Pudarnya Cinta Reno

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 May 2016

Perempuan. Makhluk Tuhan paling ribet. Cerewet. Tapi tidak sedikit juga yang pendiam. Anggun. Perihal mudah dan sulitnya menjadi seorang perempuan tergantung dari pribadi masing-masing. Tidak tanggung-tanggung pula jika gender sebagai perempuan tidak membanggakan maka ia ganti gendernya menjadi seorang laki-laki. Tidakkah hal itu lebih mulia dari Perempuan kedua? Entahlah, dia bukan orang lain. Tapi sorot matanya menandakan bahwa dia tidak menyukaiku sejak awal bertemu. Kecemburuanku bukan tidak beralasan. Itu jelas ku rasakan. Sakit.

Hujan di luar sana membuatku menggigil. Ku rapatkan badanku ke tembok. Mencoba berlindung. Jam tanganku seakan berjalan sangat lambat. Ahh, mungkin hanya perasaanku saja karena sedang menunggu seseorang. Tidak! Jarum jam itu memang tidak bergerak. Setelah ku lihat beberapa kali ternyata jam itu mati. Basah. Oh aku lupa ini bukan jam waterproof. Sial! Kedua Telapak tanganku bersatu padu. Ku gesek-gesek. Mencoba meraih kehangatan. Sekitar 30 menit aku menunggunya akhirnya si kurus kerempeng itu muncul juga.

“Lama ya? Ups, maaf. Ayo naik!”
“Cukup membeku sih.” Kemudian aku memakai jas hujan dan duduk di jok motor belakangnya. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Kalau pun mau ngobrol tidak akan terdengar karena hujan begitu deras.
“Hei, kenapa nggak dilepas sepatumu?”
“Hah. Apa?”
Dia menepikan motornya dan berhenti.

“Loh, kenapa berhenti di sini?”
“Ayo lepas sepatumu. Besok kan masih dipakai.”
“Masa aku nggak pakai alas apa pun?”
“Ini pakai sandalku.” Si kurus kerempeng itu melepas sendalnya dan menaruhnya di dekat kakiku. Ku lepas sepatu hitamku itu dan ku terima tawarannya.

Satu jam perjalanan menuju rumahku. Si kurus kerempeng itu meninggalkanku di halaman rumah. Tapi kemudian memutar balik arah, “Oh ya, sendalku?” Dia menstarter motornya dan berlalu setelah aku mengucap terima kasih. Aku mengenalnya satu tahun lalu saat perayaan ulang tahun temanku. Sampai saat ini tak banyak sikapnya yang berubah. Berubah membenciku ataupun berkata kasar padaku meski begitu comel dan lancangnya aku padanya.

Setahun kemudian si kurus kerempeng itu mengenalkan aku pada orangtuanya. Begitu aku menapakkan kakiku di rumah gedong itu jabatan hangat laki-laki paruh baya menyambutku. Sudah bisa ditebak laki-laki itu adalah ayahnya. “Maa.. Ada tamu nih Ma..” Laki-laki itu berulang kali memanggil istrinya yang tak lain adalah ibu si kurus kerempeng itu. Sekitar 3 menit ibu itu ke luar dengan penampilan yang biasa-biasa saja dibanding rumahnya yang kemerlapannya di mana-mana.

Ibu itu tersenyum padaku dan menjabat tangan serta menanyakan namaku. Si kurus kerempeng itu tiba-tiba mendekati ibunya dan berbisik. “Ma, ini adalah calon istriku.” Ibu itu kembali menatapku, dalam. Batinku sangat takut akan tatapan itu. Kemudian ibu itu menanyakan apa aku masih sekolah, tentu iya jawabanku. Saat itu aku masih kelas 3 SMA. Si kurus kerempeng adalah kakak kelasku. Dengan alasan tidak ingin merepotkan orangtua akhirnya dia memilih bekerja mendapatkan uang daripada harus berpayah-payah kuliah, mikir UTS maupun UAS apalagi skripsi.

Singkatnya, aku dipinang si kurus kerempeng itu 2 tahun setelah kelulusan. Jika ditanya, bahagia? Jelas. Kenapa? Aku sangat mencintai si kurus kerempeng itu dengan segala sikap dan perilaku yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun aku mengenalnya. Jika ditanya, Sedih? Tentu. Batinku yang takut akan hal-hal yang tidak pernah aku pahami. “Hei, istriku.” si kurus kerempeng itu membuyarkan lamunanku akan ketakutan itu. Oh bukan. Reno. Ya, nama lelaki yang selalu ku panggil kurus kerempeng itu.

Kembali lagi pada kalimat Kecemburuanku bukan tidak beralasan. Itu jelas ku rasakan. Sakit. Perempuan itu. Tatapan dalam itu. Bukan aku mengambilnya lalu membawa pergi begitu saja. Reno adalah satu-satunya yang ku miliki di sini. Setelah ayahku menyerahkan aku padanya beberapa bulan lalu, aku ikut bersama Reno di rumah gedong yang ku sebut kemerlapannya di mana-mana. Aku bukan wanita karir tapi hanya membantu Reno menafkahiku. Salahkah dengan hal itu? Ku rasa tidak. Sekarang perempuan dan laki-laki adalah sama derajatnya perihal pekerjaan.

Perempuan itu. Aku sangat takut saat Reno di luar kota. Tinggal di rumah gedong bukan keinginanku jika di dalamnya aku hanya menjadi debu yang mengotori. Tatapan itu. Perempuan itu mendekatiku yang sedang duduk di ruang tengah. “Bajumu bagus.” Aku segera menebar senyum pada perempuan itu dan menghela napas. “Bagus lagi itu loh di Butik Sheila.” Masih dengan senyum yang sama tapi batinku bukan lagi takut. Penat.

Hari kedua. Reno baru saja meneleponku bahwa ia di perjalanan menuju rumah. Sungguh bahagia. Seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Tidak ingin ku ceritakan perempuan itu padanya. Ku rasa hanya akan membuka luka hati Reno yang susah payah ku katupkan rapat. “Sampai mana? Nanti kopinya di sana. Sudah ku seduh. Jika Reno datang berikan padanya.” Kata perempuan itu sambil menunjuk meja makan. Tanpa harus menunggu jawabanku perempuan itu pergi.

Sekali lagi ku tegaskan pada diriku sendiri. Perempuan itu. Tidak akan aku ceritakan pada Reno. Detik-detik kedatangan Reno. Rencananya akan ku buatkan omlet kesukaannya. Aku tidak sabar akan bertemu dengan Reno malam itu dan melihatnya lahap dengan omlet buatanku. “Jangan pakai yang itu.” Perempuan itu menatapku saat aku di dapur menenteng teflon hitam di tangan. “Jangan pakai yang itu juga.” Menarik napas dalam dan segera ku ganti pilihanku dengan membeli omlet saja di luar sana. Bukan memasaknya. Sekali lagi, tidak akan ku ceritakan pada Reno tentang perempuan itu.

“Sayang… Cape ya? Hmmm.. Mandi terus makan ya.” Ku lepas dasi Reno dan menatapnya, rindu. Mata Reno berkata lain. Mimik wajahnya juga lain. Apa aku berbuat kesalahan? Ingatanku jauh melayang sejak Reno pergi ke luar kota. Mencoba menelusuri hal apa yang aku perbuat. “Kamu tidak suka padanya?” Tiba-tiba Reno membuyarkan ingatanku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Reno kembali menanyakan hal itu padaku kali ini lebih jelas dan keras. Sebelumnya Reno tidak pernah begitu. Seperti yang pernah ku katakan Sikapnya tidak berubah dari tahun ke tahun aku mengenalnya. Perempuan itu. Kembali bermain dengan skenarionya. Bukan aku merebut Reno. Tapi bukankah aku juga berhak atas kasih sayang yang diberikan Reno padaku.

Reno sudah berubah sejak pulang dari luar kota. Apa pun yang ku lakukan adalah sebuah kesalahan. Dan fisikku adalah sebuah cela bagi perempuan itu. Pernah waktu badanku yang kurus tinggi dan sedikit bungkuk dengan kulit sawo matang ini membuatku dicibir. Kemudian Reno tidak lagi melindungiku. Ibuku melahirkan bertaruh nyawa, aku dilahirkan tidak untuk dicaci maki seperti ini. Jika bukan demi Reno. Si kurus kerempeng yang selalu ada waktu untukku. Dulu. Ku rasa Reno harus tahu bagaimana perempuan itu. Tapi.. Sampai saat ini aku tidak menemukan kunci gembok untuk mengubah pemikiranku: tidak akan ku ceritakan pada Reno tentang perempuan itu. Mulutku masih tertutup rapat untuk surga Reno

Cerpen Karangan: Nofita Rs
Blog: Nofitars.blogspot.com
Kota Pacitan, 12 Oktober 1993.

Cerpen Pudarnya Cinta Reno merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Harapan Kosong :(

Oleh:
Alina Nur Meilani anak pertama dari 2 bersaudara ini selalu mendapatkan nasib jelek dalam hal PACARAN. Tetapi sekarang saat alin merasa hidupnya sangat hampa ,seorang lelaki bernama Reza Arveadi

Terimakasih Ayah

Oleh:
Namaku Kalamadali, orang lain memanggilku Kala. Aku sekolah di SMP TUNAS BANGSA yang terletak di daerah Surabaya. Aku memiliki keluarga yang sudah tidak utuh lagi, ya benar tidak utuh.

Tangkap Ikan Di Bendung Batang Gadis

Oleh:
“Pak.. paaak… Liat di TV ini. Orang–orang Panyabungan menangkap ikan di bendungan Batang Gadis,” teriak anak bungsuku. Kami serumah langsung bergegas lari menuju tempat TV yang lagi menayangkan reportase

Perjalanan Seorang Anak

Oleh:
Hai sobat dan para pembaca cerpen saya, saat ini saya akan menceritakan kisah kehidupan adik angkat saya dan teman. Di suatu hari yang sangat indah saya sedang bermain hp

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *