Please Say it Mom!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 April 2013

Pagi tiba, matahari dari ufuk timur menerangkan hariku ini, burung-burung berkicauan seolah memberitahuku bahwa pagi telah tiba. Tapi, entah kenapa aku seolah tak ingin lagi membuka kedua bola mataku ini. Ku lihat foto ibu dan ayahku yang berada di posisi meja belajarku. Ingin rasanya ku bakar foto itu hingga ku dapat melupakan mereka. Tapi apa daya, ini bukanlah hal yang terbaik yang harusnya aku lakukan, karena mereka tetaplah orang tuaku apapun itu yang terjadi.

Kubuka pintu kamar, terdengar suara bising dari ruang keluargaku. Ternyata, itu hal yang biasa terjadi. Lagi-lagi kedua orang tuaku bertengkar. Ingin rasanya aku ikut campur dengan apa yang sedang mereka debatkan. Tentang apa, kenapa, dan ada apa itu semua ingin ku utarakan kepada mereka berdua. Aku menderita, aku terlampau sedih melihat ini terjadi. Seolah-olah tak ada keharmonisan yang terjadi di rumah tangga kedua orang tuaku ini.

Sahabatku rini selalu menjadi tempat keluh kesahku saat ini. Hanya dia tempatku berbagi suka dan duka. Dia adalah sahabat terbaikku kala ini dan aku berharap kelak pun begitu. Setiap kali mendengar nasehat yang dilontarkan dari mulut rini, senyum terlintas pun menghiasi raut pipi dinda kala itu. Terlintas pun, ia terlupa dengan keadaan ayah dan ibunya. Ayah dan ibu dinda orang yang sama-sama mempunyai kedudukan yang tinggi dalam perusahaan swasta yang berbeda. Hingga terkadang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang juga terlupa tentang urusan anak semata wayangnya yang saat ini berada di kelas 3 SMP.

‘Tuhan… Izinkanlah aku untuk berkata kepada ibuku, kepada ayahku untuk menghentikan kekacauan di dalam rumah ini… Tuhan… Berikan aku kesempatan untuk membahagiakan mereka Tuhan. Izinkanlah aku untuk berkata kepada mereka untuk jangan bertengkar lagi. Masalah apa pun itu Tuhan. Aku butuh belaian kedua orang tuaku. Aku butuh kasih sayang kelembutan tangan belaian kasih dari ibuku. Mengertikan aku Tuhan. Aku tak dapat menopang ini sendirian. Tak puas rasanya jika harus ku ceritakan semua kepada rini sahabatku. Ini terlalu berat untuk ku alami sendirian tanpa rini.’
Lagi-lagi doa itu selalu diucapkan dinda ketika usai shalat.

Pagi berlalu menjadi siang, siang pun menjadi sore, tapi kedua orang tuanya tak kunjung menampakkan raut wajahnya kala itu di rumahnya. Merasa jenuh, bosan, dan sedih. Itulah yang di alami dinda. Dinda pergi berjalan-jalan tak jauh dari rumahnya. Melintas dengan menghirup udara sore yang rindang membuat kesedihan pun terlintas terlupakan. Ketika mata tertuju kepada seorang anak seusia dinda yang saat itu berjalan-jalan sore dengan ibunya, membuat berlinang air mata pada mata bulat dinda. Ia bersedih dengan keadaannya. Dia merasakan iri yang luar biasa melihat orang seusianya sangat akrab dengan ibunya. Ingin ia alami dan merasakan hal itu. ‘andai itu dapat terjadi. Bahagia nya hidupku, tak perlu kekayaan, tapi yang kubutuhkan kebahagiaan’ air mata berlinang tapi tak satu pun tertetes membasahi pipi ini.

Aku juga butuh kasih sayang mereka. Apa guna nya aku ini hidup jika aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Menangis, meratapi tak ada artinya dalam hidupku. Semua tak akan berubah jika dari hati mereka tak tersentuh hatinya melihat penderitaan yang ku rasa. Mendekati malam, aku bergegas pulang ke rumah. Ku buka pintu, ku kisari ruangan demi ruangan dalam rumahku. Terasa sunyi sepi dan keheningan dalam rumahku. ‘ayah.. ibu.. kalian dimana?’ teriak hati kecilku memberontak karena kesepian. Terkadang aku merasa sangat gembira dan sangat bahagia ketika mereka bersama. Itu saja telah membuatku senang dan merasakan hal yang cukup bahagia dalam hidupku. Tapi, kenapa kebahagiaan itu kini tergores dengan hiasan pertengkaran setiap harinya?

Yah. Benar. Aku adalah manusia yang sangat menyedihkan. Dilahirkan oleh orang kaya raya. Mau ini ada, mau itu juga tersedia, semua fasilitas yang mewah ada tersedia di dalam rumah ini. Tapi, yang aku butuhkan bukan itu. Percuma saja aku memiliki kemewahan dalam rumah ini, tapi kebahagiaan tak satu pun menghiasi hati ini. Aku tertekan bu, aku tertekan yah.. aku ingin hidup, ingin hidup merasakan udara dengan kalian berdua.

Sudah bertahun-tahun lamanya aku menahan diri. Aku yang mulai beranjak dewasa tapi, kedua orang tuaku masih saja seperti ini. Akhirnya aku memberanikan diri menanyakan tentang apa yang selama bertahun-tahun ini yang mereka peributkan. Alhasil, aku mendapat sebuah tamparan dari ibuku. Pukulan tangan yang melayang ke pipiku, sangat membuatku merasa lebihh tersakiti.
“Untuk apa kau pertanyakan hal seperti itu? Ini urusan ibu dan ayahmu. Kau tidak berhak mengetahui itu semua. Lebih baik kau masuk ke kamar, belajar dan tuntut ilmu mu. Jangan urusi urusan orang dewasa.”
Bentak ibuku. Aku yang hanya bisa terdiam dan meneteskan butiran-butiran air mata mendengar perlakuan ibuku yang tak biasa nya ia lontarkan sekeras itu.
Bu, aku ini anakmu… katakan sekali saja bahwa aku ini anakmu dan katakan sekali saja bahwa kau menyayangi aku’. Sambil merintih menangis, dinda mengatakan kata-kata itu. Aku mohon bu, mengertilah aku. Mengertilah posisi ku. Aku anak kecil yang tumbuh dengan amat cepat belajar dewasa dengan pemikiran yang sangat begitu menyulitkan di usiaku kini. Katakan itu bu, aku mohon… bahwa ibu sangat sayang kepadaku.

Tiga bulan kemudian, semakin hari raut wajah dinda semakin pucat. Rambutnya pun kian hari semakin menipis saja. Rini sangat mengkhawatirkan mengenai dinda kala itu. Saat jam pelajaran tiba, tetesan darah dari hidung membasahi buku tulis dinda.
‘Tuhan, jangan biarkan ini terjadi. Aku belum melihat dan membuat kedua orang tuaku merasa baikan. Tolong jangan biarkan ini terjadi.’
Ucap dalam hati. Terlihat tetesan darah itu oleh rini.
“ya ampun din, kamu dari tadi udah ku lihatin pucat sekali. Sekarang hidungmu mengeluarkan darah. Tidak hanya itu, rambut mu yang dulu lebat, kenapa akhir-akhir ini menipis din? Kamu sakit?”
“Serius rin, aku sehat saja kok. Aku hanya demam sedikit rin. Udah deh, kamu jangan cemas ampe gitunya deh. Emmm… tapi, makasih rin udah mau perduli sama aku selama ini.”
Terlihat wajah tak tega dan sedih dalam raut wajah rini terhadap apa yang di rasakan oleh dinda sahabat sejatinya itu. Sambil menatap raut wajah sahabat nya dinda, dalam hati berkata.
‘Tuhan, tegarkan anak ini, berikan kebahagiaan sejati untuknya. Sehatkanlah dia. Jangan sampai hati dan tubuhnya merasakan sakit yang membara’.

Sepulang sekolah rini bercerita kepada ibunya, mengenai dinda yang pada akhir-akhir ini terlihat tak sehat. Karena ibu rini adalah dokter spesialis penyakit dalam, semua ciri-ciri yang ada pada dinda pun di tanyakan semua kepada ibunya. Ternyata dinda mengalami penyakit yang begitu serius. Ia di diagnose mengalami leukemia akut, yaitu penyakit yang berkembang biak secara ganas di dalam sumsum tulang atau kelenjar limfa, yang kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain. Ini sering sekali disebut dengan kanker darah.
“bu, apakah ada alternatif yang baik untuk mengobati kesembuhan penyakit dinda?” Tanya rini dengan tatapan linangan air mata menatap ibu nya.
“ya, tentu ada. Walaupun biaya yang akan dikeluarkan tidak sedikit. Insyaallah, jika Tuhan menghendakinya, penyakit yang diderita dinda pasti dapat terobati. Dia harus melakukan kemoterapi dan menggunakan obat-obatan. Jika alternatif itu pun tak dapat di cegah maka dia harus menjalankan terapi sinar, atau terapi biologi. Bahkan dia juga bisa melakukan alternatif terakhir yaitu operasi transflasi sum-sum tulang belakang. Jelas ibunya kembali.
Mendengar perkataan ibunya tadi, rini pun meneteskan air mata sedihnya terhadap penderitaan yang dialami sahabat sejatinya itu. Berat sudah beban yang dialami dinda.

Keesokan harinya, dinda pun dikabarkan tidak dapat masuk dan belajar di kelas seperti hari-hari biasanya. Mulai tampak gelisah rini melihat dinda yang hampir 1 minggu tak masuk sekolah. Rini pun merasakan ke khawatiran yang luar biasa mengenai sahabatnya itu. Sepulang sekolah ia pulang menuju rumah dinda yang jaraknya tak jauh dari komplek perumahan rini. Terus dan terus ia mengetuk pintu yang tak di kunci dan tampak tak berpenghuni itu. Tanpa ragu-ragu rini masuk dan tak lupa mengucapkan kata permisi saat ia memasuki rumah itu. Lalu, ia masuk menuju pintu kamar dinda. Dilihatnya, dinda yang sedang tekapar di dalam kamarnya dengan wajah pucat, di pegangnya rambut dinda yang lusuh dan rontok yang kian menipis itu.
“dinda… bangun… aku mohon sebagai sahabatmu… aku mohon bangun dinda..”
Teriak dan menangis nya rini di pelukan dinda. Segera rini menghubungi ibunya untuk membawakan ambulans ke rumah dinda. Segera rini menghubungi ibunya untuk membawakan ambulans ke rumah dinda. Ternyata, saat dinda telah sampai di rumah sakit dan sampel darah sudah di ambil. Dinda mengalami leukemia yang sudah parah sekali. Pahit sekali dengan apa yang telah ia rasakan kini.

Berulangkali rini memohon supaya ibunya dapat menangani penyakit yang di derita dinda. Ternyata alternatif yang akan di jalani dinda sementara waktu ini adalah kemoterapi. Dengan sekuat tenaga ibu berusaha untuk menyembuhkan dinda agar kembali menyadarkan dirinya. Tak tega ibu melihat anak nya meneteskan air mata dan meminta demi kebaikan sahabatnya sendiri, ibu pun mengizinkan permintaan anaknya itu. Dengan raut wajah bersedih rini memasuki kamar ruang rawat yang ditempati dinda. Sambil memegang tangan dinda ia menangis tanpa henti. Bercerita akan masa lalu tentang mereka sewaktu kecil. Dan tiada hentinya rini memuji dinda yang sangat hebat untuk menguatkan hatinya dalam semua masalah berat yang dialami oleh orang seusia dia. Tak gentar hati, dan selalu tabah itulah dinda yang selama ini aku kenal. Dalam setiap ulang tahunnya yang dialami nya satu yang menjadi harapan itu sampai pada saat ini pun tak pernah terwujud untuk itu. Yaitu, kasih sayang yang tulus dari belaian tangan seorang ibu dan kasih sayang ayah. Dia anak yang dewasa, mandiri itu yang aku banggakan dari sahabatku dinda.

Sudah seminggu lebih dinda mengalami koma. Namun, batang hidung kedua orang tua dinda pun tak kunjung datang melihat putrinya yang sedang terkapar di rumah sakit ini. Berulangkali ibuku memberitahukan kedua orang tua dinda. Namun, mereka hanya dapat membalas pesan singkat kepada ibuku.
‘tolong jaga anak ku sampai dia sadar dan pulih kembali. Tolong rawat dia dengan setulus hati. Saya tak dapat menemaninya saat ini, dikarenakan urusan pekerjaan yang begitu sangat penting.’
Ternyata, bagi mereka pekerjaan lebih penting dari kesehatan anak.
Keesokan harinya, dinda pun sadar. Namun, ketika tak lama kondisinya membaik. Dinda memberikan tanda-tanada buruk mengenai penyakitnya. Ibuku pun sigap mengatasi.
“tak ada cara lain selain melakukan transplasi sum-sum tulang belakang, kemoterapi tidak dapat menjamin kembali dinda untuk selamat dari penyakitnya itu.” Ucap ibuku.
Aku harus terus menerus menghubungi kedua orang tua nya agar dapat memberikan sum-sum tulang belakangnya untuk dinda putrinya. Tapi, nomor mereka tak dapat dihubungi terus menerus. Akhirnya, aku mencoba mencocokan darahku kepada dinda. Namun, sia-sia. Aku tak bisa melakukan itu semua untuk dinda.

Semakin hari, kondisi dinda semakin memburuk. Aku sangat terpukul dan sangat sedih melihat kondisi dinda seperti ini. Tiga hari berlalu. Nafas serta selang-selang yang di tempelkan di sekujur tubuh dinda tak dapat menolongnya lagi. Tanpa ku sadari, tangannya menggenggamku, pipinya dibasahi tangisannya, dan berkata tersendak-sendak.
‘rini, sampaikan kepada ibuku bahwa aku ingin mendengar bahwa ibuku sayang kepadaku.’
Setelah dinda mengatakan itu. Semua hening. Detak jantung dinda pun terhenti. Aku menangis dalam ruangan itu.
“dinda… Jangan tinggalin aku. Aku mohon jadilah sahabat terbaikku untuk selamanya.”
Setelah kematian dinda, orang tuanya pun mendengar kabar itu. Bergegas mereka meminta maaf kepada dinda. Tak lupa ku katakan pesan terakhir dinda yang diucapkannya kepada ku untuk kedua orang tuanya.
“maafkan ibu nak, ibu yang selalu tak pernah memahamimu, memperdulikanmu. Ibu sayang dinda.”
Mengetahui keadaan itu, mereka mengetahui betapa pentingnya kasih sayang mereka terhadap seorang anak. Dan aku pun tak pernah lupa akan peran dinda sebagai sahabat sejatiku. Walaupun ia kini telah tiada. Aku akan selalu ada untuknya.

The end

Cerpen Karangan: Dewi Andini
Blog: andinijs3.blogspot.com
Nama: Dewi Andini
Panggilan: Andini
Email: andinijs[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Please Say it Mom! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Karena Aku Terlalu Berharap

Oleh:
Hembusan angin dari jendela membangun kan ciara dari tidur nya. Ara melihat jam di meja belajar, “astagfirullah!!! Sudah jam 6 fix aku kesiangan!!!” Ujar ciara atau biasa dipanggil ara.

Remang Cahaya Di Sela Ranting Cemara

Oleh:
Remang-remang cahaya di sela ranting cemara, terpancar indah menyorot mataku. Aku menatapnya dengan tatapan kosong dan lamunan di benakku. Aku melamun, melamun merindukannya, merindukan dia yang selalu menemani hari-hariku.

Seorang Lelaki Tua Dan Anjingnya

Oleh:
Kakek itu tinggal, tepat di sebelah rumahku, tunggal -seorang diri sendiri. Sebulan kemarin, ia kehilangan istri yang amat dicintainya sejak dahulu di sebuah taman kanak-kanak, yang tidak aku tahu

Cerita Tentang Persahabatan

Oleh:
Aku termasuk cowok yang cengeng, pemalu dan sedikit manja. Ini yang terkadang membuat teman-temanku menjali aku, tapi aku bersyukur karena Tuhan memberikan teman-teman yang baik kepadaku, yang selalu ada

Dulu Sahabat Tapi Sekarang

Oleh:
Satu tahun yang lalu, sekolah kami mengadakan pembagian kelas. Pada saat itu aku mendapat kelas 8 5. Aku merasa sangat bingung sekali ingin berteman dengan siapa, karena semua temanku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Please Say it Mom!”

  1. Dena says:

    Hiks…

  2. Secret Days says:

    sugab(baca terbalik)

  3. guswita huang says:

    Hiks…jadi nangis deh..sangat menyentuh hati..tetap lanjutkan lagi ya cerpennya.fighting kak..

  4. dinbel says:

    Ichhhh jadi sedih deh, baca cerita mengharukan bangetssss.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *