Puisi Untuk Bunda


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 17 April 2013

Nama ku sesil, aku ber umur 6 tahun sekarang aku sekolah kelas 1, kata ayah sejak aku lahir Bunda ku udah meninggal, aku sama sekali ga pernah liat wajah Bunda aku… aku tinggal sama ayah sama nenek, nenek aku baiiikkk banget, ayah aku juga baik, ayah itu pahlawan aku… ayah juga sekaligus bisa jadi Bunda buat aku.

Terkadang, aku iri sama teman-teman yang di anter sekolah sama mamah sama papahnya, sedangkan aku Cuma sama ayah terkadang juga sama nenek a ku.. di sekolahan aku juga sering di ejak sama temen-temen kalau aku ga punya Bunda, “Sesil ga punya ibu… sesil ga punya ibu..!” itu ejekan yang sering temen-temen aku katakan sama aku. Aku juga seringggggg banget nangis kalau pulang sekolah, tapi kata ayah walaupun aku ga punya Bunda aku beruntung masih punya ayah yang super baik.
“Bunda, aku memang pembawa sial ya bun… kenapa aku di lahirkan bun..? gara-gara aku lahir bunda jadi meninggal, ayah jadi kesepian”. Ujar aku sambil memeluk boneka yang katanya dari bunda waktu belum meninggal. Ayah sama nenek ga pernah kasih foto bunda sama aku. Aku Pengin banget kaya temen-temen yang lain, punya Bunda yang baik.
“Ayah… sesil mau liat wajah Bunda,” tanya aku sama ayah
“sesil… walaupun kamu ga pernah liat Bunda, tapi Bunda itu selalu ada di hati kamu sayang,” kata ayah sambil membelai rambut ku
“ayah kamu benar sayang, ibu itu selalu ada di hati kita semua” ujar nenek.
Sesekali ayah meneteskan airmatanya, kerena ayah itu sangat mencintai Bunda, makannya sampai sekarang ayah ga mau menikah lagi. Aku sangat merindukan sosok seorang Bunda. Tapi Walaupun aku ga punya Bunda tapi aku bahagia punya ayah yang sayang sama aku.

Terkadang aku merasa kesepian di rumah, ayah pulangnya sore. Nenek sering sakit-sakitan kadang aku juga membantu merawat nenek kalau lagi sakit.
“Ne… sesil sayang sma nenek,” ujar aku sama nenek
“ia sayang nenek juga sayang sama sesil” ujar nenek sambil mencium kening aku,
Oia… besok hari minggu berarti besok aku sama ayah waktunya untuk jalan-jalan, kata ayah untuk refresing soalnya jarang banget aku sama ayah jalan-jalan.
“ayah besok kita mau jalan-jalan kemana..?” tannya aku sama ayah
“maunya sesil kita jalan-jalan kemana..?” tanya ayah..
“mmmmm… gimana kalau kita ke taman bunga aja yahhh..” usul aku.
Ayah hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, aku merasa bingung kenapa ayah tiba-tiba sedih, ternyata taman bunga itu adalah tempat favorit Bunda waktu Bunda masih hidup.
“iya.. ayah akan ajak kamu ke sana sayang” kata ayah..
Aku sanagat senang bisa jalan-jalan sama ayah… tapi sayang nenek ga mau ikut, katanya sihh udah tua, ga pantes ke taman bunga kata nenek takut bunganay layu karena kecantikan nenek, heheheh…

***

“sesil, ayo bangun sayang katanya mau jalan-jalan” ayah membangunkan aku di kamar.
“oia, sesil lupa yah.. ya udah sesil mandi dulu ya yah,?”
Setelah aku selesai mandi kita langsung berangkat ke taman bunga, tapi waktu aku keluar kamar, ayah sama nenek terbengong melihat aku, katanya aku mirip banget sama Bunda.
“ayah… ayo berangkat… ayah…!” panggil aku karena ayah diem aja
“oh! Ia yu berangkat, ibu kita berangkat dulu ya..?” pamit ayah sama nenek.
“dah nenek, sesil berangkat ya nek… ?” aku pamit juga sama nenek sambil melambaikan tangan aku.

Setelah beberapa menit kemudian akhirnya kita sampai di taman bunga, aku sama ayah main gelembung udara, hmmmm asik deh pokoknya. Tapi… sayang ga ada Bunda di sini, coba kalau ada bunda pasti tambah seru dan terasa lengkap keluarga aku.

Setelah seharian main di taman Bunga aku sama ayah pulang soalnya udah cape banget. Sesampai di rumah aku langsung tidur di kamar, dan ayah juga nemenin aku tidur, ayah juga suka nyanyiin aku sebelum aku tidur kadang-kadang aku juga minta di dongengin sama ayah.
Ayah aku itu ayah yang baiiiikkk banget aku sayang sama ayah aku, aku juga sayang sama nenek aku.

Besok aku penerimaan raport seperti biasa ayah sama nenek yang ngambil raport aku.
“Sesil mana ibu kamu” tanya ibu guru kepada sesil.
“Kata ayah, Bunda sesil ada di sini buu..” ujar aku sambil memegang dada aku.
“maksud sesil apa…?” tanya ibu guru kembali
“maksud sesil… Bunda itu ada di hati sesil, soalnya Bunda sesil Udah meninggal Bu.” Ujar sama bu guru
Saat itu ibu guru hanya terdiam dan ga menyangka, saat aku sedang ngobrol-ngobrol sama ibu guru tiba-tiba ayah datang ke sekolahan.
“Maaf sayang ayah telat” ujar ayah
“ga papa koh ayah, lagian belum di mulai”

Saat ayah datang aku memeperkenalkan ayah sama ibu guru yang bernama bu Nina, guru yang paling baik di sekolah.
“ayah.. kenalin ini bu Nina” aku memperkenalkan sama ayah.
“saya Reno ayahnya sesil” ujar ayah..
Merekapun saling berjabat tangan, dan saling pandang.. ihhhh akau jadi malu, aku menutup mata ku, dan aku mengintip diantara jari-jari aku..
Ayah dan ibu ninapun tertawa, karena kelakuan aku… oia… acaranya udah hampir di mulai.
“Ayah… ayo udah mau dimulai tuh” ajak aku sambil menarik tangan auah menuju gedung acara.

Dan acaranya siap untuk di mulai, acara pertama yaitu acara pengumuman juara umum sesekolahan, dan ibu guru menyebut nama aku sebagai juara umum pertama aku sangat senang sekali dan aku naik ke panggung untuk menerima piala dan aku di suruh mengucapkan kata terima kasih,
“sebelumnya sesil mau berterima kasih sama Ayah, yang sudah mendidik sesil, sesil juga berterimakasih sama nenek sesil yang sayang sama sesil, I LOVE YOU Ayah,”
Di kejauhan ayah tersenyum dan membalas kata kata ku I LOVE YOU TOO my PRINCES

Dan acara yang selanjutnya semua siswa di wajibkan untuk membacakan puisi tentang Ibu yang di tugaskan oleh buguru kemaren, tapi aku ga memebuatnya soalnya aku ga tau seperti apa wajah Bunda, dan bagaimana rasanya dipeluk sama Bunda dan bagaimana kasih sayang bunda, aku Cuma tau tentang ayah, dan kata ayah Bunda itu Bidadari yang selalu di hati.
Ini saatnya aku untuk maju kedepan untuk membacakan puisi Tentang Ibu, akhirnya aku maju dan… aku hanya terdiam dan menangis… karena yang aku baca itu kertas kosong dan hanya ada tulisan BUNDA.
“Sesil ayo..kamu bacakan Puisi kamu” perintah bu guru…
Aku hanya terdiam dan meneteskan air mata..
“Bunda… ” hanya satu kata yang dpat aku ucapkan
Aku melihat ke arah ayah, dan ayahpun meneteska airmatanya, aku sangaaaat sedih melihat ayah menangis, aku mencoba untuk tidak menangis tapi… aku ga bisa buat puisi tentang Bunda..
Ayah terus menyemangati aku untuk membaca puisi…
“Ayah… Sesil ga bisa yah,?” ungkap aku di atas panggung dengan air mata yang menetes di pipiku.
Ayahpun berdiri di antara banyak orang yang duduk, dan memberi semangat untuk ku…
“ayo sayang kamu pasti bisa… ” semangat ayah untuk ku,
Aku tertunduk dan mencoba untuk membayangkannya, tapi aku tetap ga bisa,
“Bunda… sesil sayang Bunda… sesil ga bisa buat puisi Untuk Bunda, sesil ga pernah liat Bunda, sesil ga punya Bunda, sesil ga pernah ngrasain dipeluk sama Bunda… ayah… sesil ga bisa yah… sesil ga bisa..” desah aku dengan kata lirih sambil menangis di atas panggung…
Dan ayah naik ke atas panggung untuk menenangkan aku
“sayang… ayo… kamu pasti bisa, percaya sama ayah, yahhh? Coba kamu pejamkan mata kamu, dan bayangkan kalau di hadapan kamu ini adalah Bunda bukan ayah,” Bisik ayah..

Akupun memejamkan mata ku… dan aku mulai merangkai kata demi kata..
“Bunda…
Tak tampak wajah cantik mu di hadapan ku…
Tapi aku yakin Bunda itu seperti Bidadari yang selalu di hati..
Bunda…
Rasa sayang ini tak kan tergantikan, Bunda, tetaplah di hati ku Bunda..
Datanglah di mimpiku hadirlah di hadapanku, dan tersenyumlah untuk ku
Bunda, Cinta mu tiada tara… walaupun aku tak mengerti arti cinta Bunda
Kasih saynag mu tiada tersisa… pelukanmu tak pernah ku rasa…
Bunda, aku sayang Bunda… Aku rindu Bunda…
Puisi Ini Untuk Bunda…
Bunda… kenapa kau tinggalkan aku…
Aku seperti kertas yang tak terisi oleh coretan tinta hitam..
Aku rindu kehadiran Bunda…
Bunda,tetesan air mata ku,
Adalah rasa kerinduan ku Pada mu Bundaaa,
Bundaaa… Bundaaaa… I Love You Bunda… ”

itu puisi yang aku rangkai kata demi kata tanpa kertas.

Semua yang ada di ruangan tersebut menangis, ayah pun juga menangis… dan akhirnya aku bisa menang dalam lomba membaca puisi itu aku sangat senang karena aku bisa membuat ayah bangga sama aku, walaupun aku baru berumur 6 tahun tapi aku senang karena aku sudah membuat ayah ku tersenyum.

***

Sudah 2 hari aku sakit aku ga tahu aku sakit apa, tapi yang aku rasakan semua badan aku sakit, apa lagi kaki aku sakit banget lalu ayah mengajak aku untuk ker rumah sakit.
“sayang, kita kerumah sakit ya..?” ajak ayah
“iya yah… ”
Sesampai aku sama ayah di rumah sakit aku langsung di periksa, aku ga tahu dokter sama ayah bercerita apa, yang aku tahu hanya sakit.
“dok putri saya sakit apa dok..?” tanya ayah
“menurut pemeriksaan saya, putri bapak terkena kanker tulang stadium lanjut,” ujar dokter
“apa dok kanker tulang?” ujar ayah dengan mata yang berkaca-kaca dan mengelus rambut aku.
“ia pak, putri bapak terkena kanker tulang, tapi saya akan berusaha untuk mengobatinya pak,” kata dokter sama ayah
“iya dok, saya minta bantuan dokter untuk menyembuhkan putri saya dok..”
Setelah ayah mengobrol sama dokter kita langsung pulang, tapi ayah kelihatannya sedih, aku ga tau kenapa.
“ayah… ayah kenapa ko sedih..?” tanya aku
“ayah ga papa ko sayang,” ujar ayah
“ayah… sesil sakit apa sih..? sesil kena kanker tulang ya,? Kenker tulang itu apa yah,?” tanya aku sama ayah soalnya aku penasaran.
Tapi ayah diam saja dengan mata yang berkaca-kaca dan mengelus rambut aku, aku jadi semakin bingung. Setelah sampai di rumah aku tanya sama nenek tentang penyakit itu.
“Nenek… nekk..nenek,” panggil aku sama nenek
“iya sayang, ada apa..?” jawab nenek sambil menghampiri ku
“Nek, sesil mau tanya, kanker tulang itu apa nek..?” tanya aku
Nenek hanya terdiam dan tidak mengasih tahu aku tentang pertanyaan ku, aku semakin bingung, lalu nenek pergi menghampiri ayah, aku hanya terdiam duduk di sofa.

“Reno, apa yang terjadi sama sesil..?” tanya nenek pada ayah
“Sesil terkena kanker tulang bu..” jawab ayah dengan wajah yang sangat sedih.
“apah… cucuku satu-satunya terkena kanker” ujar ibu dengan air mata yang menetes
“ayah… nenek… kenapa kalian nangis,? Ayah… ! kenapa ayah nangis, sesil aja ga nangis ko yah..” ujar aku sambil mengusap airmata ayah, lalu ayah memeluk aku dengan erat seolah-olah aku mau pergi.
Pada malam hari saat aku mau tidur tiba-tiba ayah datang dan tidur di kamar aku sambil memeluk aku,
“ayah, ayah kenapa..? ko ayah kelihatannya ketakutan..?” tanya aku sama ayah,
“Sesil,… sesil jangan tinggalin ayah yahh… ?” tanya ayah sambil memeluk aku dengan erat.
“iya ayah.. sesil ga akan pergi ko, sesil kan sayang sama ayah… ko ayah nangis..?” tanya aku sama yah dan mengusap airmata ayah,

Saat itu aku bingung kenapa ayah sama nenek takut kehilangan aku, padahal aku kan ga pergi kemana-mana, aku semakin penasaran sama penyakit ku, pada waktu aku berangkat sekolah aku bertemu sama bu Nina guru aku di sekolah.
“ibu..ibu guru..!” panggil aku sam bu nina
“ia sesil ada apa.?” Tanya ibu guru
“sesil mau tanya bu..”
“tanya apa sesil..?” tanya ibu guru sama aku
“penyakit kanker tulang itu apa sih bu..?” tanya aku dengan penasaran, tapi ibu guru jawabnya lama banget.
“memang siapa yang kena penyakit itu sesil..?” tanya bu guru dengan penasaran
“kata dokter, sesil sakit kanker tulang bu, kemaren sesil tanya sama ayah, sama nenek, tapi ga di jawab bu, malah ayah nangis, emang apa sih bu,?” tanya aku.
“ya Allah, anak sekecil ini harus menderita penyakit yang mematikan,” desah bu nina dalam hati
“sesil, penyakit itu Cuma sakit biasa ko, nanti juga akan sembuh, ya udah sekarang kamu masuk kelas ya..?” suruh bu guru nina, dan akhirnya aku dapat jawaban dari bu nina, dan ternyata penyakit aku Cuma penyakit biasa.
Pada saat aku pelajaran olah raga dan olahraganya yaitu lomba lari, tiba-tiba aku terjatuh, karena kaki ku susah untuk di gerakan, kaki ku sakit banget,

Dan pak nino membawa aku ke UKS, bu nina pun datang ke uks dengan rasa yang khawatir banget sama aku.
“sesil… kamu kenapa sayang.?” tanya bu nina
“sesil ga papa ko bu, tadi sesil jatuh di lapangan soalnya kaki sesil sakit bu, sakit banget “
“sesil, ibu telfon ayah kamu ya..?” tanya bu nina
“ga usah bu, sesil ga papa ko, sesil bisa pulang sendiri”
Akupun turun dari ranjang, dan aku memutuskan untuk pulang sendiri, soalnya hari ini ayah lagi sibuk di kantor, trus nenek juga lagi ke rumah tante mira. Waktu aku mau pulang aku lupa ga bawa uang saku, akhirnya aku jalan kaki sampai rumah, di tengah perjalanan kaki aku sakit banget.
“aduuuhhhh, ko kaki aku sakit ya,?” grutu aku sambil memegangi kaki ku yang sakit.
Aku mencoba untuk berjalan lagi tapi tiba-tiba kaki ku kaku, ga bisa di gerakin, dan rasanya nyeri, akupun terjatuh di pinggir jalan.
“sesil… !” panggil ibu nina dengan mengendarai mobilnya
Ibu guru nina menghampiri aku dan mengangkat aku masuk kedalam mobil.
“sesil, kenapa kamu jalan kaki?” tanya bu guru nina
“sesil ga mau ngrepotin ayah bu, ayah sesil lagi kerja di kantor bu, nenek sesil juga lagi pergi.
Ga tau kenapa bu guru nina kelihatan matanya berkaca-kaca sambil melihat ku.

Saat aku sama bu nina sampai di rumah, ternyata ayah sudah di rumah dan mau menjemput aku.
“sesil… ” panggil ayah..
“ayah… ” aku sambil di gendong ayah..
“bu nina ko bisa sama sesil?,” tanya ayah sama bu guru nina
“ia tadi saya ketemu sesil di jalan pak, lagi jalan kaki”
“apah! jalan kaki…?”
“ia yah.. tadi sesil jalan kaki, tapi sesil ga papa ko yah,” jawab aku, dan kemudian aku masuk ke kamar untuk ganti pakaian.
Di saat aku sedang ganti pakaian ibu nina sedang mengobrol sama yah,
“pak, apa bener sesil terkena kanker..?” tanya bu nina
“ia bu, sesil terkena kanker stadium lanjut, tapi ibu tahu dari mana?” tanya ayah sama bu nina
“tadi pagi sesil tanya sama saya pak, katanya pak reno sama neneknya ga mau memberi tahu tentang apa itu kanker.” Ujar bu nina
“saya ga tega bu, melihat putri saya satu-satunya mengidap penyakit yang sangat mematikan, saya belum siap untuk kehilanagn putri saya bu,” ujar ayah dengan mata yang berkaca-kaca
“ia pak, saya turut prihatin, anak sekecil sesil harus berjuang melawan penyaki yang mematikan,” ujar bu nina

***

Pertandingan laripun di mulai, salah satu pesertanya yaitu aku, aku sangat suka lomba lari, dan hari ini aku akan mengikuti lomba lari, tapi entah kenapa ayah dan nenek melarangku untuk mengikuti lomba lari,
“sesil, kamu istirahat saja ya di rumah, ayah ga mau kamu sakit.” Ujar ayah,
“tapi ayah,hari ini kan sesil mau lomba lari, ini saat yang sesil tunggu yah…” bantah aku sama ayah
“sesil..! kamu jangan bantah sama ayah, pokoknya kamu ga boleh ikut lomba lari.!” Bentak ayah.
“Ayahh… kenapa ayah bentak sesil..?”
“Nenek…!” panggil aku kepada nenek, dan aku mengadu kepada nenek kalau ayah membentak ku dan nenekpun memearaih ayah, dan akhirnya aku di ijinin untuk ikut lomba lari.
“yessss! Makasih nenek…”

Akupun pergi sama ayah dan nenek ku ke tempat pertandingan, rasanya deg-degan banget, tapi setelah aku sampai di arena pertandingan kaki aku sakit, nyeri banget.” Aduhhh… kaki sesil sakit yah…” desah aku sama ayah.
“sayang kamu ga papa kan?” tanya ayah
“ga papa yah, tapi kaki sesil pegel yah, tangan sesil juga sakit,” kata ku sama ayah.
“ya udah kita pulang aja ya sayang…?”
“ga ah, yah,bentar lagi sesil tanding yah, sesil yakin paling bentarlagi sembuh yah,” bantah aku

Kini saatnya nama aku di panggil untuk memulai pertandingan, dan aku bersiap-siap ke arena pertandingan.
“ayah… do’ain sesil ya yah.. nek..” aku minta do’a sama ayah dan nenek
“ia sayang, hati-hati ya” ujar ayah dan nenek mencium kening aku.
“PRiiiiiiiiiTTTTTTTT” peluit berbunyi tanda pertandingan di mulai dan aku mulai berlari sekuat tenaga aku, dan aku sambil memandang ke arah ayah yang selalu menyemangati aku.
“sesillll… ! ayo sesill… seMANGAT… !” semangat ayah dan nenek buat aku.
Pada saat di tengah jalan menuju finish, tiba–tiba kaki aku terasa sakit dan susah untuk di gerakan, dengan terpaksa aku menyeret satu kaki ku sambil berlari.
“sesillll… ! “teriak ayah dan nenek
Aku hanya terus berlari dan memegang kaki ku dan menyeretnya agar bisa sampai di garis finish, aku sempat terjatuh saat aku akan sampai di garis finish, tapi aku teringat sama Bunda, dan aku Terus menyebut nama Bunda, dan aku terbangun dan langsung menuju garis finish akhirnya aku menang ayah langsung memeluk dan menggendongku tapi saat aku sampai di garis finish aku pingsan karena kaki ku yang sakit, ayah dan nenek langsung membawaku kerumah sakit.

Saat aku terbangun tiba-tiba aku sudah terbaring di rumah sakit dan ada piala di samping ranjang,
“ayah… ” panggil aku sama ayah
“sayang kamu sudah siuman, lihat kamu berhasil sayang, kamu berhasil mendapatkan piala untuk ayah” ujar ayah dengan mata yang berkaca-kaca
“ayah.. sesil seneng banget bisa buat ayah sama nenek bangga sama sesil, ayah… sesil mau ketemu sama bunda yah… ” ujar aku
Ayah terlihat sedih dan nenek terus memegang tanagan aku dengan tetesan airmata, yang membasahi pipinya, semakin hari aku semakin merasakan sakit dan sakit aku merasakan perih dan nyeri, wajah ku semakin pucat dan ayah… aku kasihan sama ayah…
“ayahh… sesil sayang ayah, sesil ga mau ninggalin ayah sama nenek, ayah, ayah jangan nangis, sesil ga akan pergi ninggalin ayah, ayah, janagn nangis ya?” kata ku sambil menghapus air mata ayah, dan ayah memeluk ku dengan erat,
Saat itu pandangan ku semakin kabur, kaki ku terasa ga bisa di gerakan… dan terasa pegel banget..
“ayah… kaki sesil sakit yah..kaki sesil ga bisa di gerakin… ayah…! SAKIT yah… sakit… ayah…!” teriak aku karena kaki ku terasa sangattttt sakit, tapi ayah ga bisa berbuat apa-apa, ayah hanya bisa terdiam dan menangis melihat ku kesakitan, ayah hanya memegang tangan ku saat dokter memeriksaku,

“dok gimana putri saya dok… ?” tanya ayah dengan cemas.
“maaf pak, untuk saat ini saya ga bisa berbuat apa-apa, penyakit sesil sudah semakin parah dan kanker yang bersarang di tulang sesil sangat berkembang pesat, dan mungkin saat ini umur sesil ga lama lagi pak..”
“apah dok…!” ayah sangat kaget dan shock mendengar hidup ku ga lama lagi,
Aku sedih melihat ayah menangis, aku sedih melihat ayah bersedih.
“ayah, ayah jangan nangis yahhhh..?” kata ku sambil menangis
“sesil… ayah sayang sama sesil, sesil harta satu-satunya buat ayah nak,sesil jangan tinggalin ayah ya nak…?” ujar ayah dengan tetesan airmatanya.
“Ayah… sesil sebentar lagi mau ketemu bunda yah, sesil kangen sama bunda, nanti kalau sesil ketemu bunda dan pergi sama bunda, ayah sama nenek ga usah sedih ya,?” ungkap aku sama ayah dan nenek, ayah dan nenek hanya menangis.
Saat itu aku merasa bahwa Bunda sudah ada di sampingku dan mengajak ku untuk pergi, aku sudah buat puisi untuk Bunda, puisi yang pertama kali aku buat Untuk Bunda, itu puisi yang aku buat sendiri.
Dan aku memberikannya kepada ayah untuk Bunda..

“ayah… Sesil mau pergi sekarang… sesil udah cape sakit terus yah… sesil pengin istirahat, sesil titip nenek ya yah, sesil mau ngasih puisi ini untuk Bunda..” ungkap aku untuk yang terakhir
“sayang… kamu jangan pergi, ayah sayang kamu sayang..” ungkap ayah sambil memeluk ku.
“ayah, sesil sayang ayah, sesil mau istirahat yah… sesil capeeee… ”
“sesILLLLL… ! teriak ayah dan nenek
“bangun sayang… jangan tinggalin ayah, nak, bangun… ” teriak ayah sambil memeluk aku…
Dokterpun datang dan menyatakan bahwa…
“sesil telah meninggal Dunia..”
Sesil sayang ayah, sesil sayang bunda… sesil sayang nenek… semua kasih sayang yang ayah berikan akan aku kenang sampai aku mati…
LOVE YOU AYAH…

… BERAKHIRLAH KISAH HIDUP KU…

PUISI UNTUK BUNDA
Bunda…
Aku sayang bunda, melebihi apapun didunia ini…
Walaupun mata tak pernah melihat wajah Bunda..
Tapi Hati ku melihat Bunda yang cantik seperti Bidadari
Bunda…
Kapan Mata ini akan melihat mu..
Aku tak pernah merasakan pelukan Bunda…
Aku Rindu dengan sosok Bunda…
Bunda…
Aku sayang Bunda…
Aku Cinta Bunda…
Bunda… I Love You Bunda…

Cerpen Karangan: Devi Upi Lestari
Facebook: Devii uphi Lestarii
Sekolah : SMK Yos Sudarso Kawunganten, Alamat, Jl. Greja No. 03.
Kode pos 53253
No Tlp. 082136263088

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Keluarga Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 Responses to “Puisi Untuk Bunda”

  1. AuRania Eka says:

    Kereen .. Nangis nih bacanya :)

  2. Adila Megasih says:

    Cerita yang sungguh menyedihkan :’)

Leave a Reply