Please Come Back Again, Onee Chan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 December 2015

Cahaya mentari menelusup masuk melalui celah pintu dan jendela. Rupanya kami tertidur gara-gara semalam mabuk. Aku coba membangunkan mereka yang sedang tertidur lelap dan menyuruh mereka pulang. Setelah mereka semua pulang, ku langkahkan kaki menuju kamar kecil untuk membersihkan badan. Selesai mandi, perutku terasa lapar, untunglah masih ada dua potong roti isi cokelat yang tersisa di kulkas. Seusai menyantap roti dan perut sudah kenyang, aku kembali terlelap di sofa.

Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu dibanting. Sontak aku kaget dan langsung bangun dari tidurku.
“Zian! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa semuanya kotor dan berantakan seperti ini?!” Ujar Kakak, yang baru saja pulang. Ku lihat rambutnya berantakan, kelopak matanya hitam dan bengkak, matanya sipit, sungguh penampilan yang sangat kacau yang pernah ku lihat dari seorang Kakak yang biasanya selalu berpakaian rapi.
“Baru ingat pulang! Kakak ke mana saja sampai lupa padaku? Ku kira Kakak lupa di mana rumah Kakak” Jawabku, yang malah mengejeknya.

“Adik macam apa kau? Aku kerja paruh waktu untuk menghidupi kita dan menyekolahkanmu. Kenapa tak sedikit pun kau berterima kasih padaku!” Omelnya, matanya mulai berkaca-kaca. Aku tahu dia pasti akan menangis. “Cukup, kak! Aku muak dengan semua ini. Aku lelah dimarahi dan dibentak-bentak terus oleh Kakak. Aku cape kak disalahin terus. Hanya dengan cara ini aku bisa bahagia” Ucapku tak mau kalah.

“Beruntunglah kau bisa bahagia. Tapi, bagaimana denganku? Aku banting tulang untuk menyekolahkanmu. Tapi kau malah bolos, tawuran, nongkrong. Tak bisakah kau lihat perjuanganku, Hah. Apa kau belum puas menghancurkan hidupku. Sudah cukup kau buat masa kecilku menderita, karena sejak kau lahir Ayah dan Ibu tidak pernah mempedulikan aku. Kau juga sudah merenggut nyawa Ayah dan Ibu di saat aku mulai mendapatkan kasih sayang dari mereka. Kenapa kau selalu merampas kebahagiaan yang aku punya? Kenapa kau selalu membuat hidupku suram? Kenapa Zian, kenapa?” Jelasnya diiringi isak tangis.

Aku hanya terdiam, telingaku terasa panas mendengar semua kalimat yang ke luar dari mulutnya. Jika dia bukan saudariku, mungkin sudah ku telan dia hidup-hidup.
“Terserah Kakak mau bilang apa. Aku tidak peduli. Jangan atur-atur hidupku lagi!” Jawabku, dan beranjak dari tempatku berdiri. Sesegera mungkin aku meninggalkan tempat itu. Ku tinggalkan Kakak yang masih diam mematung dengan deraian air mata. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah peduli lagi padanya.

Ku pijakkan kaki di tanah lapang yang luas ini. Ku tarik napas panjang berulang kali. Aku berteriak sekencang-kencangnya untuk melepas beban yang memberatkan punggungku. Angin berhembus membelai lembut wajahku. Aku ingin terbang bersama angin tanpa harus memikirkan semua masalah yang hampir membuat akal sehatku hilang.

Pukul 10.00 WIB.
Aku baru pulang, ku lihat rumahku yang sangat sepi. Ah, bukannya rumah itu selalu sepi. Perlahan ku raih kenop pintu, takut ada Kakak yang selalu siap memarahiku. Ku buka perlahan, semuanya tampak gelap. Ku coba hidupkan lampu. Setelah semuanya terang, keadaan masih sama seperti saat terakhir aku dan Kakak bertengkar. Masih kotor dan berantakan. Lalu, di mana Kakak? Ku coba cari ia di kamar, di ruang tamu, sampai di kamar kecil. Tapi tak ku temukan sosok galaknya. Biarlah, esok juga ia pasti kembali.

Pagi pun tiba, mentari dengan semangatnya menampakkan dirinya hingga membuat silau mataku melihatnya. Semuanya masih sama, berantakan dan kotor. Perutku terasa sangat lapar, ku buka pintu kulkas. Namun, tak ada apapun di dalamnya. Sedangkan kantongku benar-benar tak berisi. Ku coba cari di lemari baju Kakak. Tapi nihil, tak ada uang sepeser pun di sana. Dan ku lihat beberapa baju Kakak tidak ada. Berarti dia benar-benar pergi meninggalkanku. Masa bodo lah, aku juga bisa hidup tanpanya.

“Aku juga bisa hidup tanpanya, tanpanya, tanpanya, tanpanya. Aku juga bisa hidup tanpanya, tanpanya, tanpanya.”

Kata itu terus terngiang di kepalaku. Aku menyesal membentaknya, memarahinya. Sekarang ia pergi menghilang bagai ditelan bumi. Aku sendiri. Tak ada uang, tak ada tempat untuk berpulang.
Aku dikeluarkan dari sekolah karena keseringan tawuran, membolos, dan tak kunjung membayar uang spp. Rumah aku jual untuk makan sehari-hari dan biaya untuk mengontrak. Tak ada toko atau warung kecil yang mau menerimaku sebagai pekerjanya. Karena tak dapat membayar uang kontrakan aku pun diusir.

Menjadi seorang gelandangan yang hidup di jalanan dan kelaparan. Tak ada orang yang mengasihaniku. Ke mana Kakak? Aku merindukan sosoknya yang menyebalkan namun bertanggung jawab. Aku ingin dia di sini. Menuntunku ke dalam cahaya kebahagiaan. Ayah! Ibu! Maafkan aku. Aku ini ternyata anak yang durhaka dan kejam. Setelah membunuh kalian aku masih sempat-sempatnya memarahi, membentak-bentak, dan menyalahkannya.

Sekarang akulah yang kena imbasnya. Dia meninggalkanku dalam pahitnya hidupku. Membiarkanku hidup menjadi seorang gelandangan yang hampir membuatku gila. Aku minta maaf Ayah, Ibu, Kakak. Aku mohon bantulah aku untuk menemukan titik terang dalam hidupku yang gelap gulita ini. Aku mohon tuntunlah aku menuju jalan kebahagiaan yang sudah kalian rencanakan untukku.

Ya Rabb, aku mohon pertemukanlah aku dengan Kakakku. Aku tak bisa hidup tanpanya. Hidupku rapuh dan rusak tanpa kehadirannya. Aku merindukannya Ya Rabb. Teramat amat sangat merindukannya. Kakak, ku mohon kembalilah. Dunia ini semakin gelap saja, aku tak dapat melihat apapun di sini. Terlalu gelap. Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Hidupku benar-benar gelap gulita. Jiwaku telah terjatuh dalam jurang kegelapan. Terlalu sakit untuk ku tahan, terlalu perih untuk ku sembunyikan, dan terlalu sesak untuk ku perjuangkan.

“Zian!”

Samar-samar ku lihat sosok Kakak yang sangat ku rindukan. Ia meraih tanganku dan mengajakku tempat yang sangat terang. Ku rasakan sentuhan tangan lembutnya menopangku menuju titik terang di depan sana.

The End

Cerpen Karangan: Luluah Nurwijaya
Facebook: http://facebook.com/ulue.nurwijaya

Cerpen Please Come Back Again, Onee Chan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Tak Berujung

Oleh:
Bingung. Itulah yang aku rasakan hingga saat ini. Bagaimana tidak, seseorang yang bisa dikatakan cukup terkenal di sekolah baru saja menyapaku. Namanya Sergio. Dia termasuk salah satu anggota ekstrakurikuler

Toilet Yang Berbahaya

Oleh:
Rasa cemas, gelisah, was-was dan takut itu yang menghampiri gue jika menumpang BAB di rumah orang lain. Rasa tak enak hati mungkin itu yang menjadi faktor utamanya. Ya karena

Rindu

Oleh:
Bintang berkilau manis menghiasi langit malam, di bawah redup cahaya lampu jalanan, Sukma berdiri mematung dengan mengenakan blus merah dan rok yang senada, jemarinya tak henti menari di atas

Gadis Pikun

Oleh:
Kendaraan yang paling disukai sindi adalah angkot, bagi sindi angkot adalah kendaraan yang paling setia mengantar dia ke manapun ia mau. Hari ini sindi berangkat sekolah naik angkot dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *