Piala Untuk Riska

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 August 2018

Aku mempunyai saudara kembar. Namanya Riska. Wajah kami sama. Dan, hobi kami juga sama, yaitu bermain basket.

Sore hari, kami sedang bermain basket. Tiba tiba bola basket yang aku lempar menggelinding ke tengah jalan. “Biar aku saja yang mengambilnya!” tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, Riska berlari mengambil bola itu. Tinnn tinn!!! BRAKK!!! Riska tertabrak mobil. Darah mengucur banyak dari dahi dan kakinya. Mama dan papa keluar dari rumah dan segera membawa Riska ke rumah sakit.

Seminggu ini, Riska hanya bisa duduk diam di atas kursi roda. Kakinya lumpuh. Aku merasa sangat bersalah. “Maafkan aku Riska!” aku menangis. “Tak perlu meminta maaf Risa, ini karena kecerobohanku!” sekarang, aku sudah tak bisa bermain basket bersama Riska lagi.

Langkahku gontai menuju kelas. Serasa tidak semangat jika Riska tidak ada di sampingku. “Risa, ke mana kembaranmu?” tanya Deni, temanku. Aku pun menceritakan semuanya pada Deni. “Astaga! Kalau gitu, kamu tadi dipanggil sama bu Susan lho di kantor guru” aku terkejut. ‘Ada apa mencariku?’ gumamku.

“Seminggu lagi, akan ada perlombaan basket antar sekolah. Kamu salah satunya yang akan terpilih menjadi anggota tim basket. Desi, Tina, Tasya, Ani, Dinda dan Nindia juga terpilih menjadi anggota tim basket, jadi, siapkan dirimu!” ternyata bu Susan sudah tahu jika kembaranku tidak bisa basket lagi. “Ba.. baik bu!”

Seminggu sebelum perlombaan, aku berlatih keras. Riska selalu menyemangatiku. “Semangat! Kamu harus bisa!” begitu suportnya. Tak tau kenapa, wajah Riska begitu pucat. Aku takut.

Ketika perlombaan, aku hanya ditemani papa. Sedangkan, mama menjaga Riska di rumah. “Semangat sayang! Kamu pasti juara!” ucap papa sambil mengecup kening Risa. “Siap Pa!”

Tim Risa bermain dengan kompak dan tidak curang. Mereka sportif. Pertandingan dimulai dengan seru. Tim Risa mendapat 7 poin, sedangkan tim musuh mendapat 6 poin. Dan, “yeayyyy!!!” Risa berhasil memasukan bola ke dalam ring. Risa sangat bangga dan Risa adalah menjadi perwakilan dari tim yang menerima piala.

“Riskaa!! Ini piala untukmu…” Risa menjatuhkan piala tersebut melihat Riska terbujur kaku di atas ranjangnya. “Risa sayang, adikmu telah meninggal dunia.. hiks” mama terisak. Aku jatuh tersungkur. “Riskaaaa!!!” air mata dengan derasnya berjatuhan dari mataku.

Di pemakaman, Risa menaruh pialanya di dekat nisan. “Jangan taruh situ” kata papa. “Hiks… hikss.. tidak apa pa, ini piala kemenanganku untuk Riska. Riska, kamu tenang di sana ya!” Lalu, Risa pun berbalik badan untuk pulang dari pemakaman. Mama dan papanya sudah mendahuluinya. Risa melihat ada Riska dengan gaun putih melambaikan tangan pada Risa. Risa membalas lambaian tangannyanya itu.

Cerpen Karangan: Yacinta Artha Prasanti
Blog / Facebook: santi artha
Semoga cerpenku dimuat ya. Coment di bawah dan terimakasih untuk yang sudah membaca cerpen ku!!!
Ig: @yacintaartha_
line: yacinta23_

Cerpen Piala Untuk Riska merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Bu

Oleh:
Aku terbiasa mendapati ibuku yang selalu duduk di sofa ruang tengah, ia duduk dan menyalakan televisi walaupun ia tak bisa melihat jelas ke televisi karena kedua matanya mengidap penyakit

Fragmen Kehidupan

Oleh:
Dinginnya Kota Bogor pada malam itu hingga menusuk sendi-sendi tulang. Berlahan curah hujan beransur reda, seiiring terdengarnya lantunan ayat-ayat Tuhan dari dinding kamar sebelah Motel, yang mengalun dan mendayu-dayu.

Tangis Di Ujung Senja

Oleh:
Hari yang melelahkan. Menjalani hidup tanpa gairah sama sekali. Setidaknya itulah yang kurasakan hari ini, bahkan tak hanya hari ini tapi setiap hari. Yang lebih menjengkelkan lagi aku harus

Goresan Jingga

Oleh:
Jeritan-jeritan penuh kemenangan menusuk indra pendengaran. Aku berpijak di atas bumi pertiwi yang hijau nan indah ini. Kupandangi para siswa yang berhamburan ke luar kelas mereka masing-masing, tidak lupa

Perusak Mata

Oleh:
Halo namaku Ninda aku berumur 7 tahun. Aku main dan nonton televisi setiap hari. Walau orangtuaku sudah melarangnya, aku tetap saja cuek. Suatu hari ibu berkata “Jika kamu bermain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *