Pulang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 14 June 2017

Di luar masih terlihat jejak jejak yang ditingalkan oleh hujan. Aku mengusap kaca jendela untuk sekedar menghilangkan embun yang menutupi jendela kamarku. Aku melirik jam sekilas, ternyata sudah pukul enam sore. Hari ini masih menjadi hari yang penuh duka bagi kami meski sudah seminggu berlalu tapi kesedihan tak jua mau melepaskan keluargaku dari dekapnya.

Ibu mengetuk kamarku, selalu begitu. Aku sadar harusnya aku yang menjadi tameng untuknya melipur lara. Tapi aku belum sadar sepenuhnya. Ini masih terasa seperti mimpi. Ibu kemudian masuk tanpa berkata apapun ia memelukku lalu menangis, aku pun terisak. Semuanya kembali berputar di kepalaku, dan aku tahu kenangan itu juga berputar-putar di kepala ibu.

Beberapa tahun yang lalu saat Bang Arman masih di sini, rumah ini selalu ramai dengan gelak tawanya. Menurutku ia anak yang selalu menomor satukan keluarganya, ia selalu menuruti semua yang ayah dan ibu perintahkan. Meski seringkali ada selisih paham antara ayah dan bang Arman tapi bang Arman selalu mengalah pada kehendak Ayah. Aku ingat sekali saat Ayah mengantarkan kami ke sekolah setiap paginya. Ibu yang menyiapkan bekal untukku dan bang Arman. Bang Arman yang sabar menungguku, bahkan meski harus telat. Memang hal sederhana tapi aku sekarang sadar, setiap hal kecil itu memiliki arti yang besar. Ah, aku rindu sekali pada keluarga sederhanaku. Bang Arman menjadi orang kedua yang aku segani setelah ayah. Orang yang memotivasiku dan menunjukkanku ketika aku salah. Ia abangku satu-satunya. Tapi kebahagiaan itu berakhir 6 tahun yang lalu disaat umurku genap 15 tahun, Bang Arman diusir dari rumah untuk menjemput cita-citanya. hari itu tidak mungkin aku lupakan, suara benda-benda yang dilempar, kaca-kaca yang berserakan di lantai diiringi dengan teriakan Ayah yang membahana.

“aku tidak pernah mengajarkan kau kurang ajar arman”
“aku bukannya kurang ajar yah, aku hanya memilih jalan hidupku sendiri” suara bang Arman terdengar tegas dan tak terbantah seakan tidak takut dengan kemarahan ayah.
“kau akan tetap sukses meski berkuliah di sini. Kau harus masuk kedokteran.”
“sudah yah, sudaah” ucap ibu sambil menangis.
“aku ingin menjadi pengacara yah. aku sudah diterima di sana.”
“aku tidak akan membiayaimu di sana” aku tau ucapan ayah tidaklah sekedar ucapan. Ia adalah sosok yang keras, ia mudah sekali emosi pada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginnanya.
“aku akan mencari beasiswa, aku juga punya tabungan.”
“kau pikir kepintaranmu itu dari siapa? Pandai sekali kau menyombong padaku.”
“aku akan tetap kuliah di sana yah, dua hari lagi aku akan berangkat.”
“Dasar anak pembangkang. Sekali kau pergi dari rumah ini kau bukan lagi anakku.”
Kalimat terakhir Ayah layaknya petir yang menyeramkan bagiku. Tetapi Bang Arman tidak menjawab. Ia hanya melengos ke kamarnya. Ibu masih menangis di kursi tamu mencoba membujuk ayah. Tapi aku tau ini sudah berakhir.

15 menit kemudian bang Arman keluar dari kamar bersama semua barang barangnya.
“Ibu, alisya, aku pergi.”
Itu kalimat terakhirnya yang masih kuingat. Ibu sekuat tenaga mencegahnya, tapi buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Bang Arman sama keras kepalanya dengan ayah. Aku dan ibu berjalan ke pintu menatap punggung bang Arman yang semakin menjauhi rumah kami. kami tidak tahu di mana dia tidur malam itu, kami tidak tahu siapa yang akan melepaskan kepergiannya ke Jawa esok paginya.

Rumah kami hening. Berbulan-bulan kami menahan rasa canggung, setiap malam tangis yang bercucur dari mata ibu secara sembunyi-sembunyi selalu membuatku nelangsa.

Lalu satu tahun berlalu, aku mendapati kabar dari kak arman, Aku menerima suratnya untuk pertama kali. Surat itu dibungkus Amplop hijau, surat yang sangat cantik di mataku. Bahagia sekali rasanya, bahkan tanpa sadar air mataku mengalir deras ketika membacanya. Aku sering bercerita pada ibu soal kabar bang Arman tanpa sepengetahuan ayah. Ibu tentu kaget sekali, Ibu juga banyak bertanya tentang bang Arman terlebih tentang alamat dan kontaknya, tapi Ia tak pernah memberitahu alamat dan nomor telephonenya pada kami walaupun disetiap surat balasanku kunyatakan rinduku dan rindu ibu. Bang Arman bilang dia akan menelepon duluan ketika ia sudah sukses nanti.

Lalu tidak terasa bang Arman telah wisuda. Meski aku hanya mendapatkan kiriman fotonya tapi itu tidak mengurangi kebanggaanku terhadapnya. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik. Sudah ada gelar S.H di belakang namanya. Namun hatiku terasa tersayat membayangkan perayaan kelulusannya tanpa keluarga. Tanpa pelukan bahagia dari ibu dan Ayah. Ada hasrat dalam hatiku untuk memberitahu ayah kabar gembira ini. Aku tahu ayah juga merindukan bang Arman meski selama ini terlihat baik baik saja setelah mengusir bang Arman. Tapi kuurungkan niatku itu, sebab aku takut menduga reaksi ayah. Selama ini aku bahkan tak berani menyebut nama bang Arman di depannya.

Aku bertanya pada bang Arman kapan ia akan pulang, aku berani menyuruhnya pulang karena aku tahu amarah ayah telah meredam, aku tahu ayah juga menunggu kedatangan bang Arman seperti yang aku dan ibu lakukan setiap hari. Bang Arman bilang ia nanti akan pulang bersama kesuksesan dan calon istrinya.

Suatu sore, kira-kira dua tahun setelah bang Arman berkata akan pulang, aku melihatnya di TV di sebuah saluran berita, ia berdiri dengan gagah dan berbicara dengan cerdasnya di sana, ia mewakili seorang pejabat ternama sebagai kuasa hukum. Aku berseru memanggil ibu yang tengah merapikan kamar. Tepat saat itu ayah memasuki rumah sepulang dari bekerja di kantor, ayah melihat TV sekilas tapi kemudian gerakannya berhenti beberapa detik, aku ikut diam memperhatikannya, tapi kemudian ia masuk ke kamar dan berselisih dengan ibu yang hendak menemuiku. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Ayah, entah itu bangga, rasa sesal atau bahkan rasa rindu. Sulit bagiku untuk menerkanya. Ibu kemudian ikut duduk bersamaku, ibu hanya diam melihat bang Arman yang semakin dewasa saja, tetapi air mata mengalir di pipinya.
“Ibu sebentar lagi bang Arman pulang” ucapku pada ibu lalu memeluknya.
Kami benar-benar menantikan kedatangannya, biarlah dulu pernah ada luka di rumah ini. Tapi semua sudah menyembuhkan dirinya masing-masing.

10 Hari yang Lalu. Waktu itu pukul 9:30 malam, telepon rumah berdering dengan semangatnya. Aku sedang serius dengan tugasku, tapi kulihat Ayah dan ibu tengah asyik menonton TV, lalu aku putuskan untuk berdiri mengangkat telepon, tapi betapa kagetnya aku mendengar suara di seberang sana. Suara yang sudah lama sekali tak menyentuh gendang telingaku. Assalamualaikum, kata pertama yang diucapkannya. Ia menanyai kabarku, kabar ayah dan kabar ibu. Otakku langsung berputar pada janjinya. Aku hanya memanggil namanya, dadaku terasa sesak menahan tangis haru, Aku berteriak memanggil ibu tanpa sadar.

Ibu menghampiriku. Aku melihat mata ibu berbinar seolah sudah tau siapa yang meneepon di seberang sana, mungkin ini ikatan batin itu. Ibu berbicara sambil mendekap mulut menahan haru sepertiku, aku hanya berdiri di samping ibu melepas tangis bahagiaku. Aku bertambah kaget ketika ibu memanggil ayah dan memberikan gagang telepon pada ayah. Aku tidak bisa mendengar apa yang diucapkan bang Arman pada ayah. Tapi aku benar benar senang keluargaku telah kembali.

Setelah menutup telephone ayah kembali ke depan TV aku masih takut takut bertanya. Tapi tanpa kusangka Ayahlah yang pertama kali mulai bercerita. Cerita itu kemudian mengalir saja berjam-jam, meski masih ada canggung di setiap kalimat ayah, bang Arman akan pulang dua hari lagi. Sama seperti dulu ia meninggalkan rumah ini dua hari sebelum pergi jauh ke Jawa. kami sudah menghabiskan waktu yang panjang untuk bisa saling terbuka soal bang Arman.

Hari yang paling kami tunggu pun akhirnya tiba, tepatnya seminggu yang lalu. tapi hingga adzan zuhur berkumandang bang Arman masih belum sampai ke rumah. Aku mecoba menelepon tapi selalu tidak bisa tersambung. Aku dan ibu hanya mengira-ngira mungkin saja bang Arman sengaja mematikan teleponnya untuk menghemat baterai, mungkin juga pesawat yang dinaikinya delay. Kemungkinan-kemungkinan itu semakin bertambah seiring dengan berputarnya jarum jam di dinding.

Hingga pukul tiga sore aku dan ibu masih berkecimpung di dapur membuat segala makanan kesukaan bang Arman. Ayah mungkin masih sibuk dengan urusannya di kantor, tapi ia sudah berjanji akan pulang lebih cepat. Kami benar-benar tidak memiliki kemungkinan bang Arman tidak jadi pulang hari itu. Hanya mataharilah yang akhirnya berpulang mengantarkan malam datang bersama rembulan terang.

Ayah sudah di rumah, aku dan ibu juga sudah menyerah pada lelah setelah seharian di dapur. Ayah duduk di depan TV, aku dan ibu ikut duduk di sofa di sebelah ayah. Kami menatap TV dalam senyap. Entah di mana orang yang kami tunggu-tunggu itu. Sudah banyak tanda tanya di benak kami, namun akhirnya semua terjawab oleh presenter di TV. Semua terjawab oleh berita yang disampaikannya. Belum sempat otak dan hatiku mencerna yang terjadi tiba-tiba dering tefepon bergema ke seluruh ruangan, ayah dengan cepat mengangkat telepon jatungku sudah berdetak dengan kencang kulihat ibu di sebelah juga sudah mematung. Hampa. Makanan yang kami buat tadi siang hanya tergeletak begitu saja tanpa tersentuh oleh pemiliknya.

Paginya jasad bang Arman sampai ke rumah ini. Bang Arman telah pulang, ia benar benar pulang. Aku seakan berlomba-lomba meraung-raung dengan ibu. Tapi tidak dengan ayah, ayah tidak sekalipun menangis. Tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya hingga kak arman dimakamkan. Ayah benar benar menjadi orang yang pendiam bahkan lebih pendiam dari biasanya. Hari ini adalah hari yang paling menakutkan bahkan lebih menakutkan dari hari dimana kak Arman pergi. Lebih baik dia pergi daripada harus pulang. Aku hanya menyuruhnya pulang ke rumah kami aku hanya menyuruhnya pulang ke dalam keluarga kecil kita. Tapi ia salah mengira, ia pulang ke pangkuan penciptanya. Setiap hari namanya muncul di TV, terakhir aku tahu ada nama seorang di sana, seseorang yang ingin ia kenalkan pada kami. Ia pandai sekali menepati janjinya pada kami.
Ibu melepaskan pangkuannya, seketika menyadarkan aku dari kenangan yang sangat panjang ini. Ia mengusap air matanya kemudian tersenyum.
“ayo mandi, kita doakan abangmu bersama-sama” suara serak ibu memilukan hatiku.

Cerpen Karangan: Indah Aprilia
Facebook: indhaprl

Cerpen Pulang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tisu Terakhir

Oleh:
Di suatu pagi yang buta, terdengar kokok ayam jantan yang sangat merdu. Diiringi dengan senandung adzan yang menggugah hati, aku terbangun dengan mata yang masih sangat berat. Ku usap-usap

Pendaman Batin

Oleh:
Suara lonceng yang berdentang menyakiti kupingku. Kami semua bergegas ke luar kelas. Bersempit-sempitan melalui pintu yang kecil. Tubuh kami yang sudah lengket dan berkeringat saling berdempet-dempetan. Aku keluar mencari

Perasaan Kita (Part 1)

Oleh:
Andai yang di samping kamu adalah aku.. andai jari itu adalah milikku dan cincin itu untukku.. aku mencoba mengalihkan pandanganku saat cincin itu akan dilekatkan di jari manis seorang

Dusun Maling

Oleh:
Gemericik suara air tak henti-henti mengisi kolam. Mengalir deras melalui pancuran yang terbuat dari bambu. Di kanan kiri kolam itu dipenuhi dengan pagar bambu yang masih hijau. Rerimbunan pohon

Apa Arti Cinta Seorang Ayah?

Oleh:
Angin mulai berhembus, seolah-olah menginginkan makhluk di sekitarnya ikut menari seperti dedaunan yang dilintasi jalur angin itu. Dedaunan tersebut nampak hijau segar tak ada sehelai pun yang terlihat layu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *