Raden Anak Teman Bundaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 December 2013

“huf huf huf… desah ibu Indah ketika akan segera melahirkan, pada saat itu juga di ruang kamar yang sama ada seorang ibu yang akan melahirkan juga namun berbeda nasib dengan ibu Indah. Ibu indah mempunyai keluarga yang baik dan bisa dibilang orang yang berkecukupan.

Pada saat akan melahirkan ternyata seorang ibu yang juga satu kamar dengan ibu Indah sudah duluan pecah air ketubannya namun karena biaya dan keluarga miskin sehingga dia masih menunggu suaminya untuk menjual tanah dan barang-barang yang akan dijualnya akan di pakai untuk biaya melahirkan istrinya, namun karena suami ibu itu belum datang untuk membayar administrasi akhirnya ibu Indah duluanlah yang akan diurus.

Pada saat itu ibu Indah melahirkan dengan cara sesar dan pada akhirnya suara tangisan bayi pun terdengar ternyata anak bu Indah perempuan betapa cantik dan manisnya anak itu dan keluarga bu Indah pun bersyukur karena proses persalinannya lancar sehingga ibu Indah memberi nama anaknya Ajeng, dan beberapa menit kemudian lahirlah anak dari seorang ibu yang satu kamar dengan ibu Indah ternyata sudah keluar juga anak ibu itu dan anaknya laki-laki, ibu itu memberi nama anaknya Raden, sebab dia mendengar bu Indah memberikan nama anak perempuannya Ajeng jadi supaya pasangan dan tidak melupakan keluarga mereka akhirnya ibu itu memberi nama anaknya Raden, disitulah keluarga Ajeng dan Raden saling mengenal apalagi ayah Ajeng dia sangat berteman dengan Ayahnya Raden.

Beberapa tahun kemudian Ajeng sudah tumbuh besar dan cantik dia juga sudah duduk di bangku SMP, “bunda nda sadar ternyata anak bunda udah gede cantik lagi” ujar ibu indah kepada Ajeng sambil dielusnya rambut Ajeng, “ah bunda biasa aja kok kalau bunda cantik pasti Ajeng juga cantik dong bun, ini keturunan bunda dan ayahlah jadi Ajeng juga kaya gini kaya bunda dan ayah” ujar Ajeng dengan malu. “bun aku pergi sekolah dulu ya!” ucap Ajeng sambil berpamitan kepada bundanya, “iya nak hati-hati di jalan yah sayang”, balas ibu indah. “iya bun Ajeng pamit dulu bun assalamualaikum” sambil mencium tangan ayah dan bundanya. “waalaikum salam nak”.

Setelah beberapa lama Ajeng belajar di sekolah akhirnya Ajeng pun pulang di rumah, ia lalu mengganti pakainnya dan segera makan dan kumpul bersama Ayah dan bundanya, namun disela-sela percakapan mereka ayah Ajeng bertanya kepada istrinya “bu kita ndak pernah lagi yah ketemu sama keluarganya Raden yah? nanti jalan-jalan yuk ke sana sambil silahturahmi juga”, kata ayah Ajeng, “iya yah bunda sampai lupa dan bunda penasaran liat wajah Raden yang sekarang pasti udah besar kaya Ajeng yah ayah, ibunya itu baik banget sama kita”, sambung bunda Ajeng, “aduh aduh aduuuhhh bunda dan ayah penasaran banget deh gimana dengan Ajeng ayah, Ajeng lebih penasaran tau dengar ayah dan bunda cerita mulu tentang Raden”, “maka dari itu sekali-sekali kita ke rumah Raden yuk ayah tahu kok rumahnya” kata ayah dengan sombongnya, “tapi kapan dong kapan ayah!” kata Ajeng dengan suara manjanya, “gimana kalau bulan depan aja karena ayah hanya ada waktu nanti bulan depan aja Jeng”, kata ayah meyakinkan, Ajeng pun lalu menyetujuinya begitu pula bundanya. tapi tak disangka beberapa bulan kemudian Ayah Ajeng pun meninggal dunia, betapa sedihnya bunda dan Ajeng pada saat itu, padahal ayah Ajeng berjanji akan ajak mereka pergi ke rumah Raden anak dari ibu yang sekamar dengan bundanya dulu, namun semuanya hanya mimpi, setelah selang beberapa minggu setelah kepergian ayah Ajeng, Ajeng pun sudah tidak merasa sedih lagi karena dia rasa setiap hidup itu pasti ada mati dan mungkin ini adalah cobaan yang harus dihadapi untuk Ajeng dan bundanya. sekarang ayahnya sudah nggak ada jadi cerita Raden dan Ajeng sudah berakhir juga.

Setelah sudah melewati hari-hari dan tidak ada lagi sedih di muka Ajeng, sekarang Ajeng sudah memasuki jejang Kuliah dan kedewasaan, disitulah dia harus melewati hari-harinya dan mengejar cita-citanya tanpa orang tua sebab dia akan ke Makassar untuk melanjutkan kuliahnya dan pergi ke kampung orang tanpa bundanya, setiap pulang dari kuliah Ajeng selalu menelpon bundanya yang ada di Gorontalo, Ajeng sebenarnya orang Gorontalo namun dia melanjutkan pendidikannya di Makassar, begitupun sebaliknya bundanya juga selalu menanyakan kabar Ajeng, tapi Ajeng selalu tegar, sebab di Makassar dia juga tinggal bersama omnya dan juga di kampusnya pun dia mempunyai sahabat-sahabat baik.

Di kampus juga ajeng menjadi cewek favorit yang banyak disukai sama cowok-cowok kampusnya namun Ajeng cuek saja, sebab di antara cowok yang menyukainya tidak ada satupun yang merasa cocok di hatinya dan bukan tipenya juga. Seperti biasa Ajeng pergi ke kampus pagi-pagi karena rumahnya agak jauh juga dari kampus, dan sesampainya di kampus Ajeng bertemu dengan sahabatnya yaitu Risna dan Merci, mereka bersahabat sudah dari pertama masuk Universitas yang sama dan mendapat kelas juga yang sama, mereka suka jalan bareng, seru-seruan bareng dan juga curhat-curhatan.. ketika itu ajeng bercerita kepada Rizna dan Merci tentang masa kecilnya, namun Risna berkomentar “waduhhh Jeng ceritamu itu kaya Ftv aja deh malah di kalah-kalahin Ftv jeng, hehehe”, canda Rizna “iya beneran Ina, aku nggak bohong bunda aku itu dulu satu kamar dengan Raden yang sampai sekarang aku ndak tau sapa itu Raden, kata bundaku Raden itu anak dari ibu-ibu yang satu kamar dengan bundaku dulu waktu ngelahirin aku, aku lahirnya sama dengan Raden hanya beda menit doang”, sambung Ajeng dengan nada meyakinkan, “aduuuhhh jeng so sweet banget deh”, kata merci ngeledek, “Jeng mungkin dia jodoh kamu Jeng…” sambung Rizna, namun Ajeng hanya tersenyum diam saja tanpa kata-kata

Ajeng tidak pernah lagi bertemu sama keluarga raden dan Ajeng juga pun tidak tahu wajah Raden itu gimana, karena dia hanya tahu Raden itu anak teman bundanya dulu, dan dia ingin sekali melihat Raden namun alamat yang lengkap hanya ayahnya yang tahu, tapi belum sempat ia kesana ayahnya sudah dipanggil duluan oleh Tuhan, jadi mungkin dia hanya bermimpi melihat wajah Raden, atau suatu saat keajaiban akan dia dapatkan yaitu bertemu dengan anak teman bundanya namun semua itu ternyata sia-sia juga, Sampai sekarang dia belum tahu juga tentang Raden.

Walau dia tak yakin akan bertemu nantinya, tapi dia berusaha untuk melupakannya, menghilangkan rasa penasarannya yang sangat dalam ini dan akan membiasakan diri dengan keadaan baru, bahwa sebenarnya Raden itu hanya sekedar cerita ayah dan bundanya.

Cerpen Karangan: Haryuni
Facebook: Younhy Leadies Unyu

Cerpen Raden Anak Teman Bundaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Uang Untuk Operasi Istriku

Oleh:
“Maaf mas, Tapi saat ini saya masih belum bisa bantu, Bukanya saya tak memiliki uang, tapi uang yang saya punya juga sedang saya butuhkan untuk biaya sekolah anak saya

Pengorbanan Seorang Ayah

Oleh:
Naila kebingungan saat ini ia harus segera berangkat menuju kampus sebab waktu telah menunjukan pukul 13:00. sementara itu ia belum mengetahui siapa yang akan mengantarkannya menuju kampus saat ini.

Hari Ulang Tahun Seseorang

Oleh:
Pagi ini, aku berada di taman belakang sebuah rumah mewah, mungkin karena sisa mabuk semalam aku tak ingat mengapa siang hari seperti ini aku sudah terdiam duduk pada sebuah

Kematian Tanpa Sesal

Oleh:
“Rara, bangun..!” “Hoamm.. iya ibu, Rara sudah bangun”. Kulirik jam dinding yang tergantung manja di tembok kamarku. Jarum-jarum mungilnya menunjukkan bahwa saat ini jam berjalan pukul 04.50 pagi. Saatnya

Banyak Tekanan Banyak Gaya

Oleh:
“Aa silau” Elsa mengedipkan mata sembari duduk menikmati sunset di atas bebatuan pantai losiana tepatnya kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Diam tak bergeming dia merenung sambil mendengar buih di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *