Petani yang Setia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 20 June 2021

Angin sejuk berhembus melewati celah jendela kamar sore itu. Sang fajar sudah siap untuk menutup hari lelah itu, begitu banyak yang telah kulewati hari ini, lalu kuingat kembali apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Perkenalkan namaku Bella Ayunda aku adalah seorang anak yang duduk di bangku kelas 3 SMA, aku bertumbuh di sebuah desa dengan keadaan lingkungan yang masih sangat sejuk dan asri.

Hari itu, senja datang secara tiba-tiba dari arah barat. Cahaya matahari yang berwarna orange membuat langit berubah warna dari biru menjadi orange. Pemandangan sore itu sangat indah untuk disaksikan ditambah lagi lukisan senja yang mengukir keindahannya di langit sore itu yang membuat suasana menjadi lebih tenang. Aku diam sejenak sembari mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa ini. Tuhan tidak pernah gagal, Tuhan menciptakan alam dengan berbagai keindahannya, mulai dari ombak lautan, pemandangan hijau di pegunungan, hingga matahari terbit dan tenggelam. Ketika saya melihat pemandangan yang indah tak hanya sekadar mencuci mata. Otak pun akan terasa bebas dari beban pikiran yang selalu menghantui. Tak bisa dipungkiri, otak yang jenuh akan berdampak buruk pada kinerja dan motivasi. Mengembalikan mood dan semangat bekerja dengan melihat pemandangan yang indah bisa menjadi solusi.

Terlahir dari keluarga yang sederhana membuat saya banyak bersyukur apa arti kehidupan sebenarnya. 3 Tahun sudah waktu yang saya gunakan untuk menempuh pendidikan SMA, saya dan teman-teman saya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian Akhir Semester yang akan dilaksanakan dua bulan lagi, inilah waktu saya untuk menunjukkan kepada orangtua saya bahwa saya bisa meraih prestasi untuk bisa berkuliah di kampus negeri.

Malam pun telah berlalu, bulan dan bintang mulai menghilang untuk digantikan dengan awan putih tebal, matahari yang bersinar terang yang menyinari alam semesta ini. Pukul 04:00 pagi saya sudah menjadi rutinitas kami bertiga untuk bangun sebelum matahari menunjukkan dirinya. Saya terlahir sebagai anak tunggal, sejak kecil saya selalu di sayang oleh kedua orangtua saya, mereka sangat memperhatikan pendidikan saya, walaupun mereka susah tetap pendidikan adalah nomor pertama.

Kami bangun dan nampak ayah saja yang adalah seorang petani yang bekerja di sawah ladang milik kami yang sudah ada sejak dulu mempersiapakan cangkul dan alat kebun lainnya, dan suara dari dapur ibu saya yang mulai menanak nasi dan bunyi air panas di tungku yang telah mendidih yang menunjukkan betapa sibuknya ibu saya di dapur. Saya yang sibuk membereskan kamar tidur, setelah itu saya langsung menyuci piring dan membereskan rumah.

Jam menunjukkan pukul 05:30 dan kami semua sudah bersiap di meja makan untuk makan bersama sebelum memulai aktivitas. Setelah itu, salah satu rutinitas keluarga kecil kami yaitu sebelum memulai aktivitas pekerjaan di luar rumah, kami akan berdoa bersama bersyukur atas hari baru yang Tuhan berikan pada kami. Ibu yang menyiapkan bekal untuk dimakan siang nanti bersama ayah dan aku yang juga membawa bekal untuk les mempersiapkan ujian nanti di akhir jam pelajaran sekolah.

Hari yang kembali menunjukkan telah pukul 5 sore, kami semua sudah berada di rumah. Di sore ini kami melepaskan lelah kami duduk di halaman rumah kami, di bawah pohon yang berdiri kokoh dengan dedaunan yang sangat lebat, membuat kami nyaman untuk bercanda gurau bersama, menceritakan segala sesuatu yang kami rasakan di hari ini. Dengan nada yang tertawa lepas ayah saya menceritakan bagaimana masa-masa sekolah dulu, ayah saya mendekati ibu saya dengan sepucuk surat yang diberikan kepada sahabat ibu saya yang menjadi jembatan antara ibu dan ayah saya. Dengan setia menunggu ibu saya menerima cinta dari ayah saya dengan segala usaha yang ayah saya lakukan untuk menunjukkan sisi terbaik dan usaha dari ayah saya, membuat ibu saya yang awalnya malu-malu untuk menerima ayah saya, akhirnya menerima ayah saya setelah lulus SMA, dan sampai pada akhirnya menikahi ibu saya dengan segala keyakinan yang ada.

“Apa arti kesetiaan menurut ayah?” Tanyaku pada ayah. Ayah lalu menjawab “Kesetiaan dalam hal ini sangat bervariasi, kesetiaan juga berarti tanggung jawab, bagaimana kita tetap setia dengan apa yang sudah kita kerjakan. Kesetiaan juga adalah bagaimana dari cara kita untuk mampu melakukan pertahanan dari sebuah hubungan, sebagaimana hubungan yang dilakukan kepada seorang kekasih maupun kepada seorang sahabat. Sebagaimana dengan cara untuk mengetahui apa kabar dari orang tersebut” mendengar jawaban dari ayah saya, lalu saya berpikir bahwa orang-orang yang benar-benar setia pasti akan melakukan apapun itu yang memang hal itu dianggap baik.

Saya lalu mengingat waktu kecil mengikuti sekolah minggu, guru sekolah minggu mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang paling setia, ketika manusia meninggalkan kita, Yesus tidak pernah sekalipun meninggalkan kita. Saya lalu bertanya pada ayah apa yang ayah tahu tentang Yesus? Apakah Yesus juga masuk dalam orang yang setia? “Yesus yang ayah pahami ialah Dia adalah penolong, sahabat, teman karib setap umat-Nya. Yesus adalah Anak Allah, Dia yang diutus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan pelanggaran yang dilakukan oleh manusia. Manusia sering sekali bahkan selalu jatuh dalam dosa, tetapi Yesus selalu memberi pengampunan. Ketika manusia mengalami masalah yang paling berat sekalipun Yesus hadir lewat orang-orang disekitar untuk menguatkan. Dia tidak pernah pergi meninggalkan manusia setiap kali manusia dalam pergumulan yang berat, tangan kasih, kuasa dan penyertaan-Nya selalu ada bagi kita. Yesus adalah salah satu orang yang paling setia, kesetiaan-Nya tidak bisa disamakan dengan manusia, Ia melebihi semua yang manusia punya. Sama dengan halnya membangun rumah tangga bahan dasar utama membangunnya adalah kesetiaan. Tanpa adanya hal ini maka bangunan tersebut akan rawan roboh dan hancur. Yesus tidak pernah berubah Dia menjadi penolong yang setia memenuhi setiap kepenuhan manusia, tak pernah Dia mengecawakan manusia janji-Nya selalu setia menyertai”. Itulah jawaban dari ayah saya yang membuat saya tahu arti penting dari kesetiaan. Pembicaraan kami pun berhenti sampai distu karena hari telah larut malam dan kami masuk ke rumah untuk makan malam bersama.

Hari-hari yang kami lalui, kami diajarkan oleh ayah untuk selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan pada kami, baik nafas hidup, berkat, sukacita, dukacita, masalah semuanya itu Tuhan mempunyai maksud yang indah. Sama halnya dengan hujan di bulan ini sangat tidak bisa untuk diperdiksi, cuaca yang tak bisa diprediksi kadang panas kadang hujan, keadaan alam yang kurang mendukung membuat ayah dan ibuku menjadi khawatir karena mereka takut akan gagal panen. Sawah ladang yang menjadi pokok utama untuk memenuhi setiap kebutuhan kami selama setahun kedepan takutnya tidak jadi. Saya melihat ayah dan ibu, yang terus memadangi keluar. Petir menggelegar. Kilatnya membelah langit. Sementara hujan turun begitu derasnya. Kami bertiga hanya duduk terdiam di dalam rumah sebagai pelindung kami, aku tahu bahwa ayah sangat takut dengan padi-padi kami di sawah. Ibu hanya mencoba menenangkan ayah, ibu mengatakan bahwa yakin semuanya akan baik-baik saja tetapi dengan suara pelan ku dengan suara ibu juga semakin khawatir.

Hujan yang tak kunjung berhenti selama seminggu membuat kami betah di dalam rumah. Hari ini adalah hari ku untuk menyelesaikan semua tugas-tugasku di sekolah, hari aku akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah, rasa gugup bercampur aduk semuanya menjadi satu dalam hati dan pikiranku. Semalam aku telah menyiapkan semua keperluanku, ayah dan ibuku kami semua berdoa meminta yang terbaik pada Tuhan untuk kelancaran ujian selama beberapa hari kedepan.

Hari pagi telah tiba, sinar redup abu-abu menggelayut manja. Cuaca di luar masih kurang bersahabat. Mendung. Lalu hujan. Daun-daun coklat menghijau. Tanah basah. Bunga bermekaran tengah bersembunyi tergantikan dengan rajinnya daun. Cuaca sedang tidak menentu. Kadang hujan tiba-tiba, lalu berhenti. Cerah mendung, gerimis lagi. Hujan deras, gerimis, lalu reda gumanku dalam hati. Hari ini walaupun hujan besar aku telah bersiap untuk berangkat ke sekolah pagi hari untuk mengikuti ujian, Nampak ayah dan ibu akan pergi ke sawah untuk melihat sawah ladang kami, karena sebagai petani mereka tahu bahwa intensitas hujan akan mempengaruhi dan mengakibatkan situasi yang cukup buruk diantaranya yang paling sering adalah banjir. Aku melihat wajah ayah yang cukup khawatir takut akan gagal panen, ibu yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk dibawa ke sawah.

Setibanya aku di sekolah aku bersama-sama teman-temanku yang lain fokus untuk mengikuti ujian dan mengerjakan dengan baik, supaya hasilnya memuaskan dan bisa membanggakann kedua orangtuaku bahwa seorang anak petani bisa diterima di perguruan negeri dengan beasiswa. 4 hari pun berlalu aku dan teman-temanku lewati dengan baik, ujian sekolah pun berakhir. aku sedang disibukkan dengan mempersiapkan diri untuk menyiapkan berkas untuk aku mendaftar beasiswa karena semua nilai-nilaiku sangat baik dan guru kami pun juga membantu aku untuk mendaftar karena mereka berkata bahwa aku adalah salah satu murid berprestasi yang telah mengharumkan nama baik sekolah baik itu tingkat antar Kelurahan maupun di tingkat Nasional, pencapaian yang aku dapat juga berkat belajar dan doa dari kedua orangtuaku. Kini tiba saatnya kami akan mendengar Lulus dan sekolah kami 100%, semunya Lulus dengan nilai yang baik. Tak sabar aku memberitahukan kepada ayah dan ibu, bahwa anak mereka putri mereka telah Lulus Sekolah.

Sepulang sekolah setibaku di rumah ayah dan ibu tampak duduk lesu di di halaman rumah, aku tahu mereka sedang memikirkan sawah kebun kami yang sebagiannya sudah terendam banjir karena intensitas hujan beberapa minggu belakangan ini, tetapi dengan perasaan senang aku memberitahukan kedua orangtuaku, dan mereka juga merasa senang dengan keberhasilanku.

Malam pun tiba ketika kami maka bersama di ruang makan, handphoneku bordering, kulihat di layar handphone nama wali kelasku di sekolah yang menelepon, aku sempat terkejut mengapa aku ditelepon malam-malam seperti ini, tanpa menunggu lama aku pun langsung mengangkat teleponnya, dan guruku berkata bahwa besok aku disuruh datang ke sekolah karena hal penting yang harus ibu sampaikan padaku, dan hatiku berdegup kencang dan tiba sabar pagi menjelang untuk aku berangkat ke sekolah.

Kuberitahukan hal ini pada ayah dan ibu, dan mereka juga tidak sabar. Ayah juga memberitahukanku bahwa sawah kami sebagiannya akan gagal panen, aku pun terdiam dan tidak menjawab ayah dengan satu kata pun karena hasil dari sawah itu yang menghidupkan kami selama ini, ibu yang telah mengetahuinya ibu hanya terdiam, kulihat kedua orangtua tampak dengan muka yang tidak baik.

Keesokan harinya aku pun berangkat ke sekolah dan ayah ibu pergi ke sawah untuk melihat keadaan di sana. Dan tak kusangka setibanya aku di sekolah aku diberi surat bahwa aku diterima di salah satu Perguruan Negeri favoritku yang selama ini aku impikan. Dengan wajah senyum yang terpancar dari wajahku. Aku pulang dan langsung berlari ke sawah kami, aku melihat ayah dan ibuku yang sedang bekerja di kebun dengan panas terik matahari melihat hasil panen padi yang gagal tahun ini. Aku memberitahukan kepada mereka dan betapa terkejutnya mereka sangat senang dan bahagia. Aku melihat senyum bangga terpancar dari wajah mereka, tapi sebenarnya aku tahu bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja karena sawah yang gagal panen tahun ini, hasilnya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kami pun pulang ke rumah dengan perasaan bersyukur, ayah dan ibu mengajakku untuk berdoa bersama-sama mensyukuri semua hasil ini. Gagal panen dari sebagian sawah kami dan hasil dari keberhasilan pencapaianku. Aku bersyukur Tuhan menghadirkan kedua orang hebat dalam hidupku ayah dan ibu yang selalu sabar, tegar, dan kuat menghadapi kerasnya hidup. Kami mengucap syukur kepada Tuhan. Tanpa penyertaan Tuhan mungkin kami tak bisa kuat sampai titik ini karena hasil dari sawah ladang kamilah yang meghidupi kami selama ini. Dalam keluargaku yang sederhana ini ayah adalah orang yang paling tegar dan sabar, kerapuhan yang kami alami karena gagal sebagian gagal panen, pasti seorang petani tahu beberapa biaya yang sudah dikeluarkan.

Panen pun tiba dan dan akhirnya kami hanya mendapat hasil setengah dan ayah tidak lupa memasukkannya ke gereja sebagai puluh hasil dan persembahan rasa bersyukur kami kepada Tuhan. Tetaplah setia dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal apapun itu, karena Tuhan pemberi berkat yang setia, Tuhan sudah mempersiapkan berkat dari masing-masing orang itu berbeda, bagaimana kita sebagai manusia untuk mensyukuri hal itu.

Cerpen Karangan: Rivilen Mataen
Facebook: Vilen Mataen
Instagram: vilenmataen_
Halo teman-teman semua, perkenalkan nama saya Rivilen Mataen ini adalah cerpen keduaku, semoga kalian suka yah. Dan Jangan lupa mampir di media sosialku supaya kita semua bisa berteman. Terima kasih.

Cerpen Petani yang Setia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Berpulang Sebenarnya

Oleh:
Awan cerah mulai bertransformasi, perlahan namun pasti Sang Awan menunjukkan gelapnya malam. Tak lama kemudian rintik-rintik air mulai membasahi pipi ini. Yap.. tepat di sini, di Pelabuhan aku mengukir

Wanita Di Bawah Hujah

Oleh:
Dinginnya angin malam membuat tubuhku menggigil. Kupeluk tubuhku erat-erat dengan kedua tanganku. Jaket yang kukenakan tak sanggup melawan dinginnya angin malam. Kakiku terus melangkah tanpa tujuan. Entah sudah berapa

Rindu Ayah

Oleh:
Aku adalah seorang anak yang terlahir dari sebuah keluarga kecil yang sederhana. Keluargaku terdiri dari enam orang, yaitu Ayah, Ibu, aku dan tiga orang adikku. Aku sangat bahagia, mempunyai

Semangat Kekecewaan

Oleh:
Malam itu adalah malam yang tak akan pernah dilupakan Asih sepanjang hidupnya, malam dimana ia memutuskan untuk melangkah dari kehidupannya yang sekarang di kampung karena harus menggapai masa depan

Bioritmik Abyad

Oleh:
“Assalamuaaikum mak, Felly pulang Mak!” “Waalakumussalam, Subhanallah tambah cantik aja nak.” “Iya dong Mak, anak siapa dulu dong, Emak gitu loh, hehehe,” kata Felly sambil nyungir sumringah karena kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *