Pulanglah Bu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 November 2016

Tap! Tap! Tap! Kaki mungilku bergerak memasuki pintu yang terbuka. Aku berdiri mematung di depan pintu masuk cukup lama, memastikan penglihatanku tidak salah. Bapak sedang duduk menghadap dinding dan bersandar pada dinding yang lain, dengan tangan memegang dahi.

“Bapak.” Suara mungilku membuatnya menegakkan lehernya kemudian menatapku. Diraihnya tubuh mungilku dengan satu gerakan cepat, dipeluknya erat hingga aku sempat lupa caranya bernafas.
“Audyna.” Suara bapak terdengar parau. Diusapnya rambutku yang terurai sebahu dengan lembut. Aku menarik diri dari pelukan bapak, kupandang lekat-lekat wajah bapak yang tak seperti biasanya. Matanya sembab seperti habis menangis.
“Bapak kenapa?” tanyaku polos. Bapak mengusap-usap pipi mungilku tanpa bisa mengatakan apapun. “Bapak kenapa nangis?” lanjutku menuntut jawaban.
“Ibumu, nak.” Bapak terisak. “Ibumu pergi dari rumah.”

Aku, Audyna kecil, gadis polos yang masih berusia sepuluh tahun waktu itu, hanya bisa menatap bapak tanpa mengatakan apapun dan tidak memahami apapun. Aku tidak bisa mencerna kalimat bapak dengan baik, pun dengan hatiku yang tidak tergores sedikitpun ketika mendengar ibu pergi dari rumah. Aku tidak menangis, aku tidak memanggil nama ibu, aku diam saja. Aku hanya diam ketika pada akhirnya bapak memelukku sambil menangis. Waktu itu, bagi seorang Audyna yang masih berusia sepuluh tahun, kehilangan seorang ibu dalam satu malam, belumlah menjadi sebuah kepedihan. Belum menjadi kepedihan, sebelum pada akhirnya tahun-tahun berikutnya adalah penderitaan akibat kerinduan sosok ibu yang berkepanjangan.

Bagi seorang aku, Audyna kecil yang masih berusia sepuluh tahun, kepergian seorang ibu malam itu tidak mempengaruhi apapun dalam kesehariannya. Aku masih bersekolah seperti biasa, aku masih belajar, aku masih rutin mengaji di rumah mbahbuk bersama adik sepupuku, aku masih sarapan telur dadar kesukaanku, dan aku masih tinggal di rumahku meski tanpa ibu. Waktu itu, yang kuingat, aku tinggal bersama tante Lia. Dialah yang merawatku dan kedua adikku yang masih kecil. Saat ibu pergi, tante Lia yang mengambil alih semuanya. Dia menjadi ibu kedua bagiku dan adik-adikku. Kami mencintainya seperti layaknya kami mencintai ibu. Dan hidupku baik-baik saja sejak saat itu.
Hidupku benar-benar baik-baik saja sejak saat itu, sebelum akhirnya aku resmi menyandang status sebagai anak tiri dari seorang wanita bernama Aria.

“Audyna.” Tante Lia memanggil namaku ketika aku sedang lahap menyantap makan malam yang nikmat. Aku berdehem sambil memandang tante Lia yang menatapku dalam-dalam. “Bagaimana dengan tante Aria? Apakah dia baik?” pertanyaan tante Lia membungkam mulutku. Aku memang sedang dekat dengan tante Aria —wanita yang dikenalkan bapak padaku lewat sms— namun aku tidak pernah bertemu dengannya. Kami memang sering bertukar pesan untuk sekedar menyapa, sesekali ia menanyakan bagaimana sekolahku, tidak lebih dari itu. Waktu itu, aku sudah duduk di kelas enam madrasah, dan usiaku sudah sebelas tahun.
“Baik.” Jawabku renyah.
“Dekatlah dengannya, dia akan menjadi ibumu yang baru.” Kata-kata tante Lia membuatku sedih. Aku menatap tante Lia dengan pandangan berkaca.
“Tante mau pergi, ya?” tanyaku polos. Tante Lia tersenyum dan mengusap kepalaku. Ditatapnya lekat-lekat kedua bola mataku yang hampir berair.
“Karena tante harus pergi, kak. Tante tidak bisa selamanya menemani Audyna dan adik-adik. Tante harus sekolah lagi.”

Sejak percakapan malam itu, aku lebih banyak diam. Semakin diam ketika pada suatu hari tante Lia mendapat kabar bahwa ia memperoleh beasiswa S2 di Bandung. Aku, Audyna kecil berusia sebelas tahun, tidak bisa merasakan apapun. Harusnya aku senang, tetapi ada kenyataan lain yang akan kujalani selama kepergian tante Lia. Ada kenyataan lain yang membuatku menyadari, bahwa aku tidak akan tinggal bersama tante Lia, dan kebahagiaan yang kurasakan saat bersama tante Lia tidak akan bertahan lebih lama lagi.

Aku tidak tahu kehidupan macam apa yang akan aku jalani kedepannya. Aku tidak bisa membayangkan aku akan dibesarkan oleh wanita macam apa. Apakah dia akan sebaik tante Lia? Apakah dia akan seperti ibu yang meninggalkanku, bapak, dan kedua adikku? Apakah dia akan menyayangiku seperti bagaimana tante Lia melakukannya dengan baik?

“Audyna!” Seruan nyaring itu memaksaku menoleh dan kudapati seorang gadis berkerudung sama sepertiku, sedang melambai ke arahku. Dia tersenyum lebar dan berlari ke arahku. Namanya Adela, sahabat baikku sejak aku duduk di bangku kelas lima madrasah. Sahabat yang ada di titik terendah dalam hidupku dan sukarela menemaniku di puncak untuk segala pencapaianku. Aku tersenyum lebar begitu Adela duduk di sampingku. Kami selalu melakukan hal yang sama setiap pukul satu siang di shelter depan sekolah menengah pertamaku —oh, aku belum mengatakannya! aku sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama dan berstatus sebagai murid baru dengan seragam biru putih yang menyenangkan untuk dipakai setiap hari Senin dan Selasa— aku dan Adela berada di sekolah yang sama setelah dua tahun kebersamaan kami di madrasah. Di shelter ini, setiap pukul satu siang, kami akan melihat kakak-kakak berseragam abu-abu putih pulang bersama-sama.

“Upacara minggu depan, aku tidak bisa ikut.” Kataku setelah kami puas menertawakan kekonyolan kami di hari pertama masa orientasi. Adela memandangku cukup lama, dia mengetahui sesuatu sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. “Tolong bantu aku ijin ke sekolah, ya?”
“Berapa lama acaranya?” Adela sudah tahu. Ya, minggu depan di upacara pertamaku saat aku resmi menjadi murid baru, aku harus menjadi kembang mayang di hari pernikahan bapak dengan tante Aria. Pernikahan yang masih terasa ganjil bagiku.
“Dua hari, mungkin.” Balasku tanpa menatap balik mata Adela yang menyiratkan banyak empati. Bagi kami, pernikahan setelah perceraian kedua orangtua, adalah hal yang tidak membahagiakan. Setidaknya bagi kami, anak berusia belum genap dua belas tahun.

Hari dimana aku akan resmi menjadi anak tiri, akhirnya tiba. Sepanjang subuh aku didandani dengan dempul tebal yang tidak nyaman di wajahku, belum lagi lipstik merah cerah yang membuat bibirku kaku dan gatal. Ketimbang berontak, aku lebih memilih diam. Menunggu tangan-tangan itu selesai memoles wajahku.

“Audyna. Ndak ngantuk to nduk?” suara kalem bude Sri membuatku membuka mata yang terasa berat dan lengket. Aku menggeleng pelan. Bude Sri menghela nafas panjang dan menghembuskannya teratur, sepertinya ia telah selesai dengan polesan terakhir di pipiku. “Nah. Sudah cantik keponakan bude.” Bude Sri menyentuh kedua pundakku. Ia tersenyum menatapku yang masih sedikit kepayahan membuka mata karena ada bulu mata anti badai yang bertengger di kelopak mataku. Ia tidak mengatakan apapun, hanya tersenyum dengan tatapan mata yang hangat. Ia mengusap lembut sebelah pipiku yang merona karena polesan blush on yang sempurna, kemudian tersenyum lagi.
“Akan ada saatnya nanti, Audyna akan mengerti mengapa semua ini harus terjadi di dalam kehidupan. Audyna akan tumbuh menjadi perempuan yang tegar, mengalahkan bude, tante Lia, bahkan ibu.” Kata-kata itu menancap kuat hingga berakar di percabangan serabut otakku. Dan hari itu, ketika aku melihat bapak duduk di kursi pelaminan, mendadak aku tidak mengenal siapa bapak dan bertanya sendiri dalam hati: Mengapa bapak duduk disitu? Dan kenapa tante Aria yang duduk disana?

Sejak hari pernikahan itu, mungkin hidupku tidak akan sama. Setiap tanggal empat Februari di setiap tahunnya —di hari ulang tahunku— aku menunggu ibu. Di teras rumah, beratap langit berjubah hitam bertabur kemerlap bintang-bintang, aku menunggu. Mendekap kedua kaki jenjangku sambil berbisik pada angin.
“Ibu. Aku akan menunggu. Pulanglah bu, aku akan tetap menunggumu, menjadi ibuku lagi.” Waktu itu mimpi seorang anak berusia belum genap dua belas tahun dan selalu bertambah satu tahun di setiap tahunnya, hanyalah mimpi omong kosong. Ya, hanya mimpi omong kosong yang dibawanya sampai berusia genap tujuh belas tahun. Pada akhirnya aku tahu, mimpi itu diciptakan hanya untuk menjadi mimpi.

S E L E S A I

Cerpen Karangan: Igant Erisza Maudyna
Blog / Facebook: moccapeach.blogspot.com / Igant Erisza Maudyna

Cerpen Pulanglah Bu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lelaki Aib

Oleh:
Aku ingat suatu masa ketika itu aku pernah menjadi lelaki. Namun, kurasa itu sudah lama sekali. Hari-hariku kini adalah hari-hari dimana aku mengenali diriku sebagai seorang bernama Santi, bukan

Tak Seharusnya

Oleh:
Rumah adalah tempat persinggahan paling nyaman di antara begitu banyak bangunan di dunia. Tiada yang bisa mengalahkan kenyamanan ketika berada di rumah terlebih jika dibanding dengan tinggal di gedung

Cara Tuhan Membalas Kebaikan

Oleh:
“tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini” kata Ibu mengelus rambutku. Aku hanya menatap Ibuku dengan bingung. “Ibu, tapi aku… aku.. mmm.. Ah, kok bau gosong bu?” jawabku

Arti Sebuah Kasih Sayang (Part 1)

Oleh:
“Ayo bangun nak sudah siang, kamu kan harus sekolah” Bujuk seorang wanita pada seorang gadis. “Iya, Bun” Jawab gadis itu yang masih mengumpulkan nyawanya. “Cepat mandi, Bunda tunggu di

Boneka Dari Kakek

Oleh:
Linda adalah anak yatim piatu. Kedua orangtuanya telah meninggal dalam kecelakaan mobil 3 tahun lalu. Linda dirawat oleh kakeknya. Neneknya sudah meninggal karena terkena penyakit jantung. “Kek, ini makan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *