Putri Semata Wayang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 September 2016

Pada suatu pagi yang cukup cerah, seperti biasa aku harus menjalankan kewajibanku sebagai ayah. Aku adalah seorang pemulung, yang memliki kondisi tidak seperti orang normal lainnya. Kakiku pincang akibat tertabrak mobil ketika aku mengais nafkah. Aku mempunyai istri yang sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu akibat penyakit kanker yang dideritanya, jadi saat ini aku hanya tinggal bersama putri semata wayangku, Nina. Ketika masih kecil, Nina adalah anak yang baik dan ceria. Semenjak ibunya meninggal, Nina berubah seratus delapan puluh derajat. Nina berubah menjadi anak yang suka membangkang orangtua, bahkan suka pulang malam jika bepergian bersama teman-temannya. Aku yang lumpuh tak sanggup melarang Nina yang mulai memberontak.

Setelah pulang bekerja, aku kembali ke rumah. Di jalan menuju rumah, aku melihat Nina sedang bercanda tawa bersama teman-teman sebayanya. Masa SMA memang masa yangg paling indah, namun untuk anak seperti Nina, sungguh ini mengkhawatirkan. Aku menyapanya, “Nina, ayo pulang bareng ayah, yuk!” tak ada respon. Seolah-olah aku tak berbicara kepada Nina, sehingga Nina menghiraukanku. Namun ada salah satu teman Nina berkata, “Eh Nin, ada bokap lo tuh! Samperin gih, kasian jalannya pincang-pincang gitu. Hahaha.” mereka tertawa terbahak-bahak, lalu Nina menjawab dengan nada kesal, “Apaan sih! Bukan bokap gua tuh! Gak sudi gua punya bokap kaya dia.” aku terdiam. Aku bahkan tak sanggup berkata apa-apa lagi. Daripada Nina malu di depan teman-temannya karena kehadiranku, akhirnya aku berpamitan untuk pulang. “Ayah pulang dulu ya. Nina segera pulang ya nak.” tak ada jawaban, hanya ada gelak tawa dari sekumpulan remaja SMA beserta anakku sendiri, Nina.

Sesampainya di rumah, aku harus segera menyiapkan makanan untuk Nina. Jika tidak ada makanan, Nina akan mengamuk dan mengobrak-abrik rumah lagi. Untuk memenuhi keperluan bahan pokok, terkadang aku masih mengutang di warung tetangga sebelah. Mereka memakluminya, namun tak enak jika aku terus mengutang. Jadi, setiap pulang kerja, setidaknya harus ada Rp. 20.000,- di kantongku. Rp. 5.000,- aku tabung takutnya ada keperluan yang mendadak, dan Rp. 15.000,- aku gunakan untuk makan sehari-hari.

Fajar telah tiba, Nina baru sampai di rumah. Makanan yang sudah aku masak tadi siang, sudah tak hangat lagi. Nina kembali mengamuk kepadaku, “Yah! Gimana sih udah tau anaknya cape abis sekolah makanannya malah dingin begini! Ah selera makanku jadi hilang!” dengan dipenuhi amarah Nina memasuki kamarnya dan membanting pintu. Aku taget bukan kepalang, aku ketuk pintunya dengan perlahan, “Maafkan ayah, Nina. Ayah panaskan lagi ya makanannya.” Dengan segera aku membakar arang dan memanaskan makanan yang sudah dingin tadi.

Aku kembali mengetuk pintu kamarnya lagi, namun tak ada respon. Mungkin Nina terlalu capek, jadi aku biarkan saja ia beristirahat sejenak. Matahari sudah mulai terbit, aku harus membangunkan Nina untuk pergi ke sekolah. Nina selalu susah untuk dibangunkan, “Nina, ayo bangun nak. Sekolah.”, “Ayah berisik ah! Ngantuk nih!”, kubuka dengan perlahan pintu kamarnya, kutarik selimutnya, dan aku elus keningnya, “Ayo Nina. Sekolah ya nak.” Nina menempis tanganku lalu pergi ke luar dari kamar. Nina sudah bangun, aku harus menyiapkan sarapan untuknya. “Tempe lagi, tempe lagi! Bosan aku hidup miskin seperti ini terus!” ucapnya sambil ke luar dari rumah. Aku tertahan di kursi, sedih melihat kelakuan putri semata wayangku yang jauh berbeda dari yang dulu.

Waktu menunjukkan pukul 07.00, aku segera berangkat untuk memulung. Hari ini aku ingin bekerja sampai sore, agar hasil yang didapatkan juga lebih. Sesampainya di rumah, tak disangka Nina sudah ada di rumah. Ia sudah berdandan menggunakan make-up bekas ibunya, dan menggunakan pakaian paling bagus yang ia miliki. “Mau kemana nak? Cantik sekali anak ayah.” tanyaku, “Mau ke ulang tahun temen. Dah ya.” Setiap Nina ke luar, aku selalu menunggu sampai dia pulang. Jam 10.00, Nina baru pulang, dengan wajah muramnya, ia berkata “Ayah! Nina gak mau punya hp jadul kaya gini! Udah jadul, rusak pula! Pokoknya Nina mau hp layar sentuh seperti punya temen Nina!” dengan amarahnya yang menggebu, ia memasuki kamar dan mendobrak pintunya.

Aku masuk ke kamar, mengecek apakah tabunganku sudah cukup untuk membahagiakan Nina. Dengan tersenyum, aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhan Nina yang belum terpenuhi. Besok, sepulang kerja, aku akan membelikan sesuatu untuknya.

Fajar telah terbit, aku menyiapkan sarapan dan membangunkan Nina untuk sekolah. Nina berangkat, aku pun berangkat dengan senang. Setelah hasil memulungku cukup, aku bergegas untuk pergi ke pusat pembelanjaan di tengah kota. Aku ingin membelikan kipas angin, tv, kulkas, dan handphone baru untuk Nina. Sudah lama aku menabung ternyata hasilnya cukup untuk membelikan semua yang diinginkan Nina. Karena masih ada sisa, aku membelikan baju dan sepatu untuk Nina,
“Mbak, tolong pilihkan baju dan sepatu yang cocok untuk anak SMA ya.” ujarku pada pelayan toko. Dengan senang, aku membayar baju dan sepatu tersebut.

Sesampainya di rumah, dengan bersemangat aku menyambutnya di rumah. Namun, hingga jam 01.00 pagi, Nina belum pulang. Ah, mungkin Nina menginap di rumah Yona, sahabat dekatnya. jadi aku terus berpikir positif. Keeskokan paginya, aku berangkat kerja seperti biasa. Tanpa disangka, dalam perjalanan, aku tertabrak oleh mobil dan nyawaku tak tertolong.

Ketika jenazahku dikerubungi banyak orang, tak disangka Nina datang dan memeluk jasadku dengan erat. Ia menangis seakan tak bisa hidup tanpaku, “Ayah! Bangun, Ayah! Maafkan aku yang selalu menyakitimu! Bangun ayah jangan tinggalkan Nina! Nina tak sanggup, Yah!” Dengan menangis terisak-isak ia terus memelukku. Sudah menjadi arwah, aku hanya bisa melihatnya, tanpa bisa memeluk tubuhnya lagi. Semoga saja, Nina pulang ke rumah dan melihat barang-barang yang aku persiapkan untuknya.

Cerpen Karangan: Annisa Arifien
Blog: annisarifien.blogspot.com

Cerpen Putri Semata Wayang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Seharusnya

Oleh:
Rumah adalah tempat persinggahan paling nyaman di antara begitu banyak bangunan di dunia. Tiada yang bisa mengalahkan kenyamanan ketika berada di rumah terlebih jika dibanding dengan tinggal di gedung

Selamat Tinggal Sahabat

Oleh:
Saat jam istirahat. Robi, Darwin, dan Coki seperti biasa mereka pergi ke kantin. Mereka adalah 3 sahabat yang sudah merajut persahabatannya dari SD sampai sekarang mereka kelas 3 SMA,

Penyesalan Riana

Oleh:
“Allaahuakbar.. Allahuakbar,” suara adzan subuh berkumandang, sang ibu membangunkan anaknya yang masih tertidur pulas. “Nak… Riana bangun! Salat Nak…” dari bilik kamar terdengar suara menyahut. “Aduh apaan sih Bu!

Abdoellah

Oleh:
Namaku Abdoellah, pemuda yatim dari Mengkasar yang nekat merantau ke negeri orang dan meninggalkan amakya di kampung sendirian. Gejolak jiwa mudaku yang ingin merantau terus meronta yang akhirnya membuat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *