Pesan Tak Berjudul

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 April 2018

Malam ini bintang terlihat indah, mereka begitu berkilauan. Rasanya sayang untuk dilewatkan ditambah ayah sedang di rumah malam ini.
“Anak ayah ini, kenapa seneng banget sama bintang sih?” Tanya ayah
“Ayah, kata orang. Kalau orang yang kita sayang telah tiada. Dia akan menjadi bintang. Mungkin itu nenek, yang itu kakek”. Sambil menunjuk salah satu bintang. Ayah tersenyum kemudian memeluknya.
“Sayang, kita beli roti kesukaanmu yuk” ajak ayah.
“Ayo, aku udah lama nih gak dibeliin roti sama ayah.” Jawabnya dengan manja.

Warungnya tidak terlalu jauh, jadi mereka hanya berjalan kaki. Ayah mengagandeng Sintia yang mulai beranjak remaja.
“Sayang, kamu harus nurut yah sama ibu. Jagain ibu, jangan bandel. Buat ibu selalu bangga sama seperti ayah karena punya anak sepertimu” ujar ayah.
“Siap komandan. Tugas akan dilaksanakan” dengan tegas.
“Hahaha … kamu ini” ayah gemas.

“Sin, ayo bangun. Ini sudah subuh nak” Ayah, dengan suara lirih sambil mengetok pintu kamarnya.
“Iya pak, aku sudah bangun”
“Ya sudah, cepat shalat kemudian bantu ibumu ya nak” lanjut ayah.

Ayah Sintia adalah seorang sopir mobil pribadi. Kadang ia berangkat sebelum subuh, dan pulang larut. Tapi, setiap ada kesempatan ia selalu pergunakan dengan baik untuk keluarganya.

Setelah selesai membantu ibunya ia bergegas mandi dan bersiap untuk sekolah. Hari ini adalah hari pertama semester dua di kelas duanya SMP.
“Bu, aku mau berangkat sekolah dulu”
“Iya nak, ini uang jajanmu”
“Assalamu’alaikum” sambil mencium tangan. Ia melirik ke celah pintu kamar ibunya. Ia menatap wajah sang ayah yang sedang tertidur karena kelelahan. Namun, kali ini terlihat berbeda nampak sinar di wajahnya memancar. Ia tertegun sebentar memandang tubuh terkujur sang ayah.
“Nak, ayo cepet berangkat. Nanti kamu kesiangan loh”. Ibu mengagetkan lamunan nya.
“Eh iya bu, aku berangkat” tersenyum kemudian pergi.

Langkahnya, terasa berbeda. Meski ia melewati jalan yang tampak ramai dengan hiruk pikuk orang-orang berlalu lalang. Tetap saja yang ia rasakan hanya sepi.
“Ada apa dengan hari ini?”

“Bu, baju ayah yang warna merah di mana sih bu?”
“Yang mana sih yah?”
“Kemeja yang garis-garis itu bu”
“Oh, itu ibu belum setrika yah”
“Ya sudah, tolong ambilkan ya bu”
“Kenapa gak yang lain saja sih yah?”
ayah hanya tersenyum menanggapi permintaan ibu.
Ayah berangkat memakai kemeja yang ia pinta, dan ibu mengantarnya sampai tak nampak lagi punggung ayah di matanya.

“Eh, Sin. Kamu liburan ke mana aja?” Tanya Kania.
“Iya Sin. Aku juga penasaran nih”. Lanjut Jasmin.
“Gak jauh kok, cuma ke Paris” Sintia menjawab sambil tersenyum.
“Ngapain aja tuh?”
“Cuma beli terasi terus balik lagi”
Seketika suasana jadi ramai.

Selain baik dan pintar Sintia memang dikenal sebagai siswi yang senang bercanda. Ia selalu terlihat ceria. Maka tak heran ia begitu disukai banyak teman. Dan dia memang gemar membuat temannya tertawa. Namun, tetap saja hatinya merasa ada yang berbeda hari ini.

Karena hari ini, pembelejaran belum aktif ia memilih pulang daripada main kesana kemari.
“Assalamu’alaikum bu, Sintia pulang”
Tidak ada yang menjawab, rumahnya kosong. Lagi-lagi perasaan itu menghampirinya. Ia melihat sekeliling rumahnya yang begitu rapi, seperti hendak diadakan acara.

“Nak, kamu sudah pulang ternyata. Bantu ibu ya, bereskan cucian piring. Ibu baru selesai nyuci baju, sekarang ibu mau istirahat sebentar”
“Iya bu, aku ke dapur sekarang”

Belum selesai Sintia mencuci piring, tiba-tiba ibu bergegas pergi setelah terdengar suara mobil.
“Bu, ibu mau ke mana?”
“Anu nak, ayah masuk rumah sakit kata Pak Haji. Ibu pergi dulu ya nak” jelas sekali terlihat raut kesedihan dan rasa hawatir di wajah sang ibu.

Sintia melanjutkan segera menyelesaikan pekerjaannya. Dan hendak keluar menemui saudarinya. Baru tiba di depan pintu, Pak Sani menanyakan kabar tentang ayahnya kepada uwa Sintia yang waktu itu berada di depan rumah. (Rumah bersebelahan)
“Bu Vina, Pak Sam beneran meninggal?”
“Saya bahkan tidak tahu Pak Sani. Sintia, memangnya ibumu tadi mau ke mana?”
“Apaan sih, siapa yang bilang Ayah meninggal, ibu tadi ke rumah sakit karena ayah sakit bukan meninggal. Pak Sani tuh ngawur. Pak Haji sendiri kok yang bilang.”
“Ih, saya gak ngawur kok. Semua orang juga udah tahu”

Sintia masuk ke rumah, ditemani Nela sepupunya. Ia marah, karena menurutnya Pak Sani telah menyebarkan berita tidak benar.
“Sudah, kamu jangan sedih yah. Itu pasti gak bener. Itu pasti berita bohong. Kamu tenang ya, biar aku yang keluar untuk memastikan beritanya”
Sintia hanya mengangguk dan menahan rasa amarah bercampur sedih.

Tak lama kemudian, Nela masuk dengan berderai air mata. Tak butuh lagi kata, untuk mengungkap artinya. Bahwa nerita itu benar adanya.
“Ayah” tangisnya pecah tak mampu lagi ia bendung. Ambulan pun datang terparkir di halaman rumahnya.

Cerpen Karangan: Septianingsih
Facebook: Septi Cche Remucida
Aku adalah si penikmat sendu, pencerca sebuah harapan.

Cerpen Pesan Tak Berjudul merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liliput (Part 1)

Oleh:
Kata siapa MOS harus dijadiin sesuatu yang scary? Biasa aja tuh! Asal bisa jaga sikap dan nggak sok di depan kakak kelas, kita bakalan aman. But, sayangnya kebanyakan orang

Fly High (Part 1)

Oleh:
Bagi sebagian orang, sekolah bukan tempat yang menyenangkan. Begitu pula saat mereka mempunyai pengalaman yang pahit misalnya dibully. Mereka enggak akan menginjakkan kaki di sana. Ingin lari sekencang-kencangnya. Terbang

Je T’aime (Part 1)

Oleh:
“Dek, kakak hari ini gak bisa jemput kamu. Tapi kakak udah minta tolong kok sama temen kakak untuk jemput kamu. Kamu tunggu aja ya” Chika menghela nafas mengingat ucapan

Berubah 180 derajat

Oleh:
Gemmy namanya, remaja berusia 15 tahun ini kini bersekolah di SMP Nusa Persada yang merupakan salah satu SMP favorit di kota ini. Dulu dia adalah siswa yang berprestasi dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *