Pinta Dibalik Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 7 May 2018

Saat aku masih kecil, mama adalah pujaan hatiku. Ke mana-mana sama mama, main sama mama, makan sama mama, tidur pun sama mama. Mama itu malaikatku. Mama sangat peduli padaku. Aku juga selalu diperhatiin sama mama. Namun, mama mulai berubah sejak aku duduk di bangku kelas 2 sd. Mama semakin sibuk, dan jarang punya waktu untuk bicara denganku. Aku sedih sekali. Subuh-subuh sekali, mama hanya mengecup keningku dan mengatakan kalimat-kalimat sayang, lantas pergi bekerja hingga malam hari.

“Ma, kapan kita bisa main boneka bareng?”, tanyaku pada mama malam itu. Mama menoleh padaku. “Loh, Dina kenapa belum tidur? Ini udah jam 11 loh. Tidur, Dina”, jawab mama. Aku cemberut. “Tapi kan, Dina gak pernah main lagi sama mama. Hari minggu pun mama sering keluar rumah”, keluhku. Mama terdiam sejenak. “Lain kali kita main bareng lagi, ya. Mama capek hari ini. Sekarang Dina tidur”, pinta mama. Aku pun menunduk sedih dan kembali ke kamar untuk tidur. Hari-hari selanjutnya pun begitu. Sangat sulit bagi mama untuk meluangkan waktunya denganku. Berbeda dengan papaku. Papaku memang sibuk, tetapi sering di rumah. Hanya saja, aku lebih nyaman bermain dengan mama.

Tak terasa aku mulai beranjak remaja. Kini aku menduduki bangku SMP kelas dua. Aku sengaja memilih SMP swasta agar bisa menemukan teman-teman yang lebih asik dan gaul, kurasa. Yah, sekarang aku tumbuh sebagai remaja kekinian, yang punya ribuan followers di instagram. Hobiku jalan-jalan, nongkrong bareng teman-teman, dan lainnya.

“Din, ke café mana kita hari ini?”, tanya temanku, Christy saat di kelas. Aku mengangkat bahuku tak tahu. “Chrys, Din. Gue kayaknya gak ikut hari ini bareng kalian, deh. Mau nemenin mama buat belanja”, ujar Yeni tiba-tiba. Mama? Mendengar kata itu aku mendengus kesal. “Jadi kami gak begitu penting lagi, ya? Itu yang namanya teman?”, sindirku. “HEH! Itu di belakang! DINA, CHRISTY, YENI! Kenapa ngobrol?!”, teriak guruku iba-tiba. Sontak kami terkejut dan salah tingkah. Semua mata memandang kami. Kelas pun hening sejenak. Beberapa menit kemudian, guruku di depan melanjutkan mengajar. “Gara-gara lo nih, Din!”, bisik Yeni kursi belakang. “Kok gue sih?”, ujar gue kesal.

Beberapa saat kemudian bel pulang sekolah berbunyi. Aku, Christy dan Yeni membereskan barang dan bersiap-siap pulang. “Berarti hari ini kita gak jadi nongkrong yah”, ujar Christy memutuskan. Yeni mengangguk setuju. “Kok kalian gitu, sih? Heh, Yeni, kenapa kamu egois banget sih?”, cerocosku marah. “Kamu kenapa sih Din? Ini kan hak pribadiku. Lagian semua orang juga gitu. Keluarga lebih penting dari segalanya”, jelas Yeni. Aku mendengus. “Ya sudah terserahmu! Pulang saja!”, imbuhku kesal. “Baiklah. Aku pulang dulu teman-teman. Daaah!”, pamit Yeni. “Dahh, Yeni. Hati-hati di jalan!”, balas Christy. “Yuk, pulang Din”, ajak Christy padaku. Dengan wajah cemberut, aku mengikuti langkah Christy keluar kelas. Namun tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang luar biasa. “Chris, aduh. Chris perutku sakit banget”, rintihku kesakitan. Christy terkejut dan menopangku yang hampir terjatuh. “Eh, Dina! Kamu kenapa! Din?”, tanyanya panik. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Duh, Dinaa. Iya udah, kita ke toilet dulu”, ajaknya. Aku hanya pasrah mengikutinya.

Sesampainya di toilet, aku segera memasuki salah satu bilik toilet, dan tak lama aku keluar. “Christy..”, panggilku. “Kenapa, Din? Udah baikan?”, tanyanya. “Kenapa aku ngeluarin darah, ya?”, tanyaku gemetaran. Christy tampak terkejut. “Ya ampun. Itu kamu haid, Dina. Baru pertama ya? Pantesan sakit”, ujarnya sambil tersenyum. Aku mengernyitkan dahi sambil masih memegang perutku yang nyeri. “Nih, aku pinjemin pembalut”, ujar Christy sembari memberiku sesuatu. “Pakailah!”, pintanya. Akupun kembali ke bilik dan memakainya.

Setelah semua selesai, kami pun bergegas pulang. “Din, soal haid itu, sebaiknya kamu tanya mama kamu, deh. Aku juga tanya mamaku pas pertama kali. Ada beberapa hal yang gak boleh kita lakukan saat haid dan harus kita lakukan”, ujar Christy. “Baiklah, aku pulang dulu, daah!”, pamitnya. “Daah!”, balasku. Tak lama kemudian papa menjemputku.

Di dalam mobil, aku hanya memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi padaku. Bagaimana caranya meminta tolong sama mama? Toh selama ini aku lebih sering kabur dari rumah dan menghabiskan waktuku bersama teman ketimbang di rumah. Aku sempat melihat mama beberapa kali di rumah dan terus memanggilku. Tapi aku lekas pergi dan pura-pura tak mendengarnya.

“Dina”, panggil papa tiba-tiba. Aku menoleh. “Ada yang mau papa bicarain sama kamu. Tentang mama”, ujar papaku. Keningku mengkerut. “Mama itu..”, “Udah, pah! Aku gak mau dengar tentang mama, apapun!”, balasku kesal. Papa tampak kecewa dan diam.

Berhari-hari aku menjalani waktu sendiri. Aku pun mencoba bertanya pada teman, dan membaca artikel mengenai haid/menstruasi. Semakin lama membuatku bingung dan pusing. Banyak hal-hal tentang wanita yang tak bisa aku pelajari sendiri ternyata. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk bertanya pada papa di mana mama. Aku bahkan sudah sebulan ini tidak melihatnya. Rasanya, papa pun sering keluar rumah akhir-akhir ini. “Pah”, panggilku. “Ada apa, Din?”, tanya papa. “Mama di mana sih? Kayak udah gak tinggal di sini lagi. Ada yang mau Dina tanya sama mama”, jelasku langsung. “Dina, ayuk ikut papa”, ajak papaku tiba-tiba.

Ternyata papa mengajakku ke sebuah rumah sakit. “Mama di sini, Dina”, ujar papaku. Aku terkejut setengah mati. Mama sakit dan aku bahkan tidak tahu. Anak macam apa aku ini? Aku mengikuti papa di rumah sakit, kemudian memasuki ruang. Tampak mama terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Badannya dipasang suntikan infuse sana-sini, dan tabung oksigen dipakainya. Mataku memanas. Malaikat pelindungku jatuh sakit. Hatiku perih tiba-tiba.

Aku duduk di samping ranjang tempat mama terbaring. Wajahnya pucat. “Dina, selama ini mama bukannya tidak mempedulikanmu. Mama terkena kanker hati dan uda ditingkat stadium 4 untuk sekarang. Mama awalnya terkejut dan tak terima. Mama berhari-hari mengurung diri di kamar dan menangis. Mama menangis karenamu, Dina. Mama takut kamu tahu. Mama takut kamu sedih. Mama begitu menyayangimu, sehingga mama berusaha keras mencari uang yang banyak agar kamu bisa hidup serba ada tanpa mama. Itu sebabnya mama selalu kelelahan dan sibuk”, jelas papa panjang lebar. Tampak tetesan air mata mengalir di pelupuk matanya. Aku pun tak sanggup menahan tangisanku. Kupegang erat tangan mamaku dan menangis sekencang-kencangnya. Papa memelukku erat. “Doakan mama cepat sembuh ya Din”, bisik papa pelan. Aku mengangguk-angguk sambil terus menangis. Aku benar-benar menyesali perbuatanku selama ini. Andai saja aku tidak berburuk sangka sama mama. Sekarang tak banyak lagi waktu yang bisa kuhabiskan bersama mama.

Ma, Pa, maafkan anakmu ini. Anakmu sungguh menyesal, aku berjanji akan berubah menjadi lebih baik ke depannya. Bangunlah, Ma. Dina kecilmu di sini, menyayangimu.

Cerpen Karangan: Luthfia Zahra Larosa
Blog: luthfiasasa.blogspot,com
Halo, para pembaca! Terimakasih telah membaca cerpenku, semoga kalian suka! Jangan lupa komentar, kritik dan sarannya yaa. Bagi yang ingin bersapen denganku, bisa mengikutiku di ig: luthfiasasa dan kunjungi blogku yaa!
Salam semangat!

Cerpen Pinta Dibalik Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arif dan Aruf

Oleh:
Seharian kesana-kemari hendak mencari kerja namun tak satupun tempat yang ia datangi menerimanya untuk bisa dipekerjakan. “Ya Allah!! Harus kemana lagi kaki ini melangkah untuk mencari rizkymu? Lirinya dalam

Jalan Terbaik

Oleh:
Kedatangan Mbak Rina adalah warna dalam hidupku. Dia adalah kakak perempuanku. Tiada hari kami isi dengan kisah, ceria dan bahagia. Seperti menghiasi anak kucing dan sebagainya adalah hiburan yang

Dia Berbeda

Oleh:
Aku berjalan sendiri di gang yang begitu sempit, dan agaknya sedikit kumuh. Berhenti sejenak untuk memperhatikan selembar kertas yang aku pegang. Kertas itu bukanlah sekedar kertas biasa, di atas

Cinta Pertamaku yang Abadi

Oleh:
Aku melihat matanya, begitu banyak kilauan harapan disana, harapan beribu rasa yang kini aku pendam kepadanya, entahlah, haruskah aku berharap begitu tinggi. Aku tahu diri tentang cinta, dimana aku

Rinduku Pada Pelangi

Oleh:
“O, Tuhanku”, akan kuceritakan apa yang membuatku merasakan rindu pada pelangi selama ini. Dengarlah aku karena sesungguhnya engkau Maha mendengar setiap keluh kesah hambaMu. Di ujung musim hujan, dimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Pinta Dibalik Penyesalan”

  1. Salsabila says:

    kok sedihh.. 🙁 Jadi baper bacanya:”

  2. puan azhar says:

    etdahhh , ngena hati banget ceritanya:”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *