Pesawat Kertas Putri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 September 2014

“Putri! Ibu gak mau dengar kamu buat ulah lagi di sekolah! Dasar kamu anak nakal! Sekarang kamu masuk kamar dan gak boleh ke luar rumah!”
Setelah suara seseorang yang marah-marah itu berhenti, ternyata bukan kesunyian lanjutannya, tetapi bunyi bantingan pintu. Brakkk

Putri ialah siswi Sekolah Dasar, ia duduk di bangku kelas III. Wajahnya cantik, rambutnya panjang, senyumnya sangat renyah bila dipandang. Sehari-harinya di sekolah ia merupakan anak yang paling riang di antara siswa/i lainnya. Akan tetapi Putri memiliki sifat yang sulit diterima orang lain. Egois. Semua harus sesuai dengan kehendaknya, jika Ia ingin itu saat itu juga Ia harus memilikinya. Inilah yang membuat Ibu Putri lepas kesabaran menghadapi anaknya tersebut. Karena sudah dua orang wali murid yang komplain mengenai Putri di sekolah. Mereka bilang Putri berkelahi dengan anaknya hingga anaknya menangis dan enggan untuk bersekolah lagi. Akhirnya hari itu Ibu Putri memarahi anaknya tersebut dan dihukum tidak boleh bermain ke luar rumah. Suara keras pun sempat keluar dari lisannya. Ibu Putri lelah dan bingung, apa yang harus Ia lakukan agar anaknya tersebut berubah menjadi anak yang baik.

“Andai kalian masih ada bersamaku di sini. Kita bisa menjaga Putri dengan baik” Batin Ibu Putri
“Bi, tolong jaga Putri ya. Nanti jangan lupa ajak makan Putri, dari selepas pulang sekolah Ia belum makan. Saya tinggal sebentar ya, Bi” Pesan Ibu Putri pada Bibi sambil berkemas.
“Iya, Bu. Insya Allah nanti saya tenangin Neng Putri sambil ajak dia makan. Memangnya Ibu mau kemana ya kalau boleh tau?” Kata Bi Ziah.
“Mau ada urusan di kantor, Bi. Cuma sebentar kok, paling saya pulang jam sembilan malam” Jawab Ibu Putri sambil menyambar kunci mobil dan tasnya. Lalu pergi meniggalkan Bi Ziah.
“Sebentar? Ya ampun, padahal ini baru jam dua siang. Jam dua siang ke jam sembilan kan tujuh jam. Memang sebentar ya hitungannya? Kasian Putri.” Kata Bi Ziah lirih.

“Kak Ria kemana sih? Putri kan kesepian, Putri pengen main lagi sama kakak. Nanti kita ke taman kota naik sepeda. Sekarang Ibu berisik kak, suka marah-marah. Putri gak suka. Kakak pulang yaa” celoteh Putri sambil menuliskan apa yang Ia ucapkan di sebuah kertas.
“Ayah, Ayah kemana sih? Kok gak pulang-pulang? Putri kangen Ayah. Ayah pulang yaa” Putri masih menulisnya di kertas.

Setelah selesai menulis Putri langsung melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat. Ia langsung masukan ke dalam tas.
“Dek Putri, ayo maem dulu. Ni Bibi mau maem, kita maem bareng yuk.” Ajak Bi Ziah dari arah dapur.
“Ayo Bi, Putri udah laper nih” Kata Putri
Putri sangat nurut pada Bibi, berbeda ketika dengan Ibunya. Dulu, Putri tidak seperti itu. Semenjak Kak Ria tidak di rumah lagi dan Ayah pun pergi entah ke mana, Putri yang menjadi korbannya. Korban kesendirian. Untung ada Bi Ziah yang selalu menemani.
“Bi, sudah jam sembilan malam. Putri mau langsung tidur, sepertinya nasi di perut Putri sudah turun” kata Putri
“Oke deh, Dek Put. Eh ya gak nunggu Ibu dulu? Sebentar lagi pulang lho” Kata Bibi
“Enggak ah Bi, Putri dah ngantuk” Ucap Putri sambil bermuka malas.

Esok harinya, Putri berangkat sekolah seperti biasa. Tetapi kali ini Putri minta diantar tukang ojek dekat perempatan rumahnya. Ia tidak mau diantar dengan mobil oleh Ibunya. Seperti biasa, Ibunya marah-marah bukan main. Padahal jika dipikir dengan pikiran yang bersih tidak harus dengan marah-marah bisa.

Di sekolah Putri bersemangat sekali mengikuti pelajaran, Ia berpikir ketika belajar dibawa senang pasti tidak terasa akan berakhir. Putri sangat menunggu berakhirnya waktu pelajaran. Ada hal yang harus Ia lakukan dan itu sudah ia siapkan dari hari kemarin.

12.00 WIB.
Jam pelajaran berakhir. Putri langsung berlari dari kelas. Ternyata di luar gerbang sekolah sudah ada yang menunggu Putri.
“Ayo Pak anterin Aku ya ke tempat yang tadi pagi Aku bilang” Minta Putri pada seseorang.
Ternyata orang itu ialah tukang ojek yang mengantarnya tadi pagi ke sekolah. Putri meminta bapak tukang ojek itu ke suatu tempat.

“Stop Pak. Aku tinggal sebentar ya” Kata Putri
Putri berlari menaiki anak tangga. Tujuan Putri ialah naik ke sebuah menara. Memang, tidak jauh dari sekolahnya Putri terdapat Menara Pandang sebagai hiasan kota, biasanya juga dipakai untuk rekreasi. Orang-orang senang melihat pemandangan dari atas menara itu. Maka dari itu diberi nama Menara Pandang, karena bisa melihat pemandangan dari atas sana.

“Nah ini dia. Mudah-mudahan sampai ke Kak Ria dan Ayah. Aamiin” Kata Putri
Putri mengambil sebuah pesawat kecil dari kertas dari dalam tasnya. Putri berhitung dari satu sampai tiga dan yang ke tiga Ia melepaskannya dari atas menara itu. Dilihatnya awan-awan putih bergumpal seperti kapas, Putri senang dengan pemandangan tersebut. Sesaat ia ingat bahwa ia sedang ditunggu tukang ojek yang mengantarnya tadi. Putri langsung turun menemui tukang ojek tadi untuk pulang.

Di emperan toko tidak jauh dari Menara Pandang.
“Aduh, sepatuku kotor lagi kena saos pas tadi beli bakso. Nah, untung ada kertas.”
“Eh, kok aku kaya kenal ya lipatan kertasnya. Pesawat dengan rumbai di buntutnya. Putri?”
Seorang perempuan tersebut langsung membuka lipatan kertas bentuk pesawat tersebut. Setelah selesai ia langsung berlari.
“Permisiii… Permisiii… Putrii”
“Iya sebentar” Bi Ziah mencoba membukakan gerbang.
Setelah gerbang di buka, Bi Ziah terbengong melihat orang di depannya. Anak perempuan itu langsung masuk begitu saja.
“Put… Putri… kamu di mana sayang?”
Putri yang sedang di dalam kamar merasa ada yang memanggilnya. Ia pun keluar dan tampak terperanjat setelah melihat orang yang ada di depan kamarnya.
“Adekkku sayang…”
“Kakaaaakkk… Kakak Riaaaa” Putri langsung menghambur ke pelukan kakaknya.
Kak Ria pulang. Ups, pulang menetap tidak ya.
“Kak aku kangen kakak, kakak jangan pergi lagi ya kak” pinta Putri pada Kak Ria.

Setengah jam Putri dan kakaknya saling bercerita, setelah datangnya Bi Ziah dari gerbang.
Tiba-tiba bunyi pintu di buka. Ibu pulang..
“Oh.. ada tamu. Gak dibikinin minum Bi? Eh gak usah deh, anak durhaka gak usah di kasih minum” Ucap Ibu Putri
“Mah, aku ke sini cuma pengen jenguk Putri. Gak ada niatan buat berantem sama Mamah. Ria juga lagi gak mau ngomong kata-kata kasar, jadi tolong jangan mancing-mancing Ria” Jelas Ria.
“Hah? Siapa juga yang mau mancing kamu? Emang kamu ikan? ckckck” Kata Ibu dengan nada meledek
“Mah! Mamah kenapa sih sejak cerai sama Ayah mamah jadi kayak gini? Bukannya mamah sadar dan perbaiki diri mamah supaya kita bisa kumpul lagi, tapi mamah malah sering marah-marahin Putri di rumah! Putri gak salah mah! Mamah yang salah. Mamah yang durhaka sama Ayah. Mamah tukar titipan Almarhumah Nenek jadi mobil dan segala barang yang gak penting!” Ucap Ria berapi-api
“Tau apa kamu anak kecil? Kamu gak lebih dari seorang anak tiri!” Ucap Ibu
“Astaghfirullah.. Ya Mah! Aku memang hanya anak tirimu, tapi tolong, perlakukan Putri seperti anak-anak lainnya. Sayangi dia, jangan kau kasari terus!” Kata Ria
“Udahhhh!!! Berisiiikkk!!! Putri pusing denger kalian berantem” teriak Putri.
Bi Ziah yang sedari tadi memeluk Putri melepaskan Putri karena anak itu meronta. Putri langsung berlari ke luar rumah.
Siapa yang menyangka? Benda mati yang terdiri dari besi, alumunium, plastik, serta komponen-komponen kecilnya muncul dengan kecepatan tinggi dari arah kanan. Benda itu pun tampaknya salah ambil arah untuk menyalip, menyalip dari sebelah kiri.
Buuugggg
“Heee!!! Berhentiii!!! kejarrrrr mobil itu kejarrr!! “
“Putriiiii…” teriak Kak Ria berlari dari luar gerbang.
Lalu semuanya menyusul.
“Ria?” tegur seorang lelaki bertopi
“Ayah?” jawab Ria kaget
Orang-orang membantu mengangkat Putri ke mobil untuk dilarikan ke Rumah Sakit. Kak Ria, Ayah, dan Bi Ziah turut ikut di mobil itu. Ibu berniat mambawa mobilnya sendiri.

“Putri Yahhh… Ria menangis tersedu sambil menunjuk adiknya yang berlumur darah”
“Kok bisa seperti ini, Nak?” Tanya Ayah sambil menahan tangis.
“ceritanya panjang Yah, Ayah kenapa bisa di sini? Kemana Ayah selama ini?” Tanya Ria
“Maafkan Ayah Ria, Ayah pergi untuk mencari cara bagaimana mengambil kembali titipan Almarhumah Nenek supaya bisa kembali lagi pada Ayah. Karena Nenek bilang itu tidak boleh dijual. Maka dari itu, Ayah butuh waktu untuk sendiri. Alhamdulillah sekarang sudah beres. Maaf ya Nak kamu Ayah titipkan di tempat Bulik” Jelas Ayah
“Memangnya apa si Yah titipan Nenek itu? Dan untuk siapa memangnya?” Tanya Ria
“Titipan Nenek sekotak perhiasan asli dari Jerman, nantinya akan diberikan pada Kamu dan Putri, Nak. Ayah akan merasa berdosa jika amanat itu tidak tersampaikan” Kata Ayah
“Lalu siapa yang membawa Ayah untuk ke sini? Tanyanya sekali lagi
“Ini, Nak. Yang membuat Ayah bergegas ke sini”
Ayah mengambil sesuatu dari dalam kantung celananya. Lalu menunjukkan pesawat kertas dengan bentuk yang sama seperti yang dimiliki oleh Ria. Ayah tidak sengaja menemukannya di dekat tukang bakso dekat Menara Pandang. Beberapa langkah dari tempat Ria menemukan pesawat miliknya.

Mereka berdua berpelukan dan saling berdoa untuk Ibu. Semoga Ibu kembali seperti dulu lagi.

Cerpen Karangan: Mitha Yulia Sari
Facebook: Mitha Ye Es

Cerpen Pesawat Kertas Putri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakaratul Maut Sang Bunda

Oleh:
Bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah bagi umat muslim sepertiku. Kesuciannya, ketenangannya, membuatku gembira jika bulan itu menyapaku. Hari pertama puasa, aku tinggal di sebuah pondok pesantren, yaitu Al-Khodijah

Toko Roti

Oleh:
Pada suatu hari ada seorang anak yang mempunyai sebuah roti, anak itu sangat suka sama roti itu. Bahkan dia memakannya dengan perlahan karena tidak ingin roti itu cepat habis.

Jika Kembali Bersama

Oleh:
Entah kenapa bisa aku teringat ingat sesosok saudara yang mirip denganku. Namun aku tak ingat tak ingat seluk beluknya. Orangtuaku sudah berpisah, hanya aku yang tinggal bersama Ayah. Namaku

Saranghae Appa

Oleh:
“Ayahku bilang, Ada sesuatu yang lebih berharga dari pada harta, kebahagiaan dan segala-galanya. Dia bilang orang yang menyayangi kitalah yang paling berharga. Tapi, akankah aku sebagai anaknya menjadi yang

Tak Ada Gunanya

Oleh:
Alunan suara gitar terdengar di seluruh ruang yang aku duduki berdua -gitar. Papah masih belum pulang. Padahal mentari tinggal menunggu menit untuk mengatakan, “Sampai jumpa lagi esok hari.” sejenakku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pesawat Kertas Putri”

  1. Mitha YS says:

    ya Allah, aku baru liat ini kakak Admin…
    aku baru tau kalo cerpen aku di muat di cerpenmu.com
    #seneng bangetttt Alhamdulillah ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *