Petaka Tahun Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 October 2017

Malam pergantian tahun ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Sorak sorak kemenangan melampaui batas akhir hidup seorang penjual kerupuk di desa Jingga. Tak jauh dari kisahku, Maharani. Aku seorang penjual kerupuk yang biasa berjualan, ya bisa dibilang sih kayak pedagang asongan gitu. Sudah lama pekerjaan ini kugeluti, aku mencari pekerjaan sampingan yang tentunya tidak mengeluarkan banyak biaya, hanya sekedar kerupuk dan sebuah sepeda butut peninggalan kakekku. Tentunya aku tidak tinggal seorang diri ada Keli adik perempuanku dan ayahku yang sedang sakit. Ayahku memang dulu seorang pegawai swasta. Tapi karena keadaannya yang tidak memungkinkannya untuk bekerja lagi, aku mengambil alih tugas ayahku sebagai pencari nafkah.

Hari itu tiba yaitu hari di mana kesedihan yang mendalam muncul dari hatiku yang paling dalam. Apa itu? Adikku sakit. “Dia sakit… Ah tak usah kujelaskan panjang lebar, nanti lebih banyak lagi air mata yang keluar.” gerutuku dalam hati. Besar pasak daripada tiang, penghasilan kali ini drop atau menurun. Pelanggan kerupuk yang biasa membeli daganganku sekarang beralih ke warung yang baru buka itu ya nggak lama sih, masih 1 minggu. Persainganku dalam mencari nafkah tidak berhenti sampai di sini. Aku tidak boleh putus asa, toh rejeki nggak akan ke mana.

Ku terus kayuh sepeda lawas itu menyusuri kampung demi kampung. Syukurlah masih banyak yang membeli dibanding tempat yang biasa. Lima puluh, seratus, seratus lima puluh, dan… dua ratus ribu. Kuhitung penghasilanku hari ini yang sedikit lumayan, ya sekedarnya cukuplah untuk membawa adikku ke dokter. Hei jangan salah paham dulu, bukan maksudku tidak peduli akan kesehatan ayah. Tapi dokter telah menyarankan untuk memeriksa ayah satu bulan sekali. Ya, itu sudah kulakukan seminggu yang lalu.

Syukurlah adikku sudah sembuh, jadi aku tidak perlu lagi mencemaskannya dan aku bisa kembali lagi menjual kerupuk. Akhirnya aku memutuskan untuk menjual kerupuk di tempat yang sama, tempat di mana aku mendapat penghasilan tambahan.

Mentari mulai muncul tepat jam lima pagi, seperti biasanya aku bangun subuh untuk menyiapkan daganganku. Setelah selesai menyiapkan, aku segera menaiki sepedaku dan berkeliling di kampung sebelah. Di tengah perjalanan aku nampak seorang anak memakai kerudung dan mengulurkan tangannya ke semua orang yang melewatinya dengan sebuah gelas plastik untuk meminta sedekah, gampangnya adalah seorang pengemis. Rasa ibaku muncul dan aku bergegas turun dari sepeda dan berjalan menuju anak tetsebut.

“Dek apa adek tidak sekolah?” tanyaku kasihan.
“Adek udah makan belum?”
“Be.. belum kak” jawabnya merintih
“Maaf ya kakak nggak bisa ngasih uang. Tapi kakak cuma bisa ngasih kerupuk. Terima ya.” ujarku.
“Makasih banyak ya kak, tak ada orang sebaik kakak di dunia ini selain kakak” katanya sambil memujiku.
“Kakak pantas menerima balasan dari Tuhan.”
“Iya makasih dek atas doanya.”
Tanpa membalas kataku, sontak dia lari meninggalkanku. Aku pun kembali berjualan.

Matahari mulai menepi dan kembali ke ufuk barat. Aku lelah dan segera pulang. Tiba tiba di tengah perjalanan aku mendapati Keli, adikku yang tengah berlarian ke arahku dengan keadaan panik.

“Kak… kak… kakak harus segera pulang. Ayah kak… ayah…” sepenggal kata terakhir membuat penasaran di diriku.
“Ada apa dengan ayah Kel, katakan..”
“Sudahlah kak cepat pulang.”
“Ya sudah ayo kita pulang.”

Dengan laju, sepeda kukayuh dan Keli mengikutiku dari belakang dengan berlari. Sesampainya di pekarangan. Terkejutlah aku, ada bendera kuning berkibar di pagar rumahku. Aku berdiam diri seperti terpaku di tempat. Aku berpikir sejenak tentang ayah. Segera ku berlari melewati banyak orang yang mengunjungi rumdan berkatau dengan diliputi tangisan. Ku terjatuh ketika kain kafan telah menutup seluruh tubuh hingga kepala ayahku. “Ayahhhhh!!!!” ku menjerit ku memeluk jasad ayahku. Aku menangis sejadi jadinya. Aku terus menggoyang goyangkan tubuh kaku ayahku. “Jangan tinggalkan kami yah”. “Tidaaaaakkk!!!” Dan…

kring… kring… kring… Aku terbangun dari tidur pulasku, dan sekedar menghela nafas sejenak. Syukurlah ternyata hanya mimpi. Lalu ku beranjak dari kasur menuju kamar ayah. Kuketuk pintu kamar ayah. Tidak ada respon, ternyata kamar ayah kosong. “Ke mana ayah?” pikirku. Lalu aku ke kamar Keli dan sama tidak ada orang sama sekali. “Sebenarnya ke mana mereka.” Aku memutuskan ke luar rumah untuk mencari, tiba tiba seorang ibu datang menghampiriku dan berkata

“Cari siapa neng?” tanyanya.
“Oh bu kira kira ibu tau tidak ke mana ayah dan adik saya.”
“Lho kan adikmu dan ayahmu kan sudah meninggal dua bulan yang lalu.”
“Apaaaaa!!!”

Sontak aku pingsan di tempat dan hidupku kini sangat sunyi tanpa kehadiran keluarga di sampingku. Apa ini doa dari anak kecil itu?

Tamat

Cerpen Karangan: Nanda Dwi Irawan
Facebook: Nanda Dwi Irawan
Alamat: jalan mayangsari
Instagram: @nathannanda88

Cerpen Petaka Tahun Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Olivia Zahra

Oleh:
Hello guys gua Olivia Zahra anak semata wayang dari pasangan ayah Heru Wijayanto sama Bunda Almeera Sabhira Nazeefah. Bunda asli orang lubuk basung sama ayah dari kota padang kelahiran

Penyesalan

Oleh:
Banyak yang mengatakan bahwa Aulia adalah seorang perempuan yang berbeda dari yang lain. Hidup miskin bukan alasan untuk tak bisa bersekolah. Hidup di kampung sangat digemarinya walau ia hidup

Karena Aku Sayang Mama

Oleh:
Namaku Tashya, umurku 15 tahun. Aku tinggal berdua bersama Mama. Papa dan Mama sudah bercerai 10 tahun yang lalu, aku ikut mama dan Maya (adikku) ikut Papa. *Ketika pulang

Hujan di Medan Senja

Oleh:
Hujan di Medan Senja, Satu persatu air dari awan kelabu yang menggantung di atas langit mulai menjatuhkan diri, terhempas kedalam peluk bumi. Membuat jalanan becek, genangan air beriak-riak teriak.

Aku Mengetahuinya Sedari Dulu

Oleh:
Jujur aku bingung harus memulai cerita ini darimana. Terlebih tidak semua orang mengalami apa yang aku alami. Memang betul, awalnya aku enggan memberitahu kepada siapa pun. Karena butuh waktu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *