Radio

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 July 2017

Rasa sayang pada benda yang selalu menemani kesedihan dan kesendirian kita memanglah sulit untuk dipisah. Rasa sayang bisa berubah menjadi kesetiaan. Keduanya akan sulit bagi kita untuk tinggalkan, apalagi barang yang kita anggap sangat berharga —walaupun di mata orang lain sangat sepele— telah lama dan juga setia mendampingi kita. Benda ajaib bagi diriku itu adalah; Radio.

Ketika semuanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Di bawah naungan rumah yang sangat sederhana ini, aku duduk termenung di beranda rumah sembari mendengar suara gemerisik radio kesayanganku. Radio kuno persegi panjang kecil itu kuletakkan dengan amat sangat terhormat di meja sampingku. Antena panjangnya aku julurkan menghadap ke utara. Sebelumnya kuhadapkan ke selatan tapi tak mendapatkan sinyal dan frekuensi yang baik.

Radio itu kudapatkan dari hadiah yang diberikan ayahku tiga tahun lalu. Memang sudah lama. Dan sekarang umurku 13 tahun, aku seperti anak remaja lainnya yang bermain seperti anak remaja lainnya. Tapi, disamping itu aku termasuk anak yang kurang beruntung. Ekonomi keluargaku amatlah menyedihkan, rumah ini saja turun temurun dari keluarga ayah.

Ayah bekerja sebagai petani yang mengurus lahan orang lain. Ayahku akan bekerja jika dipanggil untuk membantu saudagar kaya memanen ataupun menanam binih-binih tumbuhan. Ayahku telah renta, sudah memasuki umur diatas 60 tahun. Sedangkan ibuku sibuk dengan menggoreng gorengan gedhel setiap pagi hari. Jika siang ibu akan mempersiapkan bahan-bahan jualannya dan mengolahnya sebelum digoreng dan dijual.
Upah itu tak seberapa untuk menghidupi 3 orang anak. Aku anak ke-dua dari tiga bersaudara. Kakakku bekerja merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan di sana, ia ditemani beberapa temannya. Adikku tak terpaut jauh denganku, hanya selisih dua tahun denganku. Dan dia sama denganku, masih sekolah.

Kudengarkan berita dan syair lagu di radio ini. Barang paling berharga di rumah ini. aku tak punya televisi ataupun barang elektronik lainnya. Radio ini saja masih menggunakan baterai. Radio ini juga turun temurun, dari kakekku, ke ayahku, dan sekarang dipegang olehku. Sungguh, barang antik nan ajaib ini selalu melekat dalam hatiku, dan itu akan selalu.

Pagi itu, ibu sibuk menggoreng dan melayani orang-orang yang mengantre membeli gorengan ibu. Ayah bersiap-siap ke lahan orang lain dengan pacul dan aritnya. Aku dan adikku, Rahmat, bersiap untuk menuntut ilmu di desa seberang. Radio itu masih ada di kamarku, tergeletak dengan terhormat di meja yang sengaja aku khususkan untuk benda ajaib itu.
Kami berdua berpamitan dengan ayah dan ibu. Kurasakan hawa dingin di tangan ibu yang tengah duduk di samping pawon dengan wajan besar. Pucat menghiasi wajahnya yang telah kerut termakan usia. Aku tak tega melihat ibuku seperti ini, tapi beliau selalu meyakinkanku.
“Tak apa, emak gak apa-apa, sana sekolah nanti terlambat, uang sakunya sudah kan?”
“Sudah.”
Lantas kami pergi setelah mencium tangan ibu dan ayah.

Kami berlari melewati gang-gang sempit rumah warga, kemudian melewati jalan yang halus dan berlika-liku. Di samping itu, kuburan berada di atas kanan diriku. Aku berlari semakin kncang, tak kalah dengan Rahmat yang mendahuluiku. Aku menembus kabut-kabut putih yang masih mengepul-epul di atas sini. Kurasakan hawa dingin dari kabut itu, membuatku kembali teringat pada ibu.

Aku sangat brsyukur karena masih bisa sekolah dan mengenal banyak ilmu baru, semua itu tak lepas dari berkat dan usaha kedua orangtuaku. Ayah yang setiap harinya bermandikan keringat dan mengayun-ayunkan paculnya. Ibu yang setiap pagi melumurkan tangannya dengan adonan dan mengupas umbi.

Sekolah yang selalu aku banggakan ini, sekolah yang dimana aku selalu mendapat dan mengenal ilmu-ilmu baru. Dan aku juga sungguh berterima kasih dengan penemu radio, Guglielmu Marconi. Jika tak ada ilmuwan itu, hidupku mungkin akan hampa tak ada radio pelipur kesedihanku.

Di kelas, aku selalu mendapat peringkat 3 besar, dan itu selalu. Ucapan terima kasih tak langsung yang kukirmkan kepada kedua orangtuaku melalui ini. peringkat itu juga yang telah membuatku semakin semangat untuk mendapatkan ilmu baru. Dan aku sangat senang dengan pelajaran yang bersangkut-paut dengan elektronik ataupun semacamnya.

Aku selalu berharap saat akan tidur, jika aku bangun nanti aku akan betemu dengan penemu radio itu dan akan belajar tentang radio dengannya. Karena aku ingin sekali menjadi ilmuwan radio, walaupun karya Guglielmo Marconi itu telah banyak dikembangkan oleh ilmuwan hebat lainnya. Itu tak apa, yang penting aku mengerti dengan pasti tentang frekuensi dan apapun lah yang bersangkut paut dengan radio.

Barang ajaib itu telah menemaniku selama tiga tahun. Baterai telah beribu kali aku ganti, jika aku tak punya uang, baterai yang sudah habis aku jemur diatap untuk mendapatkan energi baru dari panas matahari. Dan itu memang benar dan radio masih bisa mengeluarkan suara walaupun samar-samar.

Frekuensi yang hanya bisa dijangkau oleh radio itu hanya tiga frekuensi. Dan jika siang hari pada pukul 13.00 sampai 15.00 aku selalu mendengarkan nyanyian dangdut. Jika pukul 15.00 sampai 16.00 aku mendengarkan berita-berita dan informasi-informasi dari dalam negeri maupun luar negeri. Aku lebih suka mendengarkan tentang perkembangan zaman bangsa ini dan bangsa lain. Jika setelah isya sampai pukul 20.30 aku mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Quran dan ceramah-ceramah ulama sembari aku belajar. Ayat-ayat itu memudahkanku untuk memahami materi yang aku pelajari. Suara merdu dari pe-ceramah juga yang membuatku lelap.

Di rumah, aku khawatir melihat keadaan ibu yang semakin memburuk. Ibu demam dan kini terbaring layu di ranjang miliknya. Ayah belum juga pulang, aku meminta Rahmat untuk menjemput ayah dan mengabarkan bahwa ibu kian parah. Aku cukup lama menunggu kepulangan Rahmat, disela-sela waktu itu kugunakan untuk mengompres dahi ibu dengan kain dan air dingin. Ibu tersenyum ketika kutempelkan kain itu di dahinya.
Kemudian dia memegang tanganku, dan perkataan beliau membuatku tercenung.

“Jaga adikmu dan ayahmu, ibu tak apa-apa.” Perkataan itu diakhiri dengan senyuman dan kemudian ibu terlelap.
Nafas pelan masih kurasakan di lubang hidungnya, aku makin khawatir, dan aku takut. Aku panik, aku ke luar melihat jalan setapak dan berharap semoga Rahmat cepat pulan membawa ayah. Dan harapan itu terkabul, Rahmat berlari mencincing sarungnya dan ayah berjalan cepat dengan pacul di punggungnya.
“Emak pripun?” tanya Rahmat terengah-engah.
“Lihat saja, aku tak tega.”
Kemudian ayah masuk setelah meletakkan pacul dan arit miliknya. Beliau panik tapi dengan professional menyembunyikan itu dari anak-anaknya. Ayah keluar entah menuju kemana, saat kutanya ia tak menjawab. Aku kembali menuju kamar ibu, beliau masih tergeletak layu di ranjang reyotnya. Matanya masih tertutup, dan nafas masih terendus-endus dari hidungnya.

Ketika ayah kembali, dengan sigap beliau menggendong tubuh renta ibu. Ibu dimasukkan dalam mobil Carry coklat milik tetangga.
“Emak Bapak bawa ke rumah sakit dulu, kamu jaga adikmu..” ayah berhenti dan menunduk. “Bapak belum punya uang, bayaran dari juragan, belum waktunya Bapak ambil, kalau radiomu Bapak bawa bagaimana?”
Pertanyaan ayah membuatku tersentak. Mana mungkin aku melepas sahabatku itu, yang telah menemaniku tiga tahun tanpa jeda. Kini harus pergi. Tapi, ini juga demi Ibu, demi emak. Aku tak tega melihat muka ayah, dengan terpaksa kuambil barang ajaib nan antik itu dari tempat terhormatnya. Kutenteng radio yang jika dijual mungkin bisa mahal karena mengandung unsur antik. Tapi akan dijual ke mana? Kota ini jarang yang mencintai barang antik seperti itu?
“Radio ini Bapak bawa ndak apa-apa ‘kan?”
“Iya Pak, demi emak.”

Ayah melesat bersama mobil Carry. Kulihat dari kaca yang gelap tubuh ibu tergeletak di kursi belakang.
“Mas, emak semoga ndak apa-apa ya?” tanya Rahmat yang membubarkan lamunanku.
Aku mengangguk kemudian berkata. “kita doakan saja.”

Malam merayap, temaram lampu kuning menemaniku dalam keheningan yang amat menyedihkan. Ayah belum pulang, ibu sakit, dan aku terpisah oleh radio kesayanganku. Aku berfikir mungkin aku menjadi anak berbakti untuk melepaskan kesetiaanku dan memasang pengorbanan untuk ibuku. Tapi masih ada rasa tak ikhlas pada diriku melepas radio itu.

Terbayang-bayang suara lantunan merdu ayat-ayat suci Al-Quran yang biasanya kudengarkan untuk menemani belajar. Kini sudah digantikan oleh suara jangkrik yang amat menyedihkan, aku juga tidak bergairah untuk membuka buku.

Ketika kudengar suara mobil, aku segera keluar, Rahmat juga begitu. Dan aku heran bukan main ketika kerumunan warga datang merapat di mobil itu. Mengapa ada sambutan seperti ini? aku terus bertanya-tanya, tapi pada siapa aku akan bertanya jika jawaban tak akan terjawab jika aku bertanya.

Kemudian kulihat jarit batik coklat menutupi seorang. Ayahku juga ada di situ menggedondong tubuh mati itu. Siapakah itu? Jasad itu mendekat menuju diriku, kemudian dibaringkan di ruang tamu. Beberapa orang menepuk-nepuk pundakku seraya berkata:
“Sabar ya, ini ujian dari Allah.”
Aku belum menemukan jawabannya, aku tak usah bertanya jika aku bisa melihat jawaban atas pertanyaanku. Itu ibuku, di balik jarit itu!

Aku berdiri mematung, terbayang-bayang kenangan-kenangan bersama ibuku. Juga kenangan akan radio milikku. Aku kehilangan radioku, juga ibuku. Kini malam telah menjadi saksi atas penderitaanku, kesunyian malam akan selalu menyerang dan membiusku dalam kegelapannya.

Cerpen Karangan: Fardan Yusuf Ibrahim

Cerpen Radio merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Brie, Itu Aku

Oleh:
Aku Brie. Ini kisah hidupku. Kejadian itu sudah lama, saat itu kami masih sangat kecil, saat aku masih senang-senangnya mengejar seekor cicak sombong, ia meledekku dengan ekornya yang jelek.

Kenangan Terindah

Oleh:
“Bunda!!” teriakku mencari bunda. Uhh… kok gak ada ya? Keluhku. “Bunda!!!” teriakku sekali lagi. “Dhuarrr…” Aku meloncat kaget. Bunda dan Ayah tertawa lebar. “Hahaha.” Kami bertiga tertawa bersama. Aku

Seeya

Oleh:
Seeya Calista Putri murid kelas 1 SMP Pelita Harapan. Seeya adalah gadis kecil yang baik hati serta manis, akan tetapi hidupnya tak seberuntung kebanyakan anak seusianya. Sudah 2 tahun

My Little Brother

Oleh:
Sang surya telah kembali tenggelam di Ufuk Timur, rembulan mulai menampakkan diri di balik awan senja. “Makan malam nenek sihir,” teriak Adik kesayanganku dari luar kamar. Cihhh .. mengganggu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *