Rahasia Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 10 April 2015

Aku bersedekap. Menunggu datangnya mama sambil di tempat tidur. Menurut kakakku, itu sangat membuang waktu. Aku tidak mengerti. Mama kenapa pergi tanpa penjelasan padaku? Aku minta mama memberitahuku kemana dia pergi. Namun ia tak pernah menjawabnya, terjadi sudah satu bulan. Itu rutinitas sebulan ini yang selalu kutanyakan kepada mamaku.

“Sudahlah! Mama itu sibuk kerja. Dia tidak mungkin menjawab pertanyaan konyol yang kau ulang tiap hari!” kakakku Manda menertawaiku seperti biasanya. Aku menghiraukan.
“Kau berpikir itu tidak konyol kan?” kak Manda membaca pikiranku.
“Ugh! Diamlah!” aku sudah terlanjur kesal, dan yang kulakukan selanjutnya adalah meninggalkan dirinya sendirian di kamar.

Satu minggu telah berlalu. Aku sudah terlanjur penasaran dengan sikap mama. Mama malah jutek padaku. Jutek seperti yang kulihat di film-film. Menurutku itu aneh sekali. Sangat aneh. Jadi aku memilih untuk… Menyelidikinya.

Pagi hari yang cerah, tidak sesuai dengan suasana hatiku. Aku sedang bersiap-siap untuk mengikuti mama pergi ke tempat tujuannya. Beliau sedang sarapan.
“Beres!” gumamku senang. Aku memakai tas selempang cokelatku dan keluar dari kamar. Aku melihat mama. Kami bertatapan. Dia melengos kecil.
“Selamat pagi, Manda, Ellyn,” mama menunduk lalu makan. Diam, membosankan sekali. Manda memutar-mutar sendok. Aku makan dengan lahap, agar tidak ketinggalan mama. Mama akhirnya selesai. Aku sudah senang sekali. Mama lalu keluar rumah. Dia menaruh kuncinya. Aku tidak tahu dimana. Aku hanya mengetahui pastinya itu di ruang tamu.

“Dimana ya?” aku mengubrak-abrik bantal sofa ruang tamu. Bi Ratih yang melihatnya menghampiriku sambil melongo.
“Lah non! Jangan dibongkar! Bibi udah rapiin!” tegur bi Ratih. Aku menghiraukan teguran bi Ratih. Sampai akhirnya, ketemu, di dalam guci. Aku lalu membuka pintu dan menaruh kuncinya di tasku. Aku masih bisa melihat mobil mama yang baru keluar. Aku mengikutinya dengan sepeda. Aku sempat melihat mama di dalam mobil, seperti cemas sekali. Aku mengerutkan kening. Aku mengendarai sepeda lebih cepat, melihat mama yang mulai hilang dari pandangan. Sampai akhirnya, mobil mama berhenti di…

“Supermarket?” aku menatap mama yang keluar dari mobil itu. Aku memarkir sepedaku dan turun dari sepeda. Aku melihat mama menunduk seperti dimarahi. Tunggu, dimarahi?

“Mama kenapa ya?” aku berusaha mengintip. Lalu aku akhirnya melihat di depan mama seorang lelaki bertubuh kekar. Mama seperti terlihat menangis. Aku terkejut. Aku mendekatkan telingaku ke jendela.

“KAU ITU! Sudah kubilang jangan terlambat! Saya bilang kamu tinggal saja di sini! Kenapa kau pulang bertemu anak-anakmu?! Apa kau mau kupecat?!” aku terkejut sekali mendengar perkataan lelaki kekar itu.
“Maaf, pak. Anak saya kan masih dibawah umur semua. Mereka belum bisa kerja cari uang,” mama menunduk lebih dalam.
“HEH! Apa yang menguntungkan sih mengurus anak? SUSAH! Kalau kau pulang ke rumah, kau dipecat!” seru lelaki kekar itu.
“Tapi saya juga butuh bay…”
“TIDAK ADA BAYARAN JIKA KAU TIDAK TINGGAL DISINI!” seru lelaki itu. MAMA! Dia menampar mama! Aku berlari masuk, dan langsung berteriak.
“BERHENTI! SIAPA KAMU BERANI MENAMPAR MAMAKU?” Teriakku. Mama menoleh.
“Ellyn!” mama berjalan cepat ke arahku dan memelukku.
“OH ini anak si*lanmu itu?” tanya lelaki kekar tadi. Mama menengadah marah.

“DIA BUKAN ANAK SI*LAN!” teriak mama. Berapa petugas di situ bersembunyi di rak makanan. Aku hanya bisa diam, takut.
“HEH! KAMU! AWAS YA KALAU ANAKMU TAHU SOAL BERLIAN ITU!” teriak lelaki kekar itu ceplas-ceplos. Aku menatap keluar. Lelaki kekar itu diam seribu bahasa, mendengar alarm polisi terdengar dari jauh. Dia gentar. Seperti ingin kabur. Saat hendak keluar, lelaki kekar itu ditahan sekawanan polisi. Aku memeluk mama erat.

“Ternyata disini buronan kita!” seru salah satu polisi. Lelaki kekar itu di tahan. Dua polisi memanggil semua karyawan supermarket, mama juga. Mereka mulai mewawancarai mama. Ternyata, mama itu dipekerjakan dengan bayaran kecil sekali dalam satu bulan. Mama ditahan oleh bosnya yang stres, karena perusahaannya bangkrut. Lalu lelaki kekar yang bernama Arvan itu mencuri berlian. Ya, aku memang takut. Tapi, aku senang, mengerti kenapa mama selalu bersikap aneh seperti itu.

“Ma, mama kerja di tempat lain aja ya?” tawarku saat menaikkan sepeda ke mobil mama. Mama tersenyum.
“Oiya sayang. Mama mau jualan baju!” mama tersenyum. Akhirnya, aku bisa melihat senyum mama kembali, senyum yang lama sekali aku ingin lihat. Perjuanganku untuk mengetahui rahasia mama ini, bisa kuketahui dengan cara yang sangat… Fantastik!

Cerpen Karangan: Alifa Diva
Blog: www.skyque.blogspot.com
Hai! Namaku Alifa Diva Syabil. Aku kelas V-B di SIT Nurul Fikri Makassar. Aku lahir tanggal 13 bulan Juni tahun 2003. Aku suka banget nulis. Aku ketemu cerpenmu.com waktu lagi seraching dengan kata kunci cerpen (seingatku). Twitterku : @Purplewhite13
Makasih!

Cerpen Rahasia Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Air Mata Persahabatan

Oleh:
Aku menatap langit langit kamarku. Air mataku tidak henti hentinya mengalir. Aku meraih diary yang ada di sampingku. Tulisan tangan di diaryku, semakin buram seburam mataku ini. Aku mengurungkan

Serigala

Oleh:
“Aku dengar ada anak baru di sekolah kita,” ucap Bella tiba-tiba membuka pembicaraan setelah sepuluh menit hanya saling diam di balkon kelas. Inilah kebiasaanku dengan teman-teman lainnya sebelum bel

Sepatu Roda

Oleh:
Luna baru masuk club sepatu roda. Ia masih ditingkat paling kecil, yaitu pemula. Ketika les dan latihan sepatu roda, Luna selalu bersungguh sungguh. Karena, ia bermimpi ingin menjadi atlet

Berkat Ide Wina

Oleh:
Kelas V-A, terdiri dari 16 murid. 9 Siswa Putri dan 7 Siswa Putra. Dan Siswa Putri malah terbagi, disebabkan karena terbentuknya sebuah ‘Geng’. Nama gengnya ialah BeGir (Beauty Girls)

Pertemuan Terindah

Oleh:
Hari ini sudah genap 3 tahun aku pergi meninggalkan rumah. Entah bagaimana kabar ayah dan ibuku juga adik lelakiku. Masih tergambar jelas di memoriku kejadian 3 tahun lalu yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rahasia Mama”

  1. Kireina says:

    Iya…satu lagi ini cerpen karya anak bangsa…
    Bagus ini cerpen kamu..
    Ini ada sedikit koreksi dan pertanyaan juga,
    Untuk kalimat….’kakakku Manda menertawaiku seperti biasanya. Aku menghiraukan.’ ‘Aku menghiraukan teguran bi Ratih.’
    Nah untuk kata ‘menghiraukan’ itu bukankah lebih tepat nya diganti dengan kata ‘tak menghiraukan’ karena kata menghiraukan itu bermakna sama dengan menanggapi kan?
    Coba di cek kembali, mungkin aku ada yang salah…lgi hee
    Oh iya, hobi menulis kamu tingkatkan lagi…ciptakan lagi karya-karya yang bagus…aku tunggu cerpen selanjutnya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *