Puisi Untuk Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 3 October 2017

Libur panjang sebentar lagi akan berakhir. Hari menyenangkan untuk para pelajar perlahan mulai bergerak pergi. Sepatu sekolah di sudut ruanganpun mulai berdebu karena berminggu-minggu tak dibersihkan.

Seorang gadis dengan rambut hitam tergerai tengah duduk di balkon kamarnya, menikmati udara sore ditemani sebuah novel yang sebenarnya sudah selesai ia baca beberapa menit lalu.
Matanya menatap langit dengan semburat jingga dan garis putih dari awan. Sebentar lagi semua itu akan berubah menjadi biru tua dan gelap. Bulat kuning itu akan berganti dengan si putih pucat dan temannya, kerlap kerlip yang ramai.
Disaat seperti ini, pikirannya selalu melayang. Kilasan-kilasan memori dimasa kecil kembali terputar, saat dimana semuanya masih terasa lengkap. Saat dimana kehangatan itu masih ada. Saat-saat yang sepertinya sulit untuk terulang kembali.
Matanya mulai terasa panas, kalau saja jemarinya tak cepat mengusap, pastilah akan ada lintasan panjang yang tercetak di kedua pipinya. Ia merasa kasihan pada dirinya sendiri. Terlalu mudah menangis.

“Kak, ayo turun. Kita makan malam” suara khas itu terdengar memanggil dari bawah. Tanpa sadar, ternyata sedari tadi ia melamun, bahkan bulan sudah menggantung indah. Dengan helaan napas, ia beranjak dari kursi balkon dan menuju kebawah.

“Lusa kan masuk sekolah. Udah siap-siap, Kak?”
“Masih males Bu” jawab Karin sembari menguncir rambutnya menuruni tangga. Orang yang dipanggil Ibu oleh Karin hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Di meja makan, Ito sudah duduk dengan manis, menanti makanan sampai kepiringnya. Selalu seperti itu setiap harinya. Dan tak lama setelah ia duduk di kursi samping Ito, Ibunya datang dengan menu kesukaan mereka.
Suara denting piring dan sendok yang beradu menghiasi makan malam yang sepi. Jendela dapur yang masih terbuka menampakkan pemandangan langit malam.

“Langitnya cantik ya, Kak. Kayak Ibu” wanita paruh baya itu membuka obrolan.
“Apaan deh Ibu”
“Ahahaha. Eh iya, ada novel baru tuh tadi Ibu beli. Kayaknya Kakak bakal suka”
“Novel apa?” Jawab Karin antusias. Yaa, hobi membacanya sudah sangat menjamur.
“Judulnya emm, apa yaa. Bintang dan Ayah, kalo nggak salah”

Wajah Karin nampak lesu. Susah sekali untuk tak peduli pada perasaannya. Hatinya yang rapuh membuat Karin menjadi orang yang sangat perasa.
Ada 3 kata yang tak pernah diucapkannya sejak bertahun-tahun lalu. Waktu yang cukup lama untuk memendamnya, dan malam ini kata-kata itu akan keluar.
“Kapan Ayah pulang?”

Ito yang masih polos hanya diam, masih menikmati makanan dihadapannya. Karin sudah kelas X, kejadian itu telah berlalu 7 tahun silam. Namun, kenangannya masih terus melekat. Ia cukup mengerti akan alasan dari jawaban atas pertanyaannya. Tapi ia tak cukup mengerti mengapa selama ini.
Aktifitas makan di antara keduanya terhenti, Karin menatap nanar Ibunya. Terbersit rasa rindu yang besar di sana.

“Kak, Ibu udah pernah bilang kan. Ayah kerja, jauh-jauh keluar kota cuma buat kita. Supaya hidup kita tercukupi. Ha-” belum sempat wanita dengan rambut tergelung itu menyelesaikan ucapannya. Karin memotong.
“Tapi nggak selama ini Bu” Karin bersuara dengan nada kecewa
“Kamu udah dewasa, Karin. Kalau bisa Ayah kamu juga mau pulang, mau ketemu sama kita semua”
Makan malam yang nikmat itu berubah menjadi makan malam penuh kekecewaan. Ibunya mengerti betul atas perasaan Karin, namun wataknya yang keras kepala sulit sekali untuk menerima penjelasan dari Ibunya.

Pagi hari, semua kembali seperti biasa. Sedikit pertikaian tadi malam tak memberi pengaruh yang besar bagi komunikasi mereka. Hanya hati Karinlah yang bermasalah. Dan tentang novel yang Ibunya belikan, ia sudah membacanya semalaman. Tentunya dengan berurai air mata.

Selain suka membaca buku, Karin sangat menyukai puisi. Ia selalu menyempatkan diri untuk menuangkan pikiran dan perasaannya pada untaian kalimat berbait. Tumpukan buku berisikan puisi diatas meja belajarnya telah membuktikan kecintaanya pada puisi. Bermacam tema dan judul telah ia buat. Jika membaca adalah hobinya sejak SD, maka menulis puisi adalah hobinya sejak SMP. Dan semalam, satu puisi telah tertuang dari tangannya.

Setelah mandi dan membereskan kamar, Karin turun ke bawah dan meminta izin untuk pergi ke rumah Ina. Sahabatnya yang kebetulan tinggal satu komplek. Untuk hari ini, Karin ingin mengajak Ina ke tempat favoritnya.
Tempat itu ialah rumah pohon di sebuah tanah kosong, tempat paling ujung di komplek ini. Rumah pohon yang dibuatkan Ayah Karin untuk ia dan adiknya semasa kecil. Ina sering sekali diajak Karin mendatangi tempat itu, hingga lambat laun Ina ikut menyukainya karena tempatnya yang sepi dan nyaman.

Di dindingnya, terpajang berbagai coretan buatannya saat kecil. Ada buatan Ito dan juga buatan Ayahnya. Di tengah langit-langitnya juga tergantung hiasan dengan foto berbingkai kecil pada ujungnya. Orang-orang di dalam foto itu tersenyum bahagia. Seorang gadis kecil dengan kuncir kuda duduk di atas pangkuan lelaki dan tersenyum dengan percaya diri. Sedangkan wanita di samping mereka menggendong bayi lelaki dengan pipi yang sangat menggemaskan.
Hatinya perih mengingat kenangan kala itu. Memori itu terasa sangat menyakitkan. Padahal ini hanyalah sekedar masalah yang jalan selesainya saling memahami dan percaya. Tetapi sepertinya hal itu belum juga dipahami secara mendalam oleh Karin.

“Ina, aku ini kasihan banget ya” Karin tertawa sumbang.
“Hah? Maksudnya?” Ina tak mengerti dengan arah pembicaraan Karin.
“Iya, kasihan. Bertahun-tahun ditinggal pergi sama sosok seorang Ayah. Aku suka ngerasa iri sama anak-anak lain, yang kalo pergi dan pulang sekolah dianter Ayah. Setiap hari bisa bercanda sama Ayah, nanyain tentang tugas sekolah ke Ayah. Bahkan curhat ke Ayah” cairan bening itu langsung melesat dari mata dan hidungnya. Hati Ina ikut merasa perih akan perasaan sahabatnya itu. Ia merengkuh dalam sosok Karin yang sedang rapuh.

Waktu dan jarak membuat ia terpisah. Hanya ulasan senyum dari wajah berahang tegas itu yang melekat. Karin merindukan nasihat-nasihatnya, hangat dekapannya, indahnya saat bersama. Kegilaan yang dulu pernah dilakukan bersama. Masa-masa indah penuh haru. Tanda tangan Ayahnya dirapot sekolah. Menonton bersama Ayah, bahkan dimarahi karena melakukan kesalahan. Semuanya sangat Karin rindukan. Tak jarang rasa itu dicurahkannya lewat puisi.

Ina sering kali menasihati Karin untuk memahami keadaan yang ada. Toh Ayahnya bekerja serta merta untuk ia dan keluarganya. Semuanya demi masa depan keluarga mereka. Ayahnya lama tak pulang karena memang tuntutan pekerjaan, bukan hal lain. Ina sudah sering berusaha untuk membuat Karin percaya akan hal itu, tapi Karin tetap saja sulit menerimanya. Hal negatif selalu saja memenuhi pikiran Karin.

Awalnya Ayah Karin bekerja di sebuah perusahaan tak jauh dari rumahnya, tetapi sang pimpinan memindahkan Ayahnya ke cabang perusahaan di luar kota.

“Aku tau kalau aku belum cukup dewasa, Na. Bahkan di usiaku sekarang ini. Semuanya terasa kurang” isak tangis mengiringi ucapannya.
“Karin, kamu harusnya masih bersyukur. Bukannya lemah kayak gini. Dimana rasa syukur kamu” Ina sedikit emosi
“Walaupun Ayah kamu jauh, jaraknya bisa dipersempit. Aku yakin Ayah kamu bakal pulang, dia juga pasti ngerasain hal yang sama, Karin. Kalo kamu ngerasa kasihan sama diri kamu atas semua ini, gimana sama aku?” Karin terhenyak, tangisnya terhenti.
“Gimana sama aku? Ibu aku bahkan udah pergi duluan menghadap Tuhan. Kamu tau itu. Sekarang aku cuma bareng Ayah dan Kakak. Aku nggak akan bisa ketemu sama Ibu lagi. Aku tau ini semua ujian dari yang di atas, Karin. Karena apa? Karena Tuhan ngeliat kita mampu. Semuanya sudah ketetapan dari Tuhan” dibalik emosinya Ina, tersirat dorongan untuk membuat Karin menjadi kuat.

Ina pernah berada diposisi Karin, rapuh. Terlebih itu diusianya yang masih sangat kecil. Tapi semua berubah saat waktu menyadarkannya, bahwa menangis tidak ada gunanya. Tak akan ada perubahan dengan menangis.

“Ina. Ka-kamu” ucapan Ina menggetarkan hati Karin.
“Kamu itu lemah, Karin. Lemah. Mulai sekarang seharusnya kamu bisa jadi sosok yang lebih kuat. Bikin bangga keluarga kamu. Ukir kebanggaan, supaya disaat Ayah kamu pulang nanti, ada kepuasan di batinnya. Dengan begitu, dia akan bilang kalau gadis kecilnya yang dulu manja sudah berubah jadi gadis cantik yang membanggakan.”

Hari demi hari telah berlalu, minggu sudah berganti, lembaran baru telah terbuka. Berkat Ina, Karin tak lagi menjadi sosok yang lemah. Walau tak bisa dipungkiri, hatinya memanglah rapuh.

Dan kini, jantungnya tengah berdegup dengan kencang, keringat dingin mulai berdatangan. Mulutnya komat-kamit membaca doa. Sebentar lagi namanya dipanggil.

“Karina Bintang Mahendra” deg, namanya disebut, ada sedikit keraguan di hatinya. Menghela napas panjang, dan akhirnya ia bangkit dari duduknya, menghampiri seseorang yang memanggilnya dengan name tag Ari Pradana.
“Oke, sekarang giliran kamu tampil. Jangan gugup ya, dibawa enjoy aja. Lakukan yang terbaik.”
“Iya Bang, makasih” Karin memejamkan matanya sesaat, menghirup udara dan menghembuskannya kembali. Ia berjalan menaiki tangga menuju panggung.

Ternyata rasanya lebih menegangkan dari yang ia bayangkan. Ibu, Ito dan Ina terlihat duduk di barisan tengah, beberapa peserta yang telah tampil juga terlihat duduk dibarisan depan. Padahal udara dalam gedung sore ini cukup dingin, tapi tak bisa dibohongi jika para keringat mulai eksis disaat seperti ini.

3 orang dewasa yang duduk di sebelah kanan panggung menatap Karin dengan seksama. Ini benar-benar menegangkan. Lomba yang diadakan dalam rangka memeriahkan hari ulang tahun kota, harus diakui menarik perhatian banyak orang, termasuk Karin. Ada banyak perlombaan yang di gelar dan Karin memilih satu di antaranya. Ya, sebenarnya, dalam hati ia hanya mengadu nasib saja. Tak berharap menang, yang penting keinginannya tersalurkan.

“Selamat sore semuanya. Saya Karina Bintang Mahendra. Pada kesempatan ini, saya akan menampilkan puisi saya dengan judul Puisi Untuk Langit” Karin menoleh dan mengangguk pada tim audio. Menandakan bahwa ia siap.

Dan musik mengalun lembut. Karin akan menampilkan musikalisasi puisinya dengan instrumen lagu You Raise Me Up.

“Lagi, sunyi datang
Tak suka aku begini
Kemudian gelap itu masuk
Menyelimuti”

Ia memberi sedikit jeda dibait awal sebelum masuk kebait berikutnya. Membiarkan pendengar terbawa musik yang mengalun lembut.

“Aku menengadah, berteriak
Langit, rasa ini biarkan sampai
Jatuh berhadap padanya
Sendirian aku takut”

Musik masih mengalun dengan lembut. Hati Karin tak kuasa menahannya, perasaan sedih sudah menggerogotinya.

“Katakan
Hatiku perih menangis
Kenangan menyayatku

Sampaikan
Tak sanggup kembali berlari
Bayangnya terlalu jauh”

Instrumen lagu dibagian chorus perlahan mulai memelan diakhir, dan menghilang. 1 detik, 2 detik, 3 detik. Dan dengan tiba-tiba irama dengan suara tabuhan drum dan biola yang selaras memberi sedikit kesan kejutan. Ditambah nada yang muncul setelah irama menghilang terbilang cukup tinggi. Bersamaan dengan irama yang kembali terdengar itu, Karin juga kembali dengan kalimat puisinya.

“Langit, kini tangisku datang
Menggetarkan tubuh
Tak tau siapa berulah
Menyalahkan waktu, jarak mungkin, atau takdir?
Ini ulah diri”

Dengan musik yang tak jauh berbeda seperti sebelumnya, ia tenggelam bersama kata yang ia buat sendiri.

“Dia yang di sana
Taukah ku rindu
Ingin aku hadirmu

Lemah aku terduduk
Menanti datangnya kemari
Membawa kenangan kembali”

Dan 2 baris terakhir menutup puisi sedihnya. Suara musik yang memelan sangat sesuai dengan penyampaian dari Karin.

“Kan ku nanti, terus kunanti
Bersama puisi untuk langit”

Hah, akhirnya gadis dengan dress selutut berwarna tosca itu mengakhiri puisinya. Suasana dalam gedung hening. Tak ada tepukan seperti yang sering ia lihat diacara televisi, apa ia gagal?

Tapi, Karin melihat seseorang yang duduk di bangku penonton paling belakang berdiri dengan sebuah senyuman hangat dan bertepuk tangan. Sontak, riuh tepukan terdengar menyambut. Orang-orang di dalam gedung berdiri dan memberinya tepukan meriah.

Oh Tuhan, seindah inikah rasanya. Setidaknya dengan begini, karyanya dihargai. Tunggu, Karin mengenali sosok itu. Orang yang pertama kali bertepuk tangan untuknya.
Mata Karin membulat saat ita benar-benar menangkap sosok itu. Karena tak percaya, Karin menatap Ibunya di bangku penonton, dan Ibunya mengangguk dengan senyum mengembang.
Sungguh, Karin tidak sedang bermimpi? Dia kembali, setelah bertahun-tahun pergi? Dia yang selama ini dinanti, akhirnya kembali? Pria dengan rambut hitam mengkilap dan wajah gagahnya itu.
Karin membungkam mulutnya dengan tangan, tangis pecah seketika. Cairan bening dari pelupuk matanya membanjiri wajahnya. Dia, dia, dia. Ayah!

Cerpen Karangan: Zetty Reonitaka Bintang Osama Nainggolan
Facebook: Zetty Reonitaka DFs
Assalamualaikum wr wb.
Hai, aku Zetty Reonitaka Bintang Osama Nainggolan. Panggil aja zetty, sekarang aku kelas X. Cerita ini sebenernya aku bikinnya udah lumayan lama, tapi baru sempet dikirim.
Makasih untuk cerpenmu.com yang udah kasih kesempatan buat aku, dan makasih buat semuanya.
Semoga sukaa yaa.

Cerpen Puisi Untuk Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menjemput Kebahagiaan Dona

Oleh:
Sehelai bulu mata, nampak jatuh, mengalir bersama benda basah ke pipi. Sendiri, diam, tanpa ada siapapun menyapa, atau bahkan menyentuhnya. Dona. Perempuan berumur 5 tahun dengan boneka usang yang

Bidadari Surga

Oleh:
Saat itu aku merasa semua akan baik-baik saja, aku akan tumbuh besar dan bisa menggapai cita-citaku, aku pikir kata kasih sayang hanya sebuah kata hiasan seperti seseorang yang bertindak

Sweet Seventeen Kelabu

Oleh:
Aku terdiam sepi, membeku di sudut ruangan yang seharusnya ramai. Perlahan air mataku meleleh. Mungkin, aku memang tidak terlalu kuat untuk menghadapi semua ini sendiri. Pikiranku mulai melayang-layang ke

My Lovely Sister

Oleh:
“Subhanallah! A beautiful girl! Ada di sekolah ini? Tapi, sebelumnya, aku tidak pernah melihatnya! Apa ia anak baru?” sebutku dalam hati. “Bro, ngapain bengong aja? Pasti karena melihat perempuan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *