Rain

Judul Cerpen Rain
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 January 2017

Bunyi alarm membangunkanku tepat pukul 06.00 pagi. Aku berusaha beranjak dari tempat tidurku walaupun mataku ini masih belum bisa diajak kompromi. Ketukan orang di luar mengagetkanku hingga aku terjatuh di lantai yang masih basah ini.
“Apakah tadi malam hujan? Kenapa begitu basah?” pikirku dalam hati.

Ketika aku membuka pintu, kak Ryan dengan sigap berdiri di depan pintu kamarku dengan mata yang cukup lebam sambil membawa satu gelas susu hangat di tangannya. Entah mengapa pagi itu aku begitu ingin marah. Sudah beberapa kali ku peringatkan kak Ryan untuk tidak mengambil alih tugas mama.
Aku tak mau kak Ryan menjadi seorang kakak, mama, papa, sekaligus sahabat bagiku. Hatiku selalu sedih ketika setiap pagi aku selalu melihat mata kak Ryan lebam seperti itu. Pasti kak Ryan bangun terlalu pagi untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara papa dan mama setelah bertengkar, entah pergi kemana.

Aku langsung mentup kembali pintu kamarku. Aku merasa malu dan tak enak hati pada kak Ryan dengan semua ini. Seharusnya aku sebagai anak perempuan yang melakukan semua pekerjaan rumah. Apalagi jika teman-teman kak Ryan tau tentang semua ini pasti kak Ryan diejek habis-habisan di sekolah. Aku tak mau semua hal buruk itu terjadi.

“Din, kamu kenapa?” tanya kak Ryan cemas.
“Kak aku mohon jangan lakukan ini lagi. Aku tuh capek, setiap bangun tidur aku melihat kak Ryan seperti ini. Aku merasa tidak berguna di keluarga ini”
“De, kamu jangan salahin diri kamu seperti itu. kak Ryan ngelakuin ini karena kak Ryan mau dan kak Ryan tidak merasa terbebani dengan semua ini”
“Tapi aku yang merasa terbebani dengan semua ini. Aku sudah besar Kak. kak Ryan seharusnya jadi kak Ryan yang dulu, kak Ryan yang fokus dengan pelajaran di sekolah. Aku kangen dengan kak Ryan yang dulu”
“Kak Ryan masih seperti itu kok jadi jangan salahin diri kamu lagi…”

Pagi ini di sekolah terasa aneh. Semuanya terlihat sedih dan lemas. Apakah mungkin ini perasaanku saja?. Andaikan ada seorang sahabat, mungkin aku bisa menceritakan semua masalah dan beban yang ditanggung di pundakku. Entah mengapa begitu banyak orang yang dekat denganku tapi tak ada satu pun orang yang kupercayai, kecuali kak Ryan. Aku tak butuh beribu sahabat, yang kubutuhkan hanyalah satu orang sahabat yang bisa menerima kekurangku. Kekurungan keluargaku lebih tepatnya. Sahabat yang bisa berbagi kiasan suka dan duka. Andaikan ada sahabat seperti itu. Sahabat seperti seorang malaikat.
Kenapa kehidupanku bak melodrama?. Melodrama yang tak kuyakini akan berubah. Melodrama yang tak akan berubah menjadi drama komedi. Komedi penuh guyolan tawa.

Bunyi bel tanda pulang sekolah tak mengubah keadaanku. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya runtuh juga. Tembok yang kubangun tak begitu kokoh. Tapi aku malu, malu karena tangisanku adalah tangisan kesedihan.
Langkah demi langkah kususuri. Awan mendung mengiasi langit seakan mengerti keadaanku. Gemericik air hujan muncul menyapaku. Menyanyikan lagu sendu. Lagu yang sering kudengar akhir-akhir ini. Hujan rasanya mendukung perasaanku sekarang. Hujan adalah hal yang paling aku tunggu jika aku ingin menangis. Karena hujan tak akan melihatkan tangisanku. Karena air mataku akan tertutup dan tidak terlihat oleh mengalirnya air hujan.

Hujan bertambah deras dan kencang. Aku berharap hujan tak akan dengan cepat berhenti. Aku masih ingin menangis bersama dinginnya air hujan yang menyentuh tubuhku.
Aku terkejut. Ketika air hujan berhenti menetes di tubuhku. Aku tak menyangka Bella gadis berkacamata itu memayungiku.
“Kau kenapa memayungiku?” ujarku marah.
Aku merasa terganggu dengan kedatangannya. Bella membuatku malu di hadapannya. Aku begitu malu, air mataku ini tak berhenti menetes ketika Bella memayungiku. Baru kali ini aku menangis di hadapan orang lain selain keluargaku.
“Kau basah. Jadi aku memayungimu, apakah itu salah?”
“Kenapa?. Apakah karena kau ingin menangis di bawah guyuran air hujan?. Aku tau aliran air hujan akan menutupi air matamu, tapi bagaimana tubuhmu ini?. Apakah kau akan merelakan tubuhmu menggigil seharian di sini?”
“Biarkan saja. Apa urusanmu?” bentakku sembari menepis payung yang memayungi kami berdua. Hingga aku kembali merasakan air langit itu menusuk tubuhku.
“Sudahlah. Ayo aku antar pulang” ujarnya tersenyum.
Aku menatapnya aneh. Dia tak marah padaku sama sekali. Seperti apa dia? Ujarku bertanya-tanya.
Bella menarik tubuhku. Lebih tepatnya ia mengapit lengan kananku. Aku menatapnya sinis. Sementara ia masih dengan senyum yang sama.
Aku mulai luluh. Hatiku serasa menyerah di hadapannya. Ia membuatku seperti orang lain. Aku hanya bisa berjalan mengikuti langkah Bella yang menuntunku.

Di tengah perjalanan menuju rumahku. Bella meletakan jaket yang sedang melekat di badannya dan mengalihkannya kepadaku. Aku ingin bertanya kenapa Bella melakukan ini kepadaku?. Namun ia langsung menyuruhku untuk tidak bertanya.
“Menangis. Menangis di bawah guyuran air hujan. Itu adalah hal yang menarik. Menarik untuk dipikirkan” ujar Bella memulai percakapan.
“Kau merasa malu jika menangis di hadapan seseorang yang bukan dari keluargamu. Karena tangisanmu adalah tangisan sebuah kesedihan bukan kebahagiaan” tambahnya lagi seakan mengerti isi pikiranku.
“Kenapa kau tau semua yang aku pikirkan?” tanyaku kaget.
“Itu hanyalah hal yang begitu mudah dimengerti. Semua orang pasti mengetahuinya” kata Bella dengan pandangan tajam mengarah ke depan.
Aku menggeleng. Mengartikan bahwa apa yang dikatakan Bella salah. Tidak semua orang bisa mudah mengerti apa yang aku pikirkan. Bella, ia gadis pertama yang mengerti tentangku.
“Tenanglah. Semua akan berjalan dengan baik” ucapnya sembari mengusap lembut punggungku.

Tanpa aku sadari kami telah sampai di hadapan rumahku. Suara pertengkaran papa dan mama menyambut kedatanganku dan Bella. Aku merasa malu dengan semua ini. Malu, karena Bella mengetahui keadaan keluargaku sekarang.
“Din aku pamit pulang ya?” kata Bella memecah keheningan.
“Sampai besok..” tambahnya dengan lambaian tangan mengarah kepadaku.
Aku hanya bisa melongo. Menyaksikan gadis itu berjalan pergi meninggakanku. Bella benar-benar mengerti keadaanku. Ia bahkan tak bertanya sama sekali mengenai keluargaku. Ia mengerti bagaimana perasaanku sekarang.
“Thanks ya Bell” teriakku.
“Sama-sama sobat” jawab Bella tak kalah lantang.
Sobat. Baruku dengar kata-kata itu keluar dari mulut Bella. Baru kali ini aku dianggap sebagai sahabat oleh orang lain. Ya Tuhan apakah ia sahabat yang kutunggu?.

Aku berjalan masuk ke dalam rumah. kak Ryan langsung mencegatku di depan pintu. Wajahnya tak bisa dibohongi. Ia terlihat cemas padaku.
“De kenapa kamu pulang telat?. Kok basah? Hujan-hujanan lagi ya?. Sudah kakak bilang kalau hujan turun setidaknya berteduh terlebih dahulu…” cerocos kak Ryan.
“Mama dan papa belum pergi kak? Apa mereka masih di dalam?” tanyaku memotong perkatan kak Ryan.
Ka Ryan mengiyakan. Ia memandangku lekat. Seakan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sementara itu air mataku mulai mengalir. Aku berlari ke luar rumah. Kembali menerjang hujan. Hujan yang kusuka. kak Ryan berlari menyusulku. Langkahnya begitu cepat, hingga ia dapat menyusul dan menghentikan langkahku.
Ia menarikku ke dalam pelukannya. kak Ryan kembali penepuk punggungku.
“Kau tau, kakak sangat menyayangimu” bisiknya di telingaku.
Aku hanya bisa menangis. Luka ini amat membuatku terluka. Aku tak mau jika aku terpisah dari kak Ryan. Aku tau jika mama akan bercerai dengan papa. Luka itu akan aku rasakan kembali. Luka beberapa tahun silam, ketika mama juga bercarai dengan ayah kandungku.

“Sahabat” Bella menganggapku sebagai sahabat. Padahal aku tak pernah dekat dengannya. Walaupun sudah 2 tahun kami satu kelas. Aku ingin menanyakan penjelasan hal itu pada Bella besok.
Ketukan pintu kamarku terdengar. Aku tersenyum. kak Ryan pasti ingin menemuiku. Ia pasti ingin menanyakan penjelasanku tentang kejadian tadi pulang sekolah. Ia ingin tau kenapa aku terus bermain hujan-hujan hampir 3 hari berturut-turut.
Ketika aku membuka pintu kamarku. Mama langsung mengelus puncak kepalaku sembari tersenyum. Ia membawaku ke dalam kamar dan menutup pintu rapat. Sudah beberapa bulan ini mama tak pernah berbicara denganku. Ia hanya bertengkar. Bertengkar dan bertengkar. Aku hanya bisa mendengus kesal tak suka. Namun di sisi lain aku merasa bahagia.
Mama menyuruhku duduk di sampingnya. Ia terus mengelus puncak kepalaku. Hanya saja perasaanku merasa tak enak. Apakah mama akan memberikan kabar buruk untukku?.

“Din bagaimana di sekolah?” tanya mama basa-basi.
“Baik” jawabku ketus.
“Ma ada apa?” tanyaku tak sabar.
Mama menghela nafas. Menatap manik mataku.
“Din mama dan papa tak cocok lagi. Kami tak bisa bersama. Besok kami akan pisah, kamu ikut mama ya” jelas mama dengan tangisan.
Aku tak merasa tersentuh dengan tangisan mama. Dulu sebelum mama menikah dengan papa, mama juga menangis seperti itu di hadapanku untuk mengabulkan permintaannya untuk menikah lagi. Aku masih belum bisa menerimanya, apalagi ketika mengetahui bahwa kak Ryan anak dari calon suaminya. kak Ryan dulu kakak kelasku ketika kami smp. Aku mengenal kak Ryan karena kak Ryan dulu menjadi ketua regu pramukaku. Hanya saja dulu kami memang tak akur. Kami selalu bertengkar karena urusan sepele.
Andai saja pernikahan itu tidak terjadi mungkin keluarga aku dan kak Ryan masih tenang seperti dulu. kak Ryan tak mungkin menjadi kak Ryan seperti sekarang, kak Ryan yang terus berusaha melindungiku.
“Kenapa ketika aku sudah menganggap kak Ryan sebagai kakakku, mama secara tak langsung menyuruhku meninggalkannya. Andaikan mama tak menikah dengan papa. Andaikan dulu mama tak bercerai dengan ayah” tangisku menjadi-jadi.

Aku berlari keluar dari kamar dan meninggalkan mama yang masih terus menangis. kak Ryan mengikuti larianku. Aku berlari sekuat tenaga pergi cukup jauh dari rumah. Dan hujan lagi-lagi kembali menyapa tangisanku.
Aku tak tau jika kak Ryan mengikutiku. kak Ryan menarik tanganku, memaksaku untuk berhenti berlari.
“Din kamu kenapa? Apa…”
Aku memotong pertanyaan kak Ryan. “kak mama benar-benar bercerai dengan papa. Mama menyuruhku untuk meninggalkanmu. Mama menyuruhku untuk ikut dengannya” kataku mengadu.
“Dulu aku harus meninggalkan ayah. Lalu papa. Sekarang aku harus meninggalkanmu kak” teriakku histeris.
“De Kamu jangan menangis lagi, ayo kita pulang kakak tak mau melihatmu sakit” ucap kak Ryan menenangkanku. Aku menggeleng. Tangisanku bertambah parah.
“Kalau begitu kita berteduh saja ya” bujuk kak Ryan. Aku mengiyakan.

Aku memandang kak Ryan yang sekarang berbaring di atas ranjang tempat tidurku. Mataku memandangnya penuh rasa bersalah. Sambil sesekali aku mengecek suhu tubuhnya.
“Aku tak apa-apa” kata kak Ryan menampik tanganku halus. Senyumnya mengembang.
“Sekarang aku yang sakit. Syukurlah..” tambah kak Ryan dengan tawa. Matanya memandang wajahku.
“Syukur apanya..” kesalku sembari memukul tangannya kencang.
Kak Ryan hanya tertawa. Tawanya amat keras. Hingga air mata menetes menyentuh wajahnya.
“Aku sampai meteskan air mata saking lucunya” sangkal kak Ryan sambil mengusap air matanya.
“Kakak..” panggilku. Aku menundukkan kepalaku. Air mataku kembali mengalir. Tangisku pecah. Aku menunduk menyembunyikan air mataku dari kak Ryan. Aku tak tahan jika mengetahui kenyataan bahwa aku akan meninggalkan kak Ryan hari ini.
“Hey.. Kok nangis lagi. Sana pergi ke sekolah. Ini kan hari terlahir ujian. Berusahalah dengan baik. Kakak akan mengunjungimu setiap hari setiap pulang sekolah” kata kak Ryan kali ini dengan suara tangisan yang tak bisa ia tahan.
“Kakak… Kakak… Kakak..”
“Sana pergi ke sekolah. Ade harus dapat 7,5 kali ini. Jangan 5 terus” sela kak Ryan deselingi suara tawaan.
“Tapi Kakak harus janji. Kakak harus segera sembuh. Minum obat. Dan harus banyak istirahat”
“Iya janji”

Aku berjalan cepat menyelusuri koridor sekolah. Ah! Lebih tepatnya setengah berlari. Kucari setiap isi ruangan yang kulewati. Mencari sosok ia. Ia yang selalu mengerti keadaanku. Bella si gadis berkacamata itu. Gadis yang akan kutanyai pertanggungjawabanya. Aku butuh penjelasan. Secepatnya.

Akhirnya, kutemui sosoknya yang kini tengah sibuk membaca buku di perpustakan.
“Dasar si kutu buku, pasti setiap waktu selalu ada di perpustakaan” candaku menyapa Bella dengan sedikit menghela nafas.
“Kamu kenapa Din..?” tanya Bella melihat kondisiku.
“Capek.. Habisnya nyariin kamu kemana mana sih”
“Kaya nggak tau aku aja. Aku kan si kutu buku…” candanya.
Aku tersenyum.
“Bell, kamu anggep aku sahabat?” tanyaku to the point.
Bella mengangguk. Pandangannya dialihkan menatap wajahku yang kini sedang berusaha mencerna jawabannya.
“Serius?”
“Iya emang kenapa?. Kamu baik, di antara teman-teman di kelas hanya kamu saja yang tidak memanfaatkan kelebihan otakku”.
Kutatap wajah gadis berkacamata itu lekat. Berusaha mencari keseriusan dari sinar matanya.
“Terimakasih. Entah ini sebuah kebetulan ataukah takdir. Tuhan tak akan selalu memberiku air mata. Terimakasih Tuhan” gumamku dalam hati, kupeluk tubuh Bella kencang.

Mama menggeret satu buah koper besar. Lalu ia kembali masuk ke dalam rumah cepat. Tak ia hiraukan ucapan kak Ryan yang terus memohon kepadanya untuk tidak pergi. Aku menatap mereka dari jauh. Tangisku pecah. Bella memandang wajahku iba.
“Tak semua hal harus berjalan sesuai keinginan kita. Kita hanya bisa berjalan sesuai takdir yang telah ditetapkan olehnya. Semuanya akan berjalan dengan baik setelah ini” ujar Bella menenangkanku.

Aku berlari menuju rumah. Bella dari arah belakang mengekori langkahku. Aku langsung menghambur dalam pelukan kak Ryan saat itu. kak Ryan memelukku erat. Ia tak bisa menangan tangis. Kudengar isakannya amat jelas di telingaku. Mama keluar dari dalam rumah membawa beberapa tas dan boneka kesayanganku. Ia memasukaan semua barang-barang ke dalam bagasi cepat. Aku masih memeluk kak Ryan erat. Kutatap wajah papa yang berada tak jauh dari punggung kak Ryan. Ia ikut sedih, namun jelas sekali ia tak bisa melakukan apa-apa untuk keluarga kami.

Mama menghampiriku menarik tanganku lembut. Aku sedikit enggan melepas pelukanku.
“Dinda..” panggil mama dengan suara parau.
Aku pun tak tega melihat mama sedih. Kulepas pelukanku, kutatap wajah kakak yang selama ini terus melindungiku. Mama menggandeng tanganku menuju ke dalam mobil. Wajahku terus tertuju pada kak Ryan. Tangisku tak bisa kuhentikan. Mama menutup pintu mobil sekaligus memasangkan sabuk pengaman padaku. Aku hanya terdiam, pikiranku entah pergi kemana. Bella mentapku sedih, ia tak tau apa yang harus ia lakukan.
Kulihat kak Ryan berjalan menuju jendela mobil.
“Din kakak setiap hari akan menemuimu di sekolah. Kakak janji” ucapnya ditengah isakanku yang semakin kencang.
Kuanggukan kepalaku cepat. Aku percaya kak Ryan tak akan mengingkari janjinya padaku.
Mama mulai menyalakan mesin mobil. Jarak kami semakin menjauh. Kutatap tubuh kak Ryan yang kini mulai mengecil dari pandanganku.

Cerpen Karangan: Ria Rizky Darmawan
Facebook: Ria Rizky Darmawan

Cerita Rain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyum Ayah

Oleh:
Nadela melihat pemandangan kota New York yang indah dari jendela pesawat. Semua orang mengira bahwa hati Nadela sangat senang saat ini karena menerima penghargaan dari luar negri sebagai penyanyi

Melepasmu

Oleh:
Kisah ini dimulai saat aku duduk di bangku smp kelas 2. Namaku adalah mirha aku mempunyai seorang sahabat yang namanya Herlita, herlita itu cantik, putih, baik. Bel sekolah pun

Sebotol Harapan

Oleh:
Aku Bintang. Bintang Ayu Puspita. Aku suka namaku. Menurutku ini nama yang bagus. Pasti orangtuaku ingin aku menjadi seperti bintang di langit. Bintang yang bisa memancarkan cahayanya sendiri. Bintang

Jalan Tak Berujung

Oleh:
Tumpukan Masalah itu memberi kamu dua pilihan To be someone better Atau To be someone broke Pilihan ada di tangan kalian. Sejak kecil, aku hanya dapat merasakan kasih sayang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *