Pesan Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 12 August 2016

Di hari tanpa curahan sang surya, gigi ini bergetar, menimbulkan nada bak jam dinding berdetak. Di malam kelam ini udara dingin menyapa, menusuk tulang berbungkus kulit ini. Sendiri di dalam keheningan, jauh dari kebisingan kota raya. Di bawah pohon besar nan rindang ini ku menunggu sembari melepas segala kepenatan yang ada. Dering berisik mulai kudengar ku ambil sakuku dalam-dalam, berusaha mendiamkannya dan menikmati kesunyian ini. Berulang kali benda ini berbunyi, walau telah kuabaikan benda ini tetap mengganggu. Ya, memang saat malam-malam ini ibu satu-satunya sang penelepon. Dia pun tak lupa mengirim pesan elektonik singkat padaku. Tak kubaca satu pun darinya. Karena kutahu hanya celotehan dan omomng kosongnya yang akan ia lontarkan kepadaku. Memang sejak awal ibu tak menaruh sedikitpun hatinya terhadap karirku ini, berlekak-lekok di atas panggung dengan sorotan cahaya mengikutiku dan sejuta pasang lensa mengambil setiap langkahku. Apa salahnya? Hal itu yang selalu membayang-bayang di benakku. Ketidak setujuaanya itu membuatku semakin jauh darinya.

Air dari langit pun melunturkan lamunku. Ku langkahkan kakiku untuk menghindari air yang terus mengejar. Makin lama makin ku jauhkan langkahku. Langkah ini berhenti sejenak. Kutundukan kepala sembari mengumpulkan segala tenaga yang tersisa. Aku pun tergeletak di bahu jalan dengan napas terengah-engah dan kepala tertunduk. Air tersebut kini telah menyelimuti seluruh tubuh ini. Tersodor sebuah payung yang menghalau segala air yang menyerangku. Tampak sesosok dengan jubah hitam dan sepotong kain yang menutupi kepala dan sebagian dari wajahnya. Dengan tulus dia mengangkat tubuhku dan menuntunku melangkah ke kediamannya.

Dia membungkusku dengan sepotong handuk hangat. Dan menyajikan kue-kue kecil juga teh hangat untuk mengembalikan tenagaku hari ini. Kulihat sesosok wanita tua di sampingnya dengan tatapan kosong dan mimik tak jelas menghiasi mulutnya.
“Siapa dia?” tanyaku sambil melirik kesampingnya.
Dia membuka kain yang menutupi wajahnya, sambil tersenyum lebar.
“Dia ibuku orang yang tersayang sepanjang hidupku!” serunya sembari memeluk wanita tua itu.
“Apa dia buta?” sambungku dengan nada penasaran.
“Iya… dia juga sedikit gagu dan lumpuh permanen.”
Mendengar jawabanya ku terdiam membeku, tampak suatu hal yang tak bisa menyentuh logika ku. “Bagaimana mungkin orang cantik yang bersembunyi di balik kain ini mempunyai ibu seperti ini?” hatiku terus bernego tanpa henti.
“ke..kenapa?” tanyaku dengan keraguan dan terbata-bata.
“Karena dia ibuku, aku akan menjadi pengelihatnya saat dia tak bisa melihat, aku akan menjadi pembicaranya saat dia tak bisa bicara, aku akan menjadi perabanya saat dia tak bisa meraba, aku juga akan menjadi geraknya saat dia tak bisa bergerak. Tapi semua yang kulakukan tak akan pernah bisa membalas semua hal yang telah ia lakukan kepadaku, dulu ia merawatku saat aku berenang dalam rahimnya. Dan tiap hari mulutnya tak henti mengalunkan harapan kesuksesanku.” Terang perempuan berjubah itu dengan iringan air mata.

Kata-kata perempuan itu kini menghiasi pikiranku. Keesokannya kuputuskan untuk kembali ke rumah, dengan harapan melihat senyuman dan pengampunan ibu. Di sepanjang langkah kubaca tiap pesan singkat ibu, tertulis “ibu sayang kamu”. Dari sepuluh pesan, hanya tulisan itu yang menghiasi. Tak terbayang bagaimana rindunya ibu kepadaku. Kuambil seribu langkah untuk menuju rumah. Rasa rindu yang terus membuat langkahku semakin cepat.

Kerinduan itu sirna saat ku berada tepat di depan rumah. Betapa tercenangnya hati ini melihat selembar bendera kuning menghiasi rumah kami. Seketika itu pula desak tangis hati ini keluar, deras semakin deras. Kurasa pilu hati, menusuk dan menggores hati dengan kasarnya. Kini kulihat ibu dengan kain mori membungkusnya. Ku terdiam dan hanya mengingat semua yang pernah kami lakukan bersama. “Ibu izinkan aku menciummu dan berilah aku senyumanmu!” Seruku dalam hati dengan derasnya air mata penyesalan.

Cerpen Karangan: Nana
Facebook: Alfina Ayu

Cerpen Pesan Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Love Sunshine

Oleh:
Di bawah terik sinar matahari yang sangat menyengatkan siang itu, terlihat seorang laki-laki sedang berdiri dekat tiang bendera sembari memberikan hormat kepada sang bendera merah putih, yang membuatnya cukup

Ibu Pahlawan Yang Tak Tergantikan

Oleh:
Berbicara mengenai sosok seorang Ibu memang tak akan pernah ada habisnya. Kepeduliannya, perhatiannya, kasih sayangnya yang juga tiada habisnya diberikan kepada anak-anaknya. Begitu mulianya seorang Ibu, ia tidak pernah

Perjaka Berponi

Oleh:
Bumi terus berputar, matahari tetap diizinkan-Nya bersinar, rembulan dan bintang-bintang menggantikan peran untuk menerangi langit di waktu malam. Dan menghitung jumlah bintang adalah kebiasaan Usuf, si perjaka berponi. Usuf

Ina dan Aini

Oleh:
Namanya Nuraina Maharany. Panggil saja dia Ina. Ia mempunyai adik yang bernama Nuraini Ahmadiyah. Panggil adiknya dengan Aini. Sifat mereka sangat bertolak belakang. Ina mempunyai budi pekerti yang kurang

Derita Andi Si Pengamen Cilik

Oleh:
“Bintang kecil di langit yang biru…” nyanyian Andi yang serak karena kerongkongannya belum dilewati air sejak pagi. Dari jendela-jendela mobil, Andi mengais rezeki hanya untuk membeli sebungkus nasi. Dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *