Baca Juga Cerpen Lain’nya:

Tangga Nada Berjalan

Cahaya terang itu berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya. “Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas...

Pelangi yang Kelabu

Tak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini aku bangun lebih pagi dari pada suami dan juga anak-anakku. Aku menyiapkan sarapan mereka, aku membereskan seisi rumah, aku benar-benar baru merasa seperti ibu rumah tangga kembali....

Buta Tak Membatasi Segalanya

Aku berdiri di antara kerumunan orang-orang yang berada di bandara. Aku mendengar suara manusia di sekelilingku ribut sekali. Ada canda, tawa, teriakan anak kecil, hentakkan kaki, bunyi angin dan masih banyak lagi bunyi yang...

Hari Hari Icha

Hari libur telah tiba. Semua anak-anak pasti memerlukan liburan. Ya, kali ini kendaraan banyak di jalanan. Awan-awan terlihat hitam nan mendung. Pepohonan yang rindang menari-nari. Petir sedikit demi sedikit menyambar. Akhirnya,...

Dari Daun Pintu Kamarmu

Tak seharusnya kau begitu, terus-menerus bahkan tak pernah lelah memanjakanku. Setiap pagi kau tak pernah alpha mengantarkan teh hangat untukku, anakmu yang sudah tak berdaya ini. Kau juga terbiasa memijatku, membelai rambutku,...

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga…?”

"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?

2 Responses to Puisi Untuk Bunda

  1. AuRania Eka 27 December, 2013 at 1:00 pm | | Reply

    Kereen .. Nangis nih bacanya :)

  2. Adila Megasih 29 April, 2014 at 1:48 pm | | Reply

    Cerita yang sungguh menyedihkan :’)

Leave a Reply