Puisi Adikku


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 9 July 2013

Kehilangan sesuatu, apalagi yang tergolong berharga, tentulah sangat tidak menyenangkan. Apalagi kalau sesuatu itu teramat kita sayangi, maka mengenangnya hanyalah akan menyakitkan.
Begitulah yang kualami. Kesepian kini teramat berat menjerat hari-hariku secara nyata. Seminggu sudah, Zahra, adikku satu-satunya meninggal dunia, menyusul ayah yang lebih dulu menghadap Allah.
Terlalu pahit kenyatan ini. Aku seperti tak siap kehilangan orang-orang yang dicintai. Air mata rasanya ingin di kuras habis.

Kupandang malam yang mulai datang dari jendela kamar. Gelap. Gerimis mulai turun. Dingin di luar merambati pori-pori dinding kamar. Perlahan-lahan tapi pasti merambati pori-pori hatiku. Jengkrik dan kodok meningkahi suasana malam itu.
“Duh, Zahra, kenapa terlalu cepat kau tinggalkan Kakak?” batinku menjerit. Kutatap lekat foto Zahra. Tersenyum manis sekali dia. Terbersit kedamaian di kedua bola matanya yang bulat. Sayang, kecelakaan maut itu telah merenggut jiwanya. Merenggut kebahagiaan yang pernah ada di antara kami.

Betapa aku sangat terpukul mendengar kabar kecelakaan, sampai-sampai aku tak sanggup memengang gagang telepon karena lemasnya. Di papah Bi Inah, aku berangkat ke rumah sakit dengan perasaan tak karuan. Di ruang ICU, Zahra tergelak tak berdaya, tak sadarkan diri. Kepalanya penuh balutan berwarna merah karena darah. Dari gambaran itu, aku paham kalau keadaan Zahra amat kritis. Dadanya kentara turun naik, meski detak jantungnya lemah. Perut bagian kiri robek dan ada pecahan benda yang masuk ke lambungnya. Begitulah laporan keadaan Zahra yang kuterima. Lagi-lagi aku jadi tahu bahwa kecelakaan yang dialaminya amat mengerikan.

Ngeri aku mendapati adik tercinta dalam keadaan begitu. Makin ngeri lagi saat suster terlihat membawa pakaian seragam dan kerudung adikku itu, yang robek penuh darah. Perasaankku sangat luka, seperti serpihan kaca mobil yang mengenai Zahra. Aku makin kehilangan keseimbangan ketika tim dokter meminta persetujuan keluarga untuk mengoperasi luka Zahra. Mama segera memberi persetujuan dengan menandatangani surat pernyataan. Dalam keadaan seperti itu, semua keluargaku hanya berpikir keselamatan jiwa Zahra. Zahra harus segera ditolong.

Semua saudaraku berdatangan, memberikan dorongan doa untuk kesembuhan Zahra. Aku coba menjernihkan pikiran, tapi hati ini selalu diliputi pertanyaan: “Adilkah tuhan yang telah merenggut adikku yang hanya satu-satunya, setelah sebulan lalu aku pun kehilangan ayah?”
Yang kulakukan kemudian hanyalah berdoa untuk keselamatan Zahra. Istigfar berkali-kali kuucapkan. Waktu satu jam setengah melakukan operasi itu, segera mama, aku, dan semua saudaraku berharap-harap cemas.
“Bagaimana keadaan Zahra, Dok?” tanya mama.
Dokter Zainal yang memimpin operasi itu menatap kami sesaat. Suaranya yang agak berat akhirnya keluar juga.
“Kami telah berusaha, Bu! Tapi, Allah juga yang menentukan. Zahra terlalu banyak kehilangan darah dan terjadi infeksi yang berat pada lambungnya.”

Malam ini aku mengenang kembali saat kebersamaan yang manis antara aku, Zahra, mama, dan papa. Teramat indah untuk dikenang, sekaligus menyakitkan. Pagi sebelum kepulangannya mengahadap Allah, sama sekali aku tak menangkap isyarat atau firasat bahwa peristiwa itu akan terjadi. Itulah rahasia Allah. Yang kuingat hanyalah, dia minta izin untuk mendaftar les bahasa Inggris. Tanpa di antar oleh Pak Dudung, sopir pribadi yang biasa mengantar Zahra ke mana pun.
“Kak, Zahra mau daftar les bahasa Inggris. Mungkin pulangnya akan terlambat. Lagian, Zahra nggak mau di antar Pak Dudung. Zahra mau pergi sama teman-teman.”
Setelah berpamitan kepada mama, Zahra mencandaiku. Mencubitku. Wajah sangat riang. “Kak, Zahra pergi dulu ya. Kakakku yang baik hati… Aku kangen kakak deh…” Tak kusangka itu kalimat terakhir yang kudengar.

Aku teringat kata-kata Zahra yang pernah diucapkannya dahulu. “Kasihan ya, orang yang kehilangan anggota keluarga, teman, dan siapa pun yang dicintai.”
Tiba-tiba, aku teringat buku harian Zahra. Ya, dia memang rajin menulis apa pun di buku hariannya. Namun, aku belum pernah melihatnya. “Ya, aku baru ingat sekarang.”
Buku harian Zahra menarik perhatianku. Dua halaman terakhir sungguh membuat hatiku tersentuh.
“… kehidupan adalah manis. Apalagi di tengah-tengah sanak-saudara yang rukun. Ya, kehidupan teramat indah juga di tengah-tengah kaum papa. Kadang aku merasakan seperti di istana saja kalau berada dengan sesama yang miskin…”
Kenapa aku tak pernah mau tahu kalau Zahra sering menulis sesuatu di buku hariannya?
Ketika halaman terakhir sebelum mampu menjawab pertanyaan tadi. “Puisi Zahra…” gumamku.
Tulisannya rapi sekali sehingga dengan mudahnya aku bisa menghayati puisinya itu.

Tuhan, jika boleh hamba memohon:
Jangan dulu tubuh diberi lumpuh
Jangan dulu hati didekati iri
Jangan dulu batin dirintih perih
Jangan dulu lidah searah dusta
Jangan dulu tangan bersalaman dengan si kikir
Supaya sisa perjalanan itu—
Paling tidak — sempurna di sisi-Mu

Cerpen Karangan: Edi Warsidi
Facebook: Edi Warsidi

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply