Putus, Move On

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 January 2016

Lepas dua hari setelah aku putus dari Dika. Rasanya seperti baru kemarin Kami pacaran. Masih terbayang di ingatanku saat-saat yang kami lewati bersama, namun itu semua pupus hanya dengan pesan yang dia kirim. Tanpa babibu, tanpa perasaan, tanpa kesepakatan, hanya dalam satu klik di ponselnya, seketika membuat hubungan kami berakhir. Aku menangis, tentu saja. Seharian aku terus berdiam diri, mencoba merenungi apa yang salah denganku hingga dia memutuskan sepihak tanpa penjelasan. Ku rasa memang itu yang terbaik untuknya, hanya untuknya. Dia tidak memikirkan perasaanku, dia hanya menganggapku permen karet yang habis manis, sepah ditempel di bawah kursi.

Selama dua hari itu aku masih bisa menahan diri untuk tidak melempar botol saus ke mukanya. Tapi genderang perang terdengar ketika ada kabar dari sahabatku, Nadia. Bahwa Dika sudah punya pacar lagi. Dan yang paling membuat hatiku tertohok adalah Dika memacari Ica, sahabatku sendiri. Hal itu membuatku lemas. Aku menangis lagi untuk kesekian kalinya karena lelaki bodoh itu. Tidak mungkin Dika sudah punya pacar lagi secepat itu kalau tidak direncanakan sebelumnya. Aku tidak mau menerima kenyataan ini tapi aku yakin bahwa Dika selingkuh. Hatiku pecah berkeping-keping saat itu juga.

Hari demi hari tak terlewatkan untuk memikirkan kenapa hal itu terjadi. Benakku marah, sedih, kecewa, dendam, dan… rindu. Semua ini terlalu mendadak. Aku tak punya persiapan dikhianati oleh ‘mantan’ pacar sekaligus sahabatku sendiri. Rasanya seperti terjebak dalam labirin bayang-bayang dendam terhadap mantan. Aku tersiksa, tak bisa bangkit. Seminggu setelah kejadian itu, aku mencoba berbagai hal untuk melupakannya. Mencari kesibukan sendiri, tetapi hanya berakhir di dalam sepi. Seperti saat ini, aku terduduk diam di kamarku. Memikirkan banyak hal. Namun, aku dikagetkan dengan ucapan Kak Sandra di sampingku. Aku baru sadar, memang Kak Sandra sempat ke mari tadi.

“Saat kamu berpisah dengannya, kamu tidak harus melupakan dia. Kamu hanya akan semakin mengingatnya jika kamu dengan keras melupakannya. Cobalah untuk memaafkan, tidak ada salahnya kan? Simpan kenanganmu dengannya sebagai sebuah pelajaran. Kamu hanya harus sadar bahwa kamu dikelilingi orang-orang yang menyayangi kamu. Dan masa depanmu yang cerah menanti di ujung sana, cobalah untuk bahagia sayang.” Kak Sandra mengusap punggungku dengan lembut. Aku sadar, dengan bertingkah seperti ini membuat waktu yang seharusnya aku jalani untuk hal yang bermanfaat jadi berantakan.

“Kita hidup dihadapkan pada dua pilihan, antara ingin bahagia atau tidak. Lalu, kenapa kita mesti sedih jika sebenarnya kita bisa bahagia? Bahagia itu sederhana sayang. Bahagia adalah ketika kamu bisa mencintai diri kamu sendiri. Apa yang dia lakukan padamu adalah karena dia punya definisi bahagianya sendiri. Jika itu bahagianya, kenapa kamu tidak mencari kebahagiaanmu sendiri? Tetaplah semangat.”

“Jangan buat diri kamu merugi dengan bersedih sepanjang waktu, karena siapa sangka momen dimana seharusnya kamu Bahagia terlewatkan hanya untuk menangisi keadaan. Bahagia itu bisa datang jika kamu memang ingin bahagia. Tetaplah semangat dan capai tujuan hidup kamu.” Aku mengusap wajahku kasar. Berusaha menghapus beban pikiranku. Kak Sandra menyadarkanku bahwa sikapku ini berlebihan. Kekanakkan dan merugikan diriku sendiri.

Aku menatap Kak Sandra sambil tersenyum. Dia berdiri dan aku ikut berdiri.
“yuk makan, Mama masakin omlet sayur kesukaan kamu loh.” Kak Sandra tersenyum, membuatku ikut tersenyum juga.
“oke.” Di dapur, mama tengah sibuk membuat makanan untuk makan malam. Kak Sandra dengan sigap membantu mama menumis sayur. Sedangkan aku menyusun piring di meja.

“Ma, Papa nanti ikut makan malam nggak?” tanya Kak Sandra, mama hanya tersenyum di tengah kesibukannya.
“sepertinya nggak, Papa katanya lembur sampai satu minggu ke depan.” jawabnya kemudian.
“yah… nggak ada Papa kurang asyik nih.” omel Kak Sandra, aku hanya menanggapinya dengan cekikikan.
“Rin, biasanya kamu yang paling cerewet, kok akhir-akhir ini diem sih? Curhat dong sama Mama.” mama menatapku sendu, aku tersenyum.
“lagi kurang mood doang kok Ma.”

“Airin putus sama pacarnya Ma.” cerocos Kak Sandra membuatku kelabakan. Langsung ku lihat ekspresi mama, dia tersenyum teduh.
“oh… kenapa harus berlarut-larut sedihnya? Emangnya mantanmu itu juga sedih kayak gitu? Nggak kan. Jadi kalem aja sayang.” mama ada benarnya juga. Aku menunduk, menyesal akhir-akhir ini membuang sia-sia waktu bersama mereka.
“ehh… Papa pulang tuh!” aku menengok ke arah papa. Dia menuju ke mari dan membawa beberapa bungkus kantong plastik.

“nggak jadi lembur ya Pah?”
“enggak. Projek Papa dimundurkan, jadi ada waktu buat nggak lembur.” papaku dengan cerianya tersenyum pada kami. Aku langsung semangat. Kali ini untuk kesekian kalinya aku merasakan hangatnya keluarga. Keluarga yang benar-benar mencintaiku dan melindungiku.
“eh, Papa bawa apa tuh?”
“taraaa… Tiramisu buat Airin, srowberry cake buat Kak Sandra, sama teh hijau buat Mama.” waaahh. Kami langsung semangat saat papa membongkar isi plastiknya.

Kami makan bersama dengan dipenuhi canda tawa dan kegembiraan. Membuatku lupa akan patah hati yang ku rasakan sebelumnya. Ternyata ini yang namanya cinta yang tulus. Mau memberi dan mengasihi dalam keadaan apa pun. Aku cinta keluargaku. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan kebersamaan dengan kalian. Dan aku akan lebih dewasa dalam menjalani hidup. Akan ku anggap patah hati ini sebagai sebuah pelajaran, agar kedepannya aku lebih dapat mengontrol emosi dan bersikap dewasa. Terima kasih untuk orang yang menyayangiku dengan tulus.

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indah Cho
Hai ^_^ call me Resty. Salam kenal. ^_^ Untuk kenal lebih dekat, add facebook Indah Cho. Terima kasih telah membaca cerpenku yang abal-abal ini. ^_^

Cerpen Putus, Move On merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Abdiku Untukmu Keluarga Kecilku

Oleh:
Seraya bulan mengitari bumi, malam itu aku dan adikku aliyah sedang menonton televisi. Oh ya, perkenalkan, namaku ika, aku anak sma kartika rinaf bangsa, aku kelas x. A, kelasku

Buta Bukanlah Akhir

Oleh:
Namaku Rina. Umurku sembilan tahun kelas 4 SD. Aku sekolah di Girls International Junior High School, sekolah khusus perempuan. “Bun, Rina berangkat ya!” Kataku. “Hati hati.” Bunda menyahut sambil

Si Kembar Go To Paris

Oleh:
“kak, kira kira bisa gak ya kita ke paris?” ucap jaky “bisa kalau ada uangnya” jawab jake. “yahhh aku coba aja gratis” sambung jaky “jaky zaman sekarang itu gak

Salam Rindu

Oleh:
Biarkan kata-kata itu terbang, terbawa angin semilir menyelusup liang-liang bawah tanah, naik ke surga bersama dengan rinduku padamu wahai penikmat surgawi” Ku berteduh di bawah pohon yang rindang di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *