam

Oleh:
“Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah, salah satu rekan kita, Bapak Abdullah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.” Pengumuman itu disampaikan tepat sebelum jam

Marie

Oleh:
Pria itu memandangku tanpa berkedip. Wajahnya yang tirus terlihat pucat dan sedikit tidak berdaya. Tangannya yang keras dengan jari-jarinya yang panjang dan kurus memegang serangkaian bunga yang masih segar.

Menyayangi Bukan Dari Penyesalan

Oleh:
“Dek, tolong yang sebelah kiri ditarik lagi. Itu masih miring!” suara perempuan bernada tegas dan agak aneh karena pilek terdengar di depan kampus pagi ini. Aku yang baru saja

Pertemuan Kami

Oleh:
Hai, aku Sindy. Sebenarnya aku anak ke dua dari tiga bersaudara. Tapi, kakak, aku dan adikku terpisah sejak kecil. Namun, sekarang kami sudah bersama kembali seperti dulu.. 21 Maret

Salju Merah

Oleh:
Aku mengintip mereka dari balik jendela tua kamarku. Di bawah hujan salju mereka berbincang. Tampak raut ketegangan di wajah keriput mereka. Pak Ward tampak bersikeras dengan pendapatnya dan Papa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *